
”Perjuangan cinta yang tiada batasnya.”
Mereka berempat memulai perjalanan untuk kembali ke Jakarta, hujan masih turun hingga menggenang jalan yang tak terlalu tinggi. Mobil Revan melaju dengan santainya, hingga mereka sampai di sebuah jembatah, ternyata ada pohon yang tumbang di seberang jembatan. Zahra hanya menghela napas, karena tidak tahu apa lagi yang akan terjadi setelah ini. Jam sudah menunjukkan pukul 15.00 mereka semua sudah pasrah ddengan emajcatan jalan, beberapa jam kemudian jalan sudah bersih dan Revan dapat melanjutkan perjalanan untuk pulang.
Hari sudah mulai gelap, dan rumah mereka masih sedikit jauh sekitar dua jam lagi mereka baru sampai di rumah.
“Haciimmm…Hacimmmm….”
“Kamu kenapa, Za?”tanya Revan sambil menengok ke balakang.
“Nggak apa-apa kok, Van.”
“Beneran?”tanya Revan meyakinkan.
“Iya, beneran kok.”jawab Zahra berbohong.
Seketika mobil menjadi sepi, Revan sengaaja mematikan AC mobil karena udara di mobil sudah dingin. Sekitar tiga puluh menit lagi mereka sampai di rumah Zahra, udarar semakinn dingin Zahra, Rosa, dan Dava sudah tertidur karena lelah kini tinggal Revan yang masih berjaga karena ia harus focus dengan mobilnya. Tiba-tiba mobil bberhenti dan membuat Zahra terbangun.
__ADS_1
“Udah sampai, Van?”tanya Zahra sambil mengucak matanya.
“Iya, udah sampai rumah kamu. Itu mama udah keluar rumah.”jawab Revan.
“Umm…. Ya udah, mampir dulu yuk ke rumah!”
“Nggak usah, udah malem juga. Besok juga sekolah, aku mau anterin Rosa sama dava.Duluan ya, Za jangan lupa bersih-bersih terus laangsung istirahat!”
“Iya Vn. Hati-hati di jalan.”
Part 5.1
“Bukan hanya kenangan yang tak dapat dilupakan, tetapi kasih sayang pun juga tak dapat dilupakan. Seperti dia ke diri ku, walaupun hanya satu hari kenangan itu seperti tidak akan pernah kulupakan.”
Pagi yang indah, embun pagi masih menetes di dedaunan, suara burung bersautan menyambut datangnya pagi yang cerah. Zahra masih terlelap dalam dunia mimpinya, jam sudah menunjukkan pukul 05.35 Zahra belum juga kunjung bangun karena ia kelelahan kemarin. Mamanya yang tersadar jika anaknya belum bangun, ia segera naik ke kamar Zahra untuk membangunkan Zahra supaya cepat bangun karena ia harus pergi ke sekolah.
“Za…. Bangun, udah siang! Kamu harus sekolah kan hari ini?”perintah mamanya sambil menarik selimut Zahra.
__ADS_1
“Aaaa… Mama… Masih ngantuk.”jawab Zahra.
“Udah siang, sayang…”
Dengan malasnya Zahra segera bangun danmengmbil handuk, setelah itu ia segera mandi. Hari sudah mulai siang, Zahra belum selesai bersiap untuk pergi ke sekolah, dilihat jam sudah menunjukkan pukul 06.20, Zahra tidak sadar jika sudah siang.
“Za.. Udah siang belum berangkat?”tanya mama Zahra.
“Sekarang jam berapa?”
“Udah hamper setengah tujuh.”
“Loh.. Dah siang? Ya udah, Za berangkat dulu. Keburu sekolah masuk.”
“Ya udah, hati-hati.”
Zahra dengan diantar sopirnya untuk berangkat ke sekolah, ia mengambil roti dan segera berangkat ke sekolah. Sebentar lagi bell berbunyi, sopir Zahra segera taancapgas supaya Zahra tidak terlambat. Jam tujuh kurang lima menit, Zahra sudah sampai di sekolah ia segeraa naik ke kelasnya yang kebetulan berada di lantai 2. Dengan napass terengah-engah, Zahra segera berlari menaiki tangga-demi tangga, akhirnya ia sampai di sekolah. Terlihat Revan yang sedang berjalan bolaak-balik entah mencari siapa. Ketika Zahra masuk ke kelas, Revan langsung menghela napas lega karena mungkin ia khawatir terjadi apa-apa dengan Zahra sebab hamper masuk ia belum juga kunjung beraangkat.
__ADS_1