Dia Bukan Milikku

Dia Bukan Milikku
28. Mengejar Utami


__ADS_3

Beberapa kali aku menelpon ke nomor Utami tapi tidak diangkat.


‘Sayang, tolong angkat telponku.’


‘Maafkan aku ya.’


‘Besok pagi aku jemput ya.’


 Pesan yang kukirim sudah ceklis dua namun tidak dibaca meski berlabel online. Sudahlah, besok pagi aku akan menjemputnya. ‘Selamat tidur sayang, mimpiin aku ya.’ 


Biasanya cewek kalau lagi marah itu gak mau didekati, tapi tetap minta diperhatikan. Semoga esok hari cerah yang indah, Utami gak marah lagi.


***


Pagi itu langit mulai menampakkan cahaya merah, aku bergegas melaju bersama si kuda besi menuju kosan Utami. Penjaga gerbang kelihatannya masih agak mengantuk ketika membukakan pintu untukku.


“Selamat pagi, Pak. Saya ingin menjemput dokter Utami.” Aku meminta izin kepada penjaga gerbang.


Penjaga gerbang mengucek matanya beberapa kali. “Dokter Utami sudah pindah semalam, tadi malam beliau dijemput mobil. Saya membantu membereskan barangnya sampai larut malam.”


Aku sangat terkejut, “siapa yang menjemputnya?”


“Saya gak kenal, tapi bapak itu sudah pernah kesini. Mobilnya alphard leter N,” jawab penjaga gerbang.


“Mobil alphard dari Malang?” aku memastikan lagi.


“Iya, kalau tidak salah bapak itu pernah kesini bersama orang tua dokter Utami.” Penjaga gerbang itu menambahkan lagi.


“Bapak itu sendiri?”


“Nggak, ada supirnya. Setiap kesini bapak itu bawa supir sendiri. Supirnya nunggu disini bareng saya. Tapi tadi malam saya diminta membantu mengemasi barang-barang dokter Utami, mau pindah katanya. Semua barang sudah diangkut, ada beberapa barang yang disisakan, katanya mau diambil lain waktu. Yang jelas dokter Utami bilang pindah, gak tinggal atau kerja di Surabaya lagi.”


Aku menelpon ke nomor Utami tapi tidak tersambung, pesanku semalam sudah ceklis biru, tapi nomornya kini tidak bisa dihubungi. “Apa dokter Utami meninggalkan nomor lain untuk dihubungi?” tanyaku pada penjaga gerbang.


“Nomornya ya yang biasa itu Pak, gak ganti kok!” penjaga gerbang itu mengeluarkan ponselnya dan mengecek nomor Utami, “gak aktif Pak, mungkin habis baterai. Semalam mengemasi barang-barang hingga larut kok, jam tiga malam baru selesai.”


Aku panik sekali, apa benar yang dikatakan Utami kemarin tentang dokter Harun? Siapa dia, seberapa pengaruhnya dia terhadap kehidupan Utami dan keluarganya. Bisnis apa yang dikerjakan orang tuanya hingga harus bertopang pada dokter Harun?

__ADS_1


Langit mulai terang, aku harus memimpin apel pagi ini. Mungkin agak siang nanti aku akan menyusul ke Malang. Kalau tidak salah rumahnya ada di daerah Kepanjen, semoga nanti bisa dihubungi kembali. Tapi mungkin aku akan mengecek Utami ke rumah sakit, apakah dia masih staf rumah sakit atau sudah mengundurkan diri. Aku berharap apa yang dikatakan penjaga gerbang tadi itu bohong. Utami hanya pulang sebentar ke rumah orang tuanya, besok kembali lagi kesini. Utami tolong jangan tinggalkan aku.


Sampai hari Sabtu belum bisa meninggalkan Surabaya karena padatnya jadwal latihan yang harus aku pandu. Setiap hari aku mencoba menghubungi nomor Utami namun tak pernah aktif, aku juga berpesan pada penjaga gerbang kosan Utami untuk mengabariku jika Utami datang ke kosan, tapi Utami juga pernah sekalipun datang ke kosan. Beberapa barangnya yang tersisa dikosan entah kapan akan dibenahi mengingat jangka waktu sewa kamar Utami masih beberapa bulan ke depan. 


Tak hanya Utami, Lita juga menolak panggilan telponku dan tak membalas pesan singkatku. Kok hidup gini banget ya, dulu ketika tugas ke Lebanon pacar nikah duluan. Sekarang sudah punya pacar dikasih tau yang jujur malah kabur. Cuma memberi perhatian lebih sama anak orang dibilang selingkuh, padahal sih ya suka juga tapi gak selingkuh lho.


***


Ketika mentari memancarkan sinarnya, aku melaju ke ke kota apel. Semoga keberuntungan berpihak padaku hari. Di bilangan Kepanjen aku menelusuri kota, bertanya-tanya keberadaan klinik dokter Harun. Hingga akhirnya sebuah klinik ramai disebut warga sebagai klinik milik dokter Harun. Dokter Harun rupanya seorang yang cukup terkenal. Ketika aku bertanya tentang istri atau pasangan  dokter Harun, mereka berkat bahwa dokter Harun belum memiliki istri, calon istrinya masih kuliah kedokteran di Surabaya. Tidak salah lagi, calon istrinya yang masih kuliah itu pasti Utami. 


Aku memiliki ide untuk mencoba berobat ke klinik itu, “ada yang bisa dibantu?” tanya seorang staf pendaftaran. 


“Saya ingin berobat, siapa saja dokter yang prakter hari ini?” tanyaku.


“Ada dokter Devina, dokter Yahya dan dokter Utami. Untuk gigi ada dokter Musa. Bapak mau berobat umum atau gigi?” tanya staf itu lagi.


“Berobat umum, bisa pilih ke dokter Utami?” aku sangat senang sekali mendengar nama Utami.


“Boleh, silahkan isi formulir berikut!” staf itu memberikan selembar kertas lalu segera aku isi data diri yang yang dibutuhkan. Kira-kira Utami sadar gak ya ketika memanggil namaku, aku senyum-senyum sendiri.


Aku menunggu di depan poliklinik yang disebut staf tadi sebagai tempat Utami prakter. Dua ruang poliklinik lainnya terpampang nama dokter, tapi ruangan yang kutunggu tidak ada nama dokternya. Beberapa antrian di depanku dipanggil perawat, hingga akhirnya namaku disebut. Jangan ditanya rasanya, seperti bertahun-tahun menahan rindu, senang, gelisah, bahagia bercampur menjadi satu. Aku memasuki ruangan, hawa dingin merambat ke tengkuk.


“Apa keluhannya?” tanya Utami melihat data pasien atas namaku. “Tolong ditensi!” Utami memerintahkan pada perawat untuk mengecek tekanan darahku.


“Saya rindu sekali dok, sakitnya tuh disini!” aku menunjuk ke arah dada.


“120/80 dok,” perawat itu berkata pada Utami.


“Baik, silahkan tunggu obatnya di apotik.” Singkat sekali kata-katanya, dia juga tak menoleh ke arahku.


“Utami, tolong jangan menjauh dariku. Aku disini datang untuk menjemputmu. Kembalilah bersamaku ke Surabaya!” pintaku.


“Pasien selanjutnya!” Utami tidak menghiraukan ucapanku.


Perawat di dalam ruangan ini kelihatan bingung, memandang ke arahku dan Utami. 


“Saya datang kesini untuk mencari kamu, sayang. Jangan marah lagi, maafkan aku. Aku janji gak mengulangi lagi.” Aku berusaha meraih tangan Utami, tapi Utami segera menarik tangannya dari meja.

__ADS_1


“Tolong panggil pasien selanjutnya,” Utami berkata lebih keras.


“Baik, silahkan tunggu obat di apotik.” Perawat itu membukakan pintu dan memanggil sebuah nama untuk selanjutnya diperiksa di ruang dokter. 


“Aku gak akan meninggalkan ruangan ini sampai kamu menjawab kata-kataku Utami!”


Pasien yang dipanggil namanya sudah masuk ke ruang periksa, namun aku enggan meninggalkan ruangan.


“Baik, saya akan tetap disini, berdinas disini dan akan segera menikah dengan dokter Harun. Silahkan anda meninggalkan ruang ini!” ucap Utami ketus.


“Utami, tolong dengarkan saya!” aku berharap belas kasih Utami.


“Saya sedang melaksanakan tugas, pasien baru telah datang, silahkan mengambil obat di apotik, atau saya akan panggilkan tim keamanan!”


Aku memandang Utami dan lagi-lagi diacuhkan, terpaksa aku meninggal ruangan dengan hampa. Aku sangat tidak menyangka Utami akan seperti ini, kata-katanya dingin. Baiklah jika begitu, aku akan menantimu sampai selesai praktek hari ini di pintu belakang.


Tak lama menunggu di pintu belakang, seorang petugas keamanan klinik mendatangiku, “maaf, apa anda Pak Imam?” tanyanya.


“Iya, benar.”


“Dokter Utami menitipkan pesan pada saya untuk anda,” ucap petugas keamanan itu.


“Katakan padanya, saya tidak akan meninggalkan tempat ini sebelum urusan saya dengan dokter Utami selesai!”


“Disini tidak memungkinkan Pak, dokter Utami berjanji akan menghubungi anda dan bertemu diluar.”


“Saya tidak percaya, saya akan menunggunya disini.”


“Dokter Utami itu dokter baru disini, tolong jangan rusak karirnya disini.”


“Saya cuma menunggunya disini, setelah menyelesaikan urusan dengannya saya akan meninggalkan tempat ini. Tapi jika Utami menghindar, maka saya akan mengejarnya sampai dapat. Katakan itu padanya!”


“Saya akan sampaikan pesan itu pada dokter Harun!” gertak petugas keamanan lalu meninggalkan aku sendiri di depan pintu belakang ruang praktek Utami.


Waktu sudah menunjukkan pukul 13.10 Utami keluar dari pintu yang kutunggu.


“Utami, aku minta waktu sebentar!” aku mendekati Utami.

__ADS_1


“Ada yang bisa saya bantu?” suara dari belakang membuatku menoleh, Utami lalu berlari berlindung menuju belakang orang yang berkata itu.


__ADS_2