Dia Bukan Milikku

Dia Bukan Milikku
60. konferensi pers


__ADS_3

Pagi ini aku sangat bersemangat, apel bersama anak buah, melakukan aktifitas seperti biasa tanpa beban.


Dalam arahanku saat apel, aku mengingatkan pada seluruh anggota untuk selalu menaati peraturan pemerintah yang berlaku, Sapta Marga, dan Sumpah Prajurit. 


Setelah selesai apel bersama semua anak buah, aku memanggil semua Danru ke ruanganku. Disana aku kembali menegaskan pada para Danru untuk selalu menjadi contoh yang terbaik dari anak buahnya, jangan sampai melanggar hukum karena tidak ada satupun prajurit yang bersalah lolos dari hukum, sesuai arahan Panglima TNI. 


Sudah ada arahan dari Danki untuk lapor padanya pada pukul sembilan nanti. Tapi sebelum jam sembilan aku sudah tiba diruang Danki. Ternyata Kapten Bagas sedang menerima tamu. Ketika menunggu, datanglah mas Joko, ajudan kolonel Teguh. 


"Apa kabar Mam?" mas Joko mengajakku bersalaman.


"Alhamdulillah baik, Mas," aku membalas jabat tangan mas Joko.


"Gimana ceritanya dokter itu?" tanya mas Joko.


"Gak tau Mas, gak ngerti ceritanya, malah dituduh sebagai penculik!" jawabku sambil tertawa kecil.


"Resiko jadi mantan pacar!" kata mas Joko.


Aku geleng-geleng kepala, tanda tak setuju dengan ucapan mas Joko.


"Kok mas Joko ada disini? Mana kolonel Teguh?" tanyaku mengalihkan pembicaraan.


"Ada didalam ruangannya kapten Bagas," jawab mas Joko.


"Oo, tamunya kolonel Teguh."


Tak lama kapten Bagas keluar dari ruangannya, "sini Mam!" kapten Bagas mengajakku masuk ke ruangannya. Aku masuk keruangannya lalu memberi hormat dan bersalaman pada kedua komandanku itu


"Mam, kita mau konferensi pers. Kamu ikut ya!" kata kolonel Teguh


"Siap Ndan, dimana?" tanyaku.


"Mako Pomal, sebentar lagi," jawab kolonel Teguh.


"Siap. Apa ada yang harus dipersiapkan terlebih dahulu?" tanyaku.


"Gak ada. Nanti saya yang akan bicara di depan media. Kamu turut hadir aja. Selama konferensi pers pakai masker, jangan dilepas dan jangan mengeluarkan statement apapun!" kata kolonel Teguh.


"Siap, laksanakan!" jawabku tegas.


Aku naik mobil bersama kolonel Teguh, sedang kapten Bagas naik mobilnya sendiri. Sepanjang jalan kolonel Teguh banyak menasehatiku.

__ADS_1


Sampai di Mako Pomal, situasi sudah ramai. Aku tak menyangka kasus hilangnya Utami begitu viral menyita perhatian khalayak. Mungkin karena dokter Harun juga orang yang berpengaruh di Malang.


Memasuki ruang konferensi pers, sorot kamera ke arah kami. Ada perwakilan dari kuasa hukum dari dokter Harun dan kuasa hukum dari orang tua Utami.


Kolonel Teguh duduk dimeja utama bersama komandan Puspomal dan jajaran lainnya. Aku dan kapten Teguh duduk di sudut lain yang telah disiapkan bersama para kuasa hukum dari pelapor.


Pernyataan dari Danpomal dan kepala penyidik sama, menyatakan bahwa aku tidak terlibat. 


Tiba saat kolonel Teguh memberi pernyataan, "telah kita dengarkan bersama dari para penyidik bahwa anggota kami, Lettu Muhammad Imam Setiawan dari batalyon raider tidak terlibat dalam kasus penculikan saudari Utami Puspita. Saya sebagai Komandan batalyon menyaksikan bahwa anggota kami tersebut merupakan prajurit yang setia pada NKRI dan memegang teguh pada Sapta Marga dan Sumpah Prajurit. Apa yang dilakukan anggota kami pada saat aksi penculikan tidak ada kaitannya dengan kejadian di tkp dan dapat dipertanggungjawabkan kesaksiannya. Dalam hal ini, saya bertanggungjawab penuh atas semua yang dilakukan anggota kami."


"Komandanmu hebat sekali ngomongnya, ngebelain setengah mati!" bisik kapten Bagas, aku hanya membalasnya dengan senyuman.


Akhirnya konferensi pers selesai. Ketika acara ditutup, aku langsung mendekati kuasa hukum orang tua Utami, "Pak, saya titip salam untuk orang tua Utami. Saya mohon maaf atas segala salah dan khilaf. Semoga Utami segera ditemukan dalam keadaan selamat, saya sangat khawatir dengan keadaannya saat ini."


"Iya, akan saya sampaikan pada beliau," jawab kuasa hukum orang tua Utami.


"Terima kasih Pak!" aku mengajaknya bersalaman lalu kami memisahkan diri. Beberapa wartawan mengabadikan apa yang kami lakukan tadi.


***


Dengan menggunakan motor trail klx, aku melaju ke Fakultas Teknik, Institut Teknik Surabaya. Modal nekat tanpa membuat janji terlebih dahulu. Jaket kulit, celana jeans, helm, sepatu, dan sarung tangan serba hitam aku mendekati gedung kuliah Lita. Celingukan sendiri karena situasi agak lengang, mungkin jadwalnya kuliah jadi sepi. Tiba-tiba seorang pemuda mendekatiku, "cari siapa Mas?"


"Maaf, anda siapanya Lita ya?" tanyanya lagi. Aduh, jawab apa ya, masa ngaku pacarnya. "Saya kakakknya," jawabku asal.


"Oo, kakaknya Lita. Kenalkan saya Thoriq, pacarnya Lita," kata anak itu sambil menyodorkan tangannya untuk bersalaman.


Aku menelisik wajahnya, sepertinya pernah lihat, dimana ya.


"Lita, kakak lo datang. Sini Ta!" teriak anak tadi.


Lita keluar dari balik gedung sambil tersenyum, "Ngomong apaan aja tadi dia Pak?" tanya Lita.


"Dia pacar kamu?" aku balik bertanya.


"Siapa yang bilang? Amit-amit deh!" jawab Lita, mendengar itu Thoriq langsung tertawa. "Eh, jangan macem-macem lu. Di sleding komandan jadi remahan peyek lho!" ancam Lita.


Thoriq langsung meraih tanganku dan mencium punggung tangan kananku, "ampun Pak, cuma bercanda!" lalu dia kabur menjauh.


"Hampir aja saya percaya sama omongan dia!" kataku.


"Jangan percaya sama dia Pak, syirik. Percaya itu sama tuhan." Tanpa aba-aba Lita langsung duduk dibelakangku, "ayo kita kemon Pak!"

__ADS_1


Beberapa orang teman Lita yang berada disekitar situ menyoraki kedekatan kami, Lita melambaikan tangan ke arah mereka lalu mendekapku dari belakang. Seumur hidup belum pernah kayak gini, tapi kok enak ya. Aku berlalu menjauh dari kampus, serasa umur sepuluh tahun lebih muda. Dulu jaman pendidikan, mana pernah kayak gini, mungkin saat inilah menikmati masa muda yang dulu tak sempat dinikmati.


"Kemana kita Ta?" tanyaku.


"Bamboo forest Pak, gak jauh dari sini" Lita mengarahkan aku sampai ke tujuan.


"Saya baru tau lho disini ada taman kayak gini," kataku sambil membuka helm.


"Masa sih? Bapak lebih lama tinggal di Surabaya, masa gak pernah kesini?"


"Iya, benar. Saya gak pernah kesini, sama kamu," aku memelankan ucapan diakhir kalimat.


"Ah, Bapak bisa aja." Lita mulai berjalan di area hutan bambu yang sangat indah.


Aku mensejajarkan langkah dengan Lita, "setelah ini ada kuliah lagi gak? Saya ganggu ya?"


"Iya, saya kan gak pernah libur."


"Masa sih?"


"Iya, gak ada hari libur buat mencintai Bapak!" 


Ah, ini anak bisa aja. Aku menutup mulut dengan menahan senyum. 


"Pak, apa perbedaanya menara eiffel dengan pak Imam?" tanya Lita mengalihkan pembicaraan.


"Apaan sih, ya jelas banyak perbedaannya, saya manusia menara eiffel benda mati, saya disini menara eiffel di Paris. Banyak banget bedanya."


"Salah. Menara eiffel satu-satunya di dunia, kalo pak Imam satu-satunya dihati saya!" Lita mengerling bahagia.


"Kalau dekat sama kamu, rasanya saya kayak jadi mahasiswa lagi, berasa muda lagi," aku berusaha membalas gombalan Lita.


"Istilahnya, lupa sama umur gitu ya Pak!" 


Aku menyenggol lengan Lita, ah malah jadi malu deh.


"Eh Pak, pengen ngemil nih!"


"Ngemil apa?"


"Ngemilikin Bapak selamanya!" 

__ADS_1


__ADS_2