
RUMPAK Balung kini sudah berada disamping Santeba. mereka akan berencana meminumkan ramuan ajaib itu ke semua para tawanan tersebut. para tawanan pun pada saat itu belum mengerti apa yang akan dilakukan oleh Rumpak Balung dengan kendil-kendil kecil itu kepada mereka. pada saat itu Rumpak Balung berkata kepada Santeba,
"ayo ikuti aku dan bawa beberapa kendil itu, aku yang akan memaksa mereka untuk meminum ramuan ini dengan caraku."
"baik tuanku." kemudian Santeba segera membawa beberapa kendil ke dalam keranjang bambu dan mengikuti Rumpak Balung menuju para tawanan itu berada.
Semua para tawanan nampak histeris dan menampakan kemarahan nya ketika Rumpak Balung mendekat.
"tenaaang! kalian jangan takut! aku tak akan menyakiti kalian!" ujar Rumpak Balung berteriak dan membuat para tawanan itu segera diam dan ciut nyali nya ketika mendengar teriakan Rumpak Balung yang mengandung kekuatan tenaga dalam itu.
Salah satu tawanan yang sejak tadi duduk bersila seperti orang yang bersemedi itu segera membuka mata nya. ia tergugah dari semedi nya itu gara-gara mendengar kericuhan para tawanan itu dan suara orang yang telah menangkap nya. tawanan itu adalah anak bungsu nya kakek Yudha Angsana dan ia sedang memperhatikan Rumpak Balung dan Santeba dihadapan salah satu penjara sangkar burung itu.
Ia melihat Rumpak Balung melumpuhkan tawanan itu dengan cara menyetrum nya memakai ilmu yang ia miliki. setelah tawanan itu pingsan, Santeba segera memaksa membuka mulut tawanan itu dan Rumpak Balung yang memasukan cairan dalam kendil itu. beberapa saat tak ada keanehan, ketika pintu penjara itu ditutup lagi barulah keanehan terjadi. tawanan itu mengerang dan menggelepar-gelepar seperti cacing kepanasan.
"diapakan sebenar nya tawanan itu!?" pikir anak bungsu nya Ki Yudha Angsana dan ia terus memperhatikan Rumpak Balung melakukan hal yang sama kepada para tawanan lain nya.
Disamping itu, Ki Yudha Angsana dan ketiga orang yang ada disamping nya sudah merencanakan sesuatu untuk menyelamatkan anak bungsu nya kakek tua itu. rencana tersebut sedang mereka perbincangkan,
"jadi kita harus memancing keributan diluar gua agar orang yang ada didalam gua itu keluar? begitukah kek?" tanya Dendi.
"benar nak."
"cara nya kek?" tanya pak Alex, kemudian kakek tua itu menatap Noni Diandra.
"kita akan memancing nya dengan wanita ini, ia akan berpura-pura mengamuk didepan gua itu dan alhasil orang yang ada didalam gua akan segera mengejar tawanan mereka yang lolos itu. bagaimana? apa kamu mau menjadi umpan nona manis???"
"aku tak keberatan akan soal itu." ujar Noni Diandra dan kini Kesepakatan Rencana tersebut sudah disetujui.
__ADS_1
Mula-mula Noni Diandra berkata kepada Dendi,
"apa jadi nya nanti jika aku tertangkap lagi sayang?"
"kau tak usah khawatir sayang, gunakanlah cincin yang ada dijari mu itu. niscaya akan membantu mu melawan bahaya itu."
"betul nona manis, gunakan saja cincin itu jika keadaan nya kepepet. tapi kau bisa saja menghindar dulu untuk bersembunyi, nanti kami yang akan masuk ke dalam gua itu."
"baiklah kalau begitu." lalu Noni Diandra segera melakukan aksi nya.
Ia terbang ke arah samping pohon yang dulu nya bekas Gandaria tertidur pulas. Dendi, pak Alex dan kakek tua itu masih bersembunyi dibalik sebuah pohon besar dan lebar memperhatikan apa yang akan dilakukan oleh Noni Diandra. pada saat itu Noni Diandra segera menatap cincin yang berada dijemari tangan nya itu,
"haruskan aku gunakan kekuatan yang ada di dalam cincin ini?" lalu Noni Diandra segera memfokuskan pikiran nya dan kemudian ia menyentakan mata cincin itu ke depan gua.
Terlihat sinar berwarna merah darah sebesar jeruk nipis melesat ke dalam mulut gua dan pada saat itu Rumpak Balung dan Santeba berada disalah satu dekat para tawanan itu.
"setan kurap! ada apa ini!?" ucap Rumpak Balung dan Santeba menjawab nya.
"seperti nya ada yang menyerang kita tuan!"
"jahanam! cepat periksa keluar gua! biar aku yang meneruskan sendiri pekerjaan ini!"
"baik tuanku!" lalu Santeba segera keluar gua dan keadaan didalam gua sangat kacau.
Suara getaran dari ledakan dalam gua itu sampai ditempat Dendi dan yang lain nya bersembunyi. mereka merasakan getaran tersebut dan suara burung-burung nampak riuh berterbangan dihutan dekat gua tersebut. Noni Diandra masih berdiri mematung dibawah pohon besar itu dan pada saat itu Santeba tiba diluar gua.
"kau!? bukankah kau tawanan yang pernah kabur itu hah???"
__ADS_1
"ya memang ini aku!!"
"kebetulan sekali kau datang kemari!! lalu apakah yang menyerang gua ini adalah dirimu!?"
"memang aku yang melakukan nya!!"
"hmmm..., seperti nya kau harus aku beri pelajaran! akan aku tangkap kau untuk aku berikan kepada tuanku!"
"tangkaplah jika kau mampu!" gertak Noni Diandra dan ia segera terbang melesat ke dalam hutan liar itu. Santeba pun mengejar nya dengan terbang juga dan kini mereka semakin menjauh dari gua tersebut.
Kakek tua itu segera bergerak bersama Dendi dan Pak Alex. mereka berjalan mengendap-endap memasuki gua tersebut dan ketika mereka masuk ke dalam gua itu, terlihat semua para tawanan sedang menggelepar-gelepar seperti cacing kepanasan didalam penjara nya masing-masing. kedatangan kakek tua dan dua orang yang ada disamping nya membuat Rumpak Balung merasakan kehadiran mereka bertiga dibelakang nya.
"siapa kalian???" tanya Rumpak Balung yang baru saja selesai meminumkan ramuan ajaib itu kepada salah satu tawanan nya.
"kau tak perlu tahu siapa kami dukun ceking!" jawab kakek tua itu dengan geram dan membuat Rumpak Balung marah,
"tua bangka berlagak kau kepadaku hah!! belum tahu siapa aku kau hah!!" bentak Rumpak Balung dan ia segera meremukan kendil yang ada ditangan nya.
Pada saat itu kakek tua itu berkata kepada Dendi dan Pak Alex,
"biar kakek hadapi dukun ceking itu. kalian berdua jangan ikut campur dulu. sebaik nya kalian cari anak bungsu kakek yang ciri-ciri nya sudah kakek sebutkan."
"baik kek." ujar dendi dan Pak Alex. pada saat itu Rumpak Balung segera meniup suitan memakai tangan nya dan tiba-tiba gua itu berguncang.
Dari dalam salah satu lorong yang amat gelap, terdengar nafas berat tertahan dan suara geraman menyeramkan terdengar.
"hahaha! kalian tak akan bisa melawan naga peliharaan ku ini! Nogo Saliro! bunuh ketiga manusia itu dan santaplah jika kau mau, hahaha!" ucap Rumpak Balung kepada seekor naga besar dan berbadan mirip manusia. kepala nya memang naga, memiliki sayap seperti kelalawar dan ekor mirip komodo. binatang buas itu segera terbang membabi buta ke arah Dendi, pak Alex dan Ki Yudha Angsana.
__ADS_1