
DUKUN Ceking itu terlihat sedang bersila didepan sesajen yang saat itu banyak sekali bunga-bunga segar dan buah-buahan yang baru didapat oleh si Santeba yang berwujud buto ijo itu ketika ia sedang berada di hutan sebelum nya. Dukun ceking itu terlihat sedang melakukan ritual yang tak diketahui sedang melakukan ritual apa. terlihat mulut nya komat-kamit dan membuat kendi berisi air didepan nya itu bergolak-golak seperti air mendidih. air mendidih yang awal nya berwarna hitam itu perlahan menjadi berwarna bening dan semakin bening layak nya cermin.
Gejolak air di dalam kendi itu sudah terhenti dan si Dukun ceking itu pun menghentikan ritual komat-kamit nya. ia langsung membuka mata nya yang terpejam tadi dan menatap ke arah permukaan air dalam kendi tersebut. disana terlihat seperti sebuah permukiman penduduk yang ramai. disana ia melihat Noni Diandra berada didalam kurungan bulat bening sedang dibawa oleh dua mahluk setengah ikan menuju sebuah istana.
"keparat! mengapa tawanan ku itu bisa tertangkap oleh si Nyai Lembah Asmara!? ini tak bisa dibiarkan! aku harus segera merebut tawanan ku itu! jika aku terlambat, pasti dua manusia yang membawa cincin mahkota iblis itu akan memberikan cincin itu kepada si Lembah Asmara untuk menebus kawan nya itu! brengsek ini tak bisa dibiarkan!" geram Dukun ceking dan ia segera bangun dan keluar dari ruangan pribadi nya itu.
Ia berjalan menuju tempat para tahanan berada untuk menyuruh Kodel menyusul dua rekan nya yang sudah pergi untuk menangkap kembali Noni Diandra. Kodel yang terlihat sedang terbaring didalam penjara sangkar mantera itu tak menyadari tatkala tuan nya itu berjalan menuju ke arah nya.
"hei Kodel bangun kau!"
"iya tuan ku." ujar Kodel terkaget-kaget dan ia segera menatap ke arah tuan nya.
"hukuman mu akan aku cabut dan kau akan aku lepaskan."
"benarkah tuan!? terima kasih banyak tuan ku! aku tak akan membuat kesalahan lagi tuan ku." ujar Kodel meratap berterima kasih banyak atas syukur nya itu.
Dukun ceking yang terlihat masih kesal terhadap Kodel itu pun berkata,
__ADS_1
"kau jangan senang dulu otak udang! gara-gara kau masalah baru muncul lagi! tawanan yang lepas itu telah tertangkap oleh si Lembah Asmara."
"apa tuan!? mengapa bisa begitu!?"
"cuihhh! bodoh kau mana aku tahu!" bentak Dukun Ceking itu marah dan Kodel segera menunduk takut seraya berkata ampun.
Dukun Ceking itu lalu mulai menghentikan murka nya itu, lalu ia berkata kepada Kodel.
"kau aku bebaskan, sekarang cari Gandaria dan si Santeba. ajak mereka untuk merebut tawanan kita dikerajaan nya si Lembah Asmara yang ada di dasar danau bening itu! cepat laksanakan!"
"baik tuanku. tetapi bagaimana aku bisa keluar?" ujar Kodel yang merasa bingung akan ucapan tuan nya itu.
Setelah pintu penjara sangkar itu terbuka, Kodel pun terbebas dan ia segera pergi keluar gua untuk mencari dua rekan nya itu. disatu sisi, Gandaria dan Santeba terlihat sedang berada di sebuah lembah jurang yang amat dalam. mereka disana sedang mendekati mayat Ki Lembu Ireng yang hancur setengah badan nya akibat terjatuh dari ketinggian jurang tersebut.
"menjijikan sekali! aku pikir dia bukan si kakek banteng itu!" ujar si Santeba.
"aku pun hampir mengira nya seperti itu, kalau saja kalung tasbih nya tak berada didekat nya. mungkin kita tak akan mengenali siapa mayat manusia setengah hewan ini." ujar si Gandaria dan kedua Utusan Dukun Ceking itu segera melanjutkan perjalanan mereka lagi mencari jejak Noni Diandra.
__ADS_1
Mereka memang diberi petunjuk oleh tuan mereka untuk menyusuri tebing jurang, karena menurut penerawangan mata batin dukun ceking itu, Noni Diandra memang melarikan diri ke arah jurang tersebut. tetapi jika Noni Diandra tak ada yang menarik nya ke dalam dinding air terjun itu, mungkin ia sudah bertemu dengan dua utusan dukun ceking tersebut. pada saat itu, Noni Diandra sudah tiba dipelataran istana kerajaan banyu asmara.
Noni Diandra menatap kagum ke arah bangunan istana lumayan besar itu. di pelataran tersebut, ia di kelilingi oleh para prajurit setengah ikan setengah manusia. tetapi kali ini wajah mereka tampan-tampan. Gonto dan Sugolo juga berwajah tampan, ternyata mereka memakai topeng berwajah menyeramkan dan hal tersebut memang ciri khas prajurit istana banyu asmara jika sedang berada di luar istana mereka.
Pada saat itu muncul seorang perempuan berpakaian ratu dan wujud nya seperti manusia pada umum nya. ia berjalan dengan anggun ke arah Noni Diandra berada dan perempuan yang seperti nya ratu dikerajaan tersebut pun mulai berkata dengan seruan.
"prajurit ku, segera bawa tawanan kita ini ke dalam sell tahanan bawah tanah. aku akan berbicara kepada nya nanti disana." para prajurit itu pun segera membawa Noni Diandra yang masih berada didalam penjara bening seperti gelembung itu.
Sosok wanita itu berwajah cantik dan tegas, tetapi ada keanehan di telinga serta tangan dan kaki nya. telinga nya sedikit panjang dan berwarna hijau tua, dbagian pipi kiri dan kanan terlihat sisik hijau ke emasan hanya sedikit saja terlihat. kedua tangan dan kaki nya memiliki selaput seperti katak dan badan nya tetap seperti seorang wanita.
Wanita itulah yang bernama Nyai Ratu Lembah Asmara dan ia adalah satu di antara tujuh abdi yang saat ini sudah saling bermusuhan. Nyai Lembah Asmara pun kini masuk lagi ke dalam istana nya menuju ke dalam penjara bawah tanah untuk menemui Noni Diandra. disana ia akan menanyakan soal kehebatan cincin mahkota iblis yang saat ini sedang diburu oleh mantan rekan abdi nya itu. tiga rekan abdi nya yang sudah tewas, ia sudah tahu karena ia pun memiliki bola kaca yang dapat melihat dunia manusia dengan kemampuan ilmu nya itu.
Hari itu sore hari mulai tiba dan cahaya senja mulai membias diatas danau berair bening dan tenang itu. pak Alex dan Dendi masih tertidur dengan pulas nya dan disaat itu juga kakek misterius yang mereka tunggu akhir nya datang kembali ke tempat itu. kakek tersebut muncul bukan dari dalam air atau dalam tanah, tapi tiba-tiba saja muncul dari udara dengan ajaib nya. ia menatap ke arah gubuk, disana ia tersenyum melihat Dendi dan pak Alex tertidur dengan pulas nya.
Lalu kakek itu berjalan mendekati gubuk itu dan duduk di dipan gubuk tersebut. ia menatap ke arah cincin yang masih berada di jari nya Dendi, pada saat itu kakek tua itu pun membatin.
"cincin itu jika tak segera dikembalikan kepada pemilik nya, pasti dukun-dukun sesat itu akan tetap mengincar nya. tetapi itu memang sudah takdir anak muda itu untuk menyelesaikan urusan pendahulu nya itu agar mengembalikan nya kembali kepada pemilik nya. hmmm pemilik nya adalah nyai ratu laut kidul rupa nya, sudah lama aku tak berkunjung ke istana nyai ratu." ucap batin kakek itu yang ternyata ia bisa melihat asal-usul cincin itu dengan kesaktian ilmu kebatinan nya.
__ADS_1
...*...
...* *...