
MANDULANGI Kemudian menatap ke arah gua yang tertutup reruntuhan batuan dan tak lama ia mengusap kaki naga tunggangan nya. pada saat itu keanehan terjadi, naga siluman itu tiba-tiba berasap dan berubah menjadi sebuah tongkat trisula bermata tiga. dalam sekejap mata tongkat trisula itu sudah berada digenggaman tangan nya Mandulangi. tongkat trisula itu berwarna abu-abu kemerahan, persis seperti warna kulit siluman nogo saliro itu. tatapan Mandulangi mulai terlihat buas dan gigi nya nampak runcing seperti jari-jari kuku nya.
"grrrrr!! grrrhmm!! berani-berani nya kalian mengusik tempat perasingan ku ini bangsat!! lalu siapa diantara kalian yang telah berani mengurung peliharaan ku yang sudah berubah ke wujud asli nya hah!? grrrrr!! kalian harus segera aku beri pelajaran atas tindakan lancang kalian itu!" geram Mandulangi kepada orang yang ada disitu, lalu Nyai Lembah Asmara yang menyahut.
"Rumpak Balung yang telah mengurung hewan peliharaan mu itu Kakang Mandulangi."
"bangsat! berani sekali dia ikut campur urusan ku lagi!" geram Mandulangi lagi.
"kemana sekarang si ceking brengsek itu!"
"Rumpak Balung sudah meninggal ketika melawan dua lelaki yang ada dibelakang ku kakang." jawab Nyai Lembah Asmara dengan ucapan lemah lembut.
Mandulangi menatap heran kepada Nyai Lembah Asmara dan dengan suara serak nya pada saat itu ia bertanya kepada Nyai Lembah Asmara dan posisi Nyai Lembah Asmara masih seperti sebelum nya.
"hei wanita! siapa kau bisa tahu nama ku hah!?"
"kakang Mandulangi pasti masih ingat denganku bukan?" lalu Nyai Lembah Asmara menatap wajah Mandulangi dan kemudian Mandulangi menatap wajah Nyai Lembah Asmara dengan mata mendelik.
Kemudian ia melayangkan mata nya ke arah mayat Prabu Murdawira yang rupa nya masih dikenali oleh Mandulangi. posisi mayat Prabu Murdawira berada didekat siluman nogo saliro berada dan kemudian Mandulangi berkata kepada naga peliharaan nya.
"bukankah itu mayat nya si Murdawira brengsek?! heahh!!" lalu Murdawira menghentakan ujung ketiga tongkat trisula itu dan keluar sinar perak sebesar lidi. seketika itu juga mayat Prabu Murdawira langsung menjadi tulang belulang yang keropos karena tulang belulang itu ketika tertiup angin langsung berterbaran layak nya abu. hal tersebut membuat Rindani ngeri melihat nya, kecuali tiga orang yang ada dihadapan Mandulangi. mereka terlihat biasa saja karena tak aneh melhat kesaktian sebuah pusaka seperti itu.
__ADS_1
Kemudian Mandulangi menatap wajah Nyai Lembah Asmara dan pandangan mata nya justru tak bersahabat.
"ternyata kau masih hidup juga rupa nya Lembah Asmara, mengapa kau tak mati saja seperti suami mu yang lemah itu!?" ucap Mandulangi sengaja meledek Nyai Lembah Asmara dan membuat Nyai Lembah Asmara gusar.
"aku sudah bercerai dengan nya kakang, jangan mengungkit hubungan rumah tangga ku dengan orang yang sudah mati."
"begitukah? lalu apa maksud mu menganggu tempat perasinganku bersama dua lelaki cecunguk itu hah!? apa kau berniat mau mengotori tempat ini dengan cinta asmara menjijikan mu itu???" ucapan Mandulangi membuat Nyai Lembah Asmara merah wajah nya.
Ia ingin marah dan menyerang, tetapi ia sadar diri akan rencana nya itu. dihadapan Mandulangi, ia tetap memamerkan senyum manis nya seraya berkata,
"sebenar nya aku disini ingin memberitahu mu soal seorang musuh bebuyutan mu itu, pemuda tampan yang disana itu dirasuki oleh Pendekar Agung Maha Sakti dan ia memakai cincin mahkota iblis yang dulu pernah kau incar kakang." Mandulangi segera melayangkan mata nya ke arah Dendi yang pada saat itu Dendi menatap nya juga.
Ki Yudha Angsana masih berdiri tak jauh dari Nyai Lembah Asmara, ia masih disana karena takut anak nya terkena serangan tiba-tiba dari Mandulangi dan Nyai Lembah Asmara. Mandulangi dan Dendi saling menatap tajam, kemudian terdengar Mandulangi berkata seraya ia berjalan mendekati Dendi.
"aku datang kemari bukan seperti yang dikatakan oleh wanita jalank itu dan ucapan mu tadi. aku datang kemari karena ingin menyelamatkan cucu ku dan cincin yang dikenakan nya ini dari incaran mahluk serakah seperti kalian!"
"kurang ajar! jangan menuduhku kau! aku sudah memiliki ilmu dahsyat yang lebih dahsyat dari cincin nya si Ratu Kadita itu!"
"oh ya..., apakah ilmu tersebut akan kau pakai untuk melawan ku lagi???"
"sudah jelas! tak tenang hidup ku jika dendam masa lalu ku atas kekalahan ku dulu itu belum terbalaskan!" ucap Mandulangi dan ia segera memainkan jurus pembuka dan menghentakan kelima cakar jari nya ke arah Dendi.
__ADS_1
Terlihat nyala api merah membara seperti aliran listrik melesat memanjang ke arah Dendi yang mundur untuk menghindari serangan itu.
"jangan lari kau bedebah!"
wushhh!! Mandulangi melesat terbang ke arah Dendi yang melesat mundur cepat itu, karena ia sangka Dendi telah kabur.
Disamping itu Nyai Lembah Asmara yang memperhatikan Mandulangi yang mengejar Dendi segera menatap ke arah Ki Yudha Angsana. di bawah pohon besar itu Ki Yudha Angsana sedang berbincang dengan anak nya,
"nak, kamu sekarang pulang ke istana dan bawa dua orang ini."
"ayah mau kemana? mengapa kita tak pulang bersama?"
"nanti ayah akan menyusul setelah masalah ini selesai nak, katakan kepada ibu mu untuk tidak perlu mengkhawatirkan ayah."
"tapi ayah, jika wanita itu berniat ingin menjadikan ayah suami nya bagaimana???"
"ayah pastikan tak akan sampai kejadian seperti itu nak, sekarang kamu pulang ya dan gunakan ilmu perpindahan dimensi agar kau cepat pulang ke rumah."
"baiklah ayah." ujar Rindani segera memanggul Pak Alex dan Noni Diandra yang masih pingsan.
Nyai Lembah Asmara yang menguping obrolan itu segera berjalan mendekat dan berkata,
__ADS_1
"seperti nya obrolan anak dan ayah sudah selesai, apakah sekarang waktu nya untuk kita mengobrol masalah asmara kakang Yudha???" Ki Yudha Angsana seketika itu juga menatap Nyai Lembah Asmara yang menyunggingkan senyum nakal nya. Rindani sudah muak atas Nyai Lembah Asmara, tetapi ayah nya segera berkata untuk segera pergi. maka tak banyak basa-basi lagi Rindani yang membawa pak Alex dan Noni Diandra pun lenyap dari pandangan mata Nyai Lembah Asmara.
Nyai Lembah Asmara berdiri sekitar tiga tombak jarak nya dari Ki Yudha Angsana, mereka saling tatap dan tiba-tiba badan mereka berdua mulai bergetar. ternyata mereka berdua sedang bertarung memakai kekuatan mata masing-masing, Nyai Lembah Asmara yang lebih dulu menyerang mata batin Ki Yudha Angsana untuk ia lumpuhkan agar Ki Yudha Angsana mau menerima ajakan cinta nya. tetapi serangan Nyai Lembah Asmara itu dapat dihalau oleh Ki Yudha Angasana dan kini terjadilah yang nama nya Pertarungan Mata Batin diantara kedua nya.