
TIBA Diluar ruangan tempat menyimpan harta karun itu, Noni Diandra kini berada diruangan luas istana yang seperti nya itu adalah tempat ratu memerintah kepada prajurit nya. disana ada mayat Kodel dan Gandaria yang sudah mati membusuk dan membuat Noni Diandra segera berkata.
"seperti nya aku mengenali kedua mayat itu! hmm yang pendek kecil itu adalah sosok yang melepaskanku dari penjara sangkar mantera dan yang satu lagi yang berbadan besar berbulu itu adalah sosok yang menculik ku! syukurlah mereka berdua sudah mampus tanpa aku yang harus membunuh mereka berdua." ujar Noni Diandra dan setelah itu ia segera melesat keluar istana untuk pergi mencari Dendi dan pak Alex berada.
Ditempat sebuah padang rumput yang luas itu, Dendi dan pak Alex serta kakek tua yang bernama Ki Yudha Angsana itu masih bertanya-tanya kepada siluman ular yang sudah mereka kalahkan itu.
"maksud mu dikubur hidup-hidup bagaimana..???" tanya pak Alex tak mengerti dan Dendi pun menatap kepada kakek tua yang ada disamping mereka.
"dikubur hidup-hidup seperti itu seperti nya hanya syariat untuk menyembuhkan penyakit yang diderita seseorang. betulkah apa yang aku katakan ini..???" ucap kakek tua itu bertanya kepada siluman ular yang ia pegang itu.
"betul, karena menurut kabar nya suami Nyai Lembah Asmara itu terkena serangan mematikan dari lawan nya. serangan itu menyerang pusat syaraf tubuh nya dan membuat tubuh nya itu lumpuh."
"lalu apakah sekarang suami Nya Lembah Asmara sudah sembuh..???" tanya Dendi dan ular siluman itu segera menjawab nya.
"entahlah, aku tak tahu akan soal itu. soal nya sudah ratusan tahun aku mendengar obrolan tersebut dan mungkin saja sekarang penyakit suami nya itu sudah sembuh." Dendi dan pak Alex pun masih ragu akan cerita dari siluman ular itu, kemudian kakek tua itu berkata.
"hmm setelah kakek terawang, suami Nyai Lembah Asmara memang sudah terbebas dari penyakit nya itu dan kini ia berada di dalam istana Nyai Lembah Asmara."
"benarkah apa yang kau katakan itu kek???" tanya siluman ular itu dan kakek tua itu menjawab nya.
"memang benar, aku telah menerawang Nyai Lembah Asmara ketika ia bertarung dengan ku di atas danau ini. mungkin ia tak menyadari bahwa diri nya saat ini sedang aku terawang keadaan nya."
"hebat sekali kau kek. ckckck, pantas aku susah sekali melawan mu tadi." ujar siluman ular itu mengagumi kakek tua itu.
__ADS_1
Dendi dan pak Alex masing-masing kemudian bertanya tentang siluman ular itu.
"kalau boleh aku tahu, bagaimana kau bisa tahan serangan kami???" tanya pak Alex dan Dendi pun ikut bertanya.
"iya, mengapa bisa begitu??? apakah itu salah satu kekuatan mu...???" siluman ular itu pun menjawab nya.
"sebenar nya kekuatan tersebut berasal dari mahkota yang aku pakai ini." Dendi dan pak Alex lalu menatap mahkota kecil yang ada dikepala siluman ular tersebut.
Kakek tua itu masih diam memperhatikan mahkota yang ia lihat juga itu. pada saat itu kakek tua itu bertanya,
"lalu mengapa kekuatan mahkota itu tidak kau pakai untuk melawan Nyai Lembah Asmara..???" pertanyaan kakek tua itu segera dijawab oleh siluman ular tadi.
"aku kalah ilmu dan kesaktian ku sudah dilumpuhkan oleh Nyai Lembah Asmara ketika ia mengancam ku untuk menyerah. ia menjadikan istri ku tawanan nya dan setelah aku menyerah, semua kesaktian ku ia lumpuhkan dan pada akhir nya istri ku pun dibunuh nya. sejak saat itulah kesaktian ku tak sehebat sekarang karena terbatas akibat kutukan ini."
"hmm jadi begitu.." ujar kakek tua itu manggut-manggut dan Dendi serta pak Alex juga ikut manggut-manggut paham juga.
Kini ia sekarang sudah menculik semua mahluk yang ia temui untuk ia jadikan balatentara nya. tetapi para tawanan nya itu belum cukup dan sampai saat ini ia masih mencari kekuatan lain nya seperti merebut cincin mahkota iblis yang ada pada Dendi. Rumpak Balung sebenar nya mempunyai dendam kepada seorang Raja yang dulu pernah mengalahkan nya disuatu pertarungan. raja tersebut sampai saat ini masih ia masukan ke dalam daftar musuh yang harus ia bunuh. raja tersebut berada di daftar no satu dan seterus nya adalah para rekan abdi nya beserta para musuh lain nya yang sudah berhasil ia kalahkan.
Didalam Gua Nogo Saliro, Dukun Ceking itu terlihat sedang berdiam diri di dalam ruangan pribadi nya. ia sedang duduk bersila menatap ke arah gentong yang berisi air dan bunga aneka warna nya didepan nya. bebauan kemenyan sudah sangat tercium didalam ruangan itu dan pada saat itu juga terdengar suara teriakan Santeba diluar gua.
"tuaaan..!" Dukun Ceking yang masih fokus memperhatikan isi dalam gentong itu pun segera berkata.
"sialan! kacau sudah konsentrasi ku ini! siapa tadi yang berteriak???" ucap nya bernada dongkol dan ia segera bangun dari duduk bersila nya.
__ADS_1
Ia berjalan keluar ruangan nya itu dan pada saat itu Santeba sudah berada di depan nya dengan nafas ngos-ngosan.
"kenapa kau Santeba!? mengapa kau memakai wujud ksatria seperti ini..???" tanya Rumpak Balung kepada Santeba yang masih berwujud seorang pendekar itu.
"Kodel dan Gandaria mati dibunuh oleh Nyai Lembah Asmara tuan!"
"apa!? lalu mengapa kau tak membantu mereka???"
"aku sudah membantu mereka tetapi aku telat menolong mereka berdua. aku saja hampir mati jika tak segera melarikan diri untuk mengabarkan perihal hal ini kepada tuan."
"brengsek! sekuat apa sekarang si Nyai Lembah Asmara itu!"
"bukan hanya Nyai Lembah Asmara, suami nya pun hadir membantu nya."
"suami nya!? maksud mu suami yang mana??? bukan nya dia itu selalu berganti-ganti suami???" tanya Rumpak Balung dan Santeba pun menjawab nya.
"suami pertama nya yang bernama Prabu Murdawira itu tuan."
"hah!? bukankah dia sudah modar oleh seorang pendekar yang berasal tibet???"
"entahlah tuan. aku juga awal nya tak mengenali wajah Prabu Murdawira itu, setelah aku kabur dari istana itu aku baru teringat akan wajah itu adalah wajah Prabu Murdawira."
"jahanam!" geram Rumpak Balung dan terdengar suara gigi nya menggeletuk.
__ADS_1
...*...
...* *...