
Kepergian Lita dibonceng Ricky membawa luka perih di hati. Apa benar yang dikatakan Lita, bahwa aku cemburu pada Ricky? Apa mungkin Ricky benar-benar suka pada Lita? Yang aku tahu, Ricky baru saja mengenal Lita, mana mungkin cinta itu hadir begitu cepat. Kalau benar Lita suka pada Ricky, pasti sulit sekali merelakan mereka berjalan bersama, tapi apa alasannya? Lita sudah sering melihat aku bersama Utami, sudah seharusnya aku membiasakan melihat Lita bersama Ricky. Tapi, rasanya aku tak sanggup.
Telepon berdering, Utami memanggil. “Halo, sayang. bisa jemput aku? Sekarang hujan.”
“Iya, tunggu aku disana,” jawabku.
Aku meluncur ke rumah sakit dimana Utami berdinas sore ini.
‘Mobilku masuk sampai depan UGD ya, siap-siap disana sekarang!’ kukirim pesan pada Utami.
“Makasih ya,” ucap Utami ketika masuk mobilku.
“Mobilmu kemana?” tanyaku.
“Biar aja ditinggal di tempat parkir, tapi besok antar lagi ya!” Utami tersenyum jahil padaku.
Aku hanya mengangguk tersenyum, banyak kata-kata yang tersangkut di tenggorokan, lidah agak kelu untuk mengatakan semua.
Hening, aku mendehem menarik perhatian Utami. Utami menengok ke arahku, “Kenapa?”
Aku menepikan mobil ke pinggir jalan.
“Kayaknya ada yang serius nih, kenapa?” tanya Utami.
“Lita sekarang berpacaran dengan Ricky.”
“Oh, baguslah kalau begitu!”
“Aku khawatir Lita jadi bahan permainannya Ricky aja.”
“Jangan gitu ah, biar itu jadi urusan mereka aja. Kita gak usah ikut urusan mereka, cukup kita doakan yang baik-baik untuk mereka.” Utami mengelus tanganku.
__ADS_1
“Tadi aku sudah bilang sama Lita untuk menjauhkan diri dari Ricky.”
“Jangan begitu dong, Lita sudah besar, sudah waktunya memilih. Baik dan buruknya dia yang bertanggung jawab.”
“Lita bilang aku cemburu pada Ricky!” Utami memandangku serius. “Aku memaksa Lita untuk memutuskan hubungan dengan Ricky. Menurut Lita aku harus memilih antara kamu atau Lita!” aku masih memandang lurus ke depan jalan dan mengacuhkan sorotan mata Utami.
“Kamu? Jadi selama ini kamu benar-benar suka Lita? Kamu cemburu sama Ricky? Sekarang kamu mengatakan ini, berarti kamu lebih memilih Lita daripada aku? Ka-kamu tega sekali, apa selama ini kamu bermain dengan Lita di belakangku? Keterlaluan kamu!” Utami membuka pintu mobil, tapi tanganku lebih cepat menariknya kembali ke dalam mobil.
“Tetaplah disini, diluar hujan,” aku mengunci pintu mobil.
“Sudah cukup aku kamu gantung ketika di tinggal ke Lampung dulu. Sekarang aku sudah berusaha menjaga hubungan ini, tapi kamu mengkhianatinya.” Utami mulai menangis.
Aku menekuk kaki kiri dan duduk menghadap Utami. “Aku gak pernah ada main sama Lita. Aku selalu berpihak sama kamu, baik di depan atau di belakangmu. Kamu selalu aku nomor satu kan. Aku hanya memberi perhatian lebih pada Lita, bukan hatiku. Tapi ketika Ricky mulai mendekati Lita, aku gak bisa bohong bahwa selama ini aku memang suka pada Lita tapi tak pernah kuungkapkan pada siapapun, termasuk pada Lita langsung. Kali ini aku jujur sama kamu bahwa aku memang suka sama Lita.” Utami menutup wajahnya yang beruraian air mata. “Aku juga gak tau apakah ketika aku memilih salah satu dari kalian, apakah aku akan bahagia. Yang jelas satu hal yang ingin aku pertahankan adalah kamu. Kamu itu luar biasa, apa yang aku inginkan semua ada sama kamu, kamu tu baik banget!”
“Iya, karena aku terlalu baik sama kamu, jadi kamu seenaknya saja memperlakukan aku!” Utami masih menunduk beruraian air mata tanpa menatapku.
“Gak ada perempuan lain yang mendapatkan perhatian dan cintaku full selain kamu.”
“Lalu mau kamu apa? Apa kamu minta untuk berbagi cinta pada Lita. Gak semudah itu! Dari awal Ricky sudah memperingatkanku tentang kamu, ternyata benar apa yang dikatakan Ricky. Kamu playboy!”
“Kamu dihukum karena kelalaianmu sendiri, gak ada hubungannya sama sekali sama aku!” Utami meninggikan suara sambil memandangku.
“Lalu kenapa kamu menerima bunga pemberian Ricky? Kenapa kamu mau diantar ke UGD sama dia? Semua itu terjadi tepat dihadapanku. Terus kamu bilang ini gak ada hubungannya sama kamu? Aku yang menyebabkan keributan di UGD, aku sudah bertanggung jawab. Kamu jadi alasan aku ribut dengan Ricky hingga skorsing, apa kamu bertanggung jawab? Bahkan kepergianku selama skorsing pun tidak kamu hiraukan sedikitpun. Aku gak ingin kamu merasa bersalah, makanya aku gak bilang sama kamu waktu itu. Tapi kalau kamu bilang aku di skors tanpa ada kaitannya dengan kamu, kamu salah besar. Semua hukuman aku terima demi keberlanjutan hubungan kita ini. Hanya antara kamu dan aku!”
“Pintar sekali kamu memutarbalikkan fakta!” mengusap air matanya.
“Utami, tidakkah kamu menghargai sedikit saja perjuanganku selama ini?”
“Semua kebaikanmu telah terhapus dengan dosa dan pengkhianatanmu!”
“Tolong jangan bilang begitu,” aku mengusap tangan Utami tapi dia langsung menarik tangannya dan duduk mendekati jendela, mungkin jika hujan ini tidak deras, Utami langsung kabur meninggalkanku.
__ADS_1
“Sekarang begini, aku yakinkan bahwa sampai detik ini aku masih sayaaang sekali,”
“Iya, tapi kamu juga sayang sama Lita,” Utami memotong dengan cepat.
Aku mengangguk, “benar, kalau aku putus sama kamu juga, Lita gak bakal mau nerima aku karena dia sudah berpacaran dengan Ricky.”
“Oke, kalau begitu lebih baik kita putus sekarang. Gak ada lagi yang perlu dipertahankan. Terima kasih.”
“Hatiku masih ada kamu, aku yakin kamu juga masih suka sama aku. Kita gak harus putus, yang aku mau kita sama-sama jujur dengan perasaan kita, saling keterbukaan, dan saling menjaga.”
“Itu maumu, tidak denganku. Aku bukan mainan.”
“Aku sama sekali tidak mempermainkanmu, aku hanya jujur, bukan berarti aku memilih Lita.”
“Tapi kamu tetap berharap Lita mau sama kamu kan?”
Aku menatap mata Utami yang merah padam, “dia tidak pantas untukku, dia hanya anak-anak, bukan untuk diseriusi. Berbeda jauh denganmu!”
“Jadi Lita hanya kamu jadikan sebagai penghibur saja?” aku diam menatap lurus ke depan. “Satu poin untuk kamu yang membuatku semakin yakin bahwa kamu tidak menghargai perempuan, kamu juga tidak pantas untukku.”
“Ayolah, aku hanya ingin jujur sama kamu, bukan ingin putus. Dengan pengakuan jujur ini aku ingin kita lebih saling menjaga. Gak ada lagi rahasia yang tersimpan diantara kita. Tadi aku sudah bilang, kalau aku putus sama kamu itu gak ada gunanya, Lita sudah pacaran dengan Ricky. Oleh sebab itu, kita jangan putus ya! Aku minta tolong sekali, aku masih sayang kamu.”
Utami diam, air matanya sudah kering. Mungkin dia merasa sangat sakit hati. “Aku juga mau jujur sekarang!” Utami mengusap air matanya yang tiba-tiba jatuh. “Selama ini papaku telah menjodohkan aku dengan dokter Harun, dia pemilik klinik di Malang. Keluarga dokter Harun telah banyak membantu keluargaku, termasuk biaya kuliahku dan bisnis papa. Jika aku menolak perjodohan ini, mungkin bisnis papa akan hancur.”
“Aku perwira, kamu dokter. Aku yakin, kita bisa meningkatkan perekonomian keluarga kita bersama, gak usah takut gertakannya!” aku mengelus pundak Utami pelan.
“Nggak, kamu gak kenal siapa dokter Harun, papa dan mamaku sangat menginginkan aku menikah dengannya. Dari dulu aku mencari momen untuk menyatakan putus dari kamu, dan saat inilah saat yang tepat untuk berpisah denganmu. Semoga kamu bahagia dengan wanita setelahku nanti!” Utami kembali meneteskan air matanya.
“Aku gak bakal melepasmu, selamanya kita akan bersama.” Aku menggenggam tangan Utami, tapi melepaskan perlahan.
“Tolong antar aku pulang sekarang!” Aku melanjutkan kendaraan menuju arah kosan Utami tanpa kata. “Besok aku akan pulang ke Malang dan jangan cari aku lagi. Aku akan segera menikah dengan dokter Harun.”
__ADS_1
Aku tetap diam, tak menghiraukan ucapan Utami hingga mobil berhenti dekat tangga kosan Utami, “besok pagi aku akan menjemputmu, kita masih disini dan terus menjalin hubungan hingga kita berumah tangga, punya anak, dan sampai ajal menjemput.”
“Mobil merah itu milik dokter Harun, biar dia yang mengambil dan mengurus pengunduran diriku di RS dr. Ramelan. Aku sudah bulat dengan keputusanku. Tolong hargai keputusanku. Terima Kasih!” Utami keluar dari mobil dan menaiki tangga, aku memandangnya hingga hilang di balik lantai dua. Semoga ini hanya keputusan dadakan yang bisa bilang hilang dalam hitungan jam, nanti malam aku akan menelponnya lagi.