Dia

Dia
Tujuh belas


__ADS_3

"Siapa kamu ? cari siapa ?"tanya seorang pria muda pada anak remaja perempuan yang berdiri di depan pagar rumahnya.


"Aa..anu kak saya.."


"Nikeen maaf lama yaa..lho bang ken juga ada kalian barengan ya ?" seorang gadis cantik seusianya datang dengan senyum cerah.


"Gak,siapa juga yang barengan lagian temen kamu itu aneh badan doang jangkung masa gak bisa pencet bel"


Niken menoleh memandang tak percaya pada ucapan laki-laki itu.batinnya ingin memaki dan mengomel mendengar ucapannya andai dia tahu sedari tadi juga niken mencari keberadaan belnya yang ternyata tersembunyi di sela pagar.


"Diih abang jangankan niken pengantar paket juga kadang gak tau letak bel lagian tempatnya ngumpet gitu" bela kiara teman sekelasnya.namun laki-laki yang berstatus kakak kiara itu malah mengabaikan dan berlalu begitu saja.


Kedatangan niken ke rumah kiara sebenarnya untuk mengerjakan tugas kelompok dari sekolah.sebelumnya niken menawarkan kiara untuk datang ke rumahnya namun ternyata dia sendiri yang harus membatalkannya.


Kiara menjadi teman sekelasnya di kelas 8 dan kebetulan juga menjadi teman sebangkunya. Awalnya niken mengira gadis berambut panjang ini orang yang sulit di ajak berteman karena tidak banyak bicara. tapi setelah dua bulan duduk sebangku niken baru tahu jika kiara memang tipe orang yang tidak akan memulai sesuatu hal terlebih dulu.


Setelah mengenalnya niken merasa cocok berteman dengan kiara gadis ini mempunyai sifat periang dan ramah pada orang yang dekat dengannya.


"Hei..malah bengong jangan di ambil hati omongan bang ken. ayo masuk !"


"Oh iya..gak kok siapa juga yang ngambil hati susah musti di belah dadanya ra"


"Hahaha garing lo"


Sekilas ingatan pertama kali pertemuannya dengan kiano terbersit niken menghela napas dan mengatur detak jantungnya normal kembali. kemudian dia menekan tombol splash pada closet yang tidak dia gunakan.


Dia hanya ingin menenangkan diri sebentar di toilet sebelumnya suasana di meja makan tadi membuat dadanya sesak. kebersamaan kenzo dan kiano membuat hatinya bergetar ada rasa takut dan cemas yang di rasakannya.


Niken membuka pintu bilik dan menuju wastafel untuk mencuci tangan. tak lama dari pantulan cermin dia melihat cecil juga keluar dari bilik di sebelahnya.


"Aku dengar kamu jadi ikon produk terkenal nih" cecil membuka pembicaraan sambil membasuh tangannya pada wastafel.


"Cuma untuk pasar asia belum pasar dunia" senyum jahil niken pada cecil dari balik cermin.


"Sombong amat..hahaha..oh ya aku denger lusa pemotretannya berarti kamu berangkat besok ya"


"Kamu itu nakutin ya.."


cecil mengerutkan dahi"nakutin..?"tanya cecil bingung.

__ADS_1


"Iya semua serba tahu..ibaratnya kamu itu udah kaya google berjalan gak ada rahasia yang gak kamu tahu" niken menjawab dengan acuh.


"Hahaha..kamu salah, banyak yang belum aku tahu"


"Masa sih..seorang cecilia photographer dan seniman terkenal di kalangan selebritis dan politikus ada yang terlewat..apa itu ?"


"Banyaklah salah satunya..kamu mungkin"


"Aku..?"


"Iya..bahkan paparazi hebat pun tidak bisa menguak kebenaran rumor tentang kamu.siapa kamu dan siapa ayah dari anak kamu dan siapa orang-orang yang ada di belakang kamu yang begitu pintar menyembunyikan semua" ucap cecil menatap mata niken dalam.


Niken membalas tatapan mata cecil tak kalah tajam.seperti biasa dengan sikap angkuh yang dia tunjukkan selama ini di hadapan paparazi dan pencari berita. dia tersenyum miring menunjukkan kekuatannya pada cecil.


"Kalau begitu sayang sekali..kamu benar ternyata kamu belum semenakutkan itu.dan asal kamu tahu apa yang terjadi di hidup aku dan orang-orang di belakang aku itu tidak ada hubungannya sama kamu.saya tekankan bukan urusan kamu!"


Niken merapikan tampilannya di depan cermin dan beranjak dari sana namun langkahnya terhenti ketika dia mendengar suara cecil menyebutkan "Tapi aku tahu ada sesuatu antara kenzo dan kiano" ucap cecil menatap punggung niken yang berjalan keluar dari toilet untuk kembali bergabung di meja makan.


Kegaduhan di pagi hari tampak jelas di sebuah apartemen mewah itu.seorang wanita cantik fotomodel dunia terlihat sibuk mondar mandir merapikan barang-barang pribadi yang akan di bawanya. meski sang assisten emma telah menyiapkan semuanya bukanlah niken jika dia sendiri tak ikut sibuk meski hanya berupa keperluan kecil pribadinya.


"Yang itu udah di bawa kali kamu gak usah bawa lagi" emma mengambil parfum yang akan di masukkan niken ke tas kecilnya.


"Kita cuma satu minggu di sana cukup 2 parfum aja. buat apa bawa banyak,kamu mau mandi pake parfum"


"Mom aunty em udah siapin semua keperluan mom jadi sebaiknya mom santai aja.mending mommy siap-siap deh bentar lagi uncle raihan jemput" kenzo yang sedari tadi melihat perdebatan emma dan niken merasa gemas dengan tingkah keduanya.


"Aww..anak ganteng mommy ada suaranya juga ya"ledek niken pada kenzo yang duduk di kursi meja makan sambil menggigit buah apelnya.


"Enzo, kamu yakin uncle raihan mau anter kita ke bandara?" tanya emma lalu membuka lemari es mengambil botol air mineral.


"Hemm.."jawab kenzo yang sibuk mengunyah.


"Tumben kamu gak bereaksi apa-apa..biasanya kamu paling benci sama laki-laki yang sok akrab"sindir emma pada niken yang sedang mengikat tali sepatunya.


"Apapun atau siapapun yang di suka kenzo bagi aku gak masalah"


"Woaah beneran nih!"suara bariton yang tiba-tiba muncul membuat niken tersentak.


"Kamu..kok bisa ?!"tanya niken yang bingung dengan kedatangan raihan.

__ADS_1


"Bisa dong..kenzo yang kasih tau passwordnya tuh"


Niken melirik kenzo yang berpura-pura tidak melihatnya.sedangkan raihan berjalan ke arah kenzo mengusap kepala bocah laki-laki itu dan menarik kursi di sebelahnya.


Emma yang berdiri di dekat lemari es memberikan minuman kaleng pada raihan.


"Thanks em"ucap raihan sambil tersenyum dan emma hanya mengangkat ibu jarinya.


"Kalian udah siap kan! yuk kita berangkat..kamu serius mau antar mommy kamu ke bandara"tanya emma pada kenzo dan kenzo pun mengangguk.


"Tenang saja kenzo ada saya dan bu mirna" raihan menyela menjawab emma.


"Baiklah"balas emma santai.


"Okee kalau gitu kita berangkat sekarang. tadi bu mirna telepon dia ada urusan dulu mungkin agak siang dia ke sini" akhirnya niken bersuara.


Perjalanan selama setengah jam mereka tempuh untuk tiba di bandara.emma berjalan di depan untuk mengurus sesuatu.sedangkan niken dan raihan yang mendorong kursi roda kenzo tampak seperti sebuah keluarga.


"Terima kasih udah mau di repotin.aku tutip kenzo selama satu minggu ya. kalau ada apa-apa kabari aku."


"Hem.." raihan mengangguk kecil.


"Enz..mommy pasti kangen banget jangan abaikan telepon mom oke..oh dan ingat jangan nyusahin uncle raihan dan bu mirna hormati mereka ya sayang"


"Iya mom aku tau kok"


Niken memeluk kenzo erat seperti enggan melepas buah hatinya sendirian.namun pekerjaannya yang menuntut dia harus berpisah sementara waktu.sapaan raihan pada seseorang membuat pelukan niken terlepas dia mendongak memastikan jika pendengarannya tidak salah.


"Hai kean..!"


"Oh ternyata benar kalian"


Tanpa di sangka kiano bertemu niken di bandara dia sudah melihat kedatangan niken dari awal masuk bamdara.namun dia menunggu saat yang tepat untuk menyapa.entah mengapa dia merasa tidak suka melihat keakraban raihan dan kenzo terutama cara raihan memandang niken.itulah sebabnya dia mencoba menyapa di saat ini.


Niken berdiri tegak dan melihat ke arah kiano dengan tatapan menyelidiki tanpa ingin bertanya.raihan yang menyadari sikap niken mulai mencoba mencairkan suasana.


"Yah aku dan kenzo hanya mengantar niken saja..dan kamu..?"ucap raihan menjelaskan sekaligus bertanya.


"Oh aku ada pekerjaan di swiss untuk satu bulan ke depan"

__ADS_1


Niken tampak terkejut mendengar jawaban kiano dan dia berharap semoga saja bukan seperti yang dia pikirkan.


__ADS_2