
MASIH Ditempat area dekat gua nogo saliro yang sudah tertimbun bebatuan itu, terlihat KI Yudha Angsana masih melawan serangan batin nya Nyai Lembah Asmara, ia masih berdiri tenang dan Nyai Lembah Asmara mulai bergetar badan nya. ia seakan sedang menahan getaran batin yang amat membuat nya tak bisa menggerakan badan nya. dari kedua lubang hidung Nyai Lembah Asmara tiba-tiba menetes darah merah segar dan ia segera menyeka nya.
"hah darah!?" sentak nya kaget setelah ia menyadari diri nya telah terluka dari dalam oleh perlawanan Ki Yudha Angsana. ia menampakan wajah murka nya kepada Ki Yudha Angsana atas ilmu kebatinan nya yang mampu dipatahkan itu.
Senyum kemenangan mulai terulas diwajah Ki Yudha Angsana dan membuat Nyai Lembah Asmara muak membentak nya.
"hih! terima ini sialan!" wut wut wut! cusss! gerakan liar Nyai Lembah Asmara itu membuat Ki Yudha Angsana tersentak mundur. kemudian Nyai Lembah Asmara menyerang Ki Yudha Angsana dengan gerakan silat serba cepat dan membuat Ki Yudha Angsana segera melawan nya untuk mengimbangi gerakan silat Nyai Lembah Asmara. mereka saling pukul, tahan, menghindar, bahkan berjumpalitan diudara.
Disatu sisi, Mandulangi berhasil menemukan Dendi disebuah tempat semacam mata air. disana terasa sejuk dan membuat Mandulangi merasakan tubuh nya menggigil. suasana ditempat itu berada disalah satu kaki gunung merapi yang dekat dengan lembah jurang. mata air tadi mengalir jatuh ke jurang itu dan darisana terlihat lumayan jauh pemukiman rumah warga yang porak-poranda.
Dendi menatap ke arah pemukiman itu dan Mandulangi yang menggigil itu tak langsung menyerang, melainkan berkata tanya.
"jangan harap kau bisa kabur lagi Agung!"
"untuk apa aku lari? sedangkan aku sudah lama mati dan sudah menjadi arwah bukan? mengapa kau masih menyimpan dendam kepadaku?"
"grrrr! dendam tetaplah dendam bangsat! meskipun raga mu sudah binasa! aku akan tetap memburu dendam itu sampai ke keturunan anak cucumu! dan kebetulan sekali kau memakai raga cucumu itu untuk tempat berlindung mu dari pembalasan dendam ku ini pengecut!" geram Mandulangi yang sudah tak sabar ingin menyerang Dendi yang masih dirasuki itu.
"apa kau tak ada niatan untuk bertobat Mandulangi? apakah kau ingin mati menanggung dosa besar seperti sisa para rekan abdi mu yang sudah tewas itu?"
__ADS_1
"grrr! aku tak butuh nasehat mu bajingan! jangan kau samakan aku dengan mantan rekan abdi ku yang lemah-lemah itu! heaahh!"
duarrr! ledakan keras itu berasal sedangan tenaga dalam mandulangi yang ia hentakan melalui mulut nya.
Dendi masih diam berdiri tak bergeming memunggungi Mandulangi seperti tak merasa diserang sekalipun oleh Mandulangi. serangan Mandulangi yang terbilang gagal itu telah diredam oleh perisai gaib nya Dendi dan hal itulah yang membuat Mandulangi tak bisa sembarangan mendekati Dendi.
"jangan meremehkanku dengan cara mu memunggungi ku seperti itu brengsek! hadapi aku jika kau masih punya nyali!"
"tidaklah kau lihat para warga kaki gunung ini yang ada disana? tempat tinggal mereka hancur akibat tindakan mu yang telah membuat gunung merapi itu murka!"
"hei sialan! apa urusan mu? gunung merapi ini sudah menjadi milik kekuasaan ku setelah aku mengalahkan Mak Lampir dikawah gunung merapi itu! jadi terserah diriku jika aku ingin membuat gunung itu meletus!"
"Mak Lampir berhasil kau kalahkan!? kau tak punya hati nurani Mandulangi! mana gelar Ksatria Tujuh Nyawa yang kau banggakan itu? lihatlah dirimu, sekarang wibawa mu sebagai ksatria sudah hilang dan telah berganti seperti sesosok dedemit buruk rupa! aku yakin wujud mu sekarang ini adalah kutukan yang telah dilontarkan oleh Mak Lampir sebelum ia tewas ditangan mu!"
"apa yang akan kau lakukan itu hah!? apa kau tak merasa kasihan terhadap para warga yang tinggal dikaki gunung ini?"
"persetan dengan mereka! sudah lama aku ingin meledakan gunung ini! lagi pula mereka sama sekali tak pernah memberiku sesajen demi keselamatan mereka!"
"bedebah musrik kau Mandulangi! apa kau masih ingin mencoba melawanku lagi Mandulangi???"
__ADS_1
"tak usah banyak bacot kau! selagi kau masih hidup sekalipun itu sukma mu, aku akan terus berusaha untuk membinasakan mu dan setelah itu aku yang akan membinasakan semua keturunan mu!" ujar Mandulangi sudah sangat marah.
"berarti kau menginginkan kekalahan mu untuk kesekian kali nya lagi bukan???"
"kau yang kali ini akan binasa ditanganku bedebah! heaah!" Mandulangi terbang ke arah Dendi dan dengan gerakan seperti kucing mencakar-cakar. hempasan angin lompatan nya itu mampu menerbangkan daun-daun kering dan ranting disekitaran tempat itu.
Dari cakaran ke sepuluh jari nya itu keluar sinar merah seperti api membara dan Dendi dengan sigap nya segera berjungkir balik ke atas melewati tubuh Mandulangi. serangan Mandulangi itu berhasil di hindari dan tubuh Mandulangi menerkam tanah seperti kodok yang meloncat. dalam hitungan detik saja seketika itu juga tanah tersebut berubah berwarna hitam gosong dan bau tanah terbakar pun tercium. Dendi yang masih dirasuki itu segera memulai gerakan silat pembuka nya dan ia kini akan serius menyerang Mandulangi. serangan Mandulangi kali ini sudah sangat berbeda dengan terakhir pertarungan mereka berabad-abad yang lalu.
Gerakan silat Dendi mirip dengan kera dan hal tersebut membuat Mandulangi menatap geram seraya membatin.
"rupa nya dia mulai serius! gerakan silat ilmu monyet putih adalah tanda dia mulai serius! aku harus segera menggunakan ilmu silat andalan ku untuk melawan nya!" kemudian Rumpak Balung segera melakukan gerakan silat seperti burung rajawali dan gerakan nya bagai burung rajawali liar yang sedang memangsa buruan nya
Kedua lawan itu masih menggerakan gerakan silat pembuka mereka dan tiba-tiba masing-masing menghentakan tangan nya ke arah lawan.
"heaaaahh!!" sentak Mandulangi dan Dendi bersamaan.
wussss!! jooosssss!! suara tersebut berasal dari pertabrakan sinar tenaga dalam Mandulangi yang berwarna merah kehitaman dan sinar tenaga Dendi yang berwarna hijau kebiruan. dua sinar tenaga dalam itu bagai tambang sebesar pohon pisang dan bertabrakan ditengah jarak. kedua sinar yang keluar dari telapak tangan masing-masing masih saling mendorong dan diantara kedua nya saling mengerahkan tenaga dalam juga.
Cucur keringat mulai membasahi pakaian mereka masing-masing dan tubuh kedua nya mulai ikut gemetar. sementara itu, Ki Yudha Angsana sedang menghindari serangan tenaga dalam Nyai Lembah Asmara. suara ledakan keras terjadi beberapa kali dan memporak-porandakan alam sekitar. suara gunung meletus dan tanah bergetar hebat tak mereka hiraukan, mereka sibuk mencari celah masing-masing untuk mencari kelemahan lawan.
__ADS_1
...*...
...* *...