Dia Bukan Milikku

Dia Bukan Milikku
69. Pesta Perpisahan


__ADS_3

Lita melambaikan tangan menjauh dari mess. Sebenarnya apa yang menarik dari Lita? Cantiknya alami, Resti versi abg. Dengannya hidup terasa lebih ceria, berasa sepuluh tahun lebih muda. Sosoknya tangguh dan sangat humoris, apalagi gombalannya padaku, sangat maut, membuatku melayang. Dari dulu tak mau mengakui perasaannya padaku, tapi sekali mengaku, aku dibuatnya melayang dengan sifat dan sikapnya yang unik itu.


Kenangan indah yang tak akan pernah aku lupakan selamanya. Maaf kita gak bisa bersama lagi, sekarang dan dikemudian hari.


***


Dari jauh aku melihat barisan pasukan yang berjajar rapi. Di bagian paling depan Hendrik sedang memberikan pengarahan, aku hanya memantau dari jauh. Sudah saatnya dia menjadi komandan pleton.


Hingga saatnya dia meminta seseorang memanggilku, padahal aku berdiri tak jauh dari tempatnya berdiri sekarang. 


Aku memasuki lapangan upacara diiringi yel-yel penyemangat. Rasanya haru sekali, berbeda dengan biasanya. Para anggota datang menyambutku dari pinggir lapangan. Dua orang dari mereka berjongkok membelakangiku, mereka memintaku untuk naik ke pundak mereka. Aku diarak sampai ke tengah lapangan. Aku menunjuk Hendrik yang sedang bertepuk tangan dari jauh. Beberapa orang anggota mendekati Hendrik lalu memaksanya naik ke pundak mereka. Aku dan Hendrik naik diatas pundak anggota sambil menyanyikan yel-yel kebanggaan kami bersama. Arak-arakan berhenti di dekat kolam air mancur, aku diturunkan dari pundak anggota. Tangan dan kakiku dipegang erat oleh beberapa anggota, diayunkan dan diangkat tinggi-tinggi, teriakan minta tolongku diabaikan oleh mereka. Tubuhku diayunkan beberapa kali lalu diceburkan dalam kolam air mancur. Semua tertawa puas melihat komandannya basah kuyup.


“Komandan baru juga dong!” teriakku. Mendengar itu Hendrik langsung berbalik badan bersiap lari, tapi jumlah anggota lebih banyak yang menangkapnya lalu menggotongnya sama seperti yang mereka lakukan padaku. 


Aku belum keluar dari kolam, hanya sedikit bergeser memberi ruang untuk Hendrik di kolam yang sempit ini. Ketika Hendrik diceburkan dikolam aku sengaja membenamkan wajahnya beberapa saat dikolam. Semua tertawa puas setelah dua komandan mereka basah kuyup didalam kolam.


“Saya minum air kolam!” Hendrik batuk-batuk, berusaha mengeluarkan isi perutnya tapi gak keluar.


“Enak kok air kolamnya!” aku tertawa penuh kemenangan.


Setelah keluar dari kolam, aku dan Hendrik diberi kaos baru yang kering.


“Terima kasih teman-teman. Saya akan selalu merindukan kalian semua. Saat ini saya bukan komandan kalian lagi. Tapi dengan begitu bukan berarti hubungan persaudaraan kita putus. Kita adalah keluarga, sampai kapanpun. Saya minta tolong untuk memaafkan segala salah dan khilaf saya selama ini. Banyak sekali kata-kata, sikap dan perbuatan saya yang tidak sesuai dengan hati nurani teman-teman semua, saya minta tolong dimaafkan. Kita berjuang bersama, melakukan segala hal bersama, maka kita akan maju bersama membangun Indonesia, mempertahankan kemerdekaan dan kejayaan NKRI tercinta. Tetaplah berbuat baik meski tak sempat. Tetaplah berjuang meski sulit. Sebab kita adalah garda terdepan negara ini. Kita harus solid dalam keadaan apapun. Saat ini, Letda Hendrik telah menggantikan saya sebagai komandan pleton 3 raider. Saya berharap kita semua tetap menyaudara, saling hormat menghormati, saling menghargai dan menyayangi. Sekali lagi saya ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya pada teman-teman semua. Karena tanpa teman-teman disini, saya tidak mungkin berada pada posisi ini. Jalesveva Jayamahe!” Aku mengakhiri pidato singkat terakhir didepan anak buah yang kini telah menjadi kendali Hendrik.


Yel-yel kembali bersahutan, Johan membawa sekotak kue masuk ke barisan paling depan. Dibagian atas kue tertulis,


 ‘Terima kasih Lettu M. Imam Setiawan’


‘Selamat bertugas ditempat yang baru’


“Kuenya besar sih, tapi cukup gak nih sepeleton?” tanyaku bersiap memotong kue tersebut.


Tanpa aba-aba Hendrik mengambil alih kue tersebut dan melemparkan ke wajahku. Semua anggota tertawa, bertepuk tangan dan bersorak. 

__ADS_1


Aku menjilati sisa kue disekitar bibir, “kuenya enak lho,ada lagi gak?” tantangku.


“Ada Ndan!” teriak salah satu dari anggota. Mereka kembali memegangi tangan dan kakiku, menggotong sambil mengayunkan tubuh ini.


“Jangan diceburin lagi, baru ganti baju nih!” teriakku, tapi mereka tak mau mendengarkan. Mereka kembali menceburkan aku yang belepotan kue ke dalam kolam air mancur.


“Ha … ha …. Terima kasih, terima kasih semua!” aku bangkit dari kolam sambil membersihkan wajah, “kalian semua luar biasa kompak! Saya gak akan melupakan kalian semua!” 


Para anggota berebut menyalami dan memelukku. 


Hari mulai petang, acara dibubarkan oleh Hendrik. Acara sore ini sangat berkesan, anak buahku sangat berkesan. Aku sangat tak menyangka sambutan mereka padaku, tak akan terlupakan.


“Ndan, makasih ya! Tadi istri saya bilang dikasih pancingan dirumah!” kata Hendrik. 


“Saya bukan komandan lagi, panggil nama aja!” balasku.


“Fiona juga seneng banget dikasih kompor alat masakan,” kata Hendrik lagi.


Aku tersenyum, “Lita yang milihin, tasnya ibu Fiona juga Lita yang milih.” 


“Iya, sama-sama,” jawabku.


“Bapak ibu sudah datang?” tanya Hendrik. 


“Sudah dari kemarin malam, tapi seharian ini aku tinggal, banyak yang dikerjain.”


“Mesti cari waktu berdua sama Lita, ya kan?”


“Tadi beli ini itu, ya bareng Lita. Mau ngajak siapa lagi kalo bukan dia.”


“Nangis gak dia?”


“Pasti lah, tapi dia kuat kok. Mentalnya sudah terdidik militer dari bapaknya. Oh ya, terima kasih ya foto-foto itu. Tersusun apik dalam bingkai foto. Foto kamu culun banget waktu pendidikan.”

__ADS_1


“Saya cuma ngumpulin foto yang nyusun istrinya Suryo. Sekarang kita semua punya foto itu. Cuma yang punya saya belum dikasih bingkai.”


“Oh, jadi kalian semua punya foto yang sama.”


“Punya dong, untuk kenang-kenangan anak cucu.” Hendrik merangkulku dari samping


“Terima kasih ya, terima kasih untuk semua.”


“Sama-sama.”


Sebelum Hendrik pergi, kami didekati oleh Ahyar, salah satu anggota kami.


“Ndan, bisa minta waktunya sebentar,” kata Ahyar padaku.


“Ya sudah ya. Saya pulang duluan, besok saya dan teman-teman ikut mengantar.”


“Oke!” aku memberikan jempol kananku ke arahnya.


“Iya, ada apa?” tanyaku Ahyar.


Ahyar memperhatikan gerakan Hendrik, seolah meminta Hendrik menjauh. Setelah Hendrik menjauh, Ahyar seolah ingin berkata tapi agak ragu.


“Ada apa sih? Ngomong aja!” aku menepuk punggung Ahyar agar dia merasa lebih tenang.


Beberapa kali Ahyar ingin bicara namun dia tambah gugup. “Ada apa?” aku merangkulnya dari samping, sebisa mungkin membuatnya nyaman.


“Ndan,” kata Ahyar masih gugup.


“Ya. Bicaralah!” kedua tanganku memegang pundaknya.


Ahyar menunduk, “saya mau minta maaf.”


“Memangnya kamu salah apa? Gak ada kesalahan yang tak termaafkan! Ayo, bicaralah!”

__ADS_1


“Sebenarnya yang menculik dokter Utami itu adalah saya!” kata Ahyar pelan gemetar.


“Apa?” aku melotot lalu menarik kerah bajunya.


__ADS_2