
Ki Yudha Angsana kini sudah lega setelah ia mengalahkan Nyai Lembah Asmara dengan kemampuan yang dimiliki nya. kini rasa lega itu mulai was-was lagi setelah ia teringat akan Dendi yang saat itu sedang kewalahan melawan Mandulangi. tetapi ia lebih was-was lagi akan keselamatan para warga kaki gunung merapi. ia berniat ingin menghentikan gunung meletus itu sebelum semua nya menjadi semakin parah dan mengubur semua yang terkena dampak letusan gunung tersebut.
Ki Yudha Angsana segera terbang ke atas puncak gunung merapi dengan melesat cepat. area tempat pertarungan nya dengan Nyai Lembah Asmara sudah lenyap terbawa arus aliran lahar gunung tersebut menuju jurang. Ki Yudha Angsana terus saja terbang melesat dan tubuh nya sama sekali tak terkena paparan abu vulkanik dari letusan gunung merapi itu. ia menatap ke arah kaki gunung nan jauh disana, terlihat kebun-kebun petani, persawahan dan rumah pemukiman warga nampak amat menyedihkan. semua nya terlihat porak poranda akibat gempa yang sedang terjadi dan abu vulkanik yang menghujani wilayah kaki gunung merapi.
"aku harus segera menghentikan gunung ini sebelum semua nya semakin parah!" ucap nya dalam hati dan kini ia sudah tiba dipuncak gunung merapi yang puncak nya sudah ambril sebagian. didalam kawah puncak gunung itu, nampak asap hitam mengepul dari dalam kawah tersebut dan cairan lahar hampir naik ke tepian kawah nya.
"gawat! aku harus segera bertindak sebelum lahar gunung merapi ini menenggelamkan pemukiman warga!" sentak batin Ki Yudha Angsana dan ia segera mengambil langkah cepat untuk menurunkan hujan.
Ilmu pemanggil hujan yang ia miliki segera ia gunakan dan posisi nya masih melayang di udara dekat tepian lahar gunung merapi. seketika itu juga langit yang sudah mendung semakin mendung lagi. cahaya petir dan suara guntur terdengar bersahutan, seketika itu juga hujan dengan lebat nya mengguyur area yang terjangkau gunung merapi.
Hati Ki Yudha Angsana sudah tak was-was lagi, lahar merapi mulai teredam dan mulai membeku. aliran lahar merapi yang telah melongsorkan dinding-dinding gunung pun mulai membeku. hujan deras bercampur suara petir saling menggelegar itu telah membuat gunung merapi berhenti meletus. tetapi getaran gempa bumi masih terlihat menggoyangkan tanah, Ki Yudha Angsana segera memejamkan mata dan mengangkat kedua tangan nya ke atas. ia seperti sedang berdoa kepada tuhan dan kemudian ia segera menghentakan kedua tangan nya itu ke arah gunung merapi.
Seberkas sinar putih perak keemasan sepanjang jari telunjuk melesat ke arah gumpalan lahar gunung yang membeku itu.
__ADS_1
prusssss! hanya itu suara yang terdengar dari sentakan tenaga dalam ki Yudha Angsana, tetapi sejurus kemudian gumpalan lava yang membeku itu bagai mengempis seperti balon yang kekurangan udara.
Gumpalan lahar yang membeku yang menutupi permukaan kawah gunung merapi yang cukup lebar itu telah mengempis dan menyusut terus sampai masuk kembali ke dalam lubang yang amat besar. lubang tersebut masih terlihat cairan lahar yang bergolak-golak dan seketika itu juga Ki Yudha Angsana membatin.
"aku harus segera menutup lubang aliran lahar itu! mungkin tak akan lama bertahan, tapi cukup untuk menahan nya sampai waktu yang cukup lama agar gunung ini tak meletus dengan sendiri nya!" kemudian Ki Yudha Angsana terbang melesat ke atas lubang besar yang ada ditengah kawah lebar itu.
Ia merentangkan tangan nya dan mulai menggunakan ilmu sihir nya. mata nya terfokus ke arah lubang besar dan dalam itu, dengen hentakan suara keras.
"heaaaaaaaaaahhhh!!" gunung itu bergetar hebat dan dinding kawah yang menjulang cekung ke atas itu roboh menutupi lubang dalam itu. tanah berbatu cadas itu bergerak bagai sedang diaspal dan menutup lubang lebar itu sampai terpendam seluruh nya.
"alhamdulilah, terima kasih ya tuhan telah menolong hamba mu ini." ucap Ki Yudha Angsana dan ia lalu berdoa kepada tuhan atas rasa bersyukur nya itu. disamping itu, Dendi dan Mandulangi sedang bertarung memakai ilmu tenaga dalam masing-masing. pertarungan ilmu kanuragan tak membuat salah satu dari mereka tumbang, maka diambil lah jalan pintas bagi Mandulangi untuk menyerang Dendi memakai ilmu tenaga dalam nya. Dendi yang masih dirasuki pun tetap tak mau kalah, ia pun segera melancarkan serangan tenaga dalam nya ke arah Mandulangi.
Ternyata, Mandulangi semakin kuat dan memiliki ilmu kekebalan tubuh yang luar biasa kebal nya. karena sejak pertarungan ilmu kanuragan sampai ilmu tenaga dalam nya dengan Dendi, tubuh nya sama sekali tak mengalami luka sedikit pun. padahal sejak tadi ia digempur habis-habisan oleh Dendi memakai ilmu yang dimiliki nya dan ilmu kesaktian cincin mahkota iblis.
__ADS_1
Pada saat itu terlihat Mandulangi menerjang Dendi yang kelelahan dan berhasil dihindari oleh Dendi yang masih dirasuki oleh khodam pendamping nya. tubuh Dendi melenting ke udara dan terbang hingga sampai berada disalah satu dahan pohon besar.
"rupa nya kau masih punya tenaga cadangan, Agung Maha Sakti!" ujar Mandulangi yang kini berdiri menghadap Dendi yang berada di atas dahan pohon besar itu. Dendi tak segera menjawab nya, ia sedang menghela nafas nya sejak tadi.
Ia tak habis pikir akan serangan nya selalu mampu dipatahkan oleh Mandulangi. padahal, ia berpikir hanya diri nya lah yang mempunyai ilmu kebal dan ditambah cincin mahkota iblis yang ada pada nya semakin kuat kekebalan tubuh nya. tetapi kali ini ia harus menelan ludah nya sendiri, ternyata Mandulangi yang ia remehkan sebelum nya telah menguasai ilmu kekebalan tubuh yang jauh lebih tinggi dari yang dimiliki Ki Agung Maha Sakti.
Area pertarungan mereka sudah membuat porak poranda hutan tempat mata air gunung merapi berada dan bahkan mata air gunung itu telah tertimbun pohon-pohon yang roboh akibat serangan salah sasaran dari kedua nya. tempat mereka berada agak jauh dari tempat Ki Yudha Angsana berada, getaran gempa akibat gunung merapi meletus telah berhenti dan luapan magma yang terus saja muncrat keluar dari puncak gunung merapi mulai melemah.
Hujan abu vulkanik sudah mulai mereda dan puncak gunung merapi telah longsor dibagian ujung puncak nya akibat ledakan letusan gunung itu sebelum nya. hujan deras masih membasahi area gunung merapi dan membuat Mandulagi serta Ki Yudha Angsana tetap tak menghiraukan hujan deras tersebut. hingga getaran gempa sudah hilang dan hujan mereda, mereka berdua seperti merasakan ada yang aneh terhadap cuaca yang mirip kiamat itu perlahan-lahan mulai mereda. Dendi pun menatap Mandulangi yang menatap ke puncak gunung merapi dan ia pun membatin,
"seperti nya ada yang menghentikan laju gunung merapi meletus beserta bencana alam lainnya. hujan deras ini sudah pasti adalah hujan buatan seseorang! hmm aku tahu siapa yang telah melakukan hal ini." ujar batin Dendi yang masih dirasuki khodam pendamping nya itu.
...*...
__ADS_1
...* *...