
KETIGA Sosok anak buah Rumpak Balung pun segera mengepung Nyai Lembah Asmara. mereka bertiga segera berubah wujud menjadi tiga ksatria berbadan manusia dan berwajah tampan juga. Nyai Lembah Asmara yang sudah tak kaget akan perubahan wujud ketiga sosok itu pun berkata,
"jangan kalian pikir aku bakal bertepuk lutut terhadap ketampanan wajah palsu kalian itu!"
"hahaha! apakah kau akan tega melawan wujud kami yang seperti ini, Lembah Asmara!?" tanya Gandaria yang kini berwujud pendekar berwajah tampan dan ia menyandang senjata pedang besar dipunggung nya.
Sedangkan Santeba dan Kodel, mereka juga berwujud ksatria berbadan tegap dan berwajah tampan. Santeba menyandang senjata palu gada berduri dan Kodel menyandang senjata trisula bergagang panjang. Nyai Lembah Asmara yang menatap satu persatu wajah dari ketiga ksatria itu pun membatin.
"sialan! mengapa aku yang jadi salah tingkah ditatap oleh perwujudan dari mahluk menjijikan itu!? brengsek! apakah aku harus segera memakai ilmu ajian rawa asmaraku??? seperti nya itu nanti saja, masih banyak ilmu simpanan ku yang belum pernah aku pakai! sebaik nya aku segera menyembunyikan tubuh tawanan ku ini!" lalu Nyai Lembah Asmara segera melesat masuk ke dalam istana nya tanpa berpikir panjang lagi. ketiga ksatria itu dibuat kaget dengan pergi nya Nyai Lembah Asmara itu. lalu mereka pun ikut melesat juga masuk ke dalam istana untuk mengejar Nyai Lembah Asmara yang mereka pikir sedang mencoba melarikan diri dari mereka.
Padahal Nyai Lembah Asmara ingin menaruh Noni Diandra di dalam istana nya untuk berjaga-jaga jika ia nanti lengah melawan ketiga ksatria itu, badan Noni Diandra tak segera mereka rebut. Nyai Lembah Asmara sudah masuk ke dalam ruangan pribadi nya untuk menyembunyikan Noni Diandra. ruangan pribadi itu didalam nya banyak sekali benda pusaka dan emas berlian hasil rampasan dari peperangan. ruangan pribadi itu sangat sulit diketahui pintu masuk nya dan hanya Nyai Lembah Asmara dan para pelayan nya saja yang tahu dimana letak nya.
Ketiga ksatria itu masih mencari-cari kemana pergi nya Nyai Lembah Asmara. seluruh ruangan istana itu mereka jelajahi dan sampai mereka bertemu disatu tempat yaitu di singgasana tempat duduk ratu.
"kemana pergi nya si Lembah Asmara itu!?" tanya Santeba.
"seperti nya dia masih berada di dalam istana ini dan bersembunyi! ayo kita cari lagi!" ujar Kodel dan Gandaria pun berkata,
__ADS_1
"sebaik nya kita berpencar saja, jika dari salah satu kita menemukan tempat persembunyian nya. segera serang dan nanti langsung kita hadapi Nyai Lembah Asmara bertiga!"
"aku setuju dengan ide mu!" ujar Santeba dan Kodel pun menyetujui nya juga. kini mereka bertiga berpencar untuk menelusuri isi ruangan istana yang cukup luas dan lebar itu.
Nyai Lembah Asmara segera mengambil senjata pusaka andalan nya, yaitu Pusaka Selendang Binal yang terbuat dari kain sutera dengan tepian benang emas yang menghiasi nya. hiasan kain sutera itu berlambang bunga mawar tiga tangkai dan memiliki dua sulaman benang emas berbentu daun. pusaka selendang binal itu terkenal memiliki kekuatan gaib tinggi jarang sekali ia pergunakan jika kecuali keadaan nya kepepet atau lawan nya lebih kuat dari nya. pusaka selendang binal itu ia dapatkan dari lawan nya yang sudah ia kalahkan sebelum nya.
Nyai Lembah Asmara kini segera keluar dari dalam ruangan pribadi nya itu dengan cara menembus cermin tembus pandang yang ada di dalam ruangan itu. tetapi Nyai Lembah Asmara tak jadi keluar, karena diluar ruangan itu ia melihat ksatria tampan yang tak lain adalah perwujudan dari Kodel. ksatria itu melewati lorong depan ruangan pribadi itu dan tak menyadari ada jalan disamping nya itu.
"hmm seperti nya mereka berpencar untuk mencari ku! ini adalah kesempatan yang tepat untuk aku membunuh mereka satu persatu!" lalu Nyai Lembah Asmara segera keluar dan ia membuntuti Kodel yang terus saja berjalan menyusuri lorong ruangan itu.
Pertarungan antara para prajurit Nyai Lembah Asmara dan Ketiga manusia itu akhir nya dimenangkan oleh ketiga manusia itu. Dendi dan pak Alex nampak kelelahan sekali dan kini mereka duduk ditanah tepi danau tersebut. danau yang awal nya berair bening itu, kini berubah menjadi berwarna merah kehitaman. warna tersebut berasal dari darah para prajurit siluman yang mati dan saat itu para mayat prajurit itu terlihat bergelimpangan didanau dan tepian nya.
"Nyai Lembah Asmara itu seperti nya melarikan diri ke dalam istana nya yang ada di alam siluman. sebaik nya kita bergegas untuk menyusul nya, sebelum ia berniat menukarkan cincin ini dengan tawanan perempuan yang awal nya bersama kalian itu." Dendi dan pak Alex menatap ke arah kakek itu yang kini sudah ada disamping mereka.
"bukankah kakek berkata, bahwa perempuan yang bersama kami itu ditawan didalam sebuah gua bersama anak bungsu kakek???"
"awal nya memang begitu, tetapi setelah kakek terawang lagi. ternyata perempuan yang bersama kalian itu berhasil meloloskan diri dan pada akhir nya ditangkap lagi oleh Nyai Lembah Asmara." Dendi seketika itu juga terbayang akan keselamatan Noni Diandra yang tertawan itu dan pak Alex lalu bertanya.
__ADS_1
"bagaimana cara nya kita menyelamatkan nya kek??? bukankah sangat mustahil jika raga kita ini masuk ke alam dimensi siluman???" pertanyaan pak Alex tersebut segera dijawab oleh kakek tua itu.
"tak perlu bingung akan soal itu, bukankah dengan cara meraga sukma kita bisa memasuki dimensi alam gaib manapun???"
"benar juga kek, mengapa saya baru menyadari nya." ujar pak Alex, lalu Dendi pun berkata.
"haruskah kita pergi sekarang??? saya merasakan ada sesuatu yang tak beres terhadap Noni Diandra."
"baiklah, kalian berdua segera bersila dan lakukan ritual meraga sukma. jika kalian sudah berhasil, nanti kakek akan menyusul kalian."
"baik kek." ujar Dendi dan pak Alex bersamaan.
Lalu mereka segera duduk bersila dan kakek tua itu berdiri dibelakang mereka.
"kakek akan memasang perisai gaib untuk menjaga kita dari gangguan mahluk yang ada disini." lalu kakek itu segera menggerakan tangan nya seakan sedang melakukan gerakan olah nafas dan pada saat itu juga dari dalam tanah muncul selaput bening bulat menutup ketiga orang itu.
Dendi dan pak Alex masih fokus untuk mengeluarkan sukma mereka dari tubuh masing-masing. kakek tua yang ada dibelakang mereka segera memejamkan mata nya dan pada saat itu sukma nya keluar dari raga nya. kemudian disusul oleh sukma nya pak Alex dan terakhir sukma nya Dendi. mereka bertiga berdiri menghadap ke arah raga mereka sejenak, dan setelah itu kakek tua itu berkata.
__ADS_1
"ayo ikuti kakek." Dendi dan pak Alex mengangguk, kemudian mereka berdua mengikuti kakek tua itu menyelam ke dalam air danau tersebut.