Dia Bukan Milikku

Dia Bukan Milikku
74. Giat Pengobatan Gratis


__ADS_3

Setelah mereka menjauh, anak-anak itu masih senyum-senyum padaku. “Kenapa kalian tersenyum. Gak boleh meledek orang tua seperti itu ya!” aku menasehati mereka.


“Ibunya Kenji itu janda Pak,” kata salah satu dari mereka.


“Janda kembang,” kata anak yang lain.


“Janda ting-ting,” yang lain menambahkan.


“Apa itu janda kembang? Janda ting-ting?” tanyaku menguji mereka.


“Itu lho Pak, yang gak punya suami. Ayahnya Kenji itu gak ada,” jawab seorang anak.


“Janda kembang itu punya anak tapi gak ada bapaknya,” jawab yang lain.


“Iya Pak, ting-ting itu artinya perempuan gak punya suami!” tambah anak yang lainnya.


Aku menahan tawa mendengar jawaban mereka. “Kalau nenek tua yang ditinggal mati si kakek, disebut janda ting-ting juga?”


“Bukan!” jawab mereka serentak.


"Janda ting-ting itu harus muda, kayak ibunya Kenji."


"Harus miskin juga karena tidak dinafkahi suami."


"Ha … ha …." akhirnya aku gak bisa menahan tawa juga. "Sudah, sudah! Dilarang ngomong tentang ibunya Kenji lagi ya. Kalian juga akan sedih kalau ibu kalian dibahas oleh teman-teman kalian seperti itu!" Aku memberitahu mereka.


"Tapi ibuku bukan janda Pak!"


"Iya Pak, ibuku juga bukan janda kembang."


"Iya, iya. Sekarang saya batasi lagi. Gak boleh ngomong 'janda' didepan saya. Itu bahasa yang kurang baik dan dapat menyakiti sebagian orang. Oke?"


Mereka mengangguk ragu.


"Baiklah, besok kalau ada waktu lagi, kita bermain bersama lagi. Sekarang sudah sore, kalian pulanglah!"


"Pak, boleh ikut ke markas? Saya pengen jadi tentara juga." 


"Boleh, tapi tidak sekarang ya! Lain kali saya akan ajak berkeliling markas," aku berjanji.


"Asyik!"


"Hore!"


Anak-anak itu kelihatan sangat bahagia dan bersemangat.

__ADS_1


***


Kali ini aku berdinas bersama tim kesehatan ke Bunguran Selatan. Dengan speedboat kami melintasi perairan dengan ombak sedang. Di desa Cemaga Induk, kami mulai mendata warga yang datang ke posko yang telah didirikan sebelumnya. Sasaran umum adalah mendata warga setempat, mengidentifikasi keluhan yang diderita warga terutama manula dan anak-anak, kemudian memberikan pengobatan yang sesuai dengan warga. Setiap kali aku melihat jas dokter berwarna putih, pikiranku langsung menuju Utami yang entah kini berada dimana. 


Warga sangat antusias dengan adanya pengobatan gratis ini, hingga mentari kembali keperaduan, kami masih terus melayani warga yang datang silih berganti. Rencana giat ini dilakukan selama satu hari, namun melihat antusias warga, Mayor Putu memutuskan untuk melanjutkan kegiatan ini besok. Malam ini kami beristirahat di posko kesehatan.


Dari sepuluh orang personil yang turun dalam giat ini, lima orang kembali ke pangkalan untuk mengambil persediaan obat dan peralatan kesehatan lainnya yang dibutuhkan untuk besok. 


Karena kelelahan dalam kegiatan ini, kami yang tersisa di lokasi, tidur di awal malam. Tiba-tiba di tengah malam tenda kami didatangi beberapa orang dengan membawa penerangan seadanya.


“Bapak tentara … tolong Pak …!” teriak dari luar. Kami langsung bangun dan keluar dari tenda.


“Ada apa?” Mayor Putu bertanya pada dua orang yang datang itu.


“Anak saya mau melahirkan, tolong Pak!” kata salah satu orang yang datang.


“Iya Pak, akan kami bantu. Tapi kita tidak ada tenaga bidan, siapa yang bisa membantu?” tanya mayor Putu pada kami.


Kami saling berpandangan, aku, Fauzan, dan mayor Putu jelas bukan orang kesehatan. Ahmad seorang dokter, sedangkan Billy mantri gigi.


“Siap, saya bisa membantu!” jawab Ahmad.


“Iya, Ahmad ikut bapak-bapak ini. Tolong dibantu sebaik-baiknya. Imam dan Billy juga ikut. Disini saya dan Fauzan yang jaga. Siapkan peralatan yang dibutuhkan.” Mayor Putu memerintahkan pada kami.


“Fauzan antar mereka sampai di tujuan dengan mobil, setelah mereka sampai lalu kembali lagi dengan mobil itu. Kalian pulang setelah pagi saja! Besok pagi akan dijemput jika anggota sudah ada yang kembali dari markas.” Mayor Putu kembali memberi instruksi.


“Tapi lokasi kami tidak bisa dilalui dengan mobil Bapak. Nanti kita melewati sungai yang saat ini sedang pasang. Motor kami ada diseberang, makanya kami kesini dengan berjalan kaki,” kata salah satu dari mereka.


Mayor Putu mengangguk-angguk, “antar sampai batas sungai atau sampai batas yang mampu dilalui mobil untuk mempercepat penanganan.”


“Siap!” jawab Fauzan.


“Apalagi yang harus dibawa Mad?” tanyaku pada Ahmad.


“Banyak yang gak ada. Kalau kondisi aman peralatan dan obat sudah cukup. Tapi kalau parah kita perlu infus dan lainnya,” Ahmad kelihatan gugup juga.


Billy masih sibuk mempersiapkan yang akan dibawa, “Ndan, bawa sarung?” tanya Billy padaku.


“Enggak, buat apa?” aku balik bertanya.


“Ya sudah, ayo kita berangkat!” kata Billy berlari menuju mobil.


“Bawa sarung Ndan?” Ahmad bertanya padaku didalam mobil.


“Nggak, buat apa sih? Tadi Billy juga tanya sarung.” Aku masih bingung dengan pertanyaan yang sama dari kedua orang itu.

__ADS_1


“Saya sudah siapkan kain panjang banyak Pak!” kata bapak yang menjemput kami.


Dalam suasana genting ini, aku masih heran, ada apa dengan sarung dan kain panjang. Belum pernah dalam kondisi ini sebelumnya. Seperti apa orang yang melahirkan itu. Semoga bantuan kami datang tepat waktu.


Di depan jalan terdapat sungai dengan aliran yang cukup deras. Pantas saja dua orang kampung ini tidak membawa kendaraan dari seberang.


“Oke, sudah Jan. Sampai sini aja. Kamu kembali ke posko ya!” aku memerintahkan Fauzan. Kami berlima turun dari mobil. Aku mendekati sungai tersebut lalu menginjakkan kaki ke sungai.


“Di tengah-tengah itu dalam Pak!” salah satu orang kampung itu memperingatkan aku.


“Peralatan dibagi aja Mad, jangan dibawa sendiri. Kalau basah ada cadangannya!” aku memberi komando.


“Susah Ndan! disini gelap kalo mau bongkar tas. Ini aja dijaga baik-baik!” Ahmad menunjuk tasnya.


“Ya sudah, kita mulai seberangi sungai ini aja secepatnya!” Aku lebih dulu masuk ke dalam sungai. Ternyata benar juga, air sedang pasang setinggi dada. Ahmad menyunggi tasnya di atas kepala ketika melalui sungai. 


Salah satu orang kampung yang menjemput kami berjalan di depan, dia masih muda, jalannya lebih cepat karena mungkin dia sudah terbiasa dengan medan ini. Kami bisa mengikutinya dengan cepat juga. Tapi sayang, satu orang lagi yang lebih tua terpeleset sehingga ikut terbawa arus. 


“Kamu duluan Mad!” Aku berteriak lalu berenang mengejar bapak yang hanyut dibawa air. Suasana gelap gulita, menyulitkan aku menemukan bapak itu. Sudah beberapa meter dari posisi awal, namun bapak itu tak terlihat, hanya samar cahaya dari langit yang membantu mencari bapak itu. 


“Pak, dimana Pak?” aku berteriak sekencang-kencangnya. Ahmad dan rombongan sudah tak terlihat, aku kembali berenang menyusuri sungai sambil sesekali berteriak. Ketika ditikungan sungai terdapat batu besar, aku berhenti dan berjalan pelan mendekati batu itu, berharap bapak itu tertambat pada bebatuan itu. 


Ah, benar saja! Bapak itu berpegangan pada batu. “Pak, ini saya Pak. Bapak baik-baik aja kan?” tanyaku sambil meraba wajahnya dalam cahaya temaram.


Bapak itu tidak menjawab, samar kulihat matanya masih terbuka, kupegang tangannya, masih ada denyutnya. Aku membawanya ke pinggir, ketempat yang lebih tinggi.


Dipinggir sungai banyak pepohonan yang lebat.


“Tolong Mirna, anak saya!” kata bapak itu lirih.


“Iya Pak, teman saya sudah sampai disana!” aku berusaha memberinya ketenangan. “Bapak masih kuat?” tanyaku pelan. Bapak itu mengangguk pelan, “saya mau lihat cucu saya!” bisik bapak itu lemah.


“Iya Pak. Kita akan pulang. Bapak naik ke punggung saya ya! Kita pulang sekarang.” Aku berdiri membelakangi bapak itu, memasang bahu untuk bapak itu. “Pegangan yang kuat ya Pak. Kita kembali hulu!” 


Bapak itu naik ke punggungku dan mengeratkan tangannya di dekat leherku, lalu meletakkan kedua kakinya diatas lenganku. Setelah semua pegangan dieratkan, aku mulai berjalan melawan arus sungai dari tepian. 


Di ufuk timur terbit seberkas cahaya, matahari mulai mengeluarkan sinarnya. Aku masih terus berjalan menuju titik posisi awal kami menyeberangi sungai ini. 


Aku melihat ada bekas roda mobil di pinggir sungai, kurasa inilah posisi awal tadi. “Pak, ini bukan jalannya?” tanyaku pada bapak yang kugendong. Tak ada jawaban. “Pak!” aku menggoyangkan tubuh agar bapak itu juga ikut bergoyang, tapi nihil, bapak itu tak bergerak.


Aku menepi ke seberang, beberapa kali terpeleset karena basah, dengan susah payah akhirnya sampai ke tepian. Lalu membaringkan bapak itu di tanah. Bapak itu lemas tak berdaya, aku menggoyangkan tubuhnya, “Pak, bangun Pak. Kita sudah sampai di daratan!”


Aku menaruh jari telunjuk dibawah hidungnya, masih ada nafas. Di tangannya juga masih ada nadi. Aku menekan dadanya berkali-kali, “Pak, ayo bangun Pak! Cucu Bapak sudah lahir, dia mau lihat kakeknya, ayo bangun!” 


Aku masih panik, melihat sekeliling tak ada seorangpun, “ayo bangun Pak!” aku masih menekan dadanya berkali-kali lalu memberikan nafas buatan lalu menekan dadanya lagi. Tiba-tiba air muncrat dari mulut bapak itu.

__ADS_1


__ADS_2