
MANDULANGI Masih berdiri tak bergeming di tempat nya dan tak sama sekali terhempas oleh angin ledakan bekas serangan nya itu. ia lalu memasang mata setajam mata elang dan ia menatap heran ke arah ledakan bekas serangan nya itu. lubang besar dan lebar itu ia perhatikan lekat-lekat karena gelap nya ditempat itu membuat nya sedikit kesusahan mencari apa yang ia cari.
Setelah mata nya mengawasi ke berbagai arah, ia membatin.
"mengapa aku sama sekali tak melihat sebercak darah atau daging yang hancur dari tubuh anak muda itu!? apakah dia berhasil diselamatkan oleh Sukma nya si Agung itu!? ah tidak mungkin! keadaan dia saja sudah sekarat, bagaimana mungkin dia bisa membawa kabur raga cucu nya itu???" renungan batin Mandulangi berhenti sampai di situ. Ia kemudian segera bergerak mencari keberadaan Dendi dan Sukma Agung Maha Sakti.
Disamping itu sosok yang melesat cepat bagai kilat yang menyambar tubuh Dendi dan sukma kakek buyut nya itu ternyata adalah Ki Yudha Angsana. sebelum nya ketika Ki Yudha Angsana sudah selesai menghentikan laju gunung meletus, ia segera mencari keberadaan Dendi. ia merasakan ada kekuatan energi jahat yang amat kuat disebelah selatan. maka ia segera melesat terbang ke arah tersebut dan benar saja ia melihat cahaya terang kuning kemerahan dan setelah didekati, cahaya terang itu berasal dari pusaka trisula yang dipegang Mandulangi ketika akan menyerang Dendi dan sukma kakek buyut nya.
Maka dengan kemampuan bergerak cepat nya Ki Yudha Angsana melesat menyambar tubuh Dendi dan sukma kakek buyut nya Dendi. pada saat itu Mandulangi tak melihat kelebatan cepat itu karena ia terhalang sinar tenaga dalam besar yang keluar dari ujung pusaka trisula nya itu. kini Ki Yudha Angsana sedang membawa Dendi dan sukma kakek buyut nya ke dimensi siluman tempat istana nya berada. Ia sudah tak mempedulikan soal Mandulangi yang suatu saat pasti akan mencari nya, ia lebih mementingkan keselamatan Dendi dan sukma kakek buyut nya itu.
Disatu sisi Rindani sudah lama tiba disebuah hutan samping istana besar dan megah. pusat kota raja tempat para penduduk tinggal pada saat itu sedang ramai sekali, karena setiap waktu pusat kota raja selalu ramai dikunjungi oleh pedagang-pedagang dari luar kota raja. istana itu cukup besar dan megah dengan memiliki kota raja sebagai pusat tempat tinggal penduduk yang mayoritas nya pedagang. Rindani sudah menaruh Noni Diandra dan Pak Alex yang masih pingsan ditanah berumput samping nya, Rindani masih takut untuk pulang karena ia masih teringat ketika diri nya ditampar oleh ibu nya dan membuat nya kabur dari istana.
Ia menatap ke arah menara-menara pengintai diistana tersebut, disana ada prajurit pengintai yang sedang patroli mengawasi area istana dan pusat kota raja.
"aku harus bagaimana sekarang!? sudah berapa waktu lama nya aku berdiam diri disini!? haduuh! mengapa aku tak berani pulang ke istana!? ayah bisa marah jika melihat diriku seperti ini!!" ujar Rindani masih bingung menentukan langkah nya.
Ia lalu menatap wajah Noni Diandra dan pak Alex yang masih pingsan itu, kemudian ia membatin.
"kasihan sekali mereka berdua jika tak segera ditolong! tapi apakah aku harus tetap berada disini sedangkan dua orang ini sangat membutuhkan pertolongan??? mungkin jika aku membawa nya ke istana, pasti ibu dan kakak kembar ku akan segera mengobati mereka." ucapan Batin Rindani berhenti sampai disitu, ia sedang berpikir keras akan langkah nya itu.
Ia nampak gugup dan tersirat dibenak nya untuk memaksakan diri untuk tetap pergi ke istana.
__ADS_1
"egois sekali diriku! jika aku terus begini, sampai kapanpun masalah ku dengan ibu tak akan kelar sampai kapanpun! baiklah, aku putuskan untuk pergi ke istana dengan alasan membawa dua orang ini atas suruhan ayah!" ujar Rindani yang kini telah memantafkan langkah nya.
Ia segera memanggul Noni Diandra dan pak Alex lagi, ia memanggul tubuh pak Alex dibahu kiri nya dan tubuh Noni Diandra di bahu kanan nya. jika orang yang tak memiliki ilmu tenaga dalam, sangat mustahil bagi Rindani untuk mengangkat tubuh pak Alex yang lumayan berisi itu. kemudian Rindani terbang melesat langsung memasuki gerbang istana dengan melompati tembok istana. para prajurit yang berjaga dimenara pengintai segera berteriak karena melihat kelebatan Rindani melonpati tembok istana.
"ada penyusuuuuup!! kepung diaaaaa!" teriakan tersebut membuat para prajurit yang berjaga diarea depan istana terkesiap dan segera mengepung Rindani,
"berhenti penyusup!" teriak kesepuluh prajurit bersenjatakan pedang panjang itu. Rindani segera menatap ke arah wajah mereka satu persatu dan mereka pun baru menyadari bahwa orang itu adalah putri raja di istana tersebut.
"untuk apa kalian mengepungku!? apa kalian pikir aku ini penyusup???" tanya Rindani dan kesepuluh prajurit itu segera menunduk dan meminta maaf.
Kesepuluh prajurit itu segera membuka jalan dan Rindani segera berjalan menuju pintu istana. dipelataran istana nampak seorang wanita setengah tua dab masih cantik bertubuh cukup langsing sedang mengobrol dengan salah satu pelayan wanita, mendengar teriakan penyusup tadi wanita setengah tua itu segera menatap ke arah Rindani yang dikepung sebelum nya.
"non Rindani!? oh dia datang!" lalu ia berkata kepada pelayan wanita tadi,
"baik Nini!" ujar pelayan itu dan segera masuk ke dalam istana yang bernama Istana Gulingan.
Para pelayan dan para prajurit yang berada di area depan istana yang cukup luas itu menunduk memberi hormat kepada Rindani yang berjalan menuju pelataran istana. disana ia disambut oleh perempuan setengah tua tadi yang mempunyai nama Nini Sanca Weling.
"non Putri Rindani!? ya tuhaaaaan, bibi pikir kamu tak akan pulang lagi kemari non..." ujar perempuan setengah tua itu dan Rindani tersenyum seraya berkata,
"bibi bisa minta tolong siapkan ruangan untuk membaringkan dua orang yang ku bawa ini???" perempuan setengah tua itu sejak tadi sudah memperhatikan dua sosok yang Rindani panggul,
__ADS_1
"mereka siapa non? mengapa kau membawa nya seperti itu kemari???"
"nanti aku akan menjelaskan nya bibi."
"baiklah,..." ujar Nini Sanca Weling dan ia segera menepuk tangan dua kali ke arah pelayan wanita.
Para Pelayan mendatangi Rindani dan Nini Sanca Weling, kemudian berkata.
"tolong siapkan ruangan untuk membaringkan dua orang yang pingsan ini."
"baik Nini..." ujar para pelayan itu dan dua orang yang pingsan itu segera dibawa oleh dua prajurit yang telah diperintah oleh Nini Sanca Weling untuk mengikuti pergi nya pelayan istana.
Rindani dan Nini Sanca Weling yang dulu nya adalah bekas panglima perang nya kerajaan tersebut segera bertanya.
"sebenar nya non Rindani pergi kemana? ayah mu telah lama pergi mencari mu dan ibu mu setiap waktu sering menangis ketika berada dikamar mu non." Rindani menundukan kepala nya dan mata nya mulai berkaca-kaca. Nini Sanca Weling meneruskan ucapan nya lagi,
"kakak kembar mu pun telah berusaha untuk menenangkan keresahan ibu mu atas kabur nya dirimu ini non, sejak kepergian mu nyai Ratu selalu ingin menyendiri didalam kamar mu dan berharap dirimu bisa pulang kembali kemari."
"sekarang aku sudah pulang bibi." ujar Rindani berusaha tersenyum seraya mengusap air mata nya yang telah jatuh itu.
...*...
__ADS_1
...* *...