
POHON Tua yang berada di dekat Noni Diandra pun terdengar berkata,
"nona manis, seperti nya waktu kakek tak lama lagi."
"maksud kakek???" tanya Noni Diandra tak mengerti.
"kakek sudah tak bisa hidup lebih lama lagi, karena semua ranting pohon kakek yang kau tanami itu semua nya akan menyerap inti sari nyawa kakek dan kakek akan mati mengering hingga akhir nya pohon ini lapuk."
"oh jadi begitu kek. baiklah kalau begitu kek, lalu apa yang harus aku lakukan lagi kek???" pohon tua itu menatap ke arah kedatangan Dendi dan ketiga orang yang ada didekat nya. kemudian ia berkata,
"bunuh Nyai Lembah Asmara, jangan tega ataupun kasihan jika ia telah dilumpuhkan. karena dia orang yang licik dan mampu membuat kalian terkecoh."
"baik kek, aku akan simpan saran mu itu." ujar Noni Diandra, kemudian kakek itu batuk-batuk seraya berkata lagi.
"terima kasih kau sudah menolong kakek nona manis." setelah kakek itu berkata begitu, napas nya langsung terlihat sesak sekali jika dihirup. Noni Diandra hanya bisa menyaksikan kakek itu sekarat dan akhir nya mata pohon tua itu terpejam untuk selama-lama nya. kulit pohon tua yang sudah banyak terkelupas itu pun akhirnya tumbang dengan sendirinya seperti pohon yang sudah lapuk.
Noni Diandra hanya terdiam menatap roboh nya pohon tua itu dan kemudian terdengar suara seruan memanggil nama Noni Diandra.
"Noni Diandraaaa...!" teriak Dendi dari kejauhan dan membuat Noni Diandra segera menatap penuh keharuan ke arah suara itu berasal.
"Dendiiii sayangkuuuuu....!" teriak Noni Diandra ke arah Dendi dan pak Alex serta dua orang yang tak dikenali oleh Noni Diandra.
Pada saat Noni Diandra ingin terbang ke arah Dendi dan rombongan nya itu, tiba-tiba saja ada angin kencang berhembus dipertengahan jarak antara Dendi dan Noni Diandra. Noni Diandra segera menghentikan terbang nya dan begitupun dengan Dendi. ternyata angin kencang tadi berasal dari dua sosok yang tiba-tiba saja sudah ada dipertengahan jarak itu.
"itukan si ratu duyung!" ucap Noni Diandra dalam hati nya dan dengan cepat Nyai Lembah Asmara segera menerjang Noni Diandra karena ia ingin menangkap nya. Noni Diandra telah menghindar dan akhir nya ia tertangkap oleh Nyai Lembah Asmara. Dendi dan orang yang ada dibelakang nya telat bertindak dan terdengar Nyai Lembah Asmara berkata.
__ADS_1
"hahahah! tertangkap lagi kau sekarang gadis jelek!"
"lepaskan! lepaskan aku!" teriak Noni Diandra ingin berontak dan suami nya Nyai Lembah Asmara sejak tadi menatap tajam ke arah Dendi dan ke tiga orang yang ada dibelakang nya.
"itukah suami nya yang pernah dikubur hidup-hidup itu???" tanya pak Alex kepada Raden Ambarawa,
"seperti nya memang benar." jawab nya dan kakek tua itu berkata kepada Dendi.
"tahan dulu nak Dendi, jangan gegabah! bisa-bisa kau dalam bahaya!"
"tapi kek aku harus segera menyelamatkan Noni Diandra!"
"sabar dulu nak, kita belum tahu apa motif Nyai Lembah Asmara itu ingin menangkap Noni Diandra." Noni akhir nya menyurutkan keras kepala nya untuk menyelamatkan Noni Diandra.
Pada saat itu Noni Diandra berkata memohon kepada Dendi agar segera menyelamatkan nya.
"diam kau perempuan binal! kau akan aku lepaskan jika orang yang memegang cincin mahkota iblis itu menyerahkan cincin tersebut kepada ku!"
"jangan mimpi kau!" teriak Noni Diandra dan membuat Nyai Lembah Asmara kesal dan segera menotok leher nya Noni Diandra. pada saat itu juga Noni Diandra terkulai lemas karena syaraf nya telah ditotok tadi dan keadaan nya masih sadar.
Pada saat itu suami nya Nyai Lembah Asmara berseru.
"cepat serahkan cincin yang ada padamu itu anak muda!"
"jangan harap cincin ini bisa jatuh ke tangan kalian!" jawab Dendi dengan lantang dan tiba-tiba saja suami nya Nyai Lembah Asmara menyodokan telapak tangan kanan nya ke arah Dendi.
__ADS_1
Sinar berwarna kuning ke emasan sebesar biji salak tampak melesat ke arah Dendi dan ketiga orang yang ada dibelakang nya berteriak agar Dendi menghindar. tetapi seruan ketiga orang itu tak didengarkan oleh Dendi dan Dendi segera mengarahkan mata cincin yang ada ditangan nya itu ke arah sinar tadi berada. Nyai Lembah Asmara sejak tadi sedang menatap ke arah Raden Ambarawa karena ia sedikit teringat akan siapa lelaki muda itu. tetapi pandangan nya segera dilemparkan ke arah Dendi yang terlihat sedang menahan serangan dari suami nya itu.
Semua nya melihat ada lapisan bening yang menyelimuti tubuh Dendi dan sinar tadi akhir nya meledak.
"duarrrrr!!" ledakan tersebut membuat suasana hutan belantara itu diguncang angin badai. pak Alex dan yang lain nya siap siaga ketika suami Nyai Lembah Asmara berkata,
"brengsek! baru kali ini ada orang yang bisa menahan ilmu rawon badai ku!" geram suami Nyai Lembah Asmara dan kemudian suami nya Nyai Lembah Asmara segera menerjang Dendi dengan memakai tongkat pusaka nya.
"mundur Den!" teriak pak Alex dan pada saat itu kakek tua yang menyaksikan hal tersebut segera menangkap tubuh Dendi dari belakang untuk ia bawa menghindar.
tranggg!! suara benturan keras itu terdengar nyaring ketika kakek tua itu berhasil membawa lari Dendi ke dekat pak Alex. ternyata suara dentingan besi beradu tadi berasal dari keris Raden Ambarawa yang menahan tongkat pusaka nya Prabu Murdawira.
"siapa kau berani-berani nya menahan seranganku hah!" bentak Prabu Murdawira dan Raden Ambarawa pun menjawab nya.
"aku adalah orang yang mempunyai Dendam Kesumat kepada istri lacur mu itu Prabu Murdawira!" ucap Raden Ambarawa tetap menahan tongkat emas nya Prabu Murdawira.
Nyai Lembah Asmara masih diam mengingat-ingat siapa lelaki tampan yang pernah ia kenali itu. ketika Raden Ambarawa berkata lagi,
"namaku Raden Ambarawa dan aku adalah lelaki yang sudah pernah dijadikan pemuas nafsu istri bejat mu itu ketika kau sedang melakukan pengobatan dikubur hidup-hidup dipuncak gunung himalaya!"
"apa!?" sentak suami nya Nyai Lembah Asmara kaget dan membuat Nyai Lembah Asmara pun kaget juga.
Pada saat itu Raden Ambarawa segera menendang paha Prabu Murdawira yang terlihat lengah itu, tetapi tendangan itu segera ditahan memakai tangan kiri Prabu Murdawira. lalu mereka pun segera melakukan serangan senjata masing-masing dan perkelahian antar ksatria pun terjadi. suara denting besi beradu terdengar beberapa kali serangan kedua ksatria itu dan gerakan silat kedua nya sama-sama gesit. Nyai Lembah Asmara baru mengingat akan nama Raden Ambarawa yang dulu nya pernah ia jadikan budak nafsu nya.
Nyai Lembah Asmara pun kemudian menatap kakek tua yang berdiri berdekatan dengan Dendi dan pak Alex yang menyaksikan pertarungan dua ksatria itu. pada saat itu Nyai Lembah Asmara membatin,
__ADS_1
"pasti orang yang sudah menghapus kutukan Raden Ambarawa adalah kakek tua itu dengan cara menaklukan Raden Ambarawa yang dulu aku kutuk menjadi ular raksasa itu! pantas mereka bersekutu sekarang! seperti nya aku perlu ikut campur dalam pertarungan suami ku dan si Raden Ambarawa itu!" ucap batin Nyai Lembah Asmara dan ia kini duduk bersila didepan tubuh Noni Diandra yang terbaring lemas ditanah berumput itu.