
OBROLAN Ki Agung Maha Sakti dan Ki Yudha Angsana itu didengar jelas oleh Riyoshi dan Rindani, mereka sebenar nya ingin bertanya tentang siapa Mandulangi itu. tetapi mereka tahan saja, karena mereka takut ayah nya marah kepada mereka. karena dulu mereka sudah pernah dinasehati agar jangan pernah mencampuri urusan obrolan orang tua jika mereka tak diperkenankan untuk ikut campur mengobrol. maka dari itu, mereka hanya diam membisu berjalan mengikuti dua orang tua itu menuju ruangan penyembuhan.
Pintu dibuka dan nampaklah Rindani dan ibu nya serta Nini Sanca Weling sedang berdiri menghadap ke arah para tabib yang sedang menyembuhkan Pak Alex dan Noni Diandra yang masih pingsan itu. seketika mereka saling menatap ke arah pintu dan membuat Rindani dan ibu nya menatap gembira ke arah Ki Yudha Angsana dan kedua anak kembar nya itu.
Istri Ki Yudha Angsana segera menyambut istri nya dengan pelukan mesra dan Rindani pun segera memeluk kedua kakak kembar nya itu dengan gembira. Ki Agung Maha Sakti hanya tersenyum saja melihat hal itu dan begitupun dengan Nini Sanca Weling. kemudian Ki Yudha Angsana mengenalkan Ki Agung Maha Sakti kepada Nini Sanca Weling dan keluarga istana, istri Ki Yudha Angsana sudah mengenali Ki Agung Maha Sakti dan mereka pun sudah akrab mengobrol.
Setelah perbincangan temu kangen itu selesai, tubuh Dendi yang sudah dibaringkan dipembaringan yang masih kosong itu sedang diobati oleh para tabib istana. Noni Diandra dan pak Alex sudah selesai diobati dan kedua nya masih saja pingsan.
"mengapa mereka bisa pingsan secara bersamaan begitu ki agung?" tanya Nyai Ratu Putri Mustika Ayu bertanya kepada Ki Agung Maha Sakti.
"mereka pingsan karena terkena imbas serangan dari lawan, ketika aku masih merasuki raga cucu cicit ku itu Nyai Ratu."
"hmm jadi begitu." ujar sang ratu manggut-manggut, kemudian Ristanti bertanya.
"apakah anak muda yang ayah bawa itu adalah salah satu orang yang ikut menyelamatkan adik Rindani?" ayah nya menjawab dengan mengangguk membenarkan. kemudian Rindani yang giliran bertanya kepada ayah nya,
"tetapi ayah, mengapa pemuda itu pingsan? bukankah sebelum nya ia bertarung dengan hebat nya melawan perempuan siluman ikan itu?" tanya Rindani dan Ki Yudha Angsana segera berkata menjelaskan bahwa Dendi telah dirasuki oleh sukma Ki Agung Maha Sakti ketika ia berada di kaki gunung merapi itu dan melawan Mandulangi musuh bebuyutan nya itu.
Riyoshi yang menyimak obrolan tersebut segera berkata,
__ADS_1
"kalau Riyo ingin tahu, mereka bagaimana awal nya bisa sampai bertemu dengan ayah dan menyelamatkan Adik Rindani?" pertanyaan Riyoshi itu segera dijawab oleh ayah nya dan ayah nya pun segera menceritakan dari awal ia mencari keberadaan Rindani sampai ia bertemu dengan Dendi, pak Alex dan Noni Diandra. semua yang ada di situ mendengarkan secara seksama cerita yang di ucapkan oleh Ki Yudha Angsana dan Ki Agung Maha Sakti pun membenarkan cerita tersebut. karena kemana pun Dendi pergi, Ki Agung Maha Sakti yang telah menjadi Khodam Pendamping nya itu selalu mengikuti kemana pergi nya Dendi.
Mandulangi masih dalam pencarian nya mencari orang yang telah menculik Dendi. tak ada satu pun ia menemukan petunjuk dari apa yang sedang ia cari itu. lalu ia terbang melesat naik ke atas pohon dari satu dahan ke dahan lain nya sampai ia berada di puncak pohon besar itu. disana ia menatap kesegala penjuru arah dan sama sekali tak menemukan jejak orang yang ia cari itu.
"kemana lari nya orang itu! aku yakin orang itu tak akan pergi jauh dari sini!" ujar Mandulangi dan ia segera bersila diatas puncak dedaunan pohon itu. tiba-tiba dari dalam tubuh Mandulangi, ada sekitar tujuh sosok mirip dan sama persis dengan diri nya keluar melalui ubun-ubun kepala nya. pakaian mereka, benda pusaka yang dipegang Mandulangi pun mereka memegang nya. bagai kembar delapan saudara dengan Mandulangi, mereka sama sekali tak bisa dicari perbedaan nya.
Ketujuh sosok mirip Mandulangi itu terbang melayang menghadap Mandulangi yang asli. pada saat itu mata mandulangi terbuka,
"cepat cari keberadaan orang yang telah menculik raga musuk bebuyutan ku itu! jika salah satu dari kalian ada yang menemukan nya, segera kirim telepati kepada ku dan aku akan segera pergi ke tempat itu!"
"baik tuanku!" ujar ketujuh kembar nya Mandulangi dan kini mereka sudah terbang berpencar menjalankan tugas dari Mandulangi.
Sedangkan istri dan ketiga anak Ki Yudha Angsana, mereka sudah keluar ruangan itu dikarenakan perintah dari ayah mereka.
"mengapa mereka bertiga lama sekali pingsan nya ki Agung???"
"hmm, seperti nya raga mereka tak akan kuat berlama-lama tinggal disini."
"maksud nya ki???"
__ADS_1
"mereka tak bisa berlama-lama dialam siluman ini karena mereka manusia biasa. aku bisa merasakan getaran tubuh dari mereka ini seakan tak kuat berlama-lama berada disini."
"kalau begitu, kita harus bagaimana ki!? apa kita bawa kembali saja mereka ke alam manusia??
?"
"sepertinya memang harus begitu nak mas." Ki Yudha Angsana manggut-manggut, lalu menatap ke arah cincin yang masih ada di jari manis nya Dendi.
"apakah kita harus membawa cincin itu tanpa membawa mereka ke istana laut selatan???"
"hmm seperti nya itu ide bagus nak mas, nanti kita kesana berdua saja seraya memberikan cincin itu kepada nyai ratu."
"apakah nyai ratu tak akan menuntut apa yang ia inginkan itu..? bukankah cincin itu adalah nyawa tebusan untuk perempuan cantik ini ki???"
"benar juga! baiklah aku akan bersemedi sebentar memohon berserah diri kepada nyai ratu."
"silahkan kek, aku akan menunggu mu." lalu Ki Agung Maha Sakti pun duduk bersila dilantai marmer itu untuk bersemedi dan Ki Yudha Angsana masih berdiri menunggu masa semedi nya selesai.
Malam hari dialam manusia itu telah membuat suasana dipengungsian gunung merapi meletus penuh keharuan. mereka sedang mengadakan acara tasyakuran soal berhenti nya gunung merapi yang sudah meletus itu. Tasya saat itu sedang ada dirumah nya, ia sedang menonton televisi yang sedang menyiarkan acara tasyakuran tersebut.
__ADS_1
"syukurlah gunung merapi sudah berhenti meletus. tetapi aku masih tak mengerti dengan hilang nya pak Alex dan Dendi itu!! jika sampai berapa lama nya mereka tak kunjung ditemukan, entah apa yang harus aku lakukan. mungkin aku yang nanti pasti bertanggung jawab atas kantor detektive indigo yang sudah tak beroperasi lagi! semoga saja mereka berdua baik-baik saja, amin ya tuhan." gumam batin Tasya kala itu menonton berita televisi itu.