
Aku dan Suryo memperhatikan kembali isi chat dari ponsel itu. Dari data yang dihimpun Frans, kami menarik kesimpulan bahwa orang tersebut bernama Sanusi berpangkat Koptu dengan status prajurit kopaska, namun bukan prajurit pilihan selevel Suryo atau Frans. Sepertinya keluarga Sukoco salah memilih orang dalam bertempur melawanku. Sedang yang memberi mandat bernama Heru. Terakhir nomor Heru aktif di bilangan elit Bukit Palma Citraland.
“Lepaskan saya, saya tidak terlibat apapun!” orang itu memelas.
“Kalau sudah dilepaskan, mau ngapain lagi?” tanyaku.
“Saya gak ngerti kenapa saya diikat seperti ini!” jawabnya polos.
Aku mengusap wajah dengan tangan kanan lalu menopang dagu, “masih mengelak juga?”
“Ceritakan tujuanmu, lalu kamu akan kami bebaskan,” terang Suryo.
“Saya tidak mengerti, maksud kalian apa?” Sanusi berkelit.
“Kalau ini bagaimana?” Hendrik memperlihatkan foto seorang anak kecil di dalam kardus, melongok ke arah sorotan kamera.
“Wahyu? Jangan ganggu dia, dia gak tau apa-apa!” teriak Sanusi.
“Anakmu siap dikemas dan dikirim ke neraka akibat perbuatan ayahnya!” Hendrik memasukkan ponselnya ke dalam kantong celana.
“Tolong jangan libatkan anak saya!” orang itu menangis mengiba, bagi seorang prajurit yang pernah mengikuti pendidikan dalam melepaskan diri pada saat penyanderaan, hal itu remeh sekali.
“Bicaralah!” aku meninju perutnya. Suryo juga memberikan pukulan dan tendangan terbaiknya, Frans menyetel lagu Numb milik Linkin Park dengan kencang lalu ikut menyanyikannya, sedang aku dan Suryo masih sibuk membuat Sanusi babak belur. Hendrik masih siaga di jendela mengawasi keadaan sekitar. Dua melawan satu orang terikat pasti mudah bagi kami. Entah Sanusi pingsan atau pura-pura pingsan. Hendrik menyiram seember air lagi ke Sanusi. Sanusi gelagapan, sebagian air membersihkan darah dari bibirnya.
Aku memegang dagunya, “aku masih memberimu kesempatan, kamu tau kan sedang berhadapan dengan siapa, anak-istrimu masih menunggu dirumah, jangan buat mereka khawatir menunggumu!” aku membuang dagu yang tadi kupegang.
Suryo menjambak Sanusi, memaksanya melihat ke arahnya, “semua bukti sudah ditangan, kamu tak akan bisa mengelak!”
“Saya gak ngerti apa-apa, tolong jangan siksa saya lagi, tolong lepaskan saya!” Sanusi memelas.
“Masih gak mau mengaku juga? Istrimu masih muda, kalau jadi janda, banyak yang mau!” Suryo mengancam sambil senyum-senyum padaku.
__ADS_1
“Saya gak kenal kamu, gak punya urusan denganmu. Hanya karena rupiah kamu tega melibatkan anak-istri dalam bahaya. Cari uang yang halal, jangan nafkahi keluarga dengan uang haram, gak berkah!” ucapku lalu menenggak segelas air putih.
“Anak dan istrimu sedang kami awasi, kalau kamu mengaku, mereka aman. Kalau kamu tidak mau mengaku, Heru bisa melukai mereka, kami gak akan membantu!” Suryo meletakkan kakinya yang bersepatu diatas dengkul Sanusi lalu memangku tangan di atas kakinya.
Tok … tok …. Pintu diketuk dari luar, Frans membuka pintu lalu menerima sebungkus paket besar. “Makan dulu ya!” Frans membuka paket yang tadi diterimanya. Hendrik menarik sebuah meja ke depan Sanusi lalu mengambil beberapa kursi untuk kami duduk bersama di meja itu. Aku duduk berhadapan dengan Sanusi, Hendrik dan Frans duduk mengapit Sanusi, sedang Suryo duduk disampingku sudah lebih dulu membuka nasi kotak. Hendrik membuka tali pengikat tangan Sanusi, tapi tidak dengan kakinya, matanya mengawasi gerakan kami. Frans memberikan nasi kotak untukku, Sanusi dan Hendrik.
“Makanlah,” aku memulai memakan nasi kotak yang telah dipesan Frans, lalu kami makan bersama. Tak ada suara sama sekali ketika makan sedang berlangsung.
Sebuah sendok terjatuh dari tangan Sanusi, Hendrik mengambilnya ke bawah untuk mencegah tangan Sanusi ke arah bawah agar tak melepas ikatan tali di kakinya. Aku menendang kakinya dari bawah meja. “Ingat keluargamu dalam bahaya!” aku meneruskan makan lagi.
Selesai makan, Suryo membersihkan meja yang tadi kami gunakan untuk makan. Hendrik dan Frans masih siaga mengawal di kanan dan kiri Sanusi.
“Saya tak ingin berlama-lama denganmu disini, istrimu menunggu dirumah. Saya hanya ingin kamu mengaku dan menceritakan detail perintah yang telah kamu terima, dan apa saja yang sudah kamu jalankan. Kita sama-sama prajurit, bela negara yang utama, bukan bela yang berduit,” aku mengepalkan kedua tangan dibawah dagu. “Bayaran yang kamu terima tidak ada apa-apanya dibanding ketenangan dan ketentraman hidup bersama keluarga.”
Sanusi menunduk, “semua tindakan ada konsekuensinya. Lawanmu itu komandan raider, komandan taifib, bukan orang biasa. Gak akan menang kamu melawan mereka!” Hendrik menunjuk aku dan Suryo bergantian. “Komandanmu itu teman leting mereka, gampang aja buat SP untuk kamu, tapi itu tak akan dilakukan selama kamu masih mengakui apa yang telah kamu lakukan.”
“Tapi saya gak tau apa-apa, saya gak tau yang terjadi sekarang!” Sanusi berkata masih dengan menunduk.
Suryo menggebrak meja. “Siksa anaknya!” teriak Suryo.
“Jangan …. Baiklah saya akan mengaku, tapi lepaskan anak saya!”
Hendrik mengoperasikan ponselnya lalu berkata, “katakan lebih dulu baru saya lepaskan anakmu!”
“Pastikan anak saya aman dulu!” Sanusi memohon.
“Anakmu aman ditangan kami, cepat jelaskan!” aku menatap matanya yang mulai berair.
Frans mempersiapkan kamera untuk merekam segala pernyataan dari Sanusi. Setelah kamera disiapkan, Sanusi mulai berkata, “Saya Koptu Marinir Sanusi menyatakan diri … tidak tau apapun hingga dianiaya seperti ini!” klik Frans menghentikan rekamannya. Suryo refleks menendang kaki Sanusi dibawah meja. Aku menamparnya berulang kali, hingga tangan Hendrik menghentikan tamparanku.
“Nekat banget sih kamu!” aku mencengkram leher Sanusi.
__ADS_1
“Saya gak tau Ndan, tolong lepaskan saya!” Sanusi memegang kedua tanganku.
“Ayah … ayah ….” Suara anak kecil dari ponsel Hendrik. “Kayaknya kamu sudah gak ingin bertemu anakmu lagi ya?” tanya Hendrik tapi matanya masih sibuk memperhatikan ponselnya.
“Jangan ganggu anak saya!” Sanusi meninggikan suaranya.
“Cepat katakan sejujurnya!” perintah Frans dibalik kamera, lalu membuka ponsel milik Sanusi dan melakukan panggilan ke nomor istrinya Sanusi.
“Halo, kamu dimana yang? Aku dah selesai masak.”
Sanusi diam, kami juga diam, menunggu reaksi Sanusi.
“Halo, yang? Kok diam? Kamu dimana?” suara diseberang mulai panik. Frans mendekatkan ponsel ke wajah Sanusi.
“Makan saja duluan, nanti aku pulang. Wahyu dimana?” akhirnya Sanusi berkata.
“Tadi ada, sekarang sudah main, gak tau kemana!” kata istri Sanusi.
“Cari, cari sampai dapat. Jangan boleh keluar rumah!” suara Sanusi terdengar bergetar.
“Kamu kenapa sih? Kok kayak beda. Biasanya Wahyu kan main sendiri,” kata istri Sanusi dengan santai.
“Cari dia sampai dapat, kurung dirumah sampai aku datang!” pinta Sanusi.
“Kenapa? Tadi Pak Heru nelpon, katanya disuruh balik uangnya, kamu gapapa kan?” tanya istri Sanusi.
“Tutup hpnya, matiin!” Sanusi berteriak.
“Jaga anakmu sekarang! Suamimu dalam pengawasanku!” suara berat Suryo membuat istri Sanusi terdiam.
“I..ini pak Heru ya?” istri Sanusi balik bertanya. Aku merubah panggilan suara menjadi panggilan video, “saya Danton 3 raider, Lettu Muhammad Imam Setiawan. Sanusi kini bersama saya.”
__ADS_1