
“Apaan ini mbak? Dari siapa tadi?” tanya Lita.
“Buka aja, itu dari koh Benny, temannya mas Imam, temannya mas Suryo juga!” jawab istrinya Suryo.
Lita membuka kotak tersebut, mulutnya menganga kaget melihat isinya.
Gelang emas yang berkilauan diangkat Lita dari kotaknya, lalu memperhatikannya dengan seksama, “ini emas bukan sih?”
“Suratnya ada di dalam kotaknya, di bagian bawah. Coba dilihat, ada kan?” kata istrinya Suryo.
Lita membuka kotak di bawah wadah gelangnya, lalu mengambil surat dibawahnya dan membacanya. “Delapan gram, ini pasti mahal banget! Gak salah nih?” Mata Lita berkeliling antara aku, Suryo dan istrinya.
“Rezeki, terima aja Ta!” aku senyum-senyum aja.
“Oh iya, yang ini untuk om Imam,” istrinya Suryo memberikan kotak yang lebih besar dari kotak untuk Lita.
“Wah, dapet juga nih!” aku menerima kotak tersebut dari tangan istrinya Suryo.
“Siapa tadi yang ngasih?” Lita bertanya lagi.
“Orang baik,” jawab Suryo.
Aku mengintip kotak itu, ada kalung, gelang, cincin, anting, lengkap semua. Aku menelpon koh Benny, lama tak diangkat, mungkin dia sedang sibuk.
“Ih, penasaran lho. Siapa sih yang ngasih? Kenapa dia baik banget. Saya gak kenal aja dikasih kayak gini, aneh banget! Coba lihat kotaknya pak Imam!” kata Lita sambil meminta kotak yang kupegang. Setelah kuberikan, Lita membukanya, matanya melotot, mulutnya semakin lebar menganga.
“Buat apa perhiasan kayak gitu buat saya?” aku mengangkat bahu.
“Modal nikah itu, bisa buat maskawin. Memangnya kamu gak mau nikah?” cibir Suryo. Istrinya menepuk paha Suryo, mengingatkan.
“Perhiasan itu untuk siapapun yang akan jadi istrinya om Imam!” kata istri Suryo.
“Pak, saya masih belum percaya dengan ini. Pasti ini hoaks atau mimpi atau imitasi?” Lita meletakkan dua kotak perhiasan itu di meja.
“Karena saya orang baik dan bergaul dengan orang yang baik, makanya dapat itu. Terima aja ya. Oh ya, kalau saya dan Lita dapat ini, ibu Dona dapat apa?” mataku beralih dari Lita ke istrinya Suryo. Anaknya Suryo bernama Dona, jadi aku memanggil istri Suryo dengan sebutan ibu Dona.
“Saya dapet bulanan dari koh Benny,” istri Suryo memamerkan gigi putihnya.
“Rezeki orang baik, seperti saya dan Lita. Ayah Dona gak dapet kan? Bukan termasuk golongan orang yang baik!” ledekku pada Suryo.
Suryo mengusap wajahnya, diikuti tawa istrinya dan Lita.
__ADS_1
“Katanya mau ada acara sore ini, udah pulang aja sana!” usir Suryo.
“Yuk, kita pulang!” ajakku pada Lita.
“Kalo deket ribut, tapi kalo jauh nanti kangen lho!” istri Suryo tersenyum melihat kelakuan kami.
“Pak, ini katanya untuk temennya pak Suryo!” Lita menunjuk isi dalam tasnya.
“Oh ya, ini untuk Frans. Maaf gak bisa bertemu langsung. Jangan dikorupsi ya! Jarum jamnya ada dua, jarum chrononya ada tiga!” aku memberikan kotak jam tangan pada Suryo.
“Jarumnya aja kan yang diinventaris? Baterainya gak termasuk!” Suryo memainkan kedua alisnya.
“Kayaknya gak ada baterainya, coba komandan cek dulu. Nanti kalo ada baterainya yang imitasi boleh diambil!” balasku.
“Apa sih kalian ini!” istri Suryo protes.
Lita menatapku menahan tawa lalu memeluk tangan kiriku.
“Sensor, ada Dona disini. Pulang sana!” Suryo kembali mengusirku.
“Oke, bu Dona saya terima bingkisan dari koh Benny ini. Terima kasih atas amanahnya yang telah sampai ke tangan saya. Semoga bu Dona tetap jadi orang baik sehingga bulanan dari koh Benny gak putus. Jangan sampe ikut nakal kayak sebelahnya itu ya. Saya pamit dulu, nanti saya telpon koh Benny langsung.”
Aku berdiri menyalami istri Suryo dan anaknya. Ketika berhadapan dengan Suryo, dia memberikan hormat, aku membalas hormatnya lalu bersalaman dan mengepalkan tangan kami kemudian berpelukan. Suryo sudah kuanggap seperti saudara sendiri meski kadang dia menjengkelkan.
“Kita kerumah pak Hendrik Pak?” tanya Lita ketika sudah didalam mobil. Aku membalasnya dengan anggukan kepala.
Hendrik tak ada dirumah, mungkin sedang mempersiapkan acara perpisahanku di markas. Aku memberikan bingkisan yang tadi kami beli pada istrinya Hendrik. “Ini pancingan yang bang Hendrik inginkan dari dulu, makasih ya Om.”
“Iya. Maaf ya saya gak bisa lama-lama. Sudah ditunggu di lapangan.”
“Iya Om, mbak Lita masuk dulu aja ya!” ajak istrinya Hendrik.
“Saya juga mau pulang mbak, lain kali ya,” tolak Lita.
Aku memarkirkan kendaraan di halaman parkiran messku. “Ini mess perwira, jangan pernah coba ngamuk disini ya. Yang punya dah mau pergi!” aku mengerling pada sosok cantik disampingku, matanya berkaca-kaca.
“Jangan sedih dong, anak prajurit harus kuat dan tangguh!” aku ngomong gitu sama Lita, dia malah meneteskan air mata.
“Bisa gak sih, Bapak digantiin orang lain. Jadi Pak Imam tetap disini, biar orang lain yang ke Natuna!” pinta Lita.
__ADS_1
Aku mengusap air mata dipipi Lita. “Semua sudah diatur sama atasan. Proses ini juga gak mudah.”
“Nanti kalo pak Imam ketemu cewek yang cocok, nikahin aja. Gak usah mikirin saya!”
“Yang bener? Boleh jadinya ya?”
“Semoga pak Imam dapat istri yang cantik kayak mbak Utami, tapi agak tinggian lagi, jangan yang pendek. Gak boleh pake baju yang seksi kayak mbak Utami, yang pasti dia harus baik dan sayang sama pak Imam!”
“Memang Utami itu seksi ya?”
“Iya, pake baju panjang tapi ketat. Roknya panjang, tapi belahannya sampai paha. Pake baju mesti kancing atasnya dipake, belahan dadanya kemana-mana! Gelay ….”
Aku tertawa mendengar pendapat Lita tentang Utami, “itu yang paling saya sukai dari Utami!” bisikku pelan.
“Idih, amit-amit! Dasar orang tua mesum!” Lita mendelik, aku semakin keras tertawa.
“Saya ganti baju dulu ya, setelah ini saya antar pulang ke kosan ya!”
“Gak usah Pak, saya naik ojek aja. Sekarang sudah sore banget, pasti Bapak ditunggu anak buah di lapangan.”
“Oke, hati-hati dijalan ya. Maaf gak bisa nganter. Ini hari terakhir kita ketemu ya, besok saya pergi dan gak tau kapan kita bisa ketemu lagi. Baik-baik disini, belajar yang rajin, semoga cepat lulus kuliahnya dengan nilai yang terbaik.”
“Bapak ngomong itu lagi, saya jadi nangis lagi kan!” Lita mengusap lelehan air matanya.
“Jadi saya harus ngomong apa?”
“Bilang kalau Bapak gak jadi berangkat besok. Tetap temani Lita disini!”
“Manja banget, anak tentara gak boleh begitu. Nanti kalau kamu sudah lulus, bisa nyoba secapa lho, prajurit karir. Jadilah kebanggan orang tua!”
“Bapak menghina, saya kan gak bisa lari!”
“Belajar lari dari sekarang, lari dari kenyataan bahwa saya besok akan tugas jauh. Anggap aja gak pernah kenal sama saya!”
“Pak, saya minta baju loreng Bapak boleh gak? Yang ada tulisan namanya ‘Imam’,” pinta Lita.
“Gak boleh Lita. Banyak atributnya di baju itu. Ada larangannya dipakai untuk dipakai orang sipil.”
“Gak saya pake Pak, pasti kegedean juga. Cuma buat disimpan aja!”
“Jam itu aja ya, sudah cukup, atau mau minta yang lain?”
__ADS_1
“Kalo minta hati Bapak boleh?"