DETECTIVE INDIGO (KHODAM PENDAMPING)

DETECTIVE INDIGO (KHODAM PENDAMPING)
ISTANA GULINGAN TERANCAM BAHAYA


__ADS_3

Ki Yudha Angsana pun memahami kebingungan dari Ki Agung itu, lalu ia berkata.


"seperti nya Ki Agung masih ada tugas yang belum diselesaikan Nyai Ratu."


"apa itu???" tanya Nyai Ratu ingin tahu.


"Mandulangi...," ujar Ki Yudha Angsana pendek dan Ki Agung Segera ingat akan musuh lama nya itu.


"benar sekali, salah satu dari ketujuh abdi nya kerajaan kedaton sewu yang berambisi dalam merebut cincin mahkota iblis itu masih hidup Nyai Ratu. dialah Mandulangi dan seperti nya saat ini ia masih mencari saya untuk membalas dendam nya itu Nyai Ratu." ucapan Ki Agung itu membuat Nyai Ratu manggut-manggut dan berkata,


"aku baru ingat soal itu, dayang ku yang aku perintahkan untuk memantau perjalanan dua manusia itu telah melaporkan perjalanan mereka berdua yang telah berhasil membunuh ke enam abdi mantan kerajaan kedaton sewu dengan bantuan kalian berdua. aku yakin, saat ini Mandulangi sedang marah besar kepada kalian berdua." ujar Nyai Ratu dan Ki Agung Maha Sakti serta Ki Yudha Angsana saling tatap.


Pada saat itu Ki Yudha Angsana mendapat bisikan telepati dari istri nya.


"sayang! kota raja kita diserang oleh orang yang tak dikenal! ia mengamuk disana dan mencari orang dengan ciri-ciri pakaian yang kau kenakan itu sayang!" seketika itu juga Ki Yudha Angsana mendelik kaget ke arah Ki Nyai Ratu dan Ki Agung Maha Sakti.


"Nyai Ratu, saya mohon pamit untuk segera pulang. kota raja kerajaan istana gulingan diserang orang yang tak dikenal!"


"pasti itu Mandulangi!" ujar Ki Agung Maha Sakti, kemudian Nyai Ratu berkata.


"baiklah, seperti nya kau harus segera kembali Ki Yudha. aku menyertai perjalanan mu dan mendoakan mu supaya istana mu dan orang-orang nya baik-baik saja."


"terima kasih Nyai Ratu, semoga Nyai Ratu selalu sehat wal'afiat." ujar Ku Yudha Seraya menghaturkan sembah dengan merapatkan kedua tangan nya dikepala.

__ADS_1


Ketika Ki Yudha Angsana akan pergi, Ki Agung segera berkata.


"aku ikut nak mas!"


"tak perlu ki, ki Agung disini saja."


"tidak nak mas! Mandulangi adalah musuh ku dan aku juga yang harus menyelesaikan permusuhan nya itu dan menghentikan nya! izinkan saya ikut dengan nak mas pangeran Yudha ini Nyai Ratu." ujar Ki Agung kepada Nyai Ratu Kadita.


Nyai Ratu Kadita awal nya enggan mengizinkan, karena ia masih memerlukan Ki Agung untuk menjadi bagian dari keluarga istana nya. tetapi ia pun akhir nya menyetujui Ki Agung untuk ikut dengan Ki Yudha, karena ia tak bisa menghentikan kehendak Ki Agung yang sudah bebas tugas dalam tugas istana nya itu.


"baiklah, aku mengizinkan mu Ki Agung. semoga kalian berdua sehat-sehat saja setelah melawan Musuh Terakhir kalian yaitu Mandulangi."


"baik terima kasih Nyai Ratu." ujar kedua nya dan kini mereka telah pamit kepada Nyai Ratu Kadita dengan cara berpindah tempat memakai ilmu nya Ki Yudha Angsana.


"semoga kau betah tinggal di istanaku Diandra."


"terima kasih telah menjadikan saya dayang mu Nyai Ratu." ujar Noni Diandra dan Nyai Ratu pun hanya tersenyum saja kepada Noni Diandra bersama Nyai Blorong dan Nyai Lanjar. kini Noni Diandra akan hidup abadi di istana kerajaan laut kidul sampai akhir zaman.


Bagian depan pintu masuk kota raja kerajaan istana gulingan, nampak porak poranda dan pintu gerbang gapura nya hancur. seperti nya telah terjadi pertarungan disana dan di dalam kepungan para prajurit kerajaan tersebut, ada Mandulangi yang menatap nanar ke arah keliling para prajurit itu. Mandulangi telah sampai ditempat itu ketika salah satu bayangan dari ketujuh nya menemukan istana kerajaan gulingan itu. ia pun mendekati nya dan bertanya-tanya kepada mahluk halus yang ada dihutan samping pintu gerbang tentang penampilan Ki Yudha Angsana yang membawa dua orang yang pingsan. mahluk halus yang mendiami hutan itu pun memberitahukan nya bahwa yang dicari Mandulangi telah masuk ke dalam istana kerajaan itu.


Maka bayangan Mandulangi itu segera melapor melalui telepati kepada raga tubuh asli nya yang masih bersemedi itu. maka tak butuh waktu banyak lagi, Mandulangi sudah berpindah tubuh nya ditempat salah satu bayangan yang berada didekat pintu gerbang kota raja kerajaan istana gulingan. ke enam bayangan mandulangi yang berpencar pun sudah menyatu dengan tubuh asli nya Mandulangi.


Beberapa prajurit ada yang terluka ketika melawan amukan Mandulangi yang ingin masuk ke dalam kota raja dan segera dibawa ke pos prajurit yang ada didekat gerbang istana gulingan.

__ADS_1


Ketiga anak Ki Yudha Angsana pun yang sedang berada dikota raja segera datang ke tempat pintu masuk kota raja dan melihat Mandulangi sedang melawan para prajurit yang mengelilingi nya itu.


"munduuuuur para pranjuriiit!" teriak Riyoshi dan para prajurit pun segera mundur dan segera membawa rekan mereka yang terluka. Mandulangi menatap geram ke arah Riyoshi, Ristanti dan Rindani.


Mata Mandulangi menatap satu persatu wajah dari ketiga anak muda itu dan berkata dengan suara serak nya.


"siapa kalian hah!? apa kalian melihat seorang lelaki membawa dua orang yang terluka masuk ke dalam kerajaan ini???"


"harus nya kami yang bertanya siapa kau ini! berani-berani nya kau merusak ketentraman kerajaan istana gulingan ini!" ujar Riyoshi dengan lantang dan Mandulangi berkata,


"anak bau kencur tak sopan kau kepada orang tua! cepat tunjukan dimana orang yang aku cari itu!" ujar Mandulangi dan Rindani paham bahwa yang dicari orang itu adalah ayah nya.


Rindani segera membisikan nya kepada Ristanti bahwa yang dicari orang aneh itu adalah ayah mereka. Mandulangi mendengar bisikan itu dan menyeringai napsu membunuh.


"jadi kalian bertiga adalah anak sikeparat yang telah membawa kabur lawanku!? baiklah, akan aku pancing ayah kalian agar muncul didepan ku dengan cara aku akan membunuh anak-anak nya! heaahhh!" Mandulangi segera melesat menghantamkan tongkat trisula nya ke arah ketiga anak nya Ki Yudha Angsana.


Riyoshi segera menyuruh kedua adik nya untuk menghindar dan ia segera mencabut pedang nya untuk menghadang serangan Mandulangi.


tranggg! suara keras berdenting itu berasal dari suara pedang Riyoshi yang menahan serangan Mandulangi. angin berhembus kencang dari tabrakan kedua senjata pusaka itu, Risyosi lalu menendang pinggang Mandulangi dan Mandulangi segera berjungkir balik ke atas dan kaki nya ingin menjejak kepala Riyoshi.


Tetapi Riyoshi sangat cekatan, ia segera berguling ditanah dan jejakan Mandulangi menginjak tanah berumput itu dan tanah yang dipijak nya itu mengepulkan asap. Ristanti dan Rindani yang sudah menghindar dan berada didekat para prajurit itu nampak kagum melihat Riyoshi melawan Mandulangi dengan pedang pusaka nya.


...*...

__ADS_1


...* *...


__ADS_2