
ASAP Menggumpal menutupi puncak gunung merapi itu. suara petir menggelegar dan suara ledakan dahsyat yang sebelum nya itu telah mengegerkan para warga kaki gunung merapi yang letak nya agak jauh dari tempat Dendi dan pak Alex berada. para warga mulai panik dan semua nya keluar rumah, mereka merasakan guncangan gempa tersebut dan menatap ke arah puncak gunung berapi yang mengepulkan asap tebal itu.
"gawat! gunung merapi seperti nya akan meletus!" ucap seorang warga.
"apa iya mas?" tanya salah seorang warga lagi.
"seperti nya memang benar, kita sudah merasakan gempa satu kali dan suara petir menggelegar di atas puncak gunung merapi sebelum nya bukan?"
"benar juga! jarang-jarang sekali ada suara petir disiang bolong begini!" lalu para warga lain nya ada yang menyahut.
"sebelum cuaca mendung dan turun hujan, perasaan tadi cuaca nya tenang-tenang saja mas."
"iya aneh sekali ya." ujar para warga lain nya dan para warga pun terus sama saling berbincang membahas keanehan tersebut.
Kerumunan warga disetiap kampung yang ada dikaki gunung merapi itu masih simpang siur bagai lebah menggaung memperbincangkan kejadian alam yang jarang terjadi itu. bahkan ada sebagian warga yang mengaitkan hal tersebut dengan hal mistis atau gaib. disamping itu, ada beberapa petinggi desa seperti ketua rt dan rw pun mendatangi tempat kediaman kuncen yang menjaga pintu masuk ke puncak gunung merapi. mereka ingin bertanya kepada kuncen tersebut soal kejadian alam gunung merapi yang menggemparkan warga setempat itu.
Dikantor detektive tempat Dendi dan pak Alex bekerja, para karyawan lain nya terlihat sedang menatap Tasya yang sedang menghubungi kantor kepolisian. ia terlihat sedang gelisah didalam ruangan para karyawan itu, saat itu sedang menghubungi kantor polisi yang telah memberikan tugas sebelum nya untuk Dendi dan pak Alex.
Kemudian panggilan Tasya pun dijawab,
"halo pak ketua polisi?"
"iya halo."
"bagaimana pak? apa pak ketua dan anak buah nya sudah menemukan letak lokasi terakhir kepergian Dendi dan pak Alex???"
"kami masih mencari nya nona, kami sedang dalam perjalanan menuju lokasi." jawab suara lelaki dari telepon kantor yang dipegang oleh Tasya.
__ADS_1
"apakah pak ketua polisi sebelum nya pernah menghubungi kemari soal misi yang akan dikerjakan oleh Dendi dan pak Alex???".
"sejak terakhir kasus dirumah kosong itu, kami belum sama sekali menghubungi kantor 'Detektive Indigo' lagi nona."
"lantas jika begitu, siapa yang memberikan misi kepada mereka pak???"
"entahlah, apa sebelum nya mereka berdua pernah bilang sesuatu kepada nona Tasya???"
"entah saya lupa pak, sudah hampir dua minggu sejak kepergian mereka. saya sudah mencoba menghubungi mereka berdua, tetapi panggilan selalu terputus. terakhir saya mengecek melalui GPS ponsel saya tentang keberadaan mereka berdua, mereka berada dijalur menuju suatu kampung dikaki gunung merapi dan lokasi tersebut sudah saya beri tahukan kepada pak ketua polisi." ujar Tasya menjelaskan lagi dan suara lelaki itu menjawab nya.
"yasudah kalau begitu nona Tasya jangan panik dulu, kami sebentar lagi akan sampai ditempat tujuan. jika nanti kami menemukan bukti keberadaan mereka, saya akan menghubungi nona Tasya lagi."
"baiklah jika begitu pak ketua polisi, mohon bantuan nya."
"sama-sama nona Tasya." lalu panggilan telepon pun berakhir.
Disamping itu, Dendi dan pak Alex sudah bertemu dengan Noni Diandra dan Ki Yudha Angsana. mereka masih berada dibalik pohon besar tempat Dendi dan pak Alex bersembunyi sebelum nya. pada saat itu mereka masih memperbincangkan akan langkah rencana mereka selanjut nya dan ki Yudha Angsana pun sudah menceritakan soal ia tiba-tiba menghilang ketika melawan naga siluman sampai ia menyusul Noni Diandra dialam dimensi jin.
Mereka kini lanjut berbincang dan Dendi yang kini bertanya,
"sekarang kita harus bagaimana kek?" tanya Dendi.
"apakah kita langsung serang saja si dukun ceking itu kek?" tanya pak Alex dan kakek tua itu bertanya.
"tunggu dulu, naga siluman itu pergi kemana?"
"tadi aku dan pak Alex melihat naga siluman itu terbang ke atas puncak gunung yang itu kek." lalu kakek tua itu menatap ke arah puncak gunung yang masih mengepulkan asap tebal.
__ADS_1
Noni Diandra yang pada saat itu masih diam segera membuka cincin yang ia kenakan,
"ini pakailah sayang, aku tak bisa mengunakan nya."
"kau saja yang pakai sayang." ujar Dendi lagi.
"kau saja, aku tak bisa mengendalikan kekuatan cincin ini. aku takut gunung ini hancur akibat diriku yang tak bisa mengendalikan kekuatan cincin ini."
"tapi..." ucapan Dendi terpotong oleh kakek tua itu.
"pakailah anak muda. cincin ini sangat lebih berbahaya jika orang yang memakai nya masih diliputi rasa amarah. apakah kalian tadi merasakan juga gempa dan petir menggelegar sebelum nya?" Dendi dan pak Alex mengangguk.
"itulah efek dari kekuatan cincin ini yang tak terkontrol oleh Noni Diandra. para raja jin yang awal nya menyergap nya itu mati menjadi arang akibat terkena kekuatan dahyat yang ada pada cincin ini." Dendi dan pak Alex terdiam sesaat memperhatikan cincin yang masih dipegang oleh Noni Diandra.
Kemudian pak Alex berkata,
"pakailah cincin itu Den, bapak barusan sudah menerawang kejadian yang dialami oleh Noni Diandra diluar kesadaran nya itu. kekuatan cincin ini sangat dahsyat sekali, untung petir yang menggelegar tadi tak mengenai gunung merapi ini."
"jika terkena pasti gunung ini akan hancur dan sudah pasti cairan magma yang ada didalam gunung ini akan mencuat keluar dan sudah pasti akan membuat para warga kaki gunung merapi ini terkubur magma gunung merapi ini."
"sangat sulit dibayangkan jika itu memang benar terjadi." ujar kakek tua itu dan kemudian Dendi pun segera menerima cincin tersebut.
Didalam gua nogo saliro, Santeba sedang membantu Rumpak Balung meminumkan cairan ramuan ajaib itu kepada para sisa tawanan lain nya. Rindani sudah mulai paham akan apa yang sedang dilakukan oleh Rumpak Balung dan Santeba. ia melihat satu persatu para tahanan itu dibuat pingsan secara paksa dan dipaksa untuk meminum cairan tersebut. beberapa tawanan yang sudah lebih dulu meminum ramuan itu mengalami kejang-kejang agak lama dan kemudian terdiam pingsan dengan posisi keadaan raga nya sudah berubah.
Wajah dan perawakan para tawanan itu semua nya sama, meskipun jenis kelamin nya perempuan. tetapi badan dan wajah semua nya menyerupai laki-laki tampan dan berperawakan tegap layak nya seorang lelaki perkasa. Rindani tak mau diri nya dirubah seperti itu, ia ingin mencoba memberontak tetapi ia sadar diri. posisi nya sedang terkurung dan satu-satu nya cara untuk kabur dari penjara itu adalah dengan berpura-pura pingsan. ia kini segera melakukan rencana nya sendiri dan apakah rencana Rindani untuk kabur dari dalam penjara sangkar mantera itu akan berhasil???.
...*...
__ADS_1
...* *...