
“Memangnya kamu salah apa? Gak ada kesalahan yang tak termaafkan! Bicaralah!”
“Sebenarnya yang menculik dokter Utami itu adalah saya!” kata Ahyar pelan dan bergetar.
“Apa?” aku melotot lalu menarik kerah bajunya.
“Maaf Ndan, saya terpaksa!” kata Ahyar semakin bergetar.
Tanpa perhitungan aku langsung meninju pipinya berkali-kali hingga Ahyar tersungkur di tanah. Rasanya belum puas, aku menunggangi Ahyar yang terkapar, lalu menampar pipinya berkali kali.
Hendrik yang belum jauh dari posisi kami segera mendekat dan menarikku dari atas tubuh Ahyar.
“Sabar Ndan, ini tempat terbuka. Bahaya kalau dilihat orang!” Hendrik menahanku.
“Bawa dia ke pomal sekarang, hukum seberat-beratnya!” teriakku sambil menunjuk nunjuk Ahyar.
“Ahyar, ikut saya keruangan!” Hendrik memberikan perintah pada Ahyar.
“Kita shalat dulu Ndan. Sudah adzan.
Meski Hendrik telah menahan tubuhku, namun ketika Hendrik mengendurkan pegangan tangannya atas tubuhku. Aku langsung menendang Ahyar yang baru akan duduk dengan penuh tenaga.
“Ampun Ndan, ampun!” Ahyar berlutut menangkupkan kedua tangannya dihadapanku.
Hendrik kelihatan bingung dengan keadaan ini berusaha melerai.
Suara adzan meraung-raung, nafasku memburu, aku berdiri didepan mobil dan menempelkan kepala ke mobil lalu memukul mobil beberapa kali.
“Kita selesaikan setelah shalat,” Hendrik menarikku ke dalam gedung. “Ikut saya!” perintah Hendrik pada Ahyar.
Dalam sujud kupanjatkan doa keamanan dan keselamatan untuk Utami, semoga ini menjadi titik terang keberadaan Utami. Aku sangat tak menyangka anak buahku sendiri terlibat dalam penculikan yang menguras waktu, tenaga dan pikiran, bolak balik ke mako pomal, wajahku terpampang di media, ah masih banyak lagi.
“Mam,” Hendrik memanggilku dari belakang, sadar dipanggil lalu aku menoleh. “Kita teruskan yang tadi yuk!” ajak Hendrik. Aku menutup sajadah lalu keluar dari mushola kantor mengikuti langkah Hendrik keruangku dulu. Disana sudah ada Dimas dan Erwin yang tengah duduk dihadapan Ahyar.
Aku duduk di sofa yang agak jauh dari mereka bertiga. Hendrik duduk disebelahku, mungkin dia menjagaku kalau-kalau aku kembali berbuat nekat.
“Coba sekarang ceritakan pada komandan, alasan kamu nekat menculik dokter Utami!” perintah Erwin pada Ahyar. Aku duduk menunduk menopang dagu dengan kedua tangan, menjaga emosi yang sudah sampai di tenggorokan dan siap di muntahkan.
“Maafkan saya Ndan.Saya terpaksa melakukannya, Inaq saya meninggal, saya ingin pulang tapi gak ada ongkos,” kata Ahyar sambil tersedu-sedu.
“Dapat uang berapa kamu dari menculik Utami?” tanya Dimas.
“Sepuluh juta Ndan,” jawab Ahyar.
__ADS_1
“Siapa yang membayarmu?” tanya Erwin.
“Bu Sarah,” jawab Ahyar.
“Siapa bu Sarah itu?” tanya Erwin lagi.
“Ibunya dokter Utami, dia yang merencanakan ini semua,” jawab Ahyar.
“Sekarang dimana Utami?” tanyaku sambil berteriak.
“Dokter Utami hanya minta dikawal saya sampai Kampung Rambutan Jakarta Ndan, setelah itu kami berpisah,” suara Ahyar gemetar menjawab pertanyaanku. Sontak aku berdiri lalu menerjangnya, “keterlaluan, kamu ninggalin dia di terminal!”
Bruk, tinjuan di mata dan pipi Ahyar melayang beberapa kali. Dimas, Erwin dan Hendrik berebut melerai kami.
“Ampun Ndan, ampun,” Ahyar kembali meringkuk bersujud padaku.
Aku melepaskan diri dari kekangan Hendrik dan Dimas lalu berdiri menghadap tembok dan menutup mata dengan lengan kanan. “Bodoh, kamu bodoh. Kenapa dia ditinggal di terminal!” aku memukul tembok berkali-kali.
“Dia dijemput temannya di terminal itu, kata dokter Utami saya boleh pergi setelah dia bertemu temannya itu,” jawab Ahyar sambil menangis.
"Tadi kamu bilang, otak dari penculikan ini adalah ibunya dokter Utami, benar begitu?" tanya Dimas pada Ahyar.
"I..iya Ndan," jawab Ahyar.
"Berarti dokter Utami sudah tau dan menyetujui aksi penculikan ini?" tanya Erwin setelah Ahyar duduk kembali.
"Iya Ndan," suara Ahyar masih gemetar.
"Kejadian itu Sabtu malam kan! Coba ceritakan rute perjalananmu dari rumah dokter Utami sampai Jakarta, bicaralah yang jelas!"
"Sabtu malam saya masuk ke rumah bu Sarah dengan merusak kunci pagar dan jendela kamar dokter Utami. Semua itu sudah saya pelajari selama dua hari sebelum aksi malam itu. Dokter Utami yang mengacak-acak kamarnya sendiri, membawa perhiasan dan surat-surat penting yang sama sekali tidak saya ketahui isinya. Lalu kami ke Ngawi naik mobil yang sudah bu Sarah siapkan. Di Ngawi kami sarapan dan tidur di hotel."
"Gila kamu ya, tidur di hotel sama Utami?" aku memotong penjelasan Ahyar dan menarik kerah bajunya lalu mencekiknya.
Dimas dan Erwin berusaha menarik tanganku, tapi tenaga bercampur emosiku lebih kuat daripada usaha mereka berdua.
"Imam, berhenti. Kalo dia mati, kita gak bisa dapet informasi Utami!" teriak Suryo yang baru masuk ruangan bersama Frans.
"Dia keterlaluan, dia …," aku membuang nafas kasar lalu melepaskan tangan dari leher Ahyar.
"Benar kamu yang menculik Utami?" tanya Suryo memastikan.
"Iya Ndan," jawab Ahyar sambil terisak.
__ADS_1
"Mam, tahan emosi ya. Kita belum selesai. Istighfar," Erwin mengingatkan.
"Di hotel kamu ngapain aja?" tanya Erwin pada Ahyar.
"Kami sarapan disana, dokter Utami pesan satu kamar untuknya, saya berjaga diluar. Saya sama sekali gak masuk kamarnya dokter Utami, sungguh Ndan! Saya berjaga diluar. Lalu dokter Utami minta beliin tiket bis ke Purwokerto untuk kami berdua. Siang sekitar jam dua, kami berangkat naik bis ke Purwokerto."
"Apa nama hotel di Ngawi?" potong Frans yang sedang standby didepan laptop.
"Reddoorz Benteng Van Den Bosch," jawab Ahyar.
Frans menghack web hotel tersebut, "Minggu tanggal sembilan di Reddoorz Benteng Van Den Bosch, check in pukul 04.26 atas nama Ahyar Muttaqin kamar 2.12, single bed. Check out pukul 13.04."
"Benar?" tanya Suryo pada Ahyar.
"Iya benar Ndan."
Beberapa kali telponku bergetar, Kartika dan Aisyah bergantian menelponku.
Hendrik yang berada di sebelahku merasa risih dengan getaran panggilan telepon. "Saya rasa cukup malam ini, biar komandan pulang dan beristirahat dengan keluarga," potong Hendrik.
"Gak, saya mau dengar penjelasannya malam ini," aku tak setuju.
"Ndrik, antar Imam pulang. Pakai mobil saya, kalo keluarganya Imam mau pesiar malam ini, kamu yang antar berkeliling!" Dimas melemparkan kunci mobil pada Hendrik.
"Siap!" jawab Hendrik setelah menangkap kunci yang dilempar Dimas.
"Pulanglah, bapak dan ibu menunggumu. Biar kami yang selesaikan urusan ini. Sekarang waktumu dengan keluarga!" bujuk Erwin sambil mendorongku ke arah pintu.
"Mana bisa aku tenang kalo begini caranya. Waktuku tinggal malam ini aja disini. Pokoknya dia harus dibawa ke Mako pomal dan dihukum seberat-beratnya!" aku menunjuk-nunjuk wajah Ahyar.
"Otaknya itu ibunya Utami Mam, Utami juga terlibat. Bahaya buat mereka semua!" Erwin kembali membujukku.
"Kamu gak percaya sama aku?" sorot mata Suryo menusukku.
"Saya cuma pengen tau keadaan Utami sekarang!" aku membentak Suryo.
"Besok, kami pastikan kamu dapat info lengkapnya. Sekarang pulanglah!" kata Dimas.
"Bukan besok, tapi setelah Imam sampai di Natuna," sanggah Suryo.
"Lama banget!" aku gak terima.
"Tinggalkan tempat ini sekarang, atau kami akan bubar dan tak akan ada info secuilpun tentang Utami!" ancam Suryo.
__ADS_1