
SANTEBA Terlihat sedang mencoba membuka penjara sangkar mantera yang isi nya adalah anak bungsunya Ki Yudha Angsana yang bernama Rindani. Noni Diandra dan pak Alex menatap kagum terhadap Santeba yang fasih berbahasa jin ketika membuka pintu penjara sangkar mantera itu.
Tak lama, pintu penjara sangkar mantera pun terbuka dan saat itu juga Rindani yang sudah menyiapkan rencana nya itu segera keluar dengan menerjang Santeba memakai kaki nya.
"hiaaaat!!"
"ugghhhh!!" pekik Santeba kesakitan dan ia terlempar terguling-guling jauh sampai menabrak dinding gua. Ki Yudha Angsana segera memegang tangan Rindani yang ingin mendatangi Santeba, tetapi Rindani segera menatap tajam ke arah kakek tua itu dan berkata kasar sembari menarik lengan nya.
"lepaskan! jangan campuri urusanku! aku harus membunuh si bejat itu karena dia hampir saja memperkosaku kakek tua!" Ki Yudha Angsana pun segera melepaskan tangan putri nya itu dan ia tahu putri nya tak mengenali nya dalam wujud seperti kakek tua itu.
Rindani dibiarkan berjalan mendekati Santeba yang terpuruk meringis kesakitan memegangi dada nya. darah kental sudah mulai meleleh disudut bibir nya dan pada saat itu Noni Diandra dan pak Alex mendekati Ki Yudha Angsana yang terdiam menatap putri nya sedang menghajar Santeba.
"kek, kenapa putri bungsu mu tak mengenalimu?" tanya Noni Diandra dan pak Alex ikut bertanya,
"apakah putri bungsu kakek itu sudah dipengaruhi oleh ramuan si dukung ceking itu kek?" pertanyaan kedua nya itu segera dijawab oleh kakek tua itu.
"asal kalian tahu, maaf sebelum nya. kakek ini sebenar sedang menyamar menjadi setua ini dan raga asli kakek tak setua ini asli nya." Noni Diandra dan Pak Alex menatap kakek tua itu dengan ragu dan rasa tak percaya, kemudian kakek itu berkata.
"tak perlu kalian meragukan nya seperti itu, nanti akan kakek perlihatkan wujud asli kakek nanti. sekarang kalian pergi lah dulu ke tempat Dendi yang sedang bertarung dengan si Dukun Ceking itu."
__ADS_1
"tapi kek???" ucap Noni Diandra tak jadi dilanjutkan karena kakek itu berkata lagi,
"nanti kakek akan menyusul, pergilah dulu. kakek rasakan ada bahaya yang sedang mendekati Dendi diluar gua." pak Alex dan Noni Diandra tercengang kaget dan setelah mereka pamit, kedua nya segera bergegas keluar ruangan penjara itu ke tempat ruangan pintu masuk gua yang luas itu.
Ki Yudha Angsana masih melihat putri nya itu beberapa kali menendang dan menjejak badan serta wajah Santeba dengan makian bercampur tangis. keadaan tubuh Santeba sudah semakin parah dan wajah nya semakin bonyok serta memar bengkak. darah kental semakin banyak dimuntahkan oleh Santeba hingga dirinya mendelik ketika Rindani menendang pangkal leher Santeba dengan keras. kemudian terdengar seruan dari kakek tua yang melihat itu penyiksaan itu.
"sudah hentikan Rindani Mustika Maharani! dia sudah tewas ditangan mu!" seketika itu juga Rindani segera menatap Ki Yudha Angsana dengan heran, ia segera menghapus air mata nya dan meninggalkan Santeba yang sudah tak bernyawa itu.
Ia berjalan pelan menatap Ki Yudha Angsana dengan tajam dan berkerut dahi,
"siapa kau kakek tua? mengapa kau bisa tahu nama asli ku???"
"apakah kau ayahku!? oh tidak mungkin! ayah ku masih terlihat muda dan gagah tidak seperti mu kakek tua!" ucap Rindani membandingkan nya.
Ki Yudha Angsana tersenyum pahit, kemudian berkata.
"terpaksa ayah melakukan penyamaran ini agar kamu bisa bebas dari penjara ini nak." seketika itu juga Ki Yudha Angsana langsung berubah wujud ke sosok lelaki setengah tua berperawakan tegap dan memakai pakaian seorang pendekar berwarna coklat tua. celana nya pun berwarna coklat tua sepanjang mata kaki dan memakai sandal lilit sebatas betis. ia memakai ikat pinggang dari kain sutera berwarna merah dan dipunggung nya terpampang sebuah senjata pusaka.
Rambut nya dikuncir kuda dan memakai ikat kepala berwarna putih. kumis tipis serta janggut tipis nya terlihat menambah ketampanan wujud rupa asli kakek tua itu.
__ADS_1
"ayah!?" teriak Rindani kaget dan haru. Rindani segera berlari memeluk ayah nya dan ayah nya pun menerima pelukan itu. Rindani menangis sejadi-jadi nya dan disela tangis nya itu ia berkali-kali bilang minta maaf kepada ayah nya atas kesalahan nya yang telah kabur dari istana sampai bertarung dengan Rumpak Balung diperjalanan kabur dari istana itu sampai ia dikalahkan dan dipenjara oleh Rumpak Balung didalam penjara sangkar mantera tersebut.
Disamping itu pak Alex dan Noni Diandra sudah tiba ditempat Dendi berada, mereka berdua melihat ada dua orang yang sedang berdiri menyaksikan perkelahian Dendi dan Rumpak Balung. pada saat itu Dendi terlihat sedang meninju wajah dan perut dukun ceking sampai memuntahkan darah. dukun ceking atau Rumpak Balung jatuh terkapar dan ia sempat ucapkan kata tapi yang terdengar hanyalah kata 'Ampun' saja oleh Dendi.
Keadaan badan Dendi masih utuh tak memiliki luka dianggota tubuh nya, tetapi bagi Rumpak Balung anggota tubuh nya sudah terlihat sangat menyedihkan. wajah nya sudah hancur dan penuh dengan darah dan keadaan tubuh nya pun seperti orang yang mengalami patah tulang. pada saat itu Dendi berseru setelah ia menjejak kepala Rumpak Balung hingga remuk dan pada saat itu juga riwayat hidup Rumpak Balung sudah cukup sampai disitu saja alias modar.
"mengapa kalian berdua hanya diam menonton pertarungan ku dengan rekan abdi kalian ini hah!?" ucap Dendi dan kini ia membalikan badan ke arah pintu gua yang dimana disana sudah ada Nyai Lembah Asmara dan Prabu Murdawira yang berdiri menyaksikan tewas nya Rumpak Balung.
Noni Diandra dan pak Alex masih awal nya ingin mendekati Dendi, tetapi Dendi berkata.
"tetap ditempat kalian! jangan mendekati ku, aku bukan Dendi yang kalian kira!" Noni Diandra tak mengerti maksud perkataan Dendi itu, tetapi pak Alex yang sudah menyadari bahwa Dendi saat itu sedang dirasuki oleh leluhur nya segera berkata.
"ayo kita pergi, nanti bapak jelaskan mengapa Dendi berbicara seperti itu." Noni Diandra pun tak ada pilihan lain, maka ia pun segera kembali ke luar ruangan itu untuk menyaksikan apa yang akan terjadi selanjut nya kepada Dendi dan dua orang yang saat ini sudah berhadapan dengan nya.
Rindani sudah bisa ditenangkan oleh ayah nya dan mereka kini berencana untuk melepaskan semua tawanan yang dipenjara. Ki Yudha Angsana sebenar nya paham bahasa jin, begitu pun dengan anak nya. kemudian mereka segera membuka satu persatu para tawanan itu dan yang dibuka hanyalah tawanan yang belum terpapar ramuan aneh nya Rumpak Balung. semua tawanan yang sudah diminumkan ramuan Rumpak Balung sangat ganas dan liar, jadi sengaja tak dibuka demi menghalau terjadi nya musuh baru lagi.
Semua tawanan yang sudah di bebaskan itu disuruh untuk pergi keluar gua dan dilarang untuk ikut campur melawan Rumpak Balung. mereka pun sepakat lebih baik melarikan diri daripada melawan rumpak Balung. kemudian para tawanan yang jumlah nya puluhan itu melesat pergi, ada yang lari cepat, ada yang terbang bagai burung, ada yang merayap seperti ular dan biyawak dan ada yang berjalan tertatih-tatih juga.
...*...
__ADS_1
...* *...