DETECTIVE INDIGO (KHODAM PENDAMPING)

DETECTIVE INDIGO (KHODAM PENDAMPING)
MANDULANGI MURKA


__ADS_3

DIDALAM Ruangan tempat penyembuhan didalam istana gulingan, pak Alex dan Noni Diandra masih terbaring pingsan ditempat pembaringan masing-masing. mereka terlihat sedang diobati oleh para tabib istana dan keadaan kedua nya sudah mulai membaik tak pucat seperti sebelum nya.


Didalam ruangan itu sudah ada Rindani, Nini Sanca Weling dan ibu nya Rindani yang memiliki gelar Nyai Ratu Putri Mustika Ayu. mereka di dalam ruangan itu sedang berbincang-bincang soal Rindani yang diselamatkan oleh ayah nya dan ketiga orang yang ikut dalam penyelamatan tersebut.


"jadi ayah mu yang menyuruh mu untuk membawa dua orang ini ke istana?" Rindani mengangguk ditanya oleh ibu nya.


"lalu apakah ayahmu baik-baik saja nak?"


"ayah baik-baik saja bu, tetapi aku takut ayah kenapa-kenapa bu."


"memang nya musuh yang dilawan oleh ayah mu itu seganas apa sayang???" tanya ibu nya lagi.


"mereka sangat brutal bu, aku saja hampir dijadikan bahan percobaan oleh si Rumpak Balung itu. untung ayah dan ketiga teman nya itu datang tepat waktu, jadi aku bisa terselamatkan dari percobaan mengerikan itu bu." Nini Sanca Weling yang ada didekat mereka pun menatap ratu nya dengan berkerut dahi, sang ratu pun bertanya kepada anak nya lagi karena penasaran dengan ucapan anak nya itu.


"coba kamu ceritakan sayang, ibu ingin mendengar nya."


"baiklah bu." lalu Rindani pun menceritakan nya, ketika ia diselamatkan oleh ayah nya dengan dibantu oleh pak Alex dan Noni Diandra yang masih terbaring pingsan itu.


Disamping itu Mandulangi terlihat beringas mencari keberadaan raga hancur nya Dendi dan sukma khodam pendamping nya. wajah nya mulai memerah dan terdengar gigi nya menggeletuk.


"brengsek! seperti nya mereka ada yang menyelamatkan nya! siapa orang yang berani ikut campur dalam urusan ku ini hah!?" geram Mandulangi dan ia menatap ke arah sekumpulan mahluk halus penunggu hutan itu.


Para mahluk halus yang sebenar nya melihat apa yang telah terjadi ditempat itu semua nya lari kalang kabut ketika ditatap oleh Mandulangi dengan ganas. mereka takut menjadi sasaran kemarahan Mandulangi, tetapi ada sekelompok mahluk halus yang tak melarikan diri seperti yang lain nya.


"hmmm, seperti nya aku harus bertanya kepada sekumpulan mahluk rendahan itu soal hilang nya raga bocah itu! aneh sekali, padahal serangan Racun Nogo Saliro ku tak akan membuat utuh raga bocah itu dan juga sukma si agung itu!" lalu Mandulangi mendekati sekumpulan mahluk halus mirip dedemit air itu.


"hei kalian! aku ingin bertanya!"


"mau bertanya apa tuan?" tanya salah satu dari kelompok mahluk itu.


"kau kah ketua dari mahluk sejenis mu?"


"saya kepala keluarga tuan, ini adalah anak-anak dan istri saya." ucap nya berkata ketakutan dan mahluk sejenis nya yang wujud nya ada yang kecil dan sedang itu menunduk didekapan ibu nya.


Mandulangi manggut-manggut, kemudian ia bertanya lagi.

__ADS_1


"kau pasti melihat bukan ketika aku bertarung dengan anak muda itu disini???"


"iya tuanku."


"lalu apa kau melihat kemana pergi nya bocah itu dan sosok berwujud sukma manusia?"


"mereka ada yang menyambar nya tuan."


"menyambarnya!? coba kau jelaskan seperti apa orang itu wujud dan pakaian orang itu!"


"dia seorang lelaki, rambut nya hitam sedikit keabu-abuan. berkumis tipis dan berpakaian seperti pendekar berwarna coklat tua."


"hmmm tidak salah lagi! seperti nya orang yang telah menghentikan letusan gunung merapi itu lah dalang nya! lalu kemana orang itu pergi nya?!"


"dia membawa nya pergi ke arah sana dan tak lama ia masuk ke dalam dimensi siluman tuan."


"baik kalau begitu, terima kasih kau telah memberi tahu ku!"


"baik tuan." ujar sosok itu lagi sopan dan Mandulangi yang sudah Murka itu berlalu begitu saja meninggalkan sekelompok mahluk aneh itu.


"aku harus segera mencari jejak orang itu! kurang ajar sekali dia ikut campur urusan dendamku kepada si Agung Maha Sakti itu!" ucap batin Mandulangi dan kemudian ia mencabut pusaka tongkat trisula nya itu. ia lalu masuk ke dalam lubang portal menuju alam siluman untuk mencari lari nya Ki Yudha Angsana yang membawa kabur tubuh Dendi dan sukma ki Agung Maha Sakti.


Ki Yudha Angsana sudah selesai berbincang dengan sukma Ki Agung Maha Sakti. Dendi masih terbaring pingsan dan keadaan nya terlihat sudah tak sepucat sebelum nya.


"anak ini masih saja pingsan ki, apakah ki Agung tak mau merasuki tubuh anak ini lagi???"


"seperti nya aku tak bisa masuk lagi ke dalam raga cucu keturunan ku ini, nak mas."


"kenapa memang nya ki???" tanya Ki Yudha Angsana menatap ke arah sukma seorang kakek tua berpakaian serba hijau dan jubah kuning itu.


"cincin mahkota iblis ini akan mengunci alam bawah sadar anak ini jika sosok yang merasuki nya itu masih merasuki tubuh anak ini. jika sosok yang merasuki nya telah keluar, baik itu keluar sendiri atau dikeluarkan. maka sosok itu tak akan bisa masuk lagi ke dalam tubuh anak ini karena ada nya cincin mahkota iblis ini yang telah mengikat darah anak ini, maka ia akan tersadar jika ada yang mencoba merasuki nya lagi."


"aneh sekali kek, baru kali ini aku mendengar hal tersebut."


"tak perlu aneh, cincin ini adalah cincin yang tak boleh dianggap remeh."

__ADS_1


"kalau begitu, bisakah ki Agung menjelaskan darimana asal muasal cincin ini berasal dan bisa sampai ditangan Nyai Ratu Kadita?"


"hmm cerita nya sangat panjang nak mas, tapi kakek cerita ke inti nya saja."


"baik kek tak apa-apa, aku hanya penasaran saja mengapa cincin ini bisa sampai menjadi bahan rebutan ketujuh abdi sesat itu?"


"hmm baiklah,... cincin ini sebenar nya milik ayahanda nya Nyai Ratu Kadita yang bernama Wijayakusuma Diningrat."


jegaaaarrrrrr!! petir menggelegar disenja sore hari itu, karena di alam gaib baik itu alam silumab atau jin suasana nya selalu senja sore hari selama nya.


Suara petir tadi mengagetkan Ki Yudha Angsana dan membuat Ki Agung Maha Sakti segera berkata.


"ampuni hamba Nyai Ratu! hamba khilaf!" ujar Ki Agung Maha Sakti seraya menunduk merapatkan kedua tangan nya diatas kepala.


"kau kenapa ki? apa yang terjadi???" tanya Ki Yudha Angsana heran.


Sukma Ki Agung Maha Sakti segera bersikap biasa lagi dan ia menjawab pertanyaan Ki Yudha Angsana tadi.


"kakek telah melakukan kesalahan tadi, nak mas."


"kesalahan soal apa kek?"


"soal kakek tadi menyebutkan Nama Besar Ayahanda Nyai Ratu Kadita. beliau sudah wanti-wanti kepada kakek dan orang-orang istana nya untuk tak menyebutkan nama ayahanda Nyai Ratu Kadita dengan sembarangan."


"hmm begitu,...apakah suara petir menggelegar tadi berasal dari ucapan kakek yang tadi?"


"iya nak mas."


"lalu jika begitu, apakah kakek masih bisa menjelaskan asal muasal cincin mahkota iblis ini darimana kepadaku???"


"entahlah, beri kakek waktu. kakek ingin bersemedi dulu untuk meminta izin kepada Nyai Ratu Kadita."


"silahkan kek, aku akan tetap menunggu sekaligus berjaga disini." ujar Ki Yudha Angsana dan kemudian Sukma Ki Agung Maha Sakti pun segera bersila untuk bersemedi meminta izin kepada Nyai Ratu Kadita.


...*...

__ADS_1


...* *...


__ADS_2