
Pagi ini aku dilarang teman-teman berangkat sendiri ke Mako Pomal. Hendrik sudah mengajak semua anak buahku mengantar kesana. Mulai dari mess mereka menjemputku. Dijalan aku dikawal dengan beberapa kendaraan mobil dan motor, ramai sekali. Tidak hanya anak buahku, beberapa orang anak buah Dimas dari pleton dua juga ikut mengantar komandannya untuk dimintai keterangan sebagai saksi.
Sampai ditempat parkir Mako Pomal, aku mengumpulkan semua anak buah.
"Semua berkumpul disini, duduk!" aku memerintahkan mereka, mereka duduk diatas rumput lapangan hijau.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Terima kasih pada teman-teman telah mengantar saya sampai ke sini. Saya sangat mengapresiasikan dukungan dan semangat teman-teman pada saya dalam proses penyidikan ini. Proses penyidikan ini dilaksanakan untuk mengetahui ketidakterlibatan saya dalam kasus hilangnya dokter Utami. Semoga dokter Utami segera ditemukan dengan keadaan selamat, dan pelaku penculikan segera ditangkap. Sekali lagi saya ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua yang hadir disini. Himbauan saya, setelah saya masuk ke dalam Mako, teman-teman segera membubarkan diri dengan tertib. Billahi taufik walhidayah wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh." Aku menyudahi sedikit kata pagi ini yang disambut tepuk tangan dan yel-yel kebanggaan kami. Beberapa orang memberikan hormat lalu bersalaman.
"Hidup Komandan, hidup Komandan!" para anggota berteriak lantang diikuti yel-yel lainnya.
Entah sejak kapan Lita hadir disini, dia juga ikut berteriak menyemangatiku.
Aku, Dimas, Handoko, Tikno dan Danu berbaris lalu berjalan menaiki tangga Mako. Sebelum masuk kami berbalik ke arah anggota. Terlihat Suryo berlari menggandeng Lita menyusul kami. Oh iya ya, Lita ikut diperiksa juga.
Setelah Lita berbaris sejajar dengan kami, kami melambaikan tangan ke arah anggota lalu masuk ke dalam Mako.
Sampai di penjagaan, kami dipisah dengan pengawalan masing-masing seorang pomal, lalu dibawa keruangan yang berbeda.
Sama seperti kemarin, pemeriksaanku dilakukan secara maraton, aku dapat menjawab semua pertanyaan dengan baik. Jelas sekali bahwa aku tidak terlibat dalam kasus hilangnya Utami.
Hingga sore menjelang petang, akhirnya pemeriksaan disudahi. Untuk selanjutnya, aku diminta lapor seminggu dua kali ke Mako Pomal hingga proses penyidikan selesai.
Sampai di depan gedung, suasana ramai, bahkan lebih ramai dari tadi pagi. Yel-yel lantang disuarakan, rasa haru merambat disekujur tubuh. Seorang anggota berjongkok di depanku, aku diminta menaiki pundaknya, lalu aku naik ke pundaknya. Aku disambut dengan penuh kemeriahan, beberapa orang pomal berjaga dikerumunan ini. Antusiasme para anggota dalam memberi dukungan dan semangat sempat membuat mataku berkaca-kaca.
Ketika sampai ditengah-tengah anggota, aku turun dari pundak anggota yang tadi menggendongku. Semua orang berebut menyalamiku.
"Terima kasih teman-teman, saya bangga pada kalian semua atas dukungan dan semangat ini!" teriakku, diikuti yel-yel yang tak pernah berhenti. Dari sini aku perhatikan, semua anak buahku turut hadir menjemput, dari pleton satu dan dua juga hadir, sebagian dari anak buah Suryo dari taifib juga hadir.
"Ada yang ingin saya sampaikan, mohon teman-teman duduk selama penyampaian beberapa patah kata dari saya!" aku berteriak agar semua mendengar. Serentak mereka duduk mengelilingiku dilapangan upacara.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillah pemeriksaan hari ini telah berakhir. Sekali lagi saya jelaskan bahwa saya tidak terlibat dalam kasus penculikan dokter Utami!" ucapanku lalu disambut riuh dan teriakan dukungan untukku.
"Kita semua sama-sama berharap dokter Utami segera ditemukan dalam keadaan selamat," teriakku.
"Amiiin!" jawab anggota serentak.
"Karena proses penyidikan hari ini telah berakhir, mari kita pulang. Himbauan saya, semua anggota pulang dengan tertib!"
Suara riuh dari semua anggota menggiring aku masuk kedalam mobil.
Iring-iringan kendaraan seperti tadi pagi bahkan lebih ramai.
__ADS_1
Di dalam mobil aku bertanya pada Hendrik, "Handoko, Tikno sama yang lainnya mana?"
"Mereka sudah pulang dari tadi siang, pemeriksaan mereka gak lama kayak komandan! Yang ditanya kok cuma itu doang? Gak nanyain Lita?" ledek Hendrik.
Aku tersenyum sambil menyikutnya, "udah pulang anak itu?"
"Sudah dong, saya antar langsung ke kosannya, lalu antar ke kampus."
"Lengkap banget ya!" aku tertawa.
"Buru-buru katanya, minta diantar ke kampus, takut telat kalo jalan kaki."
"Baguslah, makasih ya!" aku menepuk lengan Hendrik.
Hendrik mengangguk dan tersenyum.
"Di mess kita siapkan ayam bakar Ndan," kata Hendrik.
"Oh ya? Makan besar berarti ya! Saya gak nyangka banget lho, hari ini luar biasa sekali. Terharu saya."
"Cuma ini yang bisa kami berikan Ndan!"
Tepat pukul sembilan malam, Hendrik membubarkan anggota. Tinggallah beberapa orang teman leting yang masih kepo dengan jalannya pemeriksaan hari ini.
"Jadi apa langkah kita untuk Utami?" aku bertanya pada teman-teman.
"Kita tahan dulu, jangan gegabah. Pihak yang berwenang aja yang mencari," jawab Suryo.
"Iya, Mam. Sudah untung banget kamu dah dibebaskan," kata Dimas.
"Sudah dikecewakan kok masih berharap aja Ndan!" tambah Hendrik.
"Jadi ceritanya masih nungguin dokter itu Ndan? Sama Lita aja deh. Kalo dah kenal dandan juga nanti bisa keliatan cantik kok!" kata Frans.
"Bukan gitu, kasihan aja sama Utami. Kan gak tau, apa sekarang dia aman selamat pa gak!" kataku.
"Susah kalo ngomong sama orang yang sulit move on!" sela Erwin disambut tawa yang lainnya.
"Ini penyebabnya telat kawin!" ledek Hendrik.
Setelah semua teman-teman pulang, aku menghempaskan seluruh bobot badan diatas kasur. Menelpon Lita adalah hal pertama yang kulakukan. Lama telepon berdering tapi tak diangkat. Mungkin dia sudah tidur. Selang beberapa saat Lita melakukan panggilan video, aku duduk bersandar dinding baru mengangkat teleponnya, "halo pak Imam," sapa ceria sambil tiduran dengan penerangan yang sangat minim, aku menyipitkan mata melihat kelakuannya, "kenapa Pak?" tanya Lita tanpa dosa.
__ADS_1
"Kamu nelpon komandan sambil tiduran remang-remang kayak gitu!"
"Emang gak boleh ya Pak?"
"Gak sopan, saya aja menerima teleponmu sambil duduk kok!"
"Oh, iya. Tunggu sebentar."
Lita menyalakan lampu sehingga suasana lebih terang, lalu dia duduk bersandar dinding seperti aku.
"Nah gitu dong, ada tata krama yang harus dilakukan saat berkomunikasi."
"Siap Komandan," Lita mengumbar senyum sambil memberikan hormat.
"Gimana tadi pemeriksaannya?"
"Aman terkendali Pak, tadi saya juga selfie sama pomalnya Pak! Keren-keren ya mereka itu,"
"Buat apa selfie sama penyidik?"
"Buat bukti ke dosen, kalau tadi saya bukan bolos, tapi memang ada hal yang harus dilakukan."
"Makasih ya!"
"Sama-sama Pak, eh tadi pagi itu Bapak keren banget lho, diarak sama tentara segitu banyak, disuruh duduk langsung pada duduk. Bapak ceramah pada dengerin. Ceramah Bapak juga keren, sangat berwibawa."
"Ceramah? Emangnya saya ustad?"
"Eh, apa ya? Sambutan ya? Apa arahan?"
"Ya apa aja deh, asal jangan dibilang ceramah."
Lita menutup mulut menahan tawa.
"Kamu gak liat waktu sore, saat saya keluar dari Mako. Suasananya lebih meriah, yang menyambut saya lebih banyak dari yang tadi pagi. Ini acara makan-makan di mess baru aja selesai."
"Wih, ada acara makan-makannya Pak? Kok saya gak diundang?"
"Yakin kamu mau jadi satu-satu perempuan dalam satu kompi?"
"Gak lah Pak, saya pengen jadi perempuan satu-satunya dihati Bapak aja."
__ADS_1