Dia Bukan Milikku

Dia Bukan Milikku
62. Hari Dharma Samudera


__ADS_3

Hari Dharma Samudera kali ini dilaksanakan dihadapan Dankormar dan dipimpin oleh Kasal di pangkalan Ujung Surabaya. Hari Dharma Samudera ini diperingati sebagai wujud penghormatan saat Komodor Yos Sudarso tenggelam di Laut Arafuru saat merebut Irian Barat.


Dalam amanahnya, Kasal menyebutkan bahwa Indonesia merupakan negara maritim yang strategis dan banyak memiliki sumber daya alam yang sangat diinginkan oleh bangsa lain. Dari sinilah, bangsa lain ingin berkuasa di bumi pertiwi. Praktik kolonial telah mengajarkan bangsa ini untuk merebut dan mempertahankan wilayah teritorial bangsa, sehingga peristiwa perebutan area seperti yang lakukan oleh pahlawan terdahulu tidak perlu terulang lagi. Pengamanan teritorial bangsa ini dibangun dan dijaga oleh TNI AL sehingga membuat bangsa lain takut dan menghormati wilayah Indonesia.


Giat acara peringatan hari Dharma Samudera diakhiri dengan prosesi tabur bunga di Taman Makam Pahlawan Sepuluh November.


Setelah rangkaian peringatan hari Dharma dilaksanakan, apel penutup dipimpin oleh Dankoarmatim.


Aku berdiri dipinggir lapangan sambil menyaksikan pembubaran pasukan, "sudah sarapan Mas?" tiba-tiba Resti berdiri sejajar disampingku sambil mengutak atik kameranya. Hari ini kami menggunakan pakaian dinas upacara berwarna putih dengan rompi hitam dan baret ungu. Resti menggunaka kaca mata dengan lensa coklat, sebagian rambutnya beterbangan ditiup angin menutupi sebagian wajahnya.


"Belum," jawabku, sejak subuh kami sudah bersiap untuk upacara ini, jadi wajar jika jam segini belum sarapan.


"Mau makan bareng?" tanya Resti masih sibuk dengan kameranya.


"Terima kasih, nanti saja. Masih ada yang harus dikerjakan," aku menolaknya.


Dia kini berdiri menghadapku. "Mas Imam selalu menghidari Resti, minta maaf ya bikin Mas Imam risih!"


Kata-kata Resti membuatku jadi merasa bersalah, "Nggak kok, ya sudah kita makan sekarang dimana?"


"Dekat parkiran aja ya, Resti bawa roti sandwich banyak."


Ada beberapa hal yang sangat sering dilakukan Resti, yang membuatku seolah tak bisa menolak keinginannya, seperti kali ini.


Resti mengeluarkan sebuah kotak dari dalam mobilnya lalu membukanya, beberapa roti terhidang, ada roti sandwich, roti selai, roti bakar coklat. Resti juga mengeluarkan dua kotak susu instan dari mobilnya.


Kami makan di tempat duduk yang tak jauh dari tempat parkir.


"Mobil baru ya?" tanyaku sambil melirik avanza putih.


"Bukan, mobil koh Benny. Dia meminjamkan untukku," jawab Resti.


Aku menganggukkan kepala. "Kamu sudah izin sama koh Benny untuk makan bareng saya?"


"Cuma makan aja kenapa harus izin dia."


"Kamu kan milik dia, saya orang lain diluar kalian."


"Gak secupu itu Mas. Santai aja, Hidup gak perlu terlalu saklek."


"Iya. Kata koh Benny dia segera melamar kamu lho."

__ADS_1


Resti menghentikan makannya lalu menunduk. 


"Dia sudah bilang sama kamu kan?" tambahku lagi.


Resti menggeleng, "dia belum bilang, lalu menurut Mas Imam bagaimana?"


"Istiqarah dulu. Minta petunjuk Allah. Saya yakin dia bisa bahagiain kamu. Kalian sudah sama-sama suka, silahkan dilanjutkan ke jenjang yang lebih baik."


"Yakin mas Imam mengizinkan aku menikah dengan orang lain?" Resti menaruh tangan kanannya diatas tangan kiriku.


"Iya," jawabku sambil melepaskan tangan dari gengaman Resti. Tangannya dingin sekali, mungkin dia gugup.


"Dokter itu belum ditemukan, siapa yang akan mengisi hati mas Imam?" tanya Resti.


"Sudah ada kok, kamu gak usah khawatir." Aku tersenyum padanya lalu mengambil sebuah roti bakar yang sudah dioleh madu. "Terimalah koh Benny, jadi wanita yang baik untuknya. Saya yakin kalian akan bahagia."


"Apa ini karma saya ya Mas?"


"Karma kenapa? Mau nikah lagi kok disebut karma, ya nggak lah."


"Ya karma, karena menikahi Irvan dulu, melupakan mas Imam."


"Anggaplah koh Benny sebagai anugerah yang lebih baik dari Irvan dulu."


"Saya bisa menciptakan bahagia untuk diri saya sendiri. Kamu gak usah khawatir."


"Saya jadi penasaran sama cewek yang sekarang deket sama mas Imam, pasti dia orang yang beruntung."


Aku tersenyum, "gak usah kepo, nanti nyesel lho!"


"Diomongin kayak gitu, saya semakin penasaran."


"Saya tidak perlu dipikirkan lagi. Yang penting kamu teruskan hidupmu yang lebih baik bersama orang yang baik seperti koh Benny." 


"Harus sama koh Benny ya?"


"Saya kenal dan percaya dengan koh Benny. Makanya saya merelakan dia untukmu. Kalau yang lain saya belum tentu ikhlas melepas kamu." 


"Ya sudah sama yang lain aja, biar mas Imam gak melepas saya!" Resti tersenyum penuh kemenangan.


"Tapi yang mau melamarmu itu koh Benny, bukan yang lain. Orang sebaik dia gak usah ditolak."

__ADS_1


"Danyon lagi keliling tuh!" Resti menunjuk ayahnya yang sedang berjalan diikuti beberapa orang dibelakangnya, ada dua orang Danki dan beberapa orang Danton.


"Mas Imam gak ikut gabung?" tanya Resti.


"Gak ada arahan." Kami mengacuhkan rombongan Danyon yang melewati pandangan kami.


"Jadi kalau koh Benny melamarku, apa yang harus saya lakukan?"


"Gak ada alasan untuk menolaknya kan? Terima aja!" jawabku santai meski sorot mata Danton ke arahku.


"Yakin Mas?"


"Iya!" jawabku tegas lalu meminum susu yang diberikan Resti tadi. "Terima kasih ya, sudah kenyang sekarang. Saya kembali dulu, maaf saya masih banyak kerjaan." Aku berdiri lalu menjauh. Resti ikut berdiri, "Mas!" Resti memanggil pelan, aku menoleh. Resti memberikan hormat, aku tersenyum lalu membalas hormatnya dan berlalu pergi meninggalkannya. Ya tuhan, semoga pilihanku ini benar. Rasanya tidak seberat dan sesakit dulu, mungkin kadar cintaku telah berkurang, tidak seperti dulu lagi.


***


Langit kemerahan menunjukkan siang akan berganti malam. Aku bersiap pulang, hingga langkahku terhenti ketika seseorang menepuk pundakku dari belakang, mas Joko. "Dipanggil komandan diruangannya!" mas Joko memberitahu.


"Ada apa ya?" tanyaku.


Mas joko mengangkat bahu, "tanya sendiri sama komandan, aku cuma menyampaikan."


Aku berbalik dan melangkahkan kaki menuju ruang Danyon.


"Masuk," suara balasan dari dalam setelah pintu kuketuk.


"Duduk," kolonel Teguh mempersilahkan.


Sorot mata kolonel Teguh sangat menusuk. Aku duduk seperti orang pesakitan yang siap dihukum.


"Tadi kamu ngapain sama anak saya?" tanya kolonel Teguh tanpa basa basi. Aku menelan saliva, "sarapan." Itu saja yang bisa aku jawab.


"Katanya kamu sudah merelakan Resti untuk Benny, kenapa kamu dekati Resti lagi?" tanya kolonel Teguh marah.


"Maaf, tadi hanya sarapan sebentar. Kebetulan saya belum sarapan, Resti bawa bekal, jadi kami makan bareng sebentar," jawabku gugup.


"Kalau kamu sudah gak mau sama anak saya, menjauhlah!" kata kolonel Teguh lantang.


"Koh Benny kemarin bilang mau melamar Resti, dia minta pendapat saya dan Suryo," aku berusaha menjelaskan.


"Lalu kenapa kamu sengaja makan bareng Resti?" cecar kolonel Teguh.

__ADS_1


"Hal yang tidak kami sengaja. Kebetulan tadi kami bertemu. Tadi saya juga menasehati Resti untuk menjadi istri yang baik untuk koh Benny," sekali lagi aku mengelak.


"Saya gak mau kamu jadi perusak hubungan Resti dengan Benny!"


__ADS_2