
Suasana pesta di sebuah hotel mewah yang di selenggarakan pihak sponsor untuk penyambutan para model dan selebriti yang menjadi ikon produk mereka tidak membuat Niken tertarik untuk turun bergabung.
"Haii..ngapain sendirian di sini? seperti biasa seorang Niken selalu terlihat dingin di pesta" seorang teman Niken sesama model datang menyapa.
"Apa kabar bel..udah lama ya kita gak ketemu!..kangen iihh!!" balas Niken yang langsung memeluk sahabatnya.
"Seperti yang kamu lihat aku baik dan pastinya masih cantik dan bugar.." melepas pelukan niken sambil berputar dan kemudian berbisik" ssstt juga masih kuat untuk make a love sepanjang malam hahaha"
"Ya..ya..itu keahlian kamu pastinya"
"Oh ya, bukankah sekarang kamu juga sudah ahli ?.."
"Maksudmu.."
"Aku udah denger gosip itu, kamu tau kan meski aku jauh di Amerika tapi urusan gosip di antara model selalu sampai di kalangan pribadi walaupun tak terendus media. siapa dia Ken ? benarkah dia ayahnya Kenzo ?"
"Haaa..dia bukan siapa-siapa dan juga bukan ayahnya Kenzo" Niken menghela napas sambil menjelaskan pada Bella dan menyesap minumannya perlahan.
"Lalu siapa dia..pacar kamu atau calon ayah Kenzo..hemm" ucap Bella dengan nada menggoda. Niken hanya tersenyum dan merapatkan jari telunjuk dan ibu jarinya menarik lurus di depan bibir sexynya.
"Ahh gak seru..udahlah mending turun yuk kita lemesin badan yang kaku nih, besok udah harus kerja lagi kan"
"Kamu duluan deh, aku mau telpon Kenzo dulu"
"Oke, sampaikan salam aku buat si tampan Kenzo yaa"
"Pasti, aku telepon dulu yaa..bye" ucap Niken dan beranjak pergi menuju balkon untuk menelepon.
__ADS_1
Niken berjalan lurus sambil mengutak ngatik handphonenya tanpa menoleh kiri kanan. dia menuju balkon yg sepi agar lebih nyaman ketika melakukan panggilan telepon. tanpa Niken sadari ada sepasang mata yang memperhatikan dirinya.
"Assalamualaikum anak mommy yang tampan, bagaimana keadaan kamu sayang? are you okay?"
"Aku baik mom..ada nek Mirna dan uncle Raihan yang mengurus aku dengan sangat baik"
"Uncle Raihan ?!..maksud kamu uncle selalu ada sama kamu gitu ?"
"Tentu saja mom bahkan uncle tidur sama aku"
"Whatt..Enzo mom udah bilang jangan pernah merepotkan orang lain, bagaimana kalau uncle juga sibuk terus dia merasa tidak enak hati untuk menolak kamu. please sayang, denger mom jangan repotkan uncle Raihan lagi ya nak..kalau ada apa apa cukup bilang sama mom dan nek Mirna saja yaa"
"Tapi mom, bukan aku yang minta uncle tidur sama aku, uncle sendiri yang mau kok ! jujur aku.."
" Kamu kenapa..hemm"
"Enz..." Niken tak mampu berkata kata mendengar ucapan dan keinginan sang putra.
" Mom aku ngantuk..selamat malam..love you mom" Kenzo mengakhiri panggilan telepon itu sepihak.
Niken menatap nanar handphonenya dan menghela napas panjang yang membuat dadanya sesak seketika. entah mengapa ucapan sang anak membuat hatinya tercubit. Niken menatap langit malam yang penuh bintang menyeka sudut matanya yang menggenang air.
"Maafin mommy Kenz.."lirih Niken pada langit malam.
Sosok yang sedari tadi berada di sana yang memperhatikan semua yang terjadi atas percakapan itu, akhirnya menampakkan diri.
"Ekhemm..sorry hawa dingin jadi batuk" laki-laki itu beranjak dari duduknya dan menghampiri Niken.
__ADS_1
Niken mengernyit menatap menyelidik pada sosok yang sangat ingin dia hindari.
"Aku nyata lho ! bukan hantu" ucap laki-laki yang Niken tahu bernama kiano itu dengan senyum tipisnya.
"Sejak kapan anda berada di sana..atau anda sengaja ingin menguping pembicaraan saya" Niken mengacuhkan kiano dengan kalimat tajamnya.
"Wow masih galak aja ! padahal dulu kamu cewek manis dan..."
"Murahan ! itukan maksud anda ?!" potong Niken cepat dan sarkas.
Kiano terdiam dengan kalimat yang Niken lontarkan. entah mengapa dia merasa bersalah saat ini, dulu mungkin pemikirannya sedangkal itu hanya semata untuk melindungi sang adik agar tidak salah bergaul. kini dirinya sangat menyesali itu.
"Maaf tuan kiano yang terhormat, saya mohon diri karena saya rasa tidak pantas bagi saya berdiri di hadapan anda saat ini. kita mungkin akan berurusan secara profesionalitas saja tapi sebisa mungkin saya akan menjauh dari anda...permisi" Niken melangkah melewati kiano yang terdiam menatap tajam ke arahnya.
Namun langkahnya terhenti ketika sebuah tangan memegang erat lengannya membuatnya menoleh dan menatap tangan yang menggenggamnya itu.
"Beri aku kesempatan !"
"...." Niken terdiam melepas genggaman itu perlahan dan berucap" maaf anda salah, kita tidak pernah memulainya. bagaimana bisa saya memberikan kesempatan pada anda ? kita hanya orang asing yang tidak saling kenal bahkan sekedar bertegur sapa pun saat kita berpapasan anda mengabaikan saya. dan sekarang anda meminta kesempatan pada saya...saya rasa itu bukan hal yang harus saya penuhi..maafkan saya tuan kiano" Niken melangkah menjauh meninggalkan kiano yang menatapnya dengan nanar.
Andai kiano tahu betapa Niken berusaha keras menutupi kegugupannya. jantungnya masih saja berdetak kencang di hadapan laki-laki yang telah banyak mengecewakannya. saat ini dirinya butuh waktu untuk menenangkan diri. Niken meninggalkan acara pesta itu dan berjalan melewati kerumunan orang yang sedang menari. bahkan di antaranya ada yang menyapanya dan hanya di balas niken dengan lambaian dan senyum manisnya.
Di dalam kamar hotel Niken melihat Emma sang assisten tertidur di sofa. dia membiarkannya dan langsung menuju kamar tidurnya. Niken menjatuhkan dirinya di kasur empuk nan lembut. sekali lagi tiap kali dirinya bertemu kiano selalu mengingatkannya pada malam naas itu. tanpa di sadarinya airmata itu mengalir dari sudut pelupuk matanya sampai akhirnya dia terlelap tanpa mengganti gaun pestanya.
Sementara kiano yang lagi-lagi kehilangan momen untuk bicara dengan Niken kembali terduduk di kursi balkon. kali ini dirinya membiarkan suasana hatinya yang kalut untuk sedikit menikmati minuman beralkohol itu. andai Niken memberikan kesempatan padanya untuk menjelaskan semuanya.
Samar-samar kiano mulai mengingat kejadian mengerikan dimana dirinya yang menjadi seorang predator. dia mengingat seorang gadis yang menjerit, memohon, dan meminta belas kasihnya untuk menghentikan kebejatannya namun dia tak mengindahkannya. ingatan itu masih terasa buram bahkan sosok gadis itu masih belum jelas di ingatannya. namun dia yakin gadis itu adalah Niken karena adiknya Kiara pernah secara tak sengaja mengatakan jika anak Niken adalah anaknya juga.
__ADS_1
Itulah mengapa dia begitu sangat berusaha untuk bisa berbicara dengan Niken dan juga ingin menjalin hubungan dekat dengan anaknya. tapi saat ini sepertinya dirinya mulai merasakan perasaan berbeda terhadap Niken. ada rasa ingin memiliki dan ada rasa tidak suka jika Niken berhubungan atau berdekatan dengan laki-laki lain. mungkinkah dari sekedar mencari pengakuan akan berubah menjadi sebuah pernyataan cinta untuknya. entahlah, kiano mengacak rambutnya dan menyandarkan tubuhnya menatap langit hingga membuatnya terpejam.