
SUARA Gunung meletus sudah hilang dan masih menyisakan udara kotor dari sisa-sia abu vulkanik yang terbawa angin dan hujan. udara pekat dan pengap sebelum nya mulai berganti dengan udara segar pegunungan. hal tersebut telah dirasakan oleh Mandulangi,
"mengapa gunung merapi ini berhenti meletus!? apakah orang ada orang sakti yang bisa menghentikan letusan gunung yang ku buat itu?!" ujar batin Mandulangi heran dan pandangan nya menatap ke atas puncak gunung dan mata nya menyipit. dari kejauhan dan sangat mustahil bagi orang biasa untuk melihat apa yang ada dipuncak gunung merapi, ia melihat raga Ki Yudha Angsana sedang melayang di udara menghadap ke arah kaki gunung merapi dalam posisi berdoa.
"siapa itu!? bukankah dia lelaki yang sebelum nya sedang bertarung dengan Lembah Asmara!? hebat sekali dia bisa menghentikan laju gunung meletus yang ku buat itu!? lalu kemana si Lembah Asmara!? apa dia sudah dikalahkan nya???" ujar batin Mandulangi bertanya-tanya.
Dendi yang masih dirasuki oleh khodam pendamping nya itu menyadari apa yang dipikirkan Mandulangi saat itu. ia segera melakukan serangan tenaga dalam yang ia hentakan memakai cincin mahkota iblis. sinar berwarna hijau itu melesat ke arah Mandulangi yang masih menghadap ke arah puncak gunung. pada saat itu ia segera melenting ke atas dan berjumpalitan disana.
Serangan yang dilakukan oleh Dendi telah menghantam sebatang pohon dan pohon itu langsung hancur menjadi abu.
"mengapa dia menghindari serangan tadi!? bukankah sebelum nya ia tak menghindari nya dan malah membuka dada nya agar aku bisa menyerang nya dengan leluasa???" ujar batin yang merasuki Dendi dan ia sedang berpikir akan keanehan tersebut.
Mandulangi telah berpijak disalah satu dahan pohon besar dan tatapan mata tajam ke arah Dendi.
"sialan kau! berani-berani nya kau mau membokongku! heaat!" wushhh! hempasan angin itu adalah kelebatan Mandulangi yang melesat terbang dengan cepat ke arah Dendi.
Dendi segera menyilangkan kedua tangan nya didepan muka nya dan telah memasang ilmu perisai gaib.
tranggg! denting suara tersebut berasal dari Mandulangi yang menghantam ujung pusaka trisula bermata tiga nya ke arah Dendi. bagai ada yang menahan nya, kepala pusaka trisula itu tertahan di udara dan posisi Mandulangi masih melayang di udara.
__ADS_1
Ia lalu meyabetkan ujung pusaka nya itu ke arah Dendi berkali-kali dan menusuk-nusuk nya seakan ingin menembus perisai gaib yang melindungi tubuh Dendi.
"gawat! tubuh ku tak bisa bergerak lagi! seperti nya dia telah menotok ku melalui tatapan mata nya tadi! hal ini sama seperti ketika aku melawan Nyai Lembah Asmara, dan ternyata aku telah tertotok lewat mata si Lembah Asmara itu!" ujar batin sosok yang merasuki Dendi.
Pada saat itu Mandulangi terus saja melakukan serangan seperti itu berkali-kali seraya berkata kasar.
"modar kau Agung! aku yakin perisai gaib mu tak akan mampu bertahan lebih lama lagi!" Dendi masih saja bertahan dengan perisai gaib nya dan cincin mahkota iblis yang dianggap pusaka maha sakti itu seakan hilang kesaktian nya ketika melawan Mandulangi.
Suara denting keras memekakan telinga itu terus saja terdengar dari pukulan pusaka Mandulangi ke arah Dendi.
"bagaimana ini!? perisai gaib ku tak akan mampu bertahan lebih lama lagi! biasa nya perisai gaib yang ada di cincin mahkota iblis ini secara otomatis akan berpungsi dengan sendiri nya jika si pemegang dalam posisi bahaya! tetapi mengapa disaat genting begini malah tak berpungsi!?" ujar batin sosok yang merasuki Dendi itu dengan heran.
Kini tugas nya sudah selesai dalam menghentikan laju gunung meletus itu dan ia sekarang telah melesat pergi ke tempat pertarungan nya Dendi dan Mandulangi. dipertarungan Mandulangi dan Dendi, pertahanan Dendi sudah mulai retak dan perisai gaib nya terlihat mulai pecah. mata Dendi yang mewakili wajah khodam pendamping nya itu terkesiap kaget melihat perisai gaib nya retak.
Mandulangi menyeringai penuh napsu membunuh dan pukulan pusaka trisula nya ia tancapkan lagi dengan kekuatan penuh.
trusss!! prankkk!!
"arghhhh!!" teriak Dendi tersentak dan terpental jauh sampai menabrak batang pohon besar.
__ADS_1
"ughhh!" Dendi tersentak kesakitan ketika punggung nya menabrak batang pohon besar itu dan ia pun jatuh tanpa bisa mengendalikan tubuh nya lagi.
brughhh! tubuh Dendi jatuh terpuruk ditanah becek itu dan keadaan nya sudah tak sadar lagi. khodam pendamping yang merasuki Dendi sudah keluar ketika Dendi terpental menabrak pohon besar itu.
Mandulangi tertawa terbahak-bahak menertawakan sukma Agung Maha Sakti telah keluar dari tubuh cucu nya. sukma Agung Maha Sakti terlihat ikut terjatuh juga dan berada didekat Dendi, tetapi sukma itu tak menyentuh tanah melainkan mengambang.
"ini adalah kesempatan ku untuk menghancurkan musuh bebuyutanku dan cucu keturunan terakhir nya itu!" ujar batin Mandulangi.
Kemudian ia segera mengangkat pusaka trisula nogo saliro nya dan memutar-mutar nya di atas kepala. dari ujung ketiga mata trisula itu menyala sinar merah menyala dan membesar menggumpal-gumpal seperti gumpalan asap berwarna merah.
"terima lah 'Racun Naga Sembilu ini bedebah!! heaahh!!"
shuuuutttt! melesat lah sinar merah menyala besar itu ke arah Dendi dan kepada khodam pendamping nya itu.
Tetapi secepat kilat ada yang melesat cepat melintas didepan Dendi dan khodam pendamping nya pada saat itu sedang lemah kesakitan tak bisa bergerak sama sekali. serangan dahsyat dari Mandulangi itu menghantam tanah bekas Dendi jatuh terpuruk dan Blegggaaaarrrr!! ledakan keras dan sangat dahyat terdengar menggelegar.
Ledakan tersebut terdengar sampai ke tempat posko pengungsian warga korban gunung meletus. mereka semua saling tatap dan sama-sama menatap ke arah puncak gunung merapi lagi. suasana yang mulai berganti malam hari itu telah membuat suasana ditempat itu menjadi mencekam dan dilanda kecemasan. semua orang yang ada disitu sudah menyangka bahwa ledakan keras tadi adalah suara gunung meletus susulan.
Mereka yang mulai merasakan keceriaan akan berakhir nya gunung merapi meletus itu mulai menangis histeris lagi dan semua nya mulai merasakan kepanikan. awak media dan pihak pemerintah masih belum memastikan suara ledakan itu berasal dari mana, karena ahli arkeologi masih belum ada yang berani untuk memastikan nya.
__ADS_1
Ledakan keras tadi telah menghancurkan tanah tersebut sampai berlubang cukup dalam dan lebar. tanah disekitar nya mulai retak dan sampai ke tempat mata air yang tertimbun pohon-pohon yang tumbang itu. angin kencang telah banyak merobohkan pepohonan besar diarea tempat itu dan keadaan alam yang sebentar lagi malam hari itu amat sangat mengerikan.