DETECTIVE INDIGO (KHODAM PENDAMPING)

DETECTIVE INDIGO (KHODAM PENDAMPING)
MUNCUL NYA MANDULANGI ATAU KSATRIA TUJUH NYAWA


__ADS_3

KINI Apa yang diharapkan oleh Nyai Lembah Asmara dulu agar bertemu lagi dengan lelaki yang ia sukai itu terkabulkan sekarang. ia menatap Ki Yudha Angsana dengan senyum mulai membias nakal dan kala itu Ki Yudha Angsana tak menatap nya, karena ia sedang membantu Dendi untuk berdiri.


"masih ingatkah kau kepada ku, kakang Yudha Angsana???" tanya Nyai Lembah Asmara yang kini sudah memakai baju kebesaran ratu nya lagi.


Ki Yudha Angsana pun menjawab pertanyaan Nyai Lembah Asmara,


"ya aku masih mengenalmu, sebagai seorang ratu yang haus belaian seorang lelaki, Nyai Lembah Asmara."


"hahaha, padahal aku mengharapkan dirimu untuk menggantikan posisi suami ku yang sudah meninggal itu."


"jangan harap kau bisa menggoda ayah ku nenek sihir!" teriak seorang wanita muda dan cantik. Nyai Lembah Asmara segera menajamkan mata nya ke arah perempuan muda yang terlihat berada di samping pohon besar dan lebar.


"oh jadi anak gadis itu adalah anak mu kakang Yudha? wajah nya jelek, mirip sekali dengan ibu nya." ujar Nyai Lembah Asmara meledek dan Rindani pun mulai marah, ia segera mencabut pedang nya yang sudah ia dapatkan kembali ketika ia dan ayah nya membebaskan para tawanan didalam gua nogo saliro.


srangg!!


"jangan merendahkan ibu ku kau nenek sihir! ku bunuh kau jika sekali lagi menjelekan ibu ku!"


"wah wah wah! tak ada sopan nya sekali kau kepada orang tua gadis dungu!" ujar Nyai Lembah Asmara mulai panas dan seketika itu juga Ki Yudha Angsana melesat terbang kepada anak nya yang hendak menyerang Nyai Lembah Asmara.


"hentikan Rindani! dia bukan lawan mu!"

__ADS_1


"tapi dia menjelekan ibu, ayah!"


"iya ayah tahu, biar ayah saja yang menghadapi nya! sekarang kamu cepat berlindung ke tempat tadi."


"tapi ayah..." ucapan Rindani terpotong karena ayah nya berkata.


"Rindani, dengarkan ayah." ucap nya penuh keseriusan dan wajah serius itulah yang membuat Rindani takut dan menurut terhadap ayah nya.


Rindani pun segera kembali ke belakang pohon besar tempat ia tadi bersembunyi. Nyai Lembah Asmara tertawa girang ketika Ki Yudha Angsana menatap nya,


"apa yang kau tertawakan itu?!" tanya Ki Yudha Angsana dan Dendi yang sejak tadi menatap mereka berdua mulai waspada. ia menatap ke arah puncak gunung merapi yang masih mengeluarkan asap tebal abu-abu pekat.


"gawat! seperti nya puncak gunung merapi ini akan meletus! seperti nya ada yang tak beres terhadap gunung yang awal nya tenang-tenang saja, kini seakan ada yang membuat nya murka." ucap batin Dendi, pada saat itu Nyai Lembah Asmara berkata.


"aku lebih baik melawan mu daripada harus menjadi seorang budak napsu mu!"


"hahaha, kalau begitu aku akan membuat mu bertekuk lutut terhadap ku!" seketika itu juga ada cahaya kilat melesat cepat diatas puncak gunung merapi. kemudian terdengar suara petir menyambar.


jgeeeerrrrr!! gludukkkk!!! dukkk!! dukk!!


Nyai Lembah Asmara tersentak kaget dan begitu pun dengan Rindani, kecuali Dendi dan Ki Yudha Angsana mereka sama sekali tak merasa kaget.

__ADS_1


Mereka segera menatap ke arah puncak gunung merapi yang saat itu mulai memuntahkan lahar panas nya lagi. bersamaan dengan itu, getaran seperti gempa bumi mulai terasa dan cukup membuat genteng rumah-rumah penduduk dikaki gunung merapi itu melorot jatuh. kemudian terlihat asap menyembur dari atas puncak gunung merapi dan terlihat disana ada sosok mahluk terbang seperti naga sedang ditunggangi oleh seseorang.


Ki Yudha Angsana tak tahu siapa seorang lelaki yang menunggangi punggung naga besar itu, kecuali Nyai Lembah Asmara. sedangkan Dendi yang masih dirasuki oleh khodam pendamping nya itu, sedang mencoba mencari tahu siapa sosok lelaki itu sebenar nya. pada saat mereka memperhatikan naga yang ditunggangi seorang lelaki itu yang terbang memutari gunung merapi dan menukik turun ke arah mereka, Nyai Lembah Asmara membatin.


"akhir nya turun juga kau Mandulangi! pasti ia akan berpihak kepadaku untuk membantu ku melawan dua cecunguk itu!" ucap batin Nyai Lembah Asmara dan ia sudah mempersiapkan rencana untuk merasa lemah dan meminta pertolongan kepada Mandulangi.


"aku yakin ia masih ada rasa bela empati terhadap ku, meskipun dulu aku pernah melawan nya bersama suami ku. aku harap dia masih menganggapku rekan abdi nya dan rekan seperguruan nya." lanjut batin Nyai Lembah Asmara.


Dendi yang menatap tajam ke arah puncak gunung merapi itu pun ikut membatin,


"hmm dugaan ku memang tak meleset, pasti bencana alam yang terjadi digunung merapi itu dia yang melakukan nya." lalu ia melanjutkan ucapan batin nya lagi setelah ia melihat agak jelas siapa rupa sosok lelaki yang menunggangi naga itu.


"tak salah lagi, dia adalah Mandulangi yang berjuluk Ksatria Tujuh Nyawa! ternyata dia selama ini mengasingkan hidup nya diatas kawah puncak gunung merapi! aku yakin dia mengasingkan diri dari duniawi bukan karena ia tak mau ikut campur urusan duniawi lagi, melainkan sedang mempelajari jurus ilmu dahsyat untuk melawan musuh nya dan sudah jelas musuh paling ia benci adalah aku! karena berkali-kali ia hampir ku buat mati ketika ia berusaha melampiaskan dendam atas kekalahan nya ketika aku masih hidup dulu!" ucap batin sosok yang merasuki Dendi dan ia siap-siap siaga memakai tubuh Dendi untuk menyambut musuh bebuyutan nya itu.


Naga terbang itu ternyata adalah Naga Nogo Saliro peliharaan nya Rumpak Balung yang sebelum nya terbang ke atas puncak gunung merapi. kibasan sayap naga itu membuat area sekitaran kaki gunung itu dihempaskan angin besar dan kencang. seorang lelaki yang masih duduk diatas punggung naga siluman itu memiliki wajah yang amat menyeramkan. bola mata nya mendelik merah dan rambut nya kucal sepanjang bahu berwarna hitam keabu-abuan.


Ia memakai pakaian serba merah dan pakaian nya itu terlihat sudah sangat dekil dan kotor. badan nya terlihat kurus, hampir sekurus badan nya Rumpak Balung. bulu janggut dan kumis nya nampak lebat menutupi mulut nya dan lelaki itu tak membawa sebilah pusaka pun dibadan nya, karena bagi Nyai Lembah Asmara. badan lelaki itu sudah seperti benda pusaka, yang memiliki kesaktian layak nya benda pusaka yang sakti.


Lelaki itulah yang bernama Mandulangi yang semasa muda nya mempunyai julukan Ksatria Tujuh Nyawa. ia sama sekali belum melontarkan kata akan kemarahan nya terhadap mereka akibat tempat perasingan nya terganggu oleh mereka. kini naga siluman itu telah mendaratkan kaki nya ditanah berumput itu dan wajah Mandulangi nampak nanar ke arah Nyai Lembah Asmara yang menunduk ke arah nya seraya kedua tangan nya merapat diatas kepala nya, seakan posisi Nyai Lembah Asmara itu menyambut baik kedatangan nya dengan sopan, kemudian ia menatap wajah Ki Yudha Angsana dan kemudian menatap wajah Dendi dengan tatapan penuh kemarahan.


Mandulangi lalu turun dengan cara meloncat berjungkir balik diudara dan turun dengan kaki menapak ditanah tanpa oleng sedikit pun. tatapan mata nya sangat menyeramkan dan terdengar geraman bercampur gigi menggeletuk dari mulut Mandulangi.

__ADS_1


...*...


...* *...


__ADS_2