
NONI Diandra yang pingsan itu akhir nya terbangun setelah Dendi memakaikan cincin mahkota iblis yang ia pakai itu ke jari Noni Diandra. mereka kini berada didalam gubuk yang dengan ajaib nya muncul dengan kekuatan sihir kakek tua itu. kemudian pak Alex dan kakek tua itu merasa aneh ketika Noni Diandra langsung tersadar dari pingsan nya setelah dipakaikan cincin itu oleh Dendi.
"dimana aku!?" ucap Noni Diandra masih bingung dan Dendi segera menjawab nya.
"kau sekarang ada dialam manusoi sayang." seketika itu juga Noni Diandra segera menatap Dendi dan kemudian langsung memeluk nya.
"sayang! akhir nya kita bertemu kembali setelah kita lama berpisah, hixhix." Noni Diandra menangis terharu dan Dendi pun memeluk nya dengan erat seraya berkata.
"maafkan aku juga sayang, kalau tak ada kakek sakti itu. mungkin aku dan pak Alex tak akan pernah bisa bertemu dengan dirimu lagi." ucapan Dendi tersebut membuat Noni Diandra menatap kakek tua yang tersenyum kepada nya.
Kemudian terdengar Noni Diandra berkata,
"sejak kapan kalian berdua bisa bertemu dengan kakek ini???" lalu pak Alex yang menjawab nya.
"cerita nya panjang Noni, nanti saja akan Dendi ceritakan setelah kita berhasil membebaskan anak bungsu ny kakek ini."
"baiklah kalau begitu, lalu siapa yang menawan anak bungsu mu kek?" pertanyaan Noni Diandra tadi segera dijawab oleh kakek tersebut.
"mungkin kau sudah tahu orang nya anak manis, orang itu berpenampilan seperti dukun dan badan nya kurus. ia tingga didalam sebuah gua dibawah kaki gunung merapi."
"tunggu...!" ucap Noni Diandra memotong ucapan kakek itu. Dendi dan pak Alex segera menatap Noni Diandra yang mulai berkata,
"aku tahu ciri-ciri orang seperti itu dan tempat nya pun aku tahu dimana."
__ADS_1
"ya sudah jelas tahu, karena kau sudah pernah tertangkap dan dipenjara didalam sangkar burung." Noni Diandra mengerutkan dahi nya menatap kakek tua itu, rasa penasaran dan kaget itu segera Noni Diandra pertanyakan.
"darimana kau tahu soal itu kek? bukankah diantara kalian bertiga tak ada yang tahu awal aku ditawan itu dimana? kecuali aku ditawan didalam penjara bawah tanah ratu duyung itu, sudah pasti kalian bertiga mengetahui nya." ucapan Noni Diandra bernada tak percaya itu segera dijawab oleh Dendi.
"ketika kau berpisah dengan kami gara-gara kau diculik oleh sosok genderuwo itu, sudah banyak hal terjadi yang tak engkau ketahui sayang. salah satu nya ketika kami bertemu dengan kakek Yudha Angsana ini. begitupun dengan tujuan awal kita yang ingin pulang kembali ke markas, malah tak jadi dan semakin jauh berpetualangan untuk menyelamatkan mu."
"tetapi sekarang aku sudah terbebas sayang?! ayo kita pulang, untuk apa lagi kita berlama-lama disini???"
"ada sesuatu yang belum kita selesaikan, Noni." ujar pak Alex dan Dendi menimpali,
"aku dan pak Alex sudah berjanji kepada kakek ini untuk membantu menyelamatkan anak bungsu nya yang ditawan itu. perihal dirimu terbebas pun ada campur tangan bantuan kakek ini, jadi sudah sewajar nya kita untuk terus melanjutkan tugas dan janji kita kepada kakek ini. benarkan pak???"
"benar Den, sebagai seorang detektive. tanggung jawab adalah hal yang utama harus dilakukan." Dendi pun mengangguk dan membuat Noni Diandra segera bertanya kepada kakek tua yang sejak tadi berdiri.
"anak bungsu kakek adalah perempuan dan seperti nya sebaya dengan mu. ia memakai pakaian rompi merah jambu dan celana angkin nya pun berwarna merah jambu. pokok nya sampai sarung pedang nya pun berwarna merah jambu." ujar kakek tua itu dan Noni Diandra pun segera merenungkan ketika ia berada didalam penjara gua nogo saliro itu.
Disamping itu, Prabu Murdawira sudah membawa istri ku kembali ke dalam istana nya. ia membaringkan istri diranjang nya dan keadaan nya sudah setengah sadar. Prabu Murdawira belum beranikan bertanya soal kegundahan hati nya itu, tetapi seribu pertanyaan sudah siap ia pertanyakan kepada istri nya itu nanti.
Nyai Lembah Asmara menatap wajah suami nya yang tak biasa nya tak ber expresi itu. wajah nya nampak datar-datar saja dan ia duduk ditepi ranjang tersebut,
"kakang..., kenapa dengan wajah mu? seperti nya ada sesuatu perkara yang membuat wajah mu tak seceria biasa nya." ucapan Nyai Lembah Asmara itu segera menyurutkan kegundahan hati Prabu Murdawira dan pada saat itu ia langsung berkata,
"memang ada sesuatu perkara yang aku pikirkan sejak tadi."
__ADS_1
"apa itu sayang? apa aku boleh tahu perkara tersebut???" Prabu Murdawira pun menatap wajah istri nya lekat-lekat seraya berkata.
"perkara ini menyangkut hubungan rumah tangga kita." Nyai Lembah Asmara tersentak hati nya mendengar ucapan suami nya itu, kemudian terdengar Nyai Lembah Asmara berkata tanya.
"coba kakang jelaskan, aku ingin tahu permasalahan nya itu."
"baiklah, apa benar kau selalu bermain cinta dengan lelaki lain ketika aku sedang berjuang bertapa untuk penyembuhan penyakit ku itu?" Nyai Lembah Asmara mati kutu ditanya seperti itu, ia lalu menjawab nya dengan alasan yang benar.
"maafkan aku sayang, aku begitu karena aku merasa kesepian semenjak berpisah dengan kakang. batinku lama-lama jadi tersiksa jika selama nya tak mendapat sentuhan dari seorang suami."
"jadi karena itukah kau melakukan perserongan dengan lelaki lain hanya karena nafkah batin mu tak terpenuhi?" Nyai Lembah Asmara memasang wajah sedih dan menjawab,
"maaf jika tindakan ku itu salah kakang, tetapi bagaimana bisa seorang mahluk yang memiliki nafsu bercinta akan tahan untuk tidak melakukan itu bersama pasangan nya? apakah kakang tak merasa kasihan terhadap ku jika nafkah batin ku tak terpenuhi oleh kakang???" Prabu Murdawira terdiam memikirkan ucapan tersebut, ia seakan ragu untuk membantah ucapan istri nya itu. Nyai Lembah Asmara terus saja berkata-kata tentang diri nya yang telah nekat melakukan perbuatan keji di belakang suami nya itu dan perlahan-lahan hati Prabu Murdawira mulai merasa kasihan dan peduli lagi terhadap istri nya itu.
Disamping itu, Noni Diandra segera teringat akan renungan nya itu.
"aku pernah melihat seorang perempuan cantik dan pakaian nya memang serba merah jambu. posisi nya itu seperti sedang melakukan semedi duduk dan posisi nya tak berubah-ubah sampai aku berhasil kabur akibat kelalaian anak buah nya dukun ceking itu." Dendi dan pak Alex yang mendengar cerita Noni Diandra itu segera menatap ke arah kakek tua yang sejak tadi mengusap-usap jenggot panjang nya.
Noni Diandra pun menatap kakek tua itu dan kemudian kakek tua itu menjawab nya.
"memang betul itu adalah ciri-ciri anak bungsu ku dan apakah wajah nya terlihat memar membiru?"
"hmm aku melihat nya sedikit kek dan berada disebelah rahang kiri nya saja."
__ADS_1
"itu adalah bekas tamparan ibu nya sebelum ia minggat dari istana tempat kakek tinggal." ucapan kakek tersebut membuat Dendi, pak Alex dan Noni Diandra dibuat penasaran akan cerita tentang kakek tersebut.