DETECTIVE INDIGO (KHODAM PENDAMPING)

DETECTIVE INDIGO (KHODAM PENDAMPING)
NONI DIANDRA DALAM BAHAYA


__ADS_3

SETELAH Mereka masuk, Nyai Lembah Asmara pun mencari-cari tubuh Noni Diandra yang ia taruh diatas tumpukan kepingan emas itu.


"kemana dia!? seingatku, aku menaruh nya didekat tongkat pusaka mu ini berada sayang." suami Nyai Lembah Asmara mengerutkan dahi nya. lalu kemudian suami nya Nyai Lembah Asmara mengambil pusaka tongkat nya itu. ia kemudian memejamkan mata nya dan kemudian berkata,


"coba aku lacak memakai tongkat pusaka ku ini sayang." selang beberapa detik suami Nyai Lembah Asmara berkata,


"hmm..., seperti nya tawanan itu sudah melarikan diri, aku merasakan energi cakra nya mengalir dari tongkat ini ke suatu tempat."


"benarkah sayang?" suami Nyai Lembah Asmara mengangguk dan berkata,


"tongkat pusaka sakti ini bisa mengetahui letak dimana orang yang ingin kita cari meskipun dia bersembunyi didalam lubang semut sekalipun. tetapi syarat nya orang itu harus memegang tongkat ini dahulu walaupun hanya tersentuh sedikit."


"jadi tawanan itu sebelum kabur telah memegang tongkat pusaka mu ini sayang?"


"seperti nya memang begitu sayang." ujar nya dan membuat Nyai Lembah Asmara manggut-manggut memahami nya.


"ayo kita segera kejar tawanan itu sayang! sebelum ada pihak lain yang yang mengincar nya!"


"ayo sayang.., ikuti aku..." ucap suami Nyai Lembah Asmara dan istri nya pun mengikuti nya terbang dari arah belakang.


Ternyata benar saja apa yang ditakutkan oleh Nyai Lembah Asmara, Noni Diandra yang sedang menancap-nancapkan ranting-ranting pohon diatas tanah berumput itu ternyata sedang di incar oleh sesosok mahluk. mahluk itu belum jelas rupa nya, tetapi dari segi mahluk itu memperhatikan Noni Diandra dibalik rumput-rumput setinggi lutut itu, mirip seperti seekor harimau yang ingin menyergap mangsa nya.


Noni Diandra tak menyadari ada bahaya disekitar nya itu, ia tetap saja menancap-nancapkan ranting batang pohon itu ke semua area padang rumput itu tanpa berhenti. tumpukan ranting kayu yang berada di bawah pohon tua yang bisa berbicara itu semua nya sudah habis ditancapkan oleh Noni Diandra dan jarak tancapan nya lumayan jauh sekitar empat meter.


Noni Diandra kini menghadap pohon tua yang tersenyum melihat nya itu.


"sekarang aku harus bagaimana kek? aku sudah melakukan keinginan mu itu."

__ADS_1


"hohoho terima kasih nona manis, sekarang kau ikuti ucapan ku ini."


"untuk apa kek???" tanya Noni Diandra lagi.


"sudah ikuti saja." lalu Noni Diandra pun menuruti ucapan kakek tua itu.


Kakek tua itu menyebutkan kata sebuah mantera gaib yang membuat pohon-pohon yang ditanami oleh Noni Diandra itu tumbuh besar dengan ajaib nya. Noni Diandra tercengang kaget melihat keajaiban tersebut, terlebih lagi ia semakin terkejut melihat seekor mahluk seperti harimau tapi ekor nya mirip ular berjalan mengendap-endap mendekati nya. mahluk itu memasang seringai wajah buas kepada Noni Diandra dan jarak nya semakin mendekat. kemudian terdengar pohon tua itu berkata,


"jangan takut nona manis, mahluk itu adalah siluman yang bernama Orai Barong dan mahluk itu seringkali berteduh di bawah pohon ini."


"tapi kek, dia seakan ingin menerkam ku! apa yang harus aku lakukan? haruskah aku melawan nya???"


"terserah jika kau ingin melawan nya nona manis, tapi aku tak menyarankan nya."


"mengapa kau tak menyarankan nya???"


"terluka kata mu kek? apa kau tak tahu wujud ku ini seperti apa? aku tak mempunyai raga dan raga ku ini hanyalah wujud jin qorin ku saja."


"sebelum kau mengatakan nya, aku sudah mengetahui nya nona manis." ucapan kakek itu terhenti karena mahluk siluman itu berlari ke arah Noni Diandra.


Noni Diandra tak takut sama sekali, ia segera terbang menghindar ke arah atas dan serangan mahluk siluman itu tak mengenai sasaran.


"graaaowwhhh!!" raung mahluk itu mirip seperti harimau lapar ke arah Noni Diandra yang ada di atas pohon tua itu. pada saat itu pohon tua itu berkata kepada Noni Diandra,


"kelemahan nya berada di punggung nya itu, benjolan sebesar kepalan tangan mu itulah kelemahan nya dan seranglah tepat berada dibenjolan nya itu."


"baik kek terima kasih." lalu Noni Diandra segera terbang ke arah pohon besar dan rimbun yang sebelum nya sudah ia tanam itu. mahluk tadi mengejar Noni Diandra dan memanjat pohon yang dipakai Noni Diandra bertengger itu.

__ADS_1


"cepat sekali mahluk itu memanjat pohon ini! aku harus menaklukan nya! tapi bagaimana cara nya menyerang dengan jarak jauh? seperti nya aku tak mempunyai ilmu jarak jauh seperti Dendi dan pak Alex!" renungan Noni Diandra membuat nya kaget ketika mahluk tadi tiba didahan tempat nya bertengger.


Suara raungan mahluk itu membuat pohon itu bergetar dan tiba-tiba saja mahluk itu melompat menerkam Noni Diandra. tetapi Noni Diandra tetap diam tak menghindar, pada saat mahluk itu tepat menerkam tubuh Noni Diandara. tiba-tiba saja Noni Diandra menghilang dan membuat mahluk yang menerkam nya itu kebingungan. pohon tua yang sejak tadi menyaksikan hal tersebut dibuat kaget melihat Noni Diandra menghilang.


Tapi sejurus kemudian siluman harimau berekor ular itu meraung kesakitan karena benjolan punggung nya itu digigit oleh ekor ular nya.


"grraouuuuwww!! grrrrouwww!! grrraowhhh!!" raung kesakitan mahluk itu terdengar menyakitkan oleh kakek tua yang tercengang melihat nya itu. daun-daun pohon tadi berjatuhan akibat raungan keras mahluk itu dan ekor ular nya semakin kencang menggigit benjolan punggung nya itu.


Pada saat itu Noni Diandra terlihat keluar dari atas kepala ular yang menggigit benjolan punggung mahluk itu. kemudian ia segera menginjak kepala ular yang menggigit benjolan itu sampai remuk dan berdarah-darah. raung kesakitan mahluk itu semakin terdengar menyakitkan dan akhir nya mahluk itu jatuh dari ketinggian pohon.


Noni Diandra hanya menatap kematian mahluk yang jatuh tadi dan ia sudah tak memperdulikan nya. Noni Diandra segera terbang mendekati pohon tua tadi,


"sekarang tunjukan jalan agar aku bisa bertemu dengan kekasih ku itu kek!" tegas Noni Diandra.


"baik-baik nona manis, sekarang lihatlah ke arah depan mu." lalu Noni Diandra menatap ke arah depan nya yang disana hanyalah hutan rimba yang sebelum nya adalah padang rumput yang liar.


"aku tak melihat apa-apa disana kek." ujar Noni Diandra celingak-celinguk, kemudian kakek itu berkata.


"apa kau tak melihat ada empat mahluk sedang terbang menuju kemari?"


"jangan berbohong kepadaku kek! aku bukan anak kecil!" tegas Noni Diandra seakan dipermainkan.


"kakek tak mempermainkan mu nona manis, tapi lihatlah memakai mata batin mu. dilapisan dimensi diluar ini ke empat mahluk yang berwujud manusia itu sedang terbang mengarah kemari." kemudian Noni Diandra segera menajamkan pengelihatan nya lagi dan kali ini ia menggunakan indera ke enam nya. ternyata apa yang pohon tua itu katakan benar ada nya dan hal tersebut membuat Noni Diandra merasakan kegembiraan tiada tara nya bisa melihat Dendi lagi.


...*...


...* *...

__ADS_1


__ADS_2