Dia Bukan Milikku

Dia Bukan Milikku
40. Kantin Memories


__ADS_3

Intro


Selamat malam minggu reader....


Malem ini kita santai dulu ya, para jomblo minggir dulu, atau tutup mata dan telinga, mak otor lagi pengen yang romantis dulu, he..


Selamat membaca, met malmingan juga


***


“Katanya kamu kemarin diganggu besan saya ya?”


Aku tersenyum, “orang iseng aja Ndan!” 


“Sudah kamu kasih pelajaran ke orang itu?” selidiknya.


“Yang tertangkap tangan hanya orang suruhannya, bukan yang memberi perintah,” jawabku.


“Ada buktinya?” tanyanya lagi.


“Lengkap, Ndan.”


“Usut sampai ke akarnya, biar dia gak ganggu kamu lagi!”


“Kasian sama orang suruhannya, Ndan!”


“Itu saran saya. Tapi kalau kamu merasa gak perlu ya silahkan saja!” Kolonel Teguh menyeruput kopi panas.


“Saya rasa untuk sementara ini, yang kemarin sudah cukup. Nanti kalau ada kegiatan lagi yang lebih mengganggu, saran dari Komandan akan dilaksanakan.” Aku ikut menyeruput kopi panas yang baru saja dihidangkan.


“Mamanya Irvan itu nekatnya keterlaluan. Heran saya!” 


“Dia sudah pernah mendatangi saya ke ruangan, marah-marah gak jelas!”


“Sama seperti waktu kamu jenguk Irvan kan? Bicara tanpa bukti dan saksi yang jelas!”


Aku menganggukkan kepala. Kolonel Teguh menepuk pahaku, “apa yang kamu lakukan, saya dukung! Jangan takut!”


“Siap, Ndan!” aku tersenyum melihat keseriusan Komandanku ini, memangnya apa yang akan saya lakukan? Jadi pengen cepat-cepat jadi menantu, ups.


Ibu Komandan datang membawa bingkisan, “ini buat anggotamu yang tidak datang, nanti dibagi-bagi ya!”


“Iya Bu, terima kasih.” Aku menerima bingkisan itu, “saya pamit dulu,”


“Dikasih kue, langsung minta pulang!” Kolonel Teguh merajuk, aku langsung tertawa.


“Temani Bapak dulu, Bapak lagi kesepian, perlu teman ngobrol!” pinta bu Komandan.

__ADS_1


“Oh, iya ya. Kopinya juga belum habis,” aku kembali duduk di dekat Kolonel Teguh dan mengobrol hingga larut malam.


***


Persiapan peringatan hari Armada sangat menguras waktu dan tenaga, hingga pukul 15.00 aku baru menyelesaikan latihan. Lapar, sejak pagi belum ada sebutir nasi yang masuk ke lambung, tadi juga tidak sempat makan siang. Aku ke kantin sambil menahan lapar, kalau sudah sore seperti ini mungkin makanan yang tersedia tinggal sedikit, tapi tak apalah.


Sampai di kantin aku langsung memesan semangkuk soto, lalu menyisir kursi untuk duduk. Pandanganku terhenti pada pemilik senyum manis yang sedang duduk sendiri di pojok. Resti, senyummu khas sekali. Dia melambaikan tangan padaku, aku terhipnotis mendekat.


“Saya duduk disini ya,” aku menunjuk kursi kosong di depan Resti. Resti menganggukkan kepala lalu menunduk. Kami sama-sama diam, hingga bu Kantin datang membawa dua mangkuk soto. “Dek Resti pesan soto juga?” tanyaku pada Resti dan bu kantin. Resti menggeleng, bu kantin tersenyum dan mengedipkan padaku lalu melenggang pergi. “Kopinya satu ya Bu!” pinta Resti pada bu kantin.


Dua mangkuk soto terhidang di meja, katanya Resti gak pesan. Bisa aja sih ngabisin dua mangkuk ini sekaligus, tapi malu juga lah. Rakus banget, padahal iya, laper berat.


“Silahkan makan!” aku menyodorkan semangkuk soto ke Resti.


“Saya sudah makan, tadi cuma mau makan kue ini saja!” Resti menunjuk piring yang berisi beberapa makanan ringan.


“Saya makan duluan ya!” aku gak berani menatapnya, takut tersedak.


“Kayaknya lapar banget ya?” tanya Resti.


“Iya, dari pagi belum sempat makan!” aku jawab sebentar, lalu makan lagi. Sebenarnya duduk di depan Resti ini tepat ga ya? ada senangnya, tapi pengen tambah jadi malu. Bu kantin mengantar secangkir kopi segelas minuman dingin, lagi-lagi bu kantin menghidangkan dua macam minuman. “Tau aja minuman kesukaan saya Bu!” Resti tersenyum pada bu kantin.


Soto milikku sudah habis, sedang soto Resti sama sekali belum disentuh. Aku minum kopi aja deh, langsung pergi dari sini. Kalau ketahuan anggota lainnya bisa bahaya.


“Mas, tambah lagi ya! Mubazir kalau tidak ada yang makan!” Resti mendorong mangkuk ke arahku. Aku garuk-garuk rambut yang tak gatal, gak sanggup liat senyumnya itu lho.


“Makasih ya,” kataku gugup, daripada bingung mau ngomong apa, mending makan aja deh. Resti duduk menyandar ke tembok sambil meminum minuman dingin yang tadi dia bilang kesukaannya, apa minuman kesukaannya? Aku gak tau, saat ini belum mau tau dulu.


Tak butuh waktu lama mangkuk kedua kini telah kosong, aku segera menghabiskan kopi yang ada. Rasanya gemetar makan di depan Resti seperti ini, untung sudah kenyang.


“Saya permisi duluan ya,” aku berdiri.


“Sibuk banget ya?” sorot mata Resti memelas, aku kembali duduk, lalu kami sama-sama diam.


Canggung, itu sangat kurasakan sekarang. Bingung mau ngomong apa, padahal banyak sekali yang ingin diungkapkan. Dulu kantin menjadi saksi setiap pertemuanku dengan Resti, masa-masa itu begitu indah. Dimulai dari curi-curi pandang, memberinya hadiah secara diam-diam, bayarin apa yang dipesan Resti, hingga akhirnya kami duduk bersama dalam satu meja, ngobrol ini itu, sampai akhirnya aku menyatakan cinta padanya. Meski beberapa kantin berjajar, tapi entah kenapa kami memilih kantin ini menjadi tempat janjian untuk bertemu.


Dulu aku tak tau kalau Resti anak Danyon yang disegani. Kesehariannya biasa sekali, tidak menampakkan diri sebagai anak perwira tinggi, sederhana sekali. Pernah waktu pertama kali mengantar pulang ke rumahnya, aku sangat kaget sekali, banyak pengamanan untuk memasuki rumahnya. Saat itu juga, Resti mengenalkan aku pada ibunya yang juga ketua Jalasenastri di Batalyon. Ibu Komandan sangat ramah padaku, sangat menyaudara, aku dianggapnya seperti anak sendiri.


Hal yang paling mengejutkan ketika aku dipanggil ke ruangan Danyon, aku tak menyangka sama sekali. Di ruangan Danyon, aku di introgasi, sejauh mana hubunganku dengan Resti. Apa yang dikatakan bu Komandan banyak kesamaannya dengan yang dikatakan Komandan. Intinya mereka merestui hubunganku dengan Resti, beberapa nasehat yang menyejukkan hati. 


“Kok diam Mas?” Resti menyadarkanku dari lamunan.


“Iya, inget masa lalu!” aku mencoba menatapnya kini.


“Maafin aku ya!” Resti menunduk.


“Yang sudah lewat, biarkan berlalu, gak usah dipikirkan lagi. Saya sudah maafin kamu”

__ADS_1


“Dokter itu apa kabarnya?” Resti mengaduk minumannya dengan pipet.


“Dokter siapa?” tanyaku.


“Dokter Utami,” jawabnya.


“Kenal dia dari mana?” aku penasaran.


“Banyak yang bilang kalau Mas Imam berpacaran dengan dokter Utami,”


Aku tersenyum, jago stalking juga sih kamu, gemes deh aku.


“Nanti dia marah kalau kita duduk semeja gini!” pancingnya.


“Siapa yang peduli?” aku mencomot kue milik Resti yang ada di meja.


“Jadi orang yang ketiga itu gak enak,” Resti menunduk.


“Oh iya. Maaf ya, saya mau tanya, Irvan kenal saya dari mana sih?” aku mulai serius.


“Aku yang memberitahu dia tentang hubungan kita dulu, maaf ya Mas Imam dimusuhin sama Irvan dan keluarganya.”


“Siapa yang dimusuhi keluarganya Irvan?” aku balik bertanya.


“Ayah yang cerita tentang teror yang dikirim mami untuk Mas Imam,” jawab Resti.


“Pasti ceritanya banyak yang tidak lengkap, akhirnya terjadilah kesalahpahaman,” aku menghela napas panjang.


“Maaf ya!” Resti menunduk.


“Bubar … bubar …. Kantinnya mau tutup!” Erwin dan Ritonga masuk ke kantin lalu menaikkan kursi ke atas meja. Dua kawan letingku itu benar-benar jahil.


“Baru aja mau mulai!” teriakku pura-pura marah.


“Sudah tua bergaya ABG, gak pantes Mam!” Erwin menjawab sambil tertawa.


Aku menyanggah wajah dengan tangan kanan, “Nanti malam kita terusin lagi ya Dek!” aku berkata lebih keras agar kedua temanku mendengarnya. 


Resti menutup wajahnya malu, lalu mencubitku.


“Ea … ea …. Cubit-cubitan dimuka umum, dendanya traktir soto sekompi!” Ritonga memperhatikan gerakan kami.


“Hitung ya!” aku memberi aba-aba, satu cubitan ke lengan Resti, “satu,” lalu mencubit tangan kirinya lagi, “dua, tambah lagi gak nih?” Resti tertawa geli dengan candaanku bersama teman-teman. 


“Cubit aja yang banyak, Ndan. Biar dagangan saya laris,” bu kantin menambahkan.


“Jangan banyak-banyak, nanti tangannya gak mulus lagi!” ucapku.

__ADS_1


“Modus, ketemu yang bening pura-pura nyubit!” Erwin mencibir.


__ADS_2