DETECTIVE INDIGO (KHODAM PENDAMPING)

DETECTIVE INDIGO (KHODAM PENDAMPING)
KEMBALI NYA RINDANI


__ADS_3

PINTU Istana berlambang seekor naga membelit sebuah pedang itu terbuka menjadi dua bagian. prajurit istana yang telah membuka pintu tersebut dari kiri dan kanan. seorang perempuan berpenampilan ratu yang amat cantik jelita, keluar dari dalam istana itu dengan didampingi oleh para pelayan-pelayan wanita.


Rindani yang sedang mengobrol dengan Nini Sanca Weling dipelataran istana itu segera menatap ke arah pintu istana yang terbuka. Rindani tak bisa berkata-kata ketika perempuan berpakaian kebesaran ratu itu memanggil nya dengan nada sedih.


"Rindani...? oh kamu sudah pulang nak." ujar perempuan berpakaian ratu itu yang tak lain adalah ibu nya Rindani.


"ibu..." ujar Rindani dengan suara parau dan ia langsung dipeluk oleh ibu nya saat itu juga. wajah Rindani diciumi ibu nya dan membuat keharuan tersendiri bagi Nini Sanca Weling dan para orang-orang istana yang melihat nya.


Ibu dan anak itu menangis kala mereka berpelukan dan ibu nya Rindani berkata-kata,


"maafkan ibu sayang, maafkan ibu yang telah membuat mu pergi dari istana. tak seharus nya ibu melakukan hal seperti itu kepada mu sayang, maafkan ibu. hixhixhix."


"tak apa ibu, Rindani yang sebenar nya salah karena telah melanggar perintah ibu dan tak mematuhi keinginan ibu. hixhixhix." ucap Rindani dan ibu nya berkata lagi,


"kamu tak di apa-apa kan sayang? ibu sudah tahu akan keadaan mu yang telah dipenjara oleh seorang dukun ceking itu dari ayah mu nak.


lalu sekarang kemana ayah mu dan kakak kembar mu???" tanya sang ibu dan membuat Rindani balik bertanya,


"ayah masih ada urusan ibu, tapi aku tak tahu dengan kak Ristanti dan kak Riyoshi bu."


"apakah yang menyelamatkan mu itu hanya ayah mu saja nak???" tanya sang ibu lagi, dan Rindani menggelengkan kepala nya seraya berkata.


"bukan ayah saja bu, ada tiga orang yang sebenar nya ikut membantu ayah membebaskan Rindani." sang ibu berkerut dahi menatap wajah anak nya.


Lalu Nini Sanca Weling mulai beranikan bertanya,

__ADS_1


"apakah dua orang yang pingsan itu kedua nya orang yang non maksud?"


"benar bibi, mereka pingsan ketika ayah sudah membebaskan ku. ayah menyuruhku untuk membawa mereka yang terluka itu kemari, bu." ujar Rindani dan membuat ibu nya bertanya lagi.


"dimana mereka sekarang?"


"mereka sudah dibawa ke dalam ruangan perawatan Nyai Ratu."


"hmm begitu, baiklah kita masuk ke dalam. ibu masih ingin mendengar cerita mu lebih rinci lagi sayang."


"baik bu." ujar Rindani dan kini mereka yang ada disitu masuk ke dalam istana.


Ki Yudha Angsana sebentar lagi akan sampai dikota raja istana gulingan. ia masih memanggul Dendi dan sukma nya khodam nya Dendi untuk dibawa ke dalam istana nya. tetapi sesampai nya ia di samping hutan dekat gerbang masuk kota raja kerajaan nya, ia membatin.


"apakah aku harus menampakan wujud ku seperti ini??? oh jangan, itu akan membuat para penduduk ku heran kepada ku. hmm aku ada ide." gumam nya dan kemudian ia menaruh Dendi di bawah pohon bersama sukma khodam nya Dendi. pada saat itu sukma khodam nya Ki Agung Maha Sakti masih sedikit sadar, ia melihat Ki Yudha Angsana sedang menyalurkan hawa murni nya kepada diri nya dan Dendi.


"iya ini aku,.. bagaimana keadaan mu Ki Agung Maha Sakti???"


"sudah agak membaik, terima kasih atas bantuan mu Nak Mas." ujar sukma Ki Agung Maha Sakti menyebut Ki Yudha Angsana dengan sebutan 'Nak Mas', karena umur nya lebih tua beberapa abad dari Ki Yudha Angsana.


"sama-sama ki, jika aku terlambat sedikit saja. entah apa yang akan terjadi kepada mu dan cucumu ini." lalu Ki Yudha Angsana menatap Dendi yang masih terkulai pingsan.


Ki Yudha Angsana sudah selesai menyalurkan hawa murni nya ke dada Ki Agung Maha Sakti, ketika Ki Agung Maha Sakti berkata,


"sudah terima kasih nak mas, aku sudah bisa menyalurkan hawa murni ku sendiri." Ki Yudha Angsana hanya mengangguk dan masih menyalurkan hawa murni nya ke pada Dendi.

__ADS_1


"aku tak habis pikir akan kalah nya diriku oleh Mandulangi." Ki Yudha Angsana yang berada di depan Dendi dan masih menyalurkan hawa murni nya itu, mendengar ucapan Ki Agung itu seakan bicara pada diri nya sendiri. tetapi Ki Yudha Angsana tahu adab, ia mulai beranikan bertanya.


"apakah Ki Agung merasa menyesal karena telah dikalahkan oleh orang itu???" Ki Agung menggelengkan kepala nya seraya menjawab nya.


"aku sama sekali tak menyesali nya, dulu..., dia sangat berambisi sekali ingin mengalahkan ku. berkali-kali ia mendatangi ku ditempat yang sudah disepakati bersama untuk duel bertarung dan terkadang ia datang ke rumah ku untuk berduel juga. sampai-sampai ia hampir membunuh istriku jika aku tak segera bertindak melawan nya. dari kesekian pertarungan nya dengan ku, ia sama sekali tak pernah menang dari ku." Ki Yudha Angsana manggut-manggut mendengar nya, kemudian ia beranikan bertanya.


"tetapi mengapa dia masih saja berambisi seperti itu walaupun raga dirimu sudah tiada Ki?"


"iya dendam kepada ku, karena aku telah mengalahkan nya didepan raja nya sendiri dengan telak. ke enam rekan abdi nya tak ada yang sebanding ilmu nya dengan Mandulangi dan mengalahkan ku. hanya dia saja yang menurutku mampu mengimbangi ku dalam pertarungan secara ksatria."


"hmm jadi begitu sampai ia dendam sekali kepada mu Ki, lalu apakah dia akan tetap mencari mu bersama cicit mu ini Ki???"


"sudah pasti, ia adalah tokoh yang penasaran dan tak akan membiarkan lawan nya pergi begitu saja. pasti dia sedang mencari jejak kepergian kita, entah dengan cara ia menggunakan indera ke enam nya atau bertanya kepada mahluk halus yang tinggal ditempat itu." Ki Yudha Angsana merenungi ucapan tersebut, kemudian ia bertanya.


"ketika pertarungan mu dulu dengan nya, mengapa kau tak membunuh nya saja Ki???"


"sulit bagi ku untuk membunuh nya..." Ki Yudha Angsana mengerutkan dahi nya tanda tak mengerti.


"apa dia memiliki semacam ilmu kebal? sampai-sampai ia susah dibunuh ki???" sukma Ki Agung mengangguk seraya berkata,


"dulu ilmu kebal nya tak sehebat sekarang,... dulu jika serangan ku mengenai tubuh nya. ia akan terpental dan menyerang lagi sampai ia lemah tak berdaya. aku sudah menyuruh nya untuk bertobat saja sebelum ajal menimpa diri nya, tetapi dengan angkuh nya ia tetap mengacungkan pedang permusuhan kepadaku. terakhir aku bertarung dengan nya, sudah jelas aku memenggal kepala nya memakai pedang pusaka ku. tetapi entah ilmu apa yang dimiliki nya, tubuh nya yang sudah mati itu bergerak sendiri dan menyatu lagi. kemudian ia menyerang lagi sampai ia lelah dan menyerah."


"hmm...seperti nya ilmu itu mirip ilmu rawarontek ki."


"memang dia mempunyai ilmu hitam yang langka tersebut, ia mempunyai gelar ksatria tujuh nyawa yang dimana gelar tersebut ia dapatkan setelah ia menguasai ilmu rawarontek."

__ADS_1


"hmm begitu ya ki... memang sangat langka sekali ilmu hitam itu, mendapatkan nya pun harus bersekutu dengan iblis, benar kan Ki?"


"memang nak mas, dulu Mandulangi berpakaian gagah seperti pendekar dan badan nya pun kekar. semenjak ia menguasai ilmu itu dan mempunyai gelar tersebut, hidup nya mulai berubah dan kau lihat kan sekarang wujud nya? ia sudah mirip dedemit dan itulah efek dari ilmu rawarontek." Ki Yudha Angsana manggut-manggut mengerti mendengar ucapan sukma Ki Agung Maha Sakti itu.


__ADS_2