
Mobil taksi yg kunaiki berhenti di ujung jalan.tampak Bendera Kuning yg terpasang di pojokan tiang listrik.dari jauh kulihat mobil ambulance.Perasaan ku tak karuan.Aku berlari tertatih sebisaku.
Kulihat orang orang berkerumun.Terdengar Raung tangis yg mengiba.
Aku berjalan.orang orang memperhatikan ku.Aku tak kuasa menangis, menangis Meratap.dari jauh ku lihat kakak ku Berpakaian Putih.mereka semua menyongsong ku.Mbak Ajeng dan mbak Jani berlari memeluk ku.Kami menangis berpelukan.dari jauh Kalina pun menghampiri kami, Memeluk ku sambil menangis.Sungguh Tak tertahankan rasa perih nya,rasa haru penuh kenestapaan.Aku merasa sakit,jatuh,dan hancur remuk hatiku.serasa hilang sebagian Ruh dalam diri ku.
mas Koko dan mas Panji kemudian memeluk ku.memeluk bagaikan meraih kepingan Hati yg Hancur.Setegarnya mereka sebagai lelaki pun tampak Hancur dan Rapuh.
Yaa,kami ber enam hari itu menjadi seorang anak Yatim.
Aku berjalan memasuki Rumah.Ku dapati Tante Sari yg masih meraung memanggil Papah.Tampak disampingnya mamah ku,mamah Haryanti.istri papah terdahulu pun menangis tersedu-sedu.menahan sebagian kesedihan nya.Aku memeluknya sambil menangis.menangis sepuasnya di pelukan mamah.
Tante Sari menengadah kan tangan nya,dia sudah tak mampu berdiri menahan segala kesedihan nya pula.Dia meraung memanggil Namaku.Dia meminta ampun tak memberi tahukan keadaan papah yg hampir seminggu di Rawat di ICU.aku mengusap air mata di pipinya,berkali sambil berkata kuat kuat kuat sambil sesenggukan.
Kuseka air mataku yg terus mengalir.kubersihkan muka ku menggunakan Tisu.berkali,lagi dan lagi.
Sekiranya aku sudah kuat,ku hampiri Papah yg terbaring di atas meja berselimutkan kain Batik panjang.Aku membuka kain brokat putih penutup mukanya perlahan.
Tampak lelaki tua yg berwajah pucat.
Mukanya sangat tirus,sangat tampak tulang pipi nya.
Dialah papaku,ayah biologis ku,lelaki pertama ku aku mendekapnya erat.tubuhnya sangat dingin,dingin menusuk ke kulit ku.
Kuseka kembali wajah ku berkali kali dengan tisu.pantang bagi kami menitikkan air mata di hadapannya.Itu yg selalu diajarkan oleh mamah.
__ADS_1
Sesedih,sesusah apapun kami.jangan menampakkan Rasa menghiba dihadapan orang lain termasuk papah.Kami harus kuat.Kata kata itupun pernah terlontar dari mulutnya yg kini memucat.
Kutahan sekuat sebisaku untuk menatap wajah dingin nya.Kutahan segala haru dan segala kenangan tentang nya.
Kuseka Air mataku dengan baju yg ku kenakan.kusembunyikan kesedihan dibalik telapak tangan ku,aku kembali menangis Haru yg panjang.kalina meraih dan memelukku.Kami menangis bersama.
Sesudah papah di solatkan.kami dipersilahkan untuk melihatnya untuk terakhir kali.
kami bergantian, dimulai dari Tante Sari,mamah,mas Panji,mbak Ajeng,mas Koko,mbak Jani,Kalina kemudian aku.belum lagi kakak ipar ku dan para kemenakan yg semuanya Hadir.om Ahmad pun datang dari Bandung.
Pertama kalinya aku melihat mamah dan Tante Sari saling berpelukan.
Tubuh Papah di angkat oleh kakak ku yg lelaki dibantu a Doni,mas Hanif,Dan om Ahmad.mereka kompak menurunkan Jenazah papah ke liang lahat.Mas Panji lah yg meng adzan kan papah.perlahan Tanah merah menutupi papan yg memiringkan wajah papa agar menyentuh tanah.
tak perlu waktu lama.Gundukan tanah merah sudah terhampar didepan kami.Bunga bunga menyelimutinya.
aku memeluk pusara papah lagi.aku sampaikan Doa melalui Hatiku.kata kata yg serasa ikut mengalir bersama doa.
Kata kata Maaf dari kami anak-anaknya sekalian saat hendak meninggalkan nya sendiri disini.
Kaki kiri ku tampak bengkak.aku berbaring di kamar milik Kalina.Rumah ini sudah di renovasi.terlihat sedikit lega dan Terang.tak tampak lagi seperti bangunan Tua seperti saat pertama aku mengunjungi nya.
Badan ku panas, sepertinya aku sakit.Diluar suara hiruk pikuk Tante Sari yg meminta seseorang memanggil kan tukang urut untuk ku.Kalina masih tampak merenung.
" Kal, mungkin ini yg terbaik untuk papah.kita harus kuat ikhlas." kataku pelan
__ADS_1
dia menoleh ke arah ku.
" aku masih kelingan pas video call Karo Kowe kae ay.jare papah besok besok Kon kudu akur.saling jaga komunikasi,Kon sering sering nelpon awakmu opo mas mbak sing lain." katanya pelan.
" Terus tak jawab,nelpon juga kudu ngerti wayahe (jam) Dulurku Ki Kabeh sibuk.opo neh Ayi." lanjut nya.aku GG maksud omongan ne.kuwi pertanda kali ya ay.." katanya.
Aku menarik nafas.Aku capek lelah ingin istirahat.Baru saja memejamkan mata,Tante Sari datang bersama mbok mbok setengah tua membawa rantang yg katanya akan mengurut dan memijat ku.Aku pasrah di jamah tubuh ku lalu di raba raba dan disakiti oleh wanita tua..
Sudah tiga malam aku Di rumah papah.rencana nya kami akan menunggui tahlil sampai malam ke tujuh.Sebagian dari kami ada yg menginap di hotel.karena ada yg memiliki anak kecil.seperti mbak Anjani dan mbak Dian istri mas Koko yg anaknya ada yg balita.Mas Hanif dan A Donny sudah kembali karena pekerjaan mereka.
hanya kami anak anak papah yg tidur di rumah papah minus mbak jani.mamah pun menginap di sini.
Semoga ini semua terlihat oleh papah dan membuatnya bahagia.
Selesai Tahlil,para tamu sudah banyak yg pulang.Tante Sari tampak didampingi oleh kerabatnya mengeluarkan sesuatu.
Surat wasiat untuk kami anak anaknya.
Awalnya kami semua menolak membahasnya, tetapi dia bersikeras meminta.karena kata Tante Sari,di hari hari terakhir papah meminta segera dibacakan jika dia sudah meninggal.
Aku dan Kalina mendapatkan jatah Rumah dan kolam ikan yg ada di belakangnya.
sedangkan mbak Ajeng dan mbak Anjani mendapatkan tanah yg tak jauh dari rumah papah.
Mas Koko dan mas Panji mendapatkan sawah dan kebun jati Milik papah yg letaknya jauh di luar kota mungkin setengah jam perjalanan dari rumah papah.
__ADS_1
Papah juga berwasiat agar kami tetap menjaga silaturahmi,saling menyayangi satu sama lain.Menyayangi Tante Sari sebagai perempuan yg merawat papah. walaupun dia bukan ibu kami berlima.kami diminta untuk terus menjaga nya juga walaupun tak sepenuh menjaga mamah sendiri.minimal memperhatikan nya.
Dan walaupun Kalina adalah adik tiri kalau masanya sudah akan menikah, tolong di walikan oleh mas Panji,mas koko. Dibantu segala keperluan nya.kami diminta untuk saling menjaga,mengasihi, menasehati satu sama lain.