
RUANGAN Isi gua yang lumayan luas itu menjadi ajang pertarungan Dendi dan Rumpak Balung. serangan Rumpak Balung yang terdiri dari tenaga dalam berbagai warna dan bentuk nya pun tetap tak membuat Dendi tumbang. pusaka cambuk getar bumi yang ia banggakan pun bagai dipecundangi kekuatan nya oleh Dendi yang memakai cincin mahkota iblis itu. seisi gua itu nampak rusak di satu sisi, yaitu dibelakang dan samping Dendi berdiri. dinding-dinding gua itu nampak rompal dan ambrol dibeberapa tempat, tetapi aneh nya nyala obor didalam gua itu tak padam walaupun beberapa kali tertiup angin kencang dari serangan Rumpak Balung sebelum nya.
Bahkan saat itu Rumpak Balung sudah mulai kelelahan akibat serangan nya yang selalu bisa dihalau dan tak mempan terhadap Dendi. terakhir sebelum ia kelelahan, ia mencoba ingin menyerang Dendi melalui jalur gaib. yaitu menggunakan indera ketujuh nya untuk menyerang isi hati, jiwa dan seisi organ tubuh yang ada didalam tubuh Dendi. ketika Rumpak Balung mencoba ingin merasuki Dendi, pada saat itulah ia terpental jauh hingga menabrak tembok gua dibelakang nya.
Ia memuntahkan darah kental dan memegang dada nya, ia meringis kesakitan dan membatin sambil masih menatap Dendi yang meremehkan nya.
"pantas sejak tadi anak itu terlihat tenang-tenang saja melawan ku! ternyata tubuh nya ada yang merasuki nya! kuat sekali energi sosok yang merasuki nya itu hingga aku terpental memuntahkan darah!" ucap batin Rumpak Balung.
Pada saat itu Dendi masih belum bergerak untuk balas melawan, ia masih terlihat sugar bugar tak kelelahan seperti Rumpak Balung. ia masih menatap Rumpak Balung yang duduk setengah berlutut bersandar pada dinding gua sembari masih memegang dada nya.
"apa hanya itu saja kesaktian mu hah?" ucap Dendi bernada meremehkan. Rumpak Balung menatap benci dan muak terhadap Dendi, lalu ia membalas nya.
"siapa kau sebenar nya!? aku yakin kau bukanlah khodam nya si anak manusia itu!! siapa kau berani-berani nya mencampuri urusan ku ini hah!?" Dendi tertawa dalam gumam nya dan suara nya mirip seperti orang tua yang terkekeh-kekeh.
Dendi kemudian berjalan dua langkah mendekati Rumpak Balung seraya berkata,
"aku adalah Khodam Pendamping anak ini..., anak ini adalah cicit ku yang selama ini aku jaga dia dari semenjak lahir sampai sebesar sekarang."
"aku tak butuh penjelasan mu itu tua bangka!" bentak Rumpak Balung geram.
"hehehe..., kau yang meminta ku untuk menjelaskan siapa aku ini tapi kau malah membantah nya. apa maumu sebenar nya Rumpak Balung!?" Rumpak Balung tersentak kaget nama nya disebut oleh Dendi.
__ADS_1
"siapa kau!? tahu darimana kau tentang namaku itu hah!?" tanya Rumpak Balung mulai penasaran.
Dendi tak segera menjawab nya, tetapi ia berkata.
"untuk apa kau bertanya soal itu? bukankah kau tak membutuhkan penjelasan ku ini?" Rumpak Balung jadi gemas dan kesal juga akhir nya, kemudian ia berusaha untuk bangun tapi ia terjatuh lagi.
"brengsek!" maki nya dan ia menatap Dendi seraya bertanya.
"hanya orang-orang yang kenal dengan ku saja yang tahu akan namaku, aku tak mengenalimu tapi bagaimana kau bisa tahu akan namaku? apa kau mempunyai ilmu penerawangan???"
"aku memang mempunyai ilmu penerawangan, tetapi jauh sebelum aku mempunyai ilmu ini aku sudah lama mengenalmu dan ke enam rekan abdi mu itu." makin tersentak kaget Rumpak Balung terhadap Dendi dan wajah bengis nya mulai redup seolah-olah ia sedang mengalami trauma.
Disamping itu Ki Yudha Angsana terlihat sedang melawan Santeba memakai ilmu kanuragan. Santeba tak menggunakan senjata gada berduri nya dan ia hanya melawan kakek tua itu dengan ilmu bela diri yang ia kuasai. mereka saling pukul dan tangkis dan Noni Diandra serta pak Alex masih bersembunyi dibalik kurungan penjara sangkar burung itu seraya masih melihat perkelahian dua orang beda usia itu.
"pak lihatlah, ada tangan seorang perempuan yang seperti nya ingin meminta bantuan kepada kita." lalu pak Alex menatap ke arah yang ditunjuk oleh Noni Diandra.
"ayo coba kita kesana." Noni Diandra mengangguk dan kini mereka berdua bergegas ke salah satu kurungan itu.
Tiba disana, mereka mendapati wanita cantik masih muda dengan pakaian mirip ninja berwarna merah jambu sedang bersila menghadap kedatangan Dendi dan pak Alex. Noni Diandra tersentak kaget dan berkata kepada pak Alex,
"bukankah wanita ini adalah ciri-ciri anak bungsu nya kakek tua itu pak???"
__ADS_1
"benar Noni, ayo kita segera bebaskan." ujar Pak Alex dan pada saat itu tangan Rindani mengisyaratkan agar mereka jangan membuka pintu penjara tersebut.
Pak Alex dan Noni Diandra paham isyarat tangan itu, kemudian Noni Diandra bertanya.
"katakanlah apa alasan mu melarang kami untuk tidak boleh membuka penjara sangkar ini???" Rindani menjawab nya, tetapi bagai orang bisu. pak Alex dan Noni Diandra dibuat heran akan Rindani mulut nya berkata-kata tanpa terdengar suara perkataan nya.
"bisukah dia pak?" tanya Noni Diandra keheranan.
"entahlah, kakek itu tak menceritakan nya tentang penyakit anak nya ini. tetapi menurut bapak perempuan ini mengisyaratkan agar kita tak gegabah untuk bertindak."
"kalau begitu bagaimana cara kita membuka nya pak???" tanya Noni Diandra dan pak Alex mencoba memegang daun pintu penjara itu.
Tetapi belum sempat ia memegang nya, ia segera menarik tangan nya lagi.
"tangan bapak tiba-tiba keram dan kaku, pasti pintu penjara ini sudah dilapisi racun yang amat berbahaya!" Noni Diandra menatap daun pintu itu karena penasaran, kemudian ia menajamkan mata nya dan melihat ada tulisan hurup-hurup yang susah dibaca dan dipahami maksud nya.
Lalu terdengar Noni Diandra berkata,
"apa pak Alex paham arti dari tulisan ini???" pak Alex lalu memperhatikan tulisan tersebut dan Rindani yang ada didalam kurungan itu sudah mengalihkan pandangan nya ke perkelahian Santeba dan Ki Yudha Angsana. mereka masih melakukan serangan gerakan silat masing-masing dan Rindani dibuat kagum akan kegesitan kakek tua itu dalam menghindari pukukan dan tendangan kakek tua itu.
"hebat sekali kakek tua itu! tubuh tua nya tak menjadikan kegesitan ilmu kanuragan nya menjadi lemah! aku jadi ingin sekali berguru kepada nya!" ucap batin Rindani berambisi dan kagum terhadap gerakan lincah Ki Yudha Angsana yang tak lain adalah ayah kandung nya sendiri yang sebenar nya ia tak tahu bahwa ayah nya sedang menyamar menjadi kakek-kakek demi menyelamatkan nya.
__ADS_1
*
* *