DETECTIVE INDIGO (KHODAM PENDAMPING)

DETECTIVE INDIGO (KHODAM PENDAMPING)
PEREBUTAN CINCIN MAHKOTA IBLIS


__ADS_3

DI SAMPING Itu, Nyai Lembah Asmara sudah terlihat membaik dan ia berada disamping suami nya yang berdiri menatap ke arah puncak gunung merapi diluar istana banyu asmara.


"apakah kakang sudah mengetahui akan asal muasal suara petir dan ledakan dahsyat sebelum nya itu berasal dari mana??"


"masih belum..., tapi firasatku semua ini ada hubungan nya dengan Rumpak Balung dan Mandulangi."


"Rumpak Balung dan Mandulangi!? maksud mu bagaimana kakang??? bukankah Mandulangi sudah mengasingkan diri dipuncak gunung merapi dan tak mau ikut campur urusan duniawi ini???"


"Mandulangi memang sudah tak mau ikut campur soal duniawi lagi, tetapi jika tempat pengasingan nya itu terganggu seperti suara ledakan yang sudah kita rasakan itu. mau tak mau ia akan turun tangan untuk membabat siapa saja yang berani macam-macam kepada nya atau menganggu tempat pengasingan nya itu." ujar Prabu Murdawira dan Nyai Lembah Asmara sedikit gelisah seraya berkata.


"apakah jika kita nanti berpas-pasan dengan Mandulangi, apa dia akan menyerang kita seperti kejadian tempo dulu?"


"seperti nya dia masih menaruh dendam kepada kita, terutama kepada mantan rekan abdi lain nya."


"jika begitu, Mandulangi tak akan berpihak kepada Rumpak Balung bukan??? sedangkan Lembu Ireng, Mawar Seruni dan Kalong Asri sudah tewas dalam pertarungan nya melawan pemegang cincin mahkota iblis itu kakang."


"benarkah?!" tanya Prabu Murdawira kaget dan Nyai Lembah Asmara mengangguk. kemudian Prabu Murdawira berkata,


"kalau begitu kita harus tetap waspada kepada mereka berdua. sekarang kita tak boleh kalah lagi dengan si Rumpak Balung dan Mandulangi sayang!"


"baik sayang! kita akan satukan kekuatan untuk melawan mereka! kita harus segera merebut cincin mahkota iblis itu sebelum jatuh ke tangan mereka berdua sayang!" Prabu Murdawira mengangguk dan kini sepasang suami istri itu mulai bergerak untuk mencari keberadaan Dendi dan yang lain nya untuk merebut cincin mahkota iblis itu kembali.


Dendi dan Pak Alex serta Dendi dan Noni Diandra pun kini sudah nekat masuk ke dalam gua tersebut. mereka sudah tak sepakat untuk menggempur langsung isi gua tersebut, ketika mereka tiba kembali didalam gua itu. mereka melihat Rumpak Balung sedang meminumkan cairan ajaib nya itu ke tahanan yang sudah dibuat pingsan. Rindani pada saat itu sudah berpura-pura pingsan dan tak mengetahui kedatangan Dendi dan yang lain nya.


"hentikan kelakuan mu itu dukun ceking!!" teriak kakek tua itu dan membuat Santeba dan dukun ceking itu segera menatap ke arah suara itu berasal.

__ADS_1


"bangsat!! mengapa mereka masih hidup Santeba!! kemana pergi nya Siluman naga itu!!"


"saya tak tahu tuanku." jawab Santeba takut dan Rumpak Balung yang sudah marah itu membentak.


"apa maksud kalian datang ke tempat ku ini hah!? apa kalian ingin memberikan cincin mahkota iblis itu kepadaku???"


"kedatangan kami bukan untuk memberikan cincin yang ada padaku ini! melainkan akan menghentikan tindakan kekejian mu terhadap para mahluk tak bersalah ini!" ujar Dendi dan Rumpak Balung melotot seraya menuding ke arah Dendi dengan makian.


"bukan urusan mu bocah tengik!! heaahh!!'' ucap Rumpak Balung menghentakan tangan nya ke arah Dendi dan keluarlah tenaga dalam berwarna merah api sebesar kelapa tanpa sabut ke arah Dendi.


"awaaas!! cepat menghindar!!" teriak kakek tua itu dan membuat Noni Diandra dan Pak Alex segera menghindar.


Tetapi Dendi masih terdiam ditempat nya dan mata cincin yang ia pakai itu ia hadapkan kepada serangan itu. ia mencoba ingin menghalau serangan itu memakai cincin mahkota iblis, ia ingin melihat kehebatan cincin tersebut secara langsung dan berniat ingin membuktikan kesaktian cincin tersebut.


wosss!! bagai bara api tersiram air, suara tersebut berasal dari cincin mahkota iblis yang menyerap serangan Rumpak Balung tadi. mereka yang ada disitu menatap kagum kepada Dendi karena bisa menahan serangan Rumpak Balung yang cukup berbahaya tadi.


Dendi pun dalam hati nya merasa bangga bisa menahan serangan itu dan ia kini sudah percaya betul akan kekuatan yang berada didalam cincin mahkota iblis itu.


"setan buduk!! unjuk ilmu kau didepan ku anak setan!!" bentak Rumpak Balung, kemudian ia berjalan memutar mendekati Dendi yang masih menatap nya.


Pak Alex pada saat itu berkata kepada ki Yudha Angsana dan didengar oleh Noni Diandra.


"apa yang harus kita lakukan sekarang kek!? Dendi dalam bahaya!"


"jangan panik. kalian berdua bantu kakek membebaskan semua tahanan itu. ayo lekas segera, sebelum si dukun ceking itu mencegat kita!" Pak Alex dan Noni Diandra segera mengikuti ki Yudha Angsana yang berlari menuju tempat pada tawanan berada.

__ADS_1


Pada saat itu Santeba melihat mereka berlari menuju kurungan para tawanan dan ia berteriak,


"tuaaan!! mereka hendak membebaskan para tawanan kita!!" Rumpak Balung langsung menjawab nya tanpa menatap ke arah Santeba.


"kau hadang mereka cepat!! aku akan merebut cincin itu!!"


"baik tuan!!" lalu Santeba terbang melesat ke arah Ki Yudha Angsana, Noni Diandra dan Pak Alex berada.


Dendi masih terdiam mematung menatap Rumpak Balung yang menatap nya dengan tajam.


"serahkan cincin yang kau pakai itu kepadaku cepat!!"


"rebutlah sendiri kalau kau mampu!" gertak Dendi dan membuat Rumpak Balung murka dipermainkan seperti itu. Rumpak Balung segera mencabut cambuk yang terselip dipinggang nya, kemudian ia melecutkan nya ke arah Dendi tiga kalo seraya berteriak lantang.


"Cambuk Getar Bumi....! heaaah!!"


ctarrrr!! ctarrr!! ctarrr!! blegaaaaarrrrr!! ledakan dahsyat mengguncangkan seisi gua itu.


Cambukan yang dilakukan Rumpak Balung terhadap Dendi tadi tak membuat nya bangga, karena Dendi masih berdiri dan badan nya masih utuh. Dendi tersenyum meremehkan Rumpak Balung,


"biadab!! pusaka cambuk getar bumi ku ini pun tak mampu menembus perisai gaib cincin itu!?" ucap batin Rumpak Balung semakin penasaran. pada saat itu Dendi melihat raut wajah Rumpak Balung yang gusar itu dan ia lalu langsung melontarkan kata.


"ayo keluarkan semua ilmu kesaktian mu itu dukun ceking!" ujar Dendi berkata meremehkan dan membuat dukun ceking itu semakin murka kepada Dendi.


Seisi gua itu bagai mau runtuh, batu-kecil bercampur serbuk halus nya yang ada dilangit-langit gua itu bagai berguguran jatuh. mereka semua yang ada didalam gua tersebut merasakan ledakan dahyat itu dan beberapa ada yang membuat para tawanan tersentak bangun dari pingsan nya. Santeba pada saat itu sudah menghadang langkah Ki Yudha Angsana, Noni Diandra dan pak Alex. ia memikul pusaka godam berduri nya seraya berkata,

__ADS_1


"langkahi mayatku dulu jika kalian ingin membebaskan para tawanan itu!!" gertak nya dan membuat Ki Yudha Angsana menyuruh pak Alex dan Noni Diandra untuk mundur.


"mundurlah dan cari tempat berlindung, kakek saja yang akan menghadapi mahluk ini!" ucap sang kakek bernada serius dan pak Alex serta Noni Diandra pun segera menuruti nya.


__ADS_2