DETECTIVE INDIGO (KHODAM PENDAMPING)

DETECTIVE INDIGO (KHODAM PENDAMPING)
KARMA


__ADS_3

PARA Polisi intel yang mencari keberadaan Dendi dan pak Alex itu berhasil menemukan kunci mobil yang ternyata terjatuh tak jauh dari mobil pak Alex. mereka membuka isi mobil dan sama sekali tak menemukan petunjuk sekalipun. pada saat itulah mereka merasakan guncangan gempa yang kedua kali nya dan ledakan dahyat yang sayup-sayup terdengar dari kaki gunung merapi.


Mereka mulai panik karena jarak mereka dari kaki gunung merapi lumayan dekat dan sudah pasti mereka merasakan goncangan gempa itu lebih kuat. setelah keadaan membaik lagi, ketua intel pun mendapat panggilan telepon dari atasan nya untuk kembali menarik anak buah nya. alasan nya karena gunung merapi itu status nya akan meletus sudah menyebar diberita televisi dan hal tersebut pun membuat ketua jenderal kepolisian menarik menyuruh ketua polisi intel menarik semua anak buah nya.


Disamping itu para warga kaki gunung merapi pun sudah sangat panik atas berita positive nya gunung merapi akan meletus. mereka terlihat sedang berjalan beriringan membawa barang yang bisa dibawa untuk mengungsi ke tempat yang lebih aman dengan dikawal oleh para relawan bercampur petugas keamanan polisi.


Puncak gunung merapi kali ini memuntahkan lahar nya ke atas dan jangkauan nya tak terlalu tinggi dan hanya sampai lumer ke badan gunung saja. awan pekat dari asap gunung merapi itu mulai membuat puncak gunung berapi tertutup setengah nya dan hal tersebut yang ditakutkan oleh badan arkeologi, karena mereka tak bisa memastikan kapan gunung merapi itu akan meletus. maka demi anstisipasi ada nya gunung meletus dadakan, para warga pun diperintahkan untuk segera cepat mengungsi. para polisi intel pun membatalkan misi mereka dan pulang kembali dengan membawa mobil nya pak Alex sebagai barang bukti bahwa Dendi dan pak Alex memang benar pergi kesana dan tak ditemukan keberadaan nya.


Disamping itu, Dendi masih melawan Nyai Lembah Asmara dan suami nya Prabu Murdawira. pertarungan ilmu kanuragan tak seimbang dalam jumlah itu berkali-kali membuat Nyai Lembah Asmara dan suami nya terkena serangan tipuan yang amat mematikan dari Dendi sampai membuat mereka terbanting dan jatuh menggeloyor berkali-kali. tetapi mereka tetap keras kepala dan menyerang dengan serangan fisik ilmu kanuragan mereka masing-masing. mereka berdua tak memakai ilmu tenaga dalam karena mereka tahu itu akan sia-sia saja dikarenakan cincin yang dikenakan Dendi itu mampu menyerap jenis tenaga dalam sedahsyat apapun dan mampu membalikan nya ke penyerang nya. hingga suatu ketika Nyai Lembah Asmara mundur seraya berteriak kepada suami nya.


"Mundur kakang..." Prabu Murdawira pun mundur ke tempat Nyai Lembah Asmara yang telah kelelahan itu. Dendi yang tak mau kehilangan lawan nya itu pun segera menyerang sepasang suami istri itu dengan tenaga dalam yang ia hentakan dari mata cincin mahkota iblis tersebut.


Sinar tenaga dalam berwarna ungu sebesar belimbing itu mengarah kepada Prabu Murdawira yang melesat mundur. pada saat itu Prabu Murdawira pun tersentak kaget karena mendapat serangan dadakan begitu dan alhasil sangat mustahil bagi nya untuk menghindar. ia lalu buru-buru mencabut tongkat pusaka nya yang ia selipkan di ikat pinggang nya dan memutar tongkat itu didepan nya dengan cepat untuk menghalau serangan dadakan itu. putaran angin kencang dari tongkat itu seakan ingin menahan serangan tenaga dalam dari Dendi. dorongan angin dari putaran tombak pusaka nya Prabu Murdawira mampu menahan serangan itu menjadi terhenti sekitar dua jengkal jarak nya. tetapi seperti nya serangan tenaga dalam Dendi lebih kuat daya dorong nya dan mampu mendobrak pertahanan tongkat pusaka Prabu Murdawira itu.

__ADS_1


wustttt! blegarrr!! ledakan keras terjadi lagi dan hempasan angin ledakan itu membuat Prabu Murdawira terpental mendekati istri nya. tongkat yang dipegang oleh Prabu Murdawira hancur menjadi pecahan kasar dan tangan kanan Prabu Murdawira pun ikut hancur juga dan membuat Nyai Lembah Asmara berteriak histeris seraya menjatuhkan air mata menatap keadaan suami nya yang sangat menyedihkan.


"kakaaaaaang!" teriak nya dan ia mendekati suami nya yang terkapar bermandikan darah. ternyata bukan hanya tangan kanan nya saja yang hancur, anggota tubuh nya pun nampak berlubang-lubang tertancap patahan tongkat pusaka nya sendiri yang telah hancur itu.


"kakang jangan mati kakaaaang!" ujar Nyai Lembah Asmara mencoba membangunkan Prabu Murdawira yang seperti orang sekarat itu. Prabu Murdawira terbatuk-batuk memuntahkan darah segar berkali-kali hingga ia paksakan untuk bicara.


"sa...sayang.., ma..maaf..kan., ak..aku." ucap Prabu Murdawira bagai sudah tak kuat lagi berbicara. Nyai Lembah Asmara pun menangis histeris setelah ia sadari bahwa suami nya kini telah meninggal dunia.


Ki Yudha Angsana dan Rindani masih berdiri memanggul Pak Alex dan Noni Diandra yang pingsan. mereka masih menyaksikan apa yang telah terjadi itu dan sejak tadi mereka hanya menjadi penonton saja dan sama sekali tak ikut campur. Ki Yudha Angsana segera teringat akan Raden Ambarawa yang mati ketika melawan Prabu Murdawira. kematian Prabu Murdawira itu persis sekali dengan apa yang sudah dilakukan Prabu Murdawira kepada Raden Ambarawa.


"ayah bicara apa???"


"tak apa kok nak." ujar Ki Yudha Angsana tersenyum masam kepada anak nya dan Rindani pun tak mempedulikan ucapan ayah nya itu. kini mereka fokus lagi ke arah Dendi.

__ADS_1


Kemudian terdengar Dendi yang masih dirasuki oleh sosok kakek buyut nya itu berkata,


"atas titah perintah Nyai Ratu Kadita atau Nyai Ratu Roro Kidul, Murdawira sudah selayak nya mati ditanganku, Lembah Asmara! sekarang tinggal dirimu! jika kalian masih dibiarkan hidup, cincin ini akan terus kau incar dan membuat keselamatan jiwa cicitku dan keturunan nya nanti terancam!"


"aku tak butuh ucapan mu itu brengsek! heaah!" sentak Nyai Lembah Asmara marah seraya menghentakan kepalan tangan nya ke arah Dendi dan sinar merah membara seperti api sebesar buah kelapa itu hanya mampu ditahan memakai cincin mahkota iblis itu.


"bedebah kau! hixhixhix!" ucap Nyai Lembah Asmara kesal karena serangan nya dapat dipatahkan dan sedih atas kematian suami nya itu.


Kesedihan dan kemarahan Nyai Lembah Asmara sudah tak terbendung lagi akan kematian suami nya itu. ia segera membuang rasa duka itu, lalu menatap tajam ke arah Dendi seraya melontarkan kata.


"jika kau berniat ingin membunuh semua sisa rekan abdi ku, kau akan berhadapan dengan Mandulangi nanti jika aku mati dipertarungan terkahir ku ini! cepat atau lambat Mandulangi akan turun dari perasingan nya yang ada dipuncak gunung ini untuk membalas kekalahan nya dulu kepada mu Agung Maha Sakti!!"


ucap nya penuh kegeraman dan ia langsung berdiri memainkan jurus seperti orang menari ronggeng. Dendi mulai siaga lagi dan memasang kuda-kuda kokoh, tangan kedua nya mengepal kuat dan terlihat bergetar.

__ADS_1


...*...


...* *...


__ADS_2