
Dalam perjalanan, Andi merasa terganggu dengan notifikasi ponselnya yang tidak pernah berhenti.
Rima yang mendengar pun merasa risi, bukan kesal, hanya saja istri Andi itu berpikir mungkin ada sesuatu yang penting.
"Ka, sebaiknya menepi dulu. Kaka buka aja dulu, siapa tau penting," ucap Rima.
Andi justru meminta sang istri membuka ponselnya, sebab dia takut keburu terjebak macet nanti.
"Kamu buka aja sayang, kata sandinya tanggal pernikahan kita," jelas Andi.
Rima tersipu malu saat Andi memintanya membuka ponsel miliknya. Biasanya ponsel menjadi salah satu barang yang memiliki privasi tersendiri.
"Beneran enggak papa Ka?" ulangnya.
"Iya buka aja, paling juga kerjaan," jawab Andi santai.
Berbeda dengan Rima saat membuka pesan yang masuk dalam ponsel suaminya, ternyata ada banyak gambar yang membuatnya terkesiap.
Dia bahkan sampai harus menutup mulutnya, saking terkejutnya.
Melihat perubahan sikap sang istri membuat Andi penasaran lantas menepikan mobilnya. Dia lalu mengambil ponsel miliknya dan melihat pesan apa yang membuat istrinya tiba-tiba terdiam.
"Mamah!" pekiknya murka.
Tanpa pikir panjang dia menelepon Febriana yang membuatnya sangat murka.
[Halo sayang, kenapa? Kangen ya?] ucap Febriana lembut.
"Lepasin mamah Feb! Gila kamu! Kenapa kamu lakuin ini sama mamah Feb!" pekik Andi kesal.
Di seberang sana Febriana tertawa sangat keras, dia tak peduli dengan kemarahan Andi.
Andi dan keluarga Rima salah perhitungan, bukan hendak menyakiti keluarga mereka. Justru Febriana sangat tahu apa kelemahan laki-laki itu.
[cup ...cup, sabar dong sayang, aku tau kamu pasti enggak sabar mau ketemu aku kan?]
"Gila kamu, siapa yang mau ketemu kamu, lepasin mamah Feb, dia lagi sakit kenapa kamu tega ngelakuin ini ke mamah hah!" bentak Andi.
Lagi-lagi Febriana tertawa sebelum menjawab. [Andi ... Andi kamu yang udah bikin aku gila dan nekat. Jadi jangan salahkan aku. Kamu yang enggak mau menuruti keinginanku, maka jangan salahkan aku kalau aku buat begini!]
[Kamu mau aku ngelepasin mamah? Bisa dong sayang, syaratnya cuma satu, nikahin aku dan lepaskan istrimu itu. Lagi pula aku yakin kalau kamu belum menyentuhnya, biarkan dia mendapatkan laki-laki lain Ndi]
__ADS_1
"Tutup mulut kamu berengseeek!"
"Kamu akan tau akibatnya kalau berani berurusan sama aku Feb. Lepasin mamah aku sekarang kalau kamu—"
[Mau apa? Aku bahkan bisa membunuh mamah kamu saat ini. Biar kita impas merasakan bagaimana sakitnya di tinggal orang yang kita cintai!] jawab Febriana tajam.
Bahkan sebilah pisau sudah ada di leher Lyra. Wanita paruh baya itu hanya diam bergeming karena memang jiwanya masih belum sehat.
Lyra mendekati sang mertua lalu menyeringai menatap Andi.
[katakan kalau kamu akan menikahiku Ndi, maka aku akan melepaskan pisau di leher mamah,] pintanya.
Andi memejamkan mata, dia tak mengira Febriana akan bisa bergerak cepat untuk menyakiti dirinya.
Dia merutuki keamanan rumah sakit yang bisa sampai kecolongan seperti ini.
"Baiklah Feb, tolong jangan sakiti mamah. Kita bicarakan baik-baik, tapi tolong kembalikan mamah ke rumah sakit," bujuk Andi memelas.
Febriana memang menjauhkan pisau dari leher Lyra, dia tersenyum sinis pada lelaki pujaannya.
Di sebelahnya Rima meneteskan air mata saat sang suami hendak mengabulkan keinginan gila mantan kakak iparnya.
[Enggak semudah itu sayang. Kalau kita sudah resmi menikah tentu aku akan melepaskan mamah. Kamu tenang aja, aku akan tetap merawat mamah dengan baik kok] jawab Febriana santai.
"Lalu apa mau kamu? Kamu tau Feb, mamah memerlukan perawatan ekstra, dengan membiarkan dia tanpa penanganan Dokter tentu akan membahayakan kondisi mamah!" seru Andi gemas.
[Kamu tenang aja, enggak mungkin aku membiarkan calon mamah mertuaku mati sebelum kita menikah. Kamu penuhi janji kamu dulu, maka aku akan mengembalikan mamah ke rumah sakit, aku janji]
Setelah mengatakan hal itu Febriana mematikan panggilan videonya. Lalu dia mengirimkan lokasi di mana Andi harus datang.
Tak lupa Febriana juga mengirimkan foto baju pengantin mereka.
Andi mendesis kesal, tak lama dia sadar jika saat ini dia tak sendiri. Dia lalu menatap Rima yang sedang mengusap air matanya.
"Maafkan aku sayang. Maaf, aku enggak sangka kalau Febri akan melakukan hal nekat ini," ucap Andi kalut.
"Lalu bagaimana ini Ka? Apa kakak akan benar-benar menikahinya?" tanya Rima penasaran.
Andi menghela napas panjang, pikirannya buntu. Menikahi Febriana jelas bukanlah pilihannya. Namun ... Apa ada jalan lain untuk menyelamatkan sang ibu dari wanita gila seperti Febriana ini?
Dia tahu tempat yang sudah di sharelock oleh Febriana tak jauh dari kotanya.
__ADS_1
Sebuah Vila di pinggir kota. Vila pemberian Denish di ulang tahun pertama pernikahan mereka.
Andi juga tahu Febriana bukan orang bodoh, tak mungkin tidak ada penjagaan ketat di sana.
Dia tak mungkin bisa membawa pengawal pribadi untuk menyerang tempat Febriana saat ini. Bisa-bisa wanita itu nekat menyakiti ibunya, sebelum dia bisa menyelamatkannya.
Melihat kepasrahan dalam wajah Andi, hati Rima semakin sakit. Dia yakin sang suami juga mengalami kebuntuan berpikir saat ini.
Namun, apa semuanya harus berakhir seperti ini? Dia merasa masih punya keluarga yang bisa dia ajak ikut berpikir.
Apa salahnya di coba, semoga saja ada jalan untuk menyelamatkan mertua serta pernikahannya.
"Kenapa kita enggak pulang dulu Ka? Kita bicarakan ini sama ibun dan ayah," ajak Rima.
Andi menatap lurus ke depan. Dirinya diliputi kebimbangan. Jika dia harus mutar balik untuk kembali ke kediaman mertuanya. Maka akan membutuhkan waktu lagi untuk menyelamatkan ibunya.
Belum lagi mereka pasti akan berbincang-bincang menyusun rencana. Rasanya Andi tak sanggup melewatkan banyak waktu untuk menyelamatkan ibunya.
"Kita enggak punya banyak waktu sayang. Aku takut terjadi sesuatu sama mamah. Jujur aku enggak tau akan senekat apa Febriana bertindak," tolak Andi.
"Lalu, kakak benar-benar akan menikahi Febriana? Aku enggak mau di madu Ka!" jawab Rima sedih.
"Sabar sayang, enggak mungkin aku akan langsung menikah. Kita pikirkan cara untuk mengelak dari pernikahan itu. Tolong bantu aku berpikir ya," pinta Andi lembut.
Lelaki yang telah resmi menjadi suami Rima itu berusaha menenangkan istrinya. Tentu saja tidak ada dalam kamusnya menikah untuk yang ke dua kalinya.
Baginya cukup Rima yang menjadi istrinya. Hanya saja dia tengah berusaha memikirkan berbagai cara untuk menyelamatkan sang ibu, juga terbebas dari permintaan gila Febriana untuk menikahinya.
"Hubungi sahabat-sahabatku sayang, beritahu lokasi kita, ceritakan semuanya, aku yakin mereka punya cara sendiri untuk membantu kita," putus Andi.
Rima mengangguk, kini hatinya sedikit lega karena mereka akan melibatkan para sahabat-sahabat Andi yang terkenal solid itu.
Dirinya berharap semoga Tuhan bisa membantunya kali ini.
.
.
.
Tbc
__ADS_1