
KETUJUH Bayangan diri dari Mandulangi masing-masing berpencar ke tempat yang berbeda. masing-masing bayangan itu belum menemukan petunjuk tentang jejak kemana pergi nya orang yang membawa lari raga Dendi itu. tubuh asli Mandulangi masih melakukan tapa meraga sukma dan ia pun belum sama sekali menemukan jejak orang yang membawa lari raga Dendi itu. padahal, jarak Mandulangi dan kerajaan Istana Gulingan itu jarak nya tak terlalu jauh.
Ki Agung Maha Sakti yang sebelum nya sedang bertapa untuk meminta izin kepada Nyai Roro Kidul itu, kini membuka mata nya. ia menatap ke arah Ki Yudha Angsana yang sedang mengobati ketiga orang yang terbaring didepan nya itu.
"nak mas, nyai ratu mengizinkan kita berdua untuk kesana." Ki Yudha Angsana lalu mendekati Ki Agung Maha Sakti.
"lalu Ki? apakah mereka bertiga tak boleh ikut juga?"
"tidak perlu, Nyai Ratu tak memperbolehkan nya karena ia khawatir raga mereka tak sanggup bertahan lama di istana laut kidul yang berada didalam lautan itu. yang ada nanti mereka malah kehabisan napas dan meninggal dunia."
"hmm benar juga! baiklah jika begitu. ayo kita segera bergegas Ki." Ki Agung Maha Sakti hanya mengangguk saja dan kemudian ia mencopot cincin yang dikenakan oleh Dendi dan ia lalu memakai nya.
Ketika Ki Yudha Angsana mau keluar ruangan untuk memanggil prajurit penjaga, Ki Agung Maha Sakti terdengar berkata sendiri.
"aneh sekali? mengapa perisai gaib di cincin ini sama sekali tak berpungsi ketika aku melawan si Mandulangi itu!? padahal sebelum nya, perisai gaib di cincin ini masih berpungsi ketika melawan si Mandulangi itu!?
" ucapan heran dari Ki Agung Maha Sakti itu segera dijawab oleh Ki Yudha Angsana, karena ia merasa perlu menjawab nya.
"seperti nya cincin itu berkaitan dengan nona cantik yang masih pingsan itu Ki. apakah Ki Agung ingat ketika nona cantik itu masih sadar? cincin itu masih berpungsi dan kekuatan nya sangat dahsyat bukan?"
"iya benar juga nak mas! mungkin pengaruh dari wanita ini juga kekuatan perisai gaib di cincin ini tak berpungsi! mengapa aku baru menyadari nya bahwa warna merah di dalam batuan cincin ini adalah darah dan nyawa wanita cantik itu!"
"itulah sebab nya Ki, jadi tak heran lagi." ujar Ki Yudha Angsana dan Ki Agung hanya manggut-manggut saja.
__ADS_1
Tiba diruangan khusus kumpul keluarga istana, terlihat sang ratu dan ketiga anak nya sedang mengobrol seraya menikmati cemilan. Nini Sanca Weling yang dulu nya adalah Panglima Perang nya Kerajaan Istana Gulingan pun nampak hadir menemani sang ratu dan ketiga anak nya. Nini Sanca Weling kini menjabat sebagai seorang penasihat raja dan ratu dikerajaan tersebut dan panglima perang di kerajaan tersebut digantikan oleh kedua anak kembar nya Pangeran Raja Yudha Angsana dan Nyai Ratu Putri Mustika Ayu yang bernama asli Riyoshi Setyadingrat dan Ristanti Putri Angkara. sedangkan Rindani Putri Mahkota, anak bungsu mereka itu masih dalam tahap belajar ilmu-ilmu kanuragan dan tenaga dalam dan belum diberikan jabatan apapun oleh kedua orang tua nya.
Kehadiran Ki Yudha Angsana membuat ceria diwajah mereka,
"sini ayah, kita sudah lama tak berkumpul seperti ini." ujar sang ratu dan sang raja pun menjawab nya,
"maaf ayah masih ada kesibukan, nanti saja ya. tolong Nini, katakan kepada para prajurit untuk tetap siaga berjaga diperbatasan dan area kota raja."
"baik tuanku." ujar Nini Sanca Weling dan ia segera menjalani tugas nya.
"ayah kapan lagi kita bisa kumpul bersama begini?" tanya Ristanti setelah kepergian Nini Sanca Weling dan ayah nya lalu berkata menjawab nya,
"nanti jika permasalahan ayah dengan ketiga manusia itu selesai nak. kita akan berkumpul seperti ini lagi, mohon maklumi ayah untuk saat ini ya."
"memang nya ayah mau kemana?"
"aku akan pergi ke istana laut kidul dulu dengan Ki Agung Maha Sakti untuk mengembalikan cincin mahkota iblis yang telah menyangkut permasalahan ketiga orang itu dengan pihak istana laut kidul termasuk Ki Agung Maha Sakti juga." semua nya manggut-manggut mendengar nya, kemudian Ki Yudha Angsana berkata lagi.
"Ristanti dan Riyoshi, jaga dulu kerajaan ini sampai ayah datang kemari lagi. Rindani, kamu didalam istana saja temani ibu mu dan Nini Sanca Weling, aku minta tolong padamu untuk menjaga ketiga orang yang pingsan itu." mereka yang mendengar ucapan Titah Sang Raja itu tak mengelak dan menurut, kemudian Riyoshi bertanya.
"apakah akan ada bahaya ayah? seperti yang sudah-sudah, jika ayah sudah mengatakan hal seperti itu. pasti akan ada bahaya yang mengancam kerjaan ini, benarkan ayah?"
"benar anak ku yang tampan, ada satu musuh yang sebenar nya sedang mengincar ayah karena ayah telah membawa lari raga pemuda itu dan Sukma nya Ki Agung Maha Sakti. mungkin saat ini, orang itu sedang mencari keberadaan ayah. jika nanti orang itu sampai di kota raja, suruh prajurit untuk mengepung dia dan jangan biarkan dia masuk ke dalam istana sampai ayah tiba lagi disini. ingat! kalian jangan sekali-kali nekat menyerang nya karena orang itu bukan tandingan kalian!"
__ADS_1
"baik ayah, kami paham!" ujar Ristanti dan Riyoshi.
"baiklah, ayah pamit sekarang." lalu Ki Yudha Angsana memeluk dan mencium kening istri nya dan begitu pun kepada ketiga anak nya.
Sebelum Ki Yudha Angsana kembali ke dalam ruangan penyembuhan, ia mengambil senjata pusaka nya dulu yang ada didalam ruangan penyimpanan pusaka. senjata pusaka itu berupa sebilah golok cukup besar dan tak terlalu panjang. sarung golok nya dari kulit buaya berwarna emas dan pusaka tersebut diberi nama Pusaka 'Golok Garuda Emas'. bentuk gagang nya yang terbuat dari emas murni pun berbentuk kepala seekor burung garuda. kini pusaka yang sudah jarang ia pakai lagi itu ia selempangkan dipunggung nya dan setelah ia keluar dari dalam ruangan penyimpanan pusaka, Nini Sanca Weling lalu mengikuti Ki Yudha Angsana ke dalam ruangan penyembuhan.
"bagaimana Nini? apa sudah Nini sampaikan?"
"sudah tuanku." jawab Nini Sanca Weling ketika mereka berjalan ke arah ruangan penyembuhan.
"baiklah terima kasih." tiba didalam ruangan, Ki Agung Maha Sakti sudah bersiap untuk pergi.
"Nini, tolong jaga mereka ya."
"baik tuanku." ujar Nini Sanca Weling patuh. lalu Ki Yudha Angsana dan Ki Agung Maha Sakti pun dalam sekejap telah menghilang dari pandangan mata Nini Sanca Weling.
Nini Sanca Weling menatap kagum kepada Dendi yang berbadan cukup kekar dan berwajah tampan itu.
"ah aku sudah tua! lagi pula tak mungkin anak muda ini suka kepadaku!" gumam Nini Sanca Weling, kemudian ia menatap pak Alex dan bergumam pelan lagi.
"seperti nya pak tua ini cocok dengan ku, umur nya pasti sama dengan ku jika aku hidup di alam dimensi manusia. hmm, alangkah bahagia nya aku memiliki suami seperti pak tua ini. ia memiliki ilmu kanuragan dan kebatinan yang cukup lumayan, pantas mereka bisa sampai ke istana ini dan melewati berbagai rintangan. andai mereka hanyalah orang biasa yang tak memiliki ilmu tenag dalam dan kebatinan, mungkin nyawa mereka sudah tak akan tertolong lagi. lalu wanita ini, seperti nya itu adalah jin qorin nya dan raga asli nya masih hidup. aku meraskan kesedihan yang amat mendalam dari perempuan cantik itu." ujar Nini Sanca Weling dan ia masih saja bergumam membicarakan Dendi, pak Alex dan Noni Diandra.
...*...
__ADS_1
...* *...