
DARAH Segar berwarna merah kehitaman membasahi raga tanpa kepala milik dukun wanita itu. dukun wanita itu mati dengan sangat mengenaskan dengan kematian yang sangat mengerikan.
"kita kemana kan mayat dukun sesat ini pak???" tanya Dendi bertanya kepada pak Alex. yang ditanya masih diam mematung menatap Dendi dengan kaget. lalu Dendi bertanya balik kepada pak Alex. tiba-tiba saja pak Alex menarik lengan Dendi ke samping dan mereka berdua jatuh ditanah berumput itu.
Pak Alex segera berkata kepada Dendi bahwa ada serangan gaib yang menyerang mereka tadi dari arah belakang.
"hampir saja kita terkena serangan ilmu hitam berwarna merah tadi!" ujar pak Alex dan memang benar sinar berwarna merah sebesar jeruk melintas disamping mereka dengan cepat dan menembus rumah kayu yang kini sudah hancur menjadi arang akibat sinar tadi. Dendi masih tertegun menatap ke arah rumah yang hancur tadi, lalu pak Alex segera mengajak Dendi untuk segera meneruskan langkah nya.
"ayo Den. kita lanjutkan perjalanan, kita harus selalu berhati-hati dan waspada akan serangan seperti tadi."
"baik pak! lalu siapa yang menyerang kita tadi???" ujar Dendi.
"entahlah. bapak pun tak bisa melihat nya dengan jelas. tapi sosok itu sudah pergi lagi. ayo kita lanjutkan perjalanaan kita." Dendi hanya mengangguk saja, lalu mereka meneruskan langkah mereka dan mayat dukun wanita itu diseret ke dalam salah satu rumah kayu tersebut dan kemudian rumah tersebut dibakar oleh pak Alex.
Kobaran api membara membuat suasana kampung terbengkalai itu sangat lebih menyeramkan dari sebelum nya. kabut tipis masih menyelimuti area perkampungan terbengkalai tersebut dan langkah Dendi dan pak Alex terus saja berjalan menyusuri jalanan kampung itu dengan hati-hati. disatu sisi, Noni Diandra masih dalam keadaan pingsan dan ia berada di dalam sebuah kurungan besar didalam ruangan yang sangat luas. kurungan seperti sangkar burung itu dilapisi dengan mantera penahan arwah dan sangat mustahil bagi Noni Diandra bisa lolos dari dalam nya. tak hanya Noni Diandra yang ada disitu, ternyata terlihat banyak sekali Penjara Sangkar burung yang ditempeli kertas Mantera. di dalam nya banyak juga sosok mahluk yang berwujud seperti manusia. ada juga yang berpakaian semacam prajurit kerajaan pada zaman dulu yang di antara nya ada laki-laki dan perempuan. tak hanya itu, ada juga sosok semacam jin qorin manusia yang sudah mati dan berpenampilan layak nya seorang pemuka agama yang sudah sepuh dan masih banyak lagi berbagai wujud dan bentuk yang belum jelas terlihat. keadaan mereka ada yang sama hal nya dengan Noni Diandra, tertidur atau pingsan. ada juga yang terduduk lesu dan ada juga yang sejak tadi diam melakukan semedi.
Ruangan itu hanya diterangi oleh obor-obor saja dan ada satu mahluk yang menjaga tempat tersebut. terlihat jelas sesosok mahluk tinggi besar sedang terbaring dipembaringan yang terbuat dari batu datar dan berada di dekat kurungan-kurungan tersebut. kulit tubuh nya berwarna hijau tua dan kepala nya botak plontos. gigi taring nya menjuntai keluar dan hanya memakai cawat saja. sosok itu dikenal dengan yang nama nya buto ijo dan kerjaan nya hanya tidur jika ia tak mendapat perintah dari tuan nya.
__ADS_1
Di depan nya ada sebuah lorong entah menuju kemana, dan pada saat itu keluar seorang lelaki berambut panjang acak-acakan. wajah nya tua dan terlihat sangat kurus. pakaian lelaki itu berwarna hitam kumal dan terlihat ada keris tersalip dipinggang nya. ia bertolak pinggang dihadapan buto ijo itu dan kemudian membentak nya dengan keras.
"hei Santeba! bangun kau!" seketika itu juga buto ijo itu bangun dan menguap.
"hoaamzzz..., ada apa tuanku???" tanya nya kepada lelaki tadi.
"mana si Kodel? tadi aku menyuruh nya untuk memberitahukan sesuatu kepada Nyai Kalong Asri."
"mungkin sebentar lagi datang tuanku, memang nya ada apa tuan???" lelaki tadi segera menepak paha buto ijo itu dengan keras nya dan membuat buto ijo itu terperanjat.
"aduh...!! kenapa tuan memukul ku...???" tanya nya sembari kesakitan.
"sudah tuanku,..."
"lalu kemana mereka???"
"Astuti tewas ditangan kedua manusia itu..." ujar buto ijo dan Astuti adalah nama lain dari sosok wewe gombel yang sebelum nya menyerupai sosok Tasya.
__ADS_1
"hah!? Astuti mati?! berarti mereka sangat sakti dan bisa sampai membuat mati Astuti! lalu bagaimana nasib si Gandaria???"
"si Gandaria, seperti nya dia sedang pergi bercinta dengab si Sulastri, genderuwo wanita yang ia taksir itu." ujar buto ijo menyebut nama asli genderuwo yang menculik Noni Diandra.
"dasar setan bejat! setiap hari hanya bercinta saja yang dipikirkan nya! lalu mana tawanan kita itu???"
"disana tuan..." ujar buto ijo itu menunjuk ke arah tempat Noni Diandra dikurung.
Lelaki yang seperti nya dukun sakti itu tadi segera berjalan mendekati kurungan tersebut dan kemudian ia bergumam dan terkagum-kagum melihat Noni Diandra.
"cantik sekali gadis ini. sayang sekali jika aku jadikan sandera dan menukar nya demi merebut cincin mahkota iblis itu dari tangan dua cecunguk itu! tetapi, apa benar jika gadis ini ingin hidup kembali, aku harus membawa nya kepada si ratu laut kidul itu??? ah! untuk apa aku kesana dan memohon kepada nya??? aku pun sangat sakti dan bisa mengembalikan wujud nyata gadis cantik ini. hanya saja, tinggal cincin itu saja syarat nya agar aku bisa menghapus kutukan sialan itu." gumaman panjang tersebut tenyata didengar oleh Noni Diandra.
Ia sebenar nya sejak dimasukan ke dalam penjara sangkar itu sudah siuman. hanya saja ia masih terlihat lemas dan hanya bisa terkulai lemas tak bisa bergerak. efek dari serangan wewe gombel itu ternyata telah membuat lumpuh seluruh badan Noni Diandra untuk sementara dan hanya menunggu waktu saja untuk pulih. disaat Noni Diandra terhampas oleh angin badai itulah tubuh nya segera ditangkap oleh sosok genderuwo itu dan dibawa ke tempat itu. lelaki kurus tadi segera berjalan kembali ke dalam lorong tempat nya keluar dari sana. pada saat buto ijo itu akan tertidur lagi, ada suara teriakan bernada cempreng terdengar dari arah pintu masuk gua.
"tuaaaan....! tuaaaan...!" teriakan tersebut membuat si buto ijo tadi terperanjat bangun dan menatap kesal ke arah suara tadi berada.
"hei Kodel! berisik sekali mulut mu! kau mau aku injak hah!?" bentak buto ijo tadi dan suara nya lebih besar dan menggema seisi ruangan tersebut.
__ADS_1
Para tawanan seketika itu juga terperanjat kaget dan mereka semua menatap ke arah datang nya Kodel yang berwujud seperti tuyul dan badan nya kurus kering dan perut nya buncit. kepala nya hanya ditumbuhi rambut ditengah nya dan dikuncir. area pinggiran kepala nya botak plontos dan wajah nya terlihat kekanak-kanakan. ia cengar-cengir tak karuan ketika dibentak tadi oleh buto ijo itu dan teriakan nya tadi membuat lelaki kurus tadi keluar dari lorong tadi.