
Perkelahian Riyoshi dan Mandulangi itu nampak menegangkan. kedua memakai gerakan silat serba cepat dan lincah dengan diselingi serangan senjata yang mereka pegang. suara denting besi beradu terdengar bersahutan dan membuat orang yang mendengar nya terasa kesakitan telinga nya.
Rindani dan Ristanti berada didekat para prajurit yang menjaga keamanan ditempat itu. para warga banyak yang menonton keributan itu dari jauh dan tak ada yang berani mendekat karena dijaga oleh para prajurit istana gulingan tersebut. Nyai Ratu Mustika Ayu awal nya menerima laporan penyerangan itu dari prajurit yang memantau dimenara istana. disanalah Nyai Ratu mengerahkah prajurit nya untuk mengepung pengacau itu.
Ketiga anak nya yang kebetulan sedang berpatroli jalan-jalan di kota raja itu mendapat laporan tersebut dari para prajurit yang membawa prajurit yang terluka ke pos prajurit didekat istana. Nyai Ratu Mustika Ayu yang memantau keributan itu melalui ilmu nya tersentak kaget melihat ketiga anak nya berada ditempat bahaya itu. awal nya Ratu Mustika Ayu ingin pergi kesana untuk menjaga ketiga anak nya dari serangan orang gila itu.
Tetapi Nini Sanca Weling menahan nya dan berkata untuk tetap di istana saja karena ketiga anak Nyai Ratu sudah dewasa dan bukan anak kecil lagi. maka Nyai Ratu pun segera menghubungi suami nya melalui panggilan telepati dan saat itu Ki Yudha Angsana dan Ki Agung Maha Sakti sebentar lagi sampai ditempat terjadi nya keributan tersebut.
Mandulangi nampak geram melihat lawan nya yang mampu menahan, menangkis dan menghindari serangan-serangan maut nya itu. berkali-kali Mandulangi menyerang Riyoshi dengan gerak tipuan, tetapi Riyoshi tetap bisa menahan nya
"siapa yang mengajarkan ilmu kanuragan mu ini anak muda!?" tanya Mandulangi disela ia berkelit dari tendangan samping nya Riyoshi.
"orang yang kau cari itulah yang mengajarkan ku! dialah ayahku dan kau tak akan mampu melawan ayahku!" jawab Riyoshi dan Mandulangi pun semakin geram karena dirinya diremehkan seperti itu.
Kemudian Mandulangi menusukan ketiga mata trisula nya itu ke tubuh Riyoshi, namun Riyoshi tak menahan nya. ia menghindari nya dengan berjungkir balik ke atas. ternyata sodokan senjata Mandulangi itu mengeluarkan sinar tenaga dalam berwarna kuning ke keruh melesat cepat seperti mata tombak dan menghantam sebuah pohon besar.
duarrrrrr!
Pohon itu langsur hancur menjadi serpihan lembut dan ledakan itu menghadirkan angin kencang yang menjadi badai angin disekitar tersebut.
__ADS_1
Orang-orang yang melihat pertarungan itu segera memasang kuda-kuda kokoh agar mereka tak terhempas angin kencang itu. Rindani nampak dilindungi oleh Ristanti dan para prajurit beberapa ada yang terdorong mundur oleh angin ledakan itu. Riyoshi telah mendaratkan kaki nya di tanah agak jauh dari Mandulangi.
Mandulangi menatap ke arah Riyoshi yang menatap sinis kepada nya dan Mandulangi dengan tatapan mata tajam dan mulut menggeram nya berkata.
"jangan sombong kau anak bau kencur! kau belum lihat semua kesaktian ku ini!" lalu Mandulangi memutar tombak trisula nya nya itu didepan nya dan kemudian dari putaran tombak trisula itu keluar suara berdenging keras memekakan telinga Riyoshi.
Riyoshi langsung memegang kedua telinga nya dan pedang pusaka yang ia pegang ia jatuhkan. wajah Riyoshi nampak kesakitan dan mata nya mendelik menahan rasa sakit itu memakai tenaga dalam yang ia salurkan melalui telinga nya. aneh nya, hanya Riyoshi saja yang merasakan suara lengkingan aneh itu dan merasakan kesakitan itu, sedangkan orang-orang yang ada di sekitar itu tak merasakan nya sama sekali. Riyoshi seperti nya tak bisa menahan suara lengking itu dan telinga nya mulai mengucurkan darah segar. Rindani dan Ristanti nampak khawatir kepada Riyoshi yang kini jatuh berlutut bersama erangan kesakitan. Mandulangi melihat lawan nya mulai lengah dan ia segera menghentikan putaran senjata nya itu dan kemudian melemparkan nya ke arah Riyoshi.
"modar kau anak setan!" semua mata tegang menatap ke arah Mandulangi yang melemparkan pusaka tongkat trisula nya itu ke arah Riyoshi yang kesakitan.
Rindani dan Ristanti tak bisa hanya diam saja melihat saudara mereka terancam bahaya. ketika kedua nya ingin menahan senjata tajam tombak bermata trisula yang melesat terbang ke arah Riyoshi itu, mereka dikagetkan dengan kemunculan seorang kakek tua yang menahan dua anak gadis itu.
tranggg! prusss! suara denting keras itu mengagetkan Mandulangi dan juga orang-orang yang ada disitu.
Mereka menatap ke arah Riyoshi yang kini sudah merubuhkan badan nya ditanah. didepan nya ada Ki Yudha Angsana yang tepat waktu berhasil menahan serangan senjata tajam dari Mandulangi itu memakai golok pusaka nya yang bernama golok garuda emas itu. Mandulangi lebih terkejut lagi melihat senjata pusaka nya hancur menjadi serpihan abu hanya karena ditahan oleh senjata nya Ki Yudha Angsana.
Ki Yudha Angsana segera berbalik badan dan menyelamatkan anak nya yang masih mengerang kesakitan.
"ayaaaah!" teriak Ristanti dan Rindani yang menangis haru sembari berlari ke arah Ki Yudha Angsana dan Riyoshi. Ki Yudha Angsana memeluk kedua anak gadis nya itu dan kemudian menyuruh kedua nya untuk membantu menyembuhkan Riyoshi.
__ADS_1
"jadi kaukah orang yang telah membawa kabur si Agung itu hah!?" tanya Mandulangi dengan geram kepada Ki Yudha Angsana.
Ki Yudha Angsana menatap Mandulangi yang mata nya mulai memerah, saat itu terdengar suara sahutan dari seorang kakek tua yang tak lain adalah Ki Agung Maha Sakti.
"kau mencari ku Mandulangi???" seketika itu juga Mandulangi segera menatap ke arah Ki Agung Maha Sakti yang berjalan mendekati nya.
"jahanam pengecut kau Agung! heaah!" hentakan suara Mandulangi itu membuat Ki Agung melentingkan tubuh nya di udara untuk menghindari serangan tenaga dalam yang keluar dari telapak tangan nya.
Serangan itu berhasil dihindari dan menghantam sebuah pohon dan pohon itu pun terbakar cepat langsung menjadi arang. Ki Agung langsung menyerang Mandulangi yang sudah siap dengan kuda-kuda bertarung nya itu. Pertarungan Sengit diantara kedua nya itu akan menentukan hidup dan mati masing-masing.
Ki Yudha Angsana segera membopong Riyoshi yang sudah sembuh namun ia pingsan. ia membawa ketiga anak nya itu menjauhi pertarungan itu ke arah para prajurit yang berada agak jauh dari tempat itu. saat itu Nyai Ratu Mustika Ayu muncul bersama Nini Sanca Weling ditempat itu dengan menaiki kereta kencana yang digiring oleh para prajurit. Nyai Ratu segera turun dan menghampiri suami dan ketiga anak nya seraya memeluk nya.
"Riyoshi!? kau tak apa-apa nak!?" kalian berdua tak apa-apa kan?" tanya sang ibu kepada tiga anak nya.
"kami tak apa-apa ibu, ayah sudah menyelamatkan kak Riyoshi dari serangan berbahaya orang gila itu ibu." ujar Rindani.
"syukurlah kalian selamat, tetapi ayah. siapa orang gila itu???" tanya Nyai Ratu dan Ki Yudha menjawab nya.
"dia adalah musuh bebuyutan nya Ki Agung yang pernah ayah ceritakan itu, ia datang kemari mencari ayah karena telah menyelamatkan Ki Agung dan juga dua manusia itu. sekarang kita biarkan dulu Ki Agung melawan musuh bebuyutan nya itu, jika Ki Agung kewalahan biar ayah yang turun tangan untuk membalas perlakuan keji nya terhadap Riyoshi!" ujar Ki Yudha Angsana dan pada saat itu Riyoshi mulai tersadar dari pingsan nya.
__ADS_1