Dia Bukan Milikku

Dia Bukan Milikku
Part 2.1


__ADS_3

“Dia si malaikat tampanku “


Pagi yang cukup cerah, matahari sudah menusuk kamar Zahara melewati celah-celah kecil di jendelanya.


“Za, bangun sayang. Udah siang!”perintah mama Zahra.


“Eh mama kapan pulang?”tanya Zahra yang langsung menyingkirkan selimutnya dari tubuhnya.


“Tadi malam jam satu sampai rumah. Sarapan yuk! Mama udah masakin buat kita semua.”


“Iya bentar aku mandi dulu, oh iya Ma. Nanti aku mau pergi ke vila papanya Revan dan pulang besok Minggu sore.”


“Iya nggak apa-apa, hati-hati aja di jalan.”


Zahra pun seegera melipat selimutnya dan mengambil handuk, setelah itu ia segera pergi ke kamar mandi. Setelah mandi, Zahra langsung bergabung dengan anggota keluarganya untuk sarapan bersama. Dilihat jam sudah menunjukkan pukul 06.00, Zahra masih sibuk dengan sarapan paginya.


Tinn….Tinnnnn…!!!!!!!


Sepertinya itu mobil Revan, Zahra segera keluar rumah untuk meyakinkan bahwa itu adalah mobil Revan.


“Pagiii…Zahra….”sapa Revan dengan senyum manisnya.


“Pagi pangeran bawel.”


Seketika Zahra melongo ketika melihat seseorang keluar dari mobil Revan, seorang pria berparas tapan, pria itu hanya tersenyum dengan Zahra dan Zahra membalas senyum manisnya.


“Oh iya, kenalin ini Dava temenku dari XI IPS 2.”

__ADS_1


“Pantes belum pernah lihat, ternyata anak IPS.”


“Hehehe..Iya aku anak IPS.”jawab Dava.


“BTW di mana Rosa?”


“Entah tu anak, tungguin aja bentar lagi juga nogol. Nah kan bener, tuh dia orangnya.”


Rosa dengan wajah bahagianya menghampiri kedua temannya. “Haiii semuaaa….”sapa Rosa dengan pedenya.


“Edah ni anak, kaya manusia nggak bersalah banget. Ini udah siang sayang, nanti jalan ke puncak macet.”


“Eh ada cowok tampan, BTW namanya siapa?”tanya Rosa tanpa merasa berdosa.


“Namanya Dava, udah ayo berangkat. Kita pamit dulu sama orang tuannya Zahra.”ceplos Revan.


“Iya, hati-hati ya sayang. Hati-hati ya nak Revan, jagain Zahra.”


“Iya tante, tenang aja.”


Mereka semua naik ke mobil Revan dan beragkat ke puncak. Hari sudah mulai siang dan panas, walaupun jam masih menunjukkan pukul 08.00, perbincangan mulai terasa seru di dalam mobil. Perjalanan untuk sampai ke puncak masih sangat jauh, dan kemacatan mulai terjadi.


“Van, nggak mampir dulu?”tanya Rosa.


“Mampir ke mana?”


“Cari makan atau minum lah.”

__ADS_1


“Mending kamu tidur aja, daripada ribet.” Rosa langsung memalingkan pandangannya dan duduk menyandar di jok mobil. Zahra sedari tadi memandangi wajah Dava dari kaca mobil. ”Ehemmm… Awas kecantel.”ceplos Revan yang memandangi Zahra dari kaca mobil depan. Zahra tiba-tiba salting karena Revan menyadari perilaku temannya itu, dengan menutupi wajahnya yang merah, Zahra segera menundukkan kepalanya dan membuka ponselya untuk mencari kesibukan lain.


“Eh, pada laper nggak?”tanya Dava memulai topik baru.


“Banget, kamu mau traktir kita?”tanya rosa degan semangatnya.


“Nggak lah, kan aku cuma nanya.”jawab Dava sambil tertawa.


”Ih apaan sih, kirain mau traktir makan.”kata Rosa.


“Yaa dah ayo makan. Van kita mampir ke warung makan terdekat dulu yuk!”


“Ya dah ayo.”


Revan pun mengendarai mobilnya menuju ke rumah makan terdekat, walaupun jaraknya dekat tetap saja terasa jauh, karena jalan yang macat menghambat laju kendaraan. Panas yang amat sangat membuat Rosa terus mengeluh, dan kini mereka telah sampai di rumah makan yang tak begitu jauh. Revan memarkirkan mobilnya dan mereka semua segera turun dan masuk ke rumah makan untuk memesan makanan.


“Dah, sana pada pesen!”perintah Dava.


“Nanti siapa yang bayar?”tanya Zahra.


“Ya elah Za, udah pesen aja. Kan ada dua cowok yang mau bayarin, kita tinggal makan aja.”ceplos Rosa dan mendapat tatapan sinis dari Zahra. Tanpa berpikir panjang, Rosa segera memesan makanan dan disusul ketiga temannya. Zahra yang sedari tadi memandangi wajah Dava dengan seksama, kini kelakuannya sudah diketahui kedua sahabatnya. Zahra terus saja memainkan ponselnya hingga semua selesai makan, Revan baru saja menyadari perilaku sahabatnya yang tak seperti biasanya.


“Za, kok nggak dimakan?tanya Revan.


“Eh…..Ummm…Udah pada habis?”


“Eh kamu tuh ya, sibuk mainan Hp terus. Dimakan kasian yang mesenin, dah cepet dimakan. Kalau nggak mau sini aku aja yang makan!”cerocos Rosa seperti layaknya seorang ibu.

__ADS_1


__ADS_2