
"Apa kabar Mam?" tanya koh Benny. Dia mengajakku bertemu sore ini, ah paling mau membahas Resti.
"Alhamdulillah sehat Koh, koh Benny apa kabarnya?"
"Alhamdulillah sehat juga. Eh, katanya kamu kemarin tersangkut kasus penculikan ya?"
"Kata siapa?"
"Suryo."
"Diminta keterangan sebagai saksi aja."
"Tapi kamu gak terlibat kan?"
"Ya nggak lah. Tindak kejahatan itu."
"Baguslah kalau begitu. Terus dokter itu kemana ya?"
"Masih dicari oleh pihak kepolisian, kita semua gak ada yang tau. Semoga cepat ketemu dalam keadaan selamat, sudah lama kasusnya tapi belum ada titik terang."
"Kamu masih ada perasaan sama dokter itu?"
"Perasaan apa?"
"Ya, mungkin perasaan suka."
Aku garuk-garuk rambut yang gak gatal, "ada gak ya? Mungkin sama kaya perasaan saya ke Resti saat ini."
"Kok gitu?"
"Namanya juga pernah ada hubungan. Mau dibilang cuek gak ada rasa ya bohong, tapi sadar diri aja, gak mungkin lagi seperti dulu."
"Resti itu baik banget lho Mam!"
"Memang, gak nyesel kan saya kenalin sama dia!"
"Kamu rela kalau saya nikahi dia?"
"Silahkan. Kenapa ditanyakan lagi, dari dulu kan sudah saya izinkan."
"Saya masih ngasih kamu kesempatan untuk balikan sama Resti lagi!"
"Kok gitu? Jangan Koh! Sudah sama-sama suka, ya silahkan menikah. Jangan mikirin saya lagi."
"Saya rasanya gak enak sama kamu. Kayak nikung gitu deh jatuhnya."
"Sudah saya relakan sejak awal. Resti orang yang pernah saya sukai, dia pantas mendapatkan pasangan yang terbaik seperti sahabat saya, yaitu koh Benny. Kalau seperti Irvan atau yang lain, yang tidak saya kenal, mungkin saya belum percaya melepas Resti. Tapi kalo sama koh Benny saya ikhlas lahir batin."
"Makasih ya Mam. Kadang saya yakin, kadang kok ragu dalam hati."
"Kenapa lagi?"
__ADS_1
"Ya karena kamu."
"Kok saya?"
"Orang sebaik Resti kok kamu serahkan untuk saya. Ada apa sebenarnya sama Resti? Kenapa kamu gak mau sama dia lagi?"
"Pertanyaan kok diulang-ulang terus sih? Belum cukupkah jawaban saya yang dulu?"
"Saya tuh dapet anugerah besar bisa ngedapetin Resti. Lalu apa yang bisa saya kasih sama kamu sebagai gantinya?"
"Halah, biasa aja Koh! Gusti Allah yang akan membalasnya. Tapi Koh, saran saya sebaiknya dipertimbangkan lebih matang lagi, istiqarah. Jangan karena Veronica sudah menikah lebih dulu, jadi terkesan pengen cepat bersaing."
"Iya, ada juga sih perasaan seperti itu. Tapi saya juga gak mau gegabah. Setelah lamaran mungkin butuh waktu paling sedikit tiga sampai enam bulan sampai akad nikah nanti. Kayak apa ya rasanya orang nikah? Sudah lupa saya, ha …."
"Saya belum pernah nikah, jangan tanya saya, belum pernah ngerasain."
"Jadi, mau nunggu dokter itu ketemu atau nunggu anak itu lulus kuliah?"
"Mana yang paling cepet aja!" jawabku sambil tertawa.
"Saya kira kamu masih belum mau nikah, pengen yang jalur cepat ternyata."
"Saya masih laki-laki normal lho. Oh ya Koh, Resti dah tau kalau mau dilamar?"
"Saya belum ngomong sama dia. Tapi sudah ada pembicaraan ke arah sana."
"Berarti dia sudah siap menerima juga ya?"
"Semoga."
"Sainganku itu kamu, berat lho!"
"Halah, saya gak usah diperhitungkan lagi. Maju terus pantang mundur. Semangat Koh!"
Tiba-tiba Suryo datang, “Maaf ya aku telat. Tadi dipanggil Danyon, rapat.”
“Beda nih yang pangkatnya mau turun. Rapat terus,” ledekku.
“Kok turun pangkat?” tanya koh Benny.
“Pangkatnya turun dari atas, sebutannya ya begitu. Kalo Suryo tu jalur khusus, kesayangan Danyon,” kataku sambil melirik Suryo yang tersenyum.
“Kamu juga kan kesayangan kolonel Teguh, pepet terus sampe pangkatnya turun.”
“Halah, biarpun kesayangannya juga gak bikin pangkat turun kayak Danyon itu. Dari dulu saya masih letda sampe lettu, tetap aja pangkat dia kolonel, gak berubah jadi bintang!” ucapku sambil mencibir.
“Eh, awas ada calon mantunya lho. Nanti dilaporin malah susah pangkatnya turun!” Suryo menyeriangai.
“Salahnya sendiri nolak jadi mantu, kualat kan pangkatnya gak turun-turun!” koh Benny menambahkan.
“Sekarang saya sama Imam masih sama Koh, gak tau beberapa bulan lagi!” Suryo semakin menyombongkan diri. “Ditambah lagi saya sudah nikah dan punya anak. Tambah kalah jauh Imam! Ha ….”
__ADS_1
“Kamu baru nikah sekali, sebentar lagi saya mau nikah yang kedua Sur! Anakmu satu, anakku sudah dua. Tetep aku yang duluan menang, ha …. Intinya tetep aja Imam kalah langkah!”
Hm, bully lagi bully lagi.
“Eh, tadi saya ketemu kolonel Teguh, nanyain koh Benny,” kata Suryo.
“Oh ya? Ngomong apa?” tanya koh Benny.
“Beliau tanya, kira-kira koh Benny serius apa gak, lanjut apa gak, banyak lah! Intinya keseriusan koh Benny pada Resti,” jawab Suryo.
Koh Benny menautkan kedua alisnya, “maksudnya bagaimana?”
“Gas pol Koh! Langsung lamar!” kataku menyemangati.
“Benar begitu maksudnya?” koh Benny melirik Suryo. Suryo menganggukkan kepala.
“Sudah siap kan!” tanya Suryo.
“Sainganku berat Lor!” koh Benny menepuk pundakku.
“Kok saya lagi? Saya gak bakal melamar Resti. Maju ajalah!” aku tersenyum memamerkan gigi putihku.
“Kalau ternyata Resti menolak? Dan dia lebih memilih kamu bagaimana?” koh Benny kembali pesimis.
“Selama ini hubungan dengan Resti kan? baik-baik saja kan?” tanya Suryo.
“Ya selama ini dia baik, bahkan baik banget. Tapi apa dia mau menerima saya? Saya belum bisa pastikan itu!” koh Benny menatap kosong ke depan.
“Iya juga sih. Resti baik sama koh Benny, tapi ya belum tentu juga Resti bisa menghapus Imam dari hatinya!” tebak Suryo.
“Kok gitu?” tanyaku heran.
Koh Benny dan Suryo sama-sama diam. “Kapan kamu terakhir ngomong berdua dengan Resti?” tanya Suryo padaku.
“Setelah mertuanya ngamuk waktu itu, sebelum koh Benny saya antarkan ke rumah kolonel Teguh malam itu!” aku menepuk tangan koh Benny untuk mengingatkan.
“Ngomong apa kamu sama Resti?” tanya Suryo.
“Saya bilang, saya sengaja mendedikasikan koh Benny untuk dia. Awalnya dia gak terima, tapi menurut saya koh Benny orang yang tepat buat dia. Tidak seperti Irvan atau yang lain. Toh, sebelum saya mengaku ada dibelakang peristiwa kenalan koh Benny sama dia, dia sudah menyambut baik koh Benny kan!” ucapku.
“Dia itu baik sama semua orang apa memang ada rasa spesial sama saya?” tanya koh Benny masih ragu.
“Masa udah jalan kesana kesini, kompak berdua bikin rencana ini itu, belum ada rasa. Kan aneh!” aku menegaskan.
“Namanya hati Mam, mana ada yang tau,” kata koh Benny lagi.
“Coba kamu pastiin lagi Mam! Resti sudah bisa melupakan kamu apa belum. Bantu koh Benny,” pinta Suryo padaku.
“Lho kok saya? Kenapa koh Benny gak tanya langsung sama Resti?” ucapku memandang dua orang dihadapanku ini.
“Setidaknya, kalau koh Benny gak berhasil mengambil hati Resti. Kamu bisa nikahin Resti, mau kan?” kata Suryo menyeriangai sambil melirik koh Benny.
__ADS_1