
ANGIN Sepoi-sepoi siang hari itu menghantarkan kantuk bagi Dendi dan pak Alex. tujuan mereka yang awal nya akan meneruskan langkah mereka mencari Noni Diandra kini menjadi ditangguhkan karena kakek misterius yang menolong mereka belum juga datang kembali dari kepergian nya.
"bagaimana pak? apa kita tidur dulu saja sambil menunggu kakek itu tiba? jika kita paksa pergi untuk mencari Noni Diandra pasti kakek itu akan marah kepada kita karena kita pergi tanpa berpamitan kepada nya." ujar Dendi berkata kepada pak Alex akan keputusan nya itu.
Pak Alex yang sejak tadi sedang menerawang jauh kemana pergi nya kakek yang telah menolong mereka itu pun berkata,
"yasudah kalau begitu, ada baik nya kita istirahat tidur dulu Den. bapak sudah merasakan kantuk."
"baiklah kalau begitu pak, lalu apa bapak tak menemukan arah pergi nya kakek misterius itu???"
"bapak tak bisa menembus nya Den, ada sesuatu yang menghalangi mata batin bapak. padahal sudah bapak lawan penghalang itu melalui serangan gaib, tetapi tetap saja tak bisa ditembus."
"yasudah kalau begitu pak, kita turuti saja apa kata kakek itu agar kita tetap menunggu nya disini." pak Alex hanya mengangguk saja dan kemudian mereka berdua pun berniat untuk tidur siang.
Disamping itu Noni Diandra masih mencoba meraba-raba area dinding ruangan gelap itu. tetapi sejak tadi lama nya ia tak dapat menemukan dinding ruangan itu dimana. rasa kesal semakin membuat nya nekat untuk terbang menembus apa saja yang ada didepan nya. hal tersebut dilakukan oleh Noni Diandra dan ketika ia terbang melesat cepat ke arah depan nya, tiba-tiba ruangan tersebut berubah menjadi terang benderang. Noni Diandra berhenti dari terbang nya itu, ia membelalakan mata nya karena ia berada di dalam ruangan tembus pandang yang disekitar nya adalah kedalaman air yang banyak ikan nya. hal tersebut semakin membuat nya bingung tatkala ada sesosok mahluk setengah manusia dan ikan berenang kepada nya.
Noni Diandra baru menyadari bahwa diri nya saat itu baru saja terbangun dari pingsan nya karena sebenar nya ketika Noni Diandra terseret oleh sesuatu yang tak terlihat itu, Noni Diandra sempat pingsan didalam ruangan seperti penjara air itu. dua sosok setengah manusia dan ikan itu memiliki wajah menyeramkan. salah satu dari kedua sosok itu pun berkata,
"apa kau sudah siuman? kami sejak tadi sudah menunggu mu untuk bangun!"
"apa sekarang kita seret saja langsung kepada Nyai Ratu Lembah Asmara?"
"tunggu dulu Sugolo, kita manfaatkan dulu tawanan kita ini. hahaha" ujar mahluk setengah ikan berkulit hijau dan yang berkulit biru laut menimpali.
"benar juga apa kata mu Gonto hahaha." ujar teman nya dan mereka tertawa puas.
Noni Diandra yang paham mereka berkata apa itu segera bertanya,
__ADS_1
"aku ada dimana ini? dan kalian berdua siapa???"
"kamu ada di dasar air Kerajaan Banyu Asmara!" jawab yang berkulit hijau dan yang berkulit biru laut pun ikut berkata,
"kami berdua adalah prajurit kerajaan banyu asmara dan kami diperintahkan oleh ratu kami untuk membawa mu ke istana!" Noni Diandra yang mendengar ucapan dari kedua prajurit itu pun bertanya,
"lalu kalau begitu, siapa yang menarik ku hingga berada didalam kurungan bening ini???"
"tentu saja nyai ratu kami yang menarik nya memakai ilmu nya." ujar si kulit biru laut.
"ratu kami adalah ratu yang sakti mandraguna! kau jangan sekali-kali membangkang jika sudah berada didalam kerajaan lembah asmara ini?"
"mengapa aku tak boleh membangkang??? apa ada alasan nya???" tanya Noni Diandra semakin penasaran.
"kau akan disiksa dan akan terus dicambuk jika kau tak mau mendengarkan apa kata ratu kami!" ujar si kulit hijau dan Noni Diandra pun segera berkata,
Noni Diandra hanya berkesan biasa saja melihat rupa jelek dan menyeramkan dari mereka, karena ia sudah terbiasa melihat berbagai mahluk berwajah jelek dan menyeramkan.
"mengapa kalian tertawa hah!?" bentak Noni Diandra tak suka diri nya ditertawakan.
"waduh galak sekali kau rupa nya!" ujar si Gonto, lalu si Sugolo menyahut.
"sudah jangan banyak bicara! ayo kita bawa saja si tawanan ini kepada nyai ratu."
"yasudah ayo." ujar Gonto dan kedua mahluk setengah ikan berjenis laki-laki itu membawa kurungan bulat berwarna bening dua kali lebih besar dari badan Noni Diandra.
Noni Diandra tak bisa mengelak dan ia sejak tadi berusaha untuk menembus kurungan itu selalu gagal terus.
__ADS_1
"penjara sialan!" maki Noni Diandra dalam hati nya. lalu ia lanjut membatin,
"baru saja aku berhasil lolos dari penjara tengik itu, sekarang aku malah tertangkap lagi! benar-benar sangat menyebalkan!" batin Noni Diandra terus saja membatin menggerutu seperti itu.
Mata Noni Diandra sejak tadi dibuat kagum akan keindahan bawah air itu dan hati nya yang dongkol kini menjadi penuh kekaguman. yang dilihat oleh Noni Diandra adalah taman bawah air yang banyak dihuni manusa setengah ikan yang diantara nya ada laki-laki dan perempuan. rupa wajah mereka kali ini tak sejelek dan menyeramkan seperti Gonto dan Sugolo, rupa mereka lebih ke wajah manusia yang tampan dan cantik. tetapi badan mereka tetap dari pusar ke atas manusia dan dari pusar kebawah adalah ikan.
Noni yang penasaran itu segera bertanya kepada kedua prajurit yang membawa nya itu kesuatu tempat.
"hei aku mau bertanya kepada kalian."
"mau bertanya apa kau?" tanya Gonto.
"apakah mereka sama seperti kalian? maksud ku prajurit dari kerajaan??"
"oh bukan. mereka adalah penduduk yang sedang bermain ditaman kalisari ini."
"begitukah?" tanya Noni Diandra dan Sugolo yang sejak tadi diam pun bertanya.
"memang nya kau menyanksikan apa hah???"
"rupa kalian mengapa beda sekali dengan mereka???"
"kau menyangka kami berdua jelek begitu hah!?" tanya Sugolo mulai naik pitam dan langkah mereka pun terhenti.
"sabar Sugolo, mungkin wanita ini belum tahu rupa kita yang sebenar nya." ujar Gonto dan membuat Noni Diandra tertawa cekikikan mendengar mahluk seperti mereka bisa tersinggung layak nya manusia.
Lalu Sugolo pun berkata lagi kepada Gonto,
__ADS_1
"sudahlah ayo kita cepat bawa wanita laknat ini kepada Nyai Ratu!" Gonto pun hanya menuruti saja apa kata teman nya itu dan Noni Diandra yang sejak tadi masih cekikikan segera dibentak oleh Sugolo. Noni Diandra pun akhir nya meredakan tawa nya dan ia mulai melihat pemandangan bawah air yang menurut nya persis seperti berada di darat atau di alam manusia. padahal, Noni Diandra saat itu sedang berada dialam dimensi siluman dan apa yang ia lihat itu memang sangat mustahil jika berada dialam nyata atau alam manusia.