DETECTIVE INDIGO (KHODAM PENDAMPING)

DETECTIVE INDIGO (KHODAM PENDAMPING)
TENTANG MASA LALU KI AGUNG MAHA SAKTI


__ADS_3

SUKMA Ki Agung Maha Sakti masih bersemedi dengan khusuk nya. ia sedang meminta izin kepada Nyai Ratu Pantai Selatan yang selama ini telah menjadi Ratu nya disaat Ki Agung Maha Sakti masih muda yang pernah menjadi panglima perang nya istana pantai laut selatan sampai ia menua dan memiliki keturunan. sejak kematian Ki Agung Maha Sakti yang telah terjadi pada abad yang sudah silam itu, Nyai Ratu Pantai Selatan yang bernama Asli Nyai Kadita itu tak memiliki pengganti panglima perang lagi.


Pernah kala Ki Agung Maha Sakti masih menjabat sebagai panglima perang nya istana laut pantai selatan, Nyai Ratu Kadita sempat menawarkan hidup abadi kepada ki Agung Maha Sakti. tetapi ia menolak dan ingin merasakan mati layak nya seorang manusia normal pada umum nya. maka sangat disayangkan sekali oleh Nyai Ratu Kadita ketika Ki Agung Maha Sakti meninggal karena ketuaan nya. keturunan Ki Agung Maha Sakti sama sekali tak diperbolehkan untuk menjadi pengganti Ki Agung Maha Sakti sebagai panglima perang nya Nyai Ratu Pantai selatan karena janji nya terhadap istri nya agar anak-anak dan keturunan nya bisa hidup seperti manusia pada umum nya.


Nyai Ratu Kadita pun tak memaksa keinginan Ki Agung Maha Sakti itu, kemudian dipenghujung umur nya yang sudah menua itu. Ki Agung Maha Sakti berniat ingin mengembalikan cincin mahkota iblis kepada Nyai Ratu Pantai Selatan, karena ia sudah mengajukan masa pensiun nya. tetapi Nyai Kadita menolak cincin itu dikembalikan karena itu adalah hadiah atas kemenangan nya melawan para pemberontak yang ingin menjajah istana laut pantai selatan pada masa yang telah lalu.


Maka mau tak mau cincin tersebut diwariskan oleh Ki Agung Maha Sakti kepada anak tertua nya dan mengamanatkan agar menjaga cincin tersebut dari hal-hal yang tak senonoh. menyimpan nya dan merawat nya, agar khasiat cincin tersebut tetap terjaga kesucian dan kekuatan nya. amanah tersebut diwariskan lagi dari satu generasi sampai ke generasi selanjut nya.


Digenerasi selanjut nya, adalah Rangga yang keturunan ketiga dari Ki Agung Maha Sakti. dialah yang telah mengingkari amanat leluhur nya dan membuat khasiat cincin itu menjadi luntur dan kotor. akibat nya, energi negatif yang telah lama terkurung didalam cincin mahkota iblis itu menjadi menguasai sang pemegang cincin tersebut.


Setelah keturunan nya Rangga, efek negatif dari cincin itu adalah dapat melihat hal-hal yang berbau dengan hal gaib dan merasakan kehadiran mahluk tak kasat mata. hingga keturunan ke enam yaitu ayah nya Dendi dan keturunan ke tujuh yaitu Dendi, pengaruh negatif dari cincin mahkota iblis itu masih tetap berlaku dan akan tetap begitu sampai Dendi memiliki keturunan.


Tetapi ada satu cara agar efek negatif itu hilang selama nya, yaitu dengan cara mengembalikan cincin tersebut kepada sang pemilik nya. maka di kasus Dendi ketika pertama kali ia menyelidiki pembunuhan dirumah kosong dikampung talasari bersama pak Alex, hal itu bukan suatu kebetulan ia bertemu dengan Noni Diandra. melainkan sudah takdir hidup nya berjalan seperti itu dan hal tersebut ada pengaruh nya dari efek negatif dari cincin mahkota iblis yang terus saja merongrong keturunan Ki Agung Maha Sakti.


Kini, Ki Agung Maha Sakti sudah membuka mata nya dan Ki Yudha Angsana menatap nya seraya bertanya.


"bagaimana ki?"


"maaf nak mas, aku tak bisa menjelaskan nya. Nyai Ratu melarangku untuk menceritakan asal muasal dari mana cincin mahkota iblis itu berasal."

__ADS_1


"baiklah kalau begitu ki, aku tak bisa memaksa nya."


"tetapi kau jangan berkecil hati nak mas, Nyai Ratu sendiri nanti yang akan menjelaskan nya kepada mu jika kau mau mengantar anak muda ini pergi ke dalam istana laut pantai selatan." Ki Yudha Angsana mengerutkan dahi nya seraya bertanya.


"maksud mu ki? aku harus mengantar anak muda ini kesana?" Sukma Ki Agung mengangguk.


"baiklah aku tak keberatan akan soal itu, tetapi bukankah anak muda ini telah mendapat tugas dari mu untuk mengembalikan cincin ini kepada pemilik nya ki? mengapa bukan ki Agung sendiri yang mengantar nya? bukan kah anak muda ini adalah keturunan ketujuh nya ki Agung Maha Sakti???"


"memang seharus nya begitu nak mas, ilmu ku sudah banyak yang berkurang kekuatan nya dan banyak juga yang menghilang karena faktor ketuaan ku ini. aku sudah tak bisa lagi membawa raga utuh manusia ke alam dimensi siluman ataupun alam dimensi jin. kecuali dirimu seperti yang telah kau lakukan ini kepada cucu cicitku nak mas, sudikah kau menolong kesulitan cucu cicit ku ini?" Ki Yudha Angsana merenung sejenak sambil menatap wajah Dendi yang masih bersandar pingsan dibatang pohon besar itu.


"baiklah ki, aku akan berusaha untuk menolong cucu cicit mu ini."


"sama-sama ki Agung. ujar Ki Yudha Angsana dan ia tersenyum sopan seraya menunduk hormat kepada ki Agung Maha Sakti.


Pada saat itu Ki Agung Maha Sakti menatap jauh ke arah pintu gerbang kota raja istana gulingan. ia melihat dua orang kembar laki-laki dan perempuan berwajah cantik dan tampan. pakaian mereka layak nya seorang anak raja dan ratu yang memakai baju perang yang terbuat dari emas murni.


Kedua nya berjalan beriringan sambil mengobrol menuju pintu gerbang kota raja.


"bukankah itu anak kembar mu nak mas???" ujar ki Agung Maha Sakti dan Ki Yudha Angsana segera memalingkan wajah nya ke belakang.

__ADS_1


"Ristanti!? Riyoshi!? darimana mereka!?" ucap nya tersentak kaget. kemudian Ki Agung Maha Sakti segera mengirimkan bisikan telepati kepada kedua anak kembar nya itu dan mereka yang berjalan hendak masuk ke dalam kota raja itu menjadi menghentikan langkah nya.


"aku mendengar bisikan ayah kak." ujar Ristanti, adik nya Riyoshi."


"kakak juga mendengar nya dik,.. seperti nya arah nya dari arah hutan itu." ujar Riyoshi seraya menunjuk ke tempat Ki Yudha Angsana berada.


"ayo kita kesana kak, aku yakin itu ayah yang mengirimkan telepati kepada kita." ujar Ristanti dan kakak nya mengangguk.


"penjaga, tutup kembali pintu gerbang nya." ujar Riyoshi kepada kedua penjaga pintu gerbang itu.


"baik Pangeran." ujar kedua penjaga gerbang itu patuh dan kini Riyoshi dan Ristanti berjalan menuju tempat yang mereka tuju.


Disamping itu Mandulangi telah sampai dialam dimensi siluman. ia berada disebuah rawa-rawa berhutan lebat dan gelap sekali,


"dimana aku!? mengapa hawa nya sangat dingin sekali!?" ujar Mandulangi dalam hati nya. ia menatap nanar ke arah sekeliling nya dan kehadiran nya itu telah disambut tak baik oleh penunggu hutan gelap tersebut.


Suara lolongan serigala terdengar amat menyeramkan dan terlihat manusia setengah serigala berjalan bungkuk mengelilingi Mandulangi. seringai buas dari mereka nampak menyeramkan dengan gigi-gigi taring runcing terlihat amat menakutkan. siluman berwujud manusia setengah serigala itu masing-masing membawa gada besi berukuran sedang sebesar pemukul bola baseball. terlihat besi-besi runcing menempel dipermukaan gada besi tersebut dan bercak darah terlihat mengering.


Siluman setengah serigala itu berjumlah hampir seratus sosok dan di antara mereka ada yang paling besar dan lebih menyeramkan lagi wujud nya. Mandulangi tersenyum menyeringai sinis menatap satu persatu wajah siluman setengah serigala itu.

__ADS_1


"seperti nya mereka menganggap rendah diriku ini!" ujar batin Mandulangi merasa disepelekan oleh para siluman setengah serigala itu.


__ADS_2