
ANGIN Besar menerpa tempat Dendi dan Pak Alex bermalam dibawah pohon besar itu. api unggun semakin berkobar besar dan membuat suasana hutan gelap itu menjadi terang benderang. Dendi dan pak Alex segera menjauhi api unggun itu karena mereka sudah merasakan bahaya didepan mata mereka.
Seketika itu juga terdengar suara langkah kaki hewan buas berlari dari arah depan mereka.
"sosok kakek banteng itu sudah ada dihadapan kita pak!"
"ayo kita lawan Den, seperti nya sosok itu sama seperti kita dan bukan mahluk gaib."
"apakah bapak sudah merencanakan sesuatu untuk melawan nya???"
"masih bapak pikirkan, bapak akan cari kelemahan nya jika sosok itu sudah melawan kita." pada saat itu hembusan angin mulai mereda dengan muncul nya sosok berbadan kekar berwarna coklat tua.
Kepala nya mirip manusia dan berwajah kakek-kakek. kepala nya memilili tanduk runcing dan panjang dan sosok itu adalah sosok yang sebelum nya sudah melawan Dendi.
"manusia bangsat! akan ku remukan batok kepala kalian itu! berani-berani nya kalian membunuh istri ku hah!?" suara besar menggema itu terdengar sangat menakutkan sekali dan membuat Dendi dan pak Alex segera menutup telinga nya.
Ucapan dari Sosok Siluman Banteng itu segera di balas oleh pak Alex.
"istri mu mati karena keserakahan nya sendiri. kami hanya membela diri saja!" sosok banteng itu menggeram dengan tatapan mata menyala merah dan berkata membentak.
__ADS_1
"ku bunuh kalian!!" huasshh...!! semburan api keluar dari mulut sosok banteng itu.
"cepat menghindar pak!" Dendi dan pak Alex segera berlari berlawanan arah dan sosok banteng itu semakin murka karena serangan nya tak mengenai lawan. tapi semburan api itu mengenai pohon besar dan ternyata pohon itu terbakar hebat dan membuat suasana hutan itu menjadi terang benderang.
Dendi segera mengambil pedang pendek nya yang ada di dalam tas nya. ia segera menaruh tas nya dibawah sebuah pohon besar, hal itu ia lakukan agar ia lebih leluasa berlari. sedangkan pak Alex ia lari ke balik sebuah pohon untuk bersembunyi. sosok banteng itu mengejar Dendi dengan amarah dan murka yang membara dan sesekali suara teriakan keras terdengar memekakan telinga siapa saja yang mendengar nya.
Dendi lari ke arah kobaran api yang membakar pohon besar itu dan sosok banteng itu melihat nya. semburan api keluar lagi dan kali ini berbentuk bola-bola agak banyak dan membuat Dendi kewalahan. ia segera berlari menjauhi kobaran bola api yang seperti nya memang mengejar nya. Dendi kewalahan dan tak menentu akan pergi ke arah mana, tetapi lari nya selalu berkelok-kelok dari bawah pohon satu ke bawah pohon lain nya. terkadang Dendi menerabas semak belukar dan bola api tadi beberapa ada yang menabrak batang pohon dan membakar semak belukar.
Dendi sudah mulai kelelahan dan bagi nya sudah tak sanggup untuk lari lagi. ia lalu menghadang ke arah dua bola api yang masih mengejar nya dengan cepat. Dendi segera membuka pedang pendek nya dan kemudian ia membaca mantera gaib pedang pendek nya itu. tetapi belum sampai Dendi merapal mantera nya, bola api itu bagai padam seketika itu juga.
"aneh!? mengapa bola api tadi langsung padam???" tanya Dendi bingung dan pada saat itu ia langsung tersentak kaget karena leher nya ada yang mencekik nya dari belakang.
"krkkkjkkkk...jhhhh..to..long..pak...!" suara Dendi bagai susah bernafas dan sesak.
"hahaha! sudah saat nya aku membalaskan kematian istri ku! akan ku remukan semua badan busuk mu ini manusia sialan!!" bentak sosok itu memaki Dendi yang sudah sangat lemas itu.
Pedang pendek nya terlepas dari tangan nya dan pak Alex yang melihat Dendi hampir sekarat itu segera bertindak. ia segera menyalurkan energi tenaga dalam cahaya sinar putih dari telapak tangan nya dan melesat cepat menghantam kepala sosok banteng itu. brassss...! tubuh sosok banteng itu terhempas keras dan terseret ke semak-semak yang terbakar sebelum nya dan cengkraman tangan nya dileher Dendi telah terlepas.
Pak Alex segera berlari cepat menuju Dendi yang terkulai lemas ditanah.
__ADS_1
"Den bangun Den!?" ujar pak Alex berkali-kali dan Dendi tetap tak sadar juga. pak Alex segera membawa Dendi ke tempat nya bersembunyi tadi dan tak lupa pedang pendek Dendi dibawa juga. sosok banteng tadi ternyata terhempas ke bawah lereng hutan itu dan terdengar suara nya berteriak membentak dibawah sana.
"bangsat...!! kurang ajar kalian...!!" teriakan tersebut hanya di hiraukan saja oleh pak Alex dan ia segera menekan denyut nadi Dendi.
"lemah sekali denyut nadi nya!?" lalu pak Alex segera mengeluarkan obat khusus untuk mengobati sakit tak wajar dari mahluk gaib.
Ramuan cair itu segera di minumkan secara paksa ke mulut Dendi dan pada saat itu Dendi terbatuk-batuk dan memuntahkan darah kental.
"syukurlah racun nya sudah keluar." ujar pak Alex, lalu Dendi disandarkan dibatang pohon dan ia berkata,
"kau disini saja jangan kemana-mana, biar bapak yang melawan sosok banteng itu." Dendi hanya mengangguk dengan lemah saja dan pak Alex segera keluar menuju datang nya sosok banteng tadi berteriak.
Area hutan gelap itu sudah tak seterang tadi, karena air hujan mulai merintik membasahi arang-arang api dipohon yang terbakar itu.
"jangan harap kau bisa kabur hidup-hidup dari hutan ini wahai bajingan! kalian harus menebus nyawa istri ku!" wushh..! sosok banteng tadi menghilang dan berubah menjadi bola api besar seukuran banteng berkelebat cepat ke arah pak Alex.
Pak Alex kebingungan harus melawan nya dengan cara apa. ia segera berlari dari bawah pohon ke pohon dan gumpalan api tadi masih memburu pak Alex dengan cepat. angin berhawa panas itu membuat pak Alex mual dan nyeri disekujur tubuh nya. hujan semakin besar dan akhir nya suara guntur beberapa kali terdengar menggelegar. pak Alex baru menyadari bahwa lawan nya elemen api adalah air, maka dari itu ia segera membaca mantera pemanggil hujan dan hujan pun makin deras ditambah petir yang semakin menggelegar.
Sosok banteng setengah manusia yang tadi mula nya masih menjadi bola api besar, kini tiba-tiba berubah lagi menjadi keadaan semula. tetapi aneh nya, postur tubuh nya tak sebesar dan sekekar sebelum nya. malah setinggi manusia biasa dan wujud nya masih sama, tetapi kali ini kelihatan kurus kering seperti kakek tua renta. pak Alex segera berlari cepat menghampiri sosok itu yang saat itu sedang berlari ke arah bawah pohon yang rimbun untuk berteduh.
__ADS_1
Pak Alex ternyata sudah menemukan kelemahan sosok banteng itu yang apabila terkena air maka tubuh nya akan menciut seperti tadi. hembusan angin hujan badai mulai menerpa area hutan lebat itu dan pak Alex tak mau menyia-nyiakan kesempatan yang kedua kali nya. ia segera menebas leher sosok banteng yang mulai membesar lagi badan nya karena tertiup angin badai itu dan leher sosok banteng itu pun berhasil dipenggal oleh pak Alex dari belakang tanpa kendala apapun. darah hitam dari sosok banteng yang terpenggal itu mengucur menjadi satu dengan air hujan yang deras dan pak Alex pun saat itu juga terkulai lemas dan pingsan karena ia merasakan sakit disekujur tubuh nya.