
MANDULANGI Masih dikelilingi siluman serigala itu, kemudian terdengar lolongan keras dari ketua mereka.
"auuuuuuurggggh!! bunuh penyusup itu!!"
"auuuuuuuuu....!!" lolongan panjang dari para anak buah siluman serigala itu adalah tanda Mandulangi sedang diserang oleh sekumpulan siluman serigala tersebut.
Mandulangi diserbu dan ia segera menancapkan ujung tongkat pusaka trisula nogo saliro nya itu ke tanah rawa basah itu. para siluman serigala yang akan menerkam Mandulangi itu tiba-tiba terhempas mundur oleh tiupan angin kencang dari tongkat trisula yang ditancapkan oleh Mandulangi tadi.
"grrrrr berani-berani nya kalian ingin menyerangku hah! tidak tahu kah kalian aku ini siapa hah!?" teriak Mandulangi kepada para siluman serigala yang terlempar itu.
Para siluman serigala nampak mulai ciut nyali nya dibentak keras oleh Mandulangi seperti itu, tetapi ketua dari siluman serigala itu membalas nya.
"jahanam! ku bunuh kau penyusup! heahhhh." ketua serigala itu menyerang rumpak balung dan menghantamkan palu gada besar nya ke arah Mandulangi.
blammm!! pukulan gada palu itu tak mengenai tubuh Mandulangi, melainkan menghantam tanah rawa becek itu. ketua siluman serigala itu menatap nanar ke arah hilang nya Mandulangi tadi, tiba-tiba ia melayangkan palu gada nya itu ke samping belakang dan terdengar suara berdenting keras.
traanggg!! semua mata siluman serigala itu nampak tegang melihat ada orang yang mampu menahan pukulan ketua mereka itu.
Mandulangi memang berada di belakang siluman serigala itu dan menahan pukulan palu gada berduri itu. kemudian Mandulangi segera mendorong pertahanan nya itu dan membuat ketua siluman serigala itu tersentak mundur. kemudian Mandulangi meloncat dan menusukan ujung trisula nya ke tubuh ketua serigala itu dengan cepat dan jrubbb!! tubuh ketua serigala itu tertancap ujung trisula tajam itu.
Tubuh ketua serigala yang besar itu menyusut dan semakin kurus. tak ada darah yang keluar dari tusukan tersebut, karena darah mahluk itu diserap oleh pusaka trisula nogo saliro itu.
"siapa lagi yang ingin bernasib malang seperti ketua kalian hah!?" teriak Mandulangi setelah ia melepaskan tusukan pusaka nya ditubuh ketua siluman serigala yang sudah mengering bagai tengkorak di bungkus kulit itu.
Semua anak buah siluman serigala yang sudah mati itu kabur lari terbirit-birit melihat ketua nya mati mengenaskan seperti itu. Mandulangi tak mengejar nya dan ia tak peduli akan mereka karena tujuan nya masuk ke alam dimensi lain untuk mencari orang yang telah membawa lari raga Dendi dan sukma Ki Agung Maha Sakti. ia lanjut mencari petunjuk dari mahluk-mahluk yang dapat ia tanyai keterangan soal orang yang membawa lari raga Dendi itu.
Disamping itu Anak kembar nya Ki Yudha Angsana tiba ditempat ayah nya berada dan kedua nya tersentak kaget.
"ayah!?" lalu mereka berlari dan memeluk ayah nya dengan senang.
"kalian berdua habis darimana?" tanya sang ayah.
__ADS_1
"Rista dan kakak Riyo baru saja pulang mencari adik Rinda ayah."
"siapa yang menyuruh kalian? bukankah ayah telah melarang kalian untuk ikut mencari Rindani adik kalian itu???"
"memang ayah, tapi ibu menyuruh kami berdua." ujar Riyoshi dan sang ayah berkata,
"sudah lupakan kalau begitu, lalu apa kalian sudah bertemu dengan Rindani???"
"belum ayah." ujar kedua nya serempak.
"Rindani sudah pulang ke istana, kalian tak usah khawatir. oh iya, perkenalkan ini adalah sukma nya Ki Agung Maha Sakti yang dulu pernah ayah ceritakan kepada kalian itu."
"benarkah ayah!?" jawab kedua nya serempak dan mereka segera menunduk memberi hormat kepada sukma Ki Agung Maha Sakti,
"salam kenal dari kakek tua ini, anak-anak manis dan baik." ujar Ki Agung Maha Sakti kalem dan berwibawa.
Kakak dan adik itu menyudahi hormat nya, kemudian Riyoshi dan Ristanti menatap Dendi yang masih pingsan itu.
"kau ini tak boleh lihat lelaki tampan sedikit saja, langsung saja melotot!"
"ishh apa sih kak!" ujar Ristanti menjulekan pinggang kakak nya dan Riyoshi hanya tertawa geli saja.
"anak muda ini adalah cucu cicit nya Ki Agung Maha Sakti, nanti ayah jelaskan saja diistana. ayo kita segera pulang ke istana, ayah sudah rindu kepada ibu kalian."
"baiklah ayah." ujar anak kembar nya Ki Yudha Angsana. lalu Ki Agung Maha Sakti pun bertanya,
"apakah kita akan masuk ke dalam kota raja dan melewati keramaian penduduk???"
"tak perlu Ki, kita bisa sampai tiba di istana kok tenang saja." ujar Ki Yudha Angsana dan Ki Agung Maha Sakti hanya menurut saja. lalu Ki Agung Maha Sakti segera memanggul tubuh Dendi lagi, kemudian ia berkata.
"baiklah, ayo genggam tangan ku ini ki. kalian berdua ikut ucapan ayah." lalu kedua anak kembar nya itu berpegangan tangan dan begitupun dengan Ki Yudha Angsana dan Ki Agung Maha Sakti.
__ADS_1
"sekarang pejamkan mata dan hirup napas panjang lalu tahan." kemudian mereka menuruti ucapan tersebut dan tak lama ucapan Ki Yudha Angsana terdengar lagi,
"sekarang hembuskan napas kalian pelan-pelan beriringan dengan terbuka nya mata kalian." mereka bertiga lalu membuka mata dan keadaan tempat sudah tak didalam hutan lagi, melainkan diteras pelataran istana tempat Rindani dan ibu nya berpelukan.
Para prajurit yang berjaga dan para pelayan istana yang berada disekitaran tempat itu pun kaget atas kedatangan mereka yang tiba-tiba itu. lalu semua nya segera berdiri menunduk memberi hormat, Ki Yudha Angsana yang menjabat sebagai seorang raja ditempat itu segera berseru.
"aku sudah menerima hormat kalian, silahkan lanjutkan kegiatan kalian lagi."
"baik tuan Raja..." ujar para prajurit dan pelayan istana secara serentak.
"ayo kita masuk." lalu mereka pun masuk ke dalam istana yang pintu nya sudah dibuka oleh prajurit penjaga pintu istana berlambang seekor naga membelit pedang itu.
Tiba didalam ruangan tengah istana, mereka disambut oleh para pelayan khusus keluarga kerajaan. lalu Ki Yudha Angsana bertanya kepada salah satu pelayan wanita itu,
"kemana istriku dan anak bungsu ku?"
"Gusti ratu dan Non Rindani ada diruangan penyembuhan tuan Raja."
"oh begitu. ayo kita kesana." ujar sang raja kepada Ki Agung Maha Sakti dan kedua anak kembar nya.
Mereka berjalan memasuki lorong panjang seraya berbincang.
"apakah Mandulangi akan menemukan jejak kepergian kita ki?" tanya Ki Yudha Angsana.
"semoga saja dia tak menemukan jejak kita, tetapi Mandulangi itu tak boleh kita anggap remeh. ia akan lakukan segala cara untuk mencari sesuatu yang ia cari sampai dapat. entah itu ia melakukan semedi atau bertanya-tanya kepada mahluk-mahluk gaib yang ada didekat nya."
"jika ia menemukan petunjuk akan keberadaan kita, apakah ki Agung akan melayani dendam nya lagi?"
"sebenar nya aku sudah tak mau melayani dendam nya itu, tetapi jika ia tetap memaksa ingin mengalahkan ku sampai sukma ku ini hilang dari alam semesta. aku akan menuruti kemauan nya itu, toh lagi pula diri ku ini hanyalah sosok sukma dari orang yang telah mati." ujar sukma Ki Agung Maha Sakti dan Ki Yudha Angsana hanya manggut-manggut saja mendengar nya.
...*...
__ADS_1
...* *...