
Pemeriksaan hari kedua. Sama seperti kemarin, ketika sampai di Mako, sebelum turun dari mobil, aku bermunajat, memohon petunjuk dari Allah agar dipermudah segala urusan hari ini.
Rencananya kedua orang tua Utami akan datang, tapi di tempat parkir belum ada kendaraan plat N.
Aku keluar dari mobil menemui petugas Pomal yang langsung mengawalku dikanan dan kiri. Wah, udah kayak beneran jadi tersangka aja. Padahal kemarin hasil BAP sama sekali tidak ada kata-kata yang merujuk bahwa aku pelakunya. Kalau memang ini prosedurnya, mari kita jalani, asal jangan sembarangan melanggar hak asasiku aja.
Aku menunggu diruangan kemarin, bedanya kemarin sendiri, sekarang dikawal dua orang pomal. Lumayan lama juga menunggu hingga akhirnya pintu ruangan terbuka. Masuklah seorang bapak dan ibu di dampingi seorang laki-laki berperawakan tinggi dan dua orang pomal mengawal mereka. Wajah ibu itu mirip sekali dengan Utami, bisa kupastikan bahwa bapak dan ibu itu adalah kedua orang tua Utami. Aku menyalami orang-orang tersebut, wajah mereka pias. Kami duduk bersama namun saling berjauhan. Tak ada satu kata yang terucap dalam ruangan ini, masih sunyi seperti sebelum mereka datang. Sesekali ibu itu mengelap mata dan pipinya yang berair. Jangankan ibu itu, aku saja sedih memikirkan Utami, dimana dia sekarang? Aman gak kondisinya? Sudah makan apa belum? Sekelebat mimpi malam itu hadir dan membuatku merinding seketika.
Tak lama setelah kedatangan orang tua Utami, pinta kembali terbuka. Kali ini dokter Harun yang masuk ditemani seseorang, entah siapa. Komandan penyidik memperkenalkan kami, bapak dan ibu dari Utami ditemani seorang kuasa hukum dan dokter Harun juga membawa seorang kuasa hukum. Hanya aku sendiri yang dari kemarin datang polos seorang diri tanpa didampingi seorang pun, buat apa didampingi kuasa hukum, aku kan gak bersalah sama sekali.
Komandan penyidik mengajak kami keliling ruangan yang akan digunakan untuk penyidikan, yaitu sebuah ruangan dengan beberapa kursi yang menghadap dinding kaca, dimana disebelah dinding kaca tersebut terdapat sebuah meja dan beberapa kursi yang saling berhadapan. Dari ruangan ini, pengunjung yang datang bisa mendengarkan suara sekecil apapun dari ruang sebelahnya. Sedangkan diruang sebelahnya kaca transparan dari ruang sebelumnya tampak seperti cermin yang memantukan bayangan sendiri di cermin tersebut, tidak bisa melihat apa yang ada dalam ruangan pertama. Begitu juga dengan suara, diruangan kedua tidak bisa mendengar apa yang terdengar dari ruangan yang pertama.
Orang tua Utami dan kuasa hukumnya berada diruangan pertama, begitu juga dengan dokter Harun dan kuasa hukumnya, mereka semua menempati ruang pertama. Sedangkan aku dan beberapa orang penyidik berada diruang sebelahnya. Mereka rupanya hendak memeriksaku langsung disaksikan oleh pelapor, dalam hal ini adalah orang tua dan dokter Harun.
Pertanyaan dari penyidik tak berbeda jauh dari pertanyaan kemarin, hanya dibuat singkat dan aku diminta menjawab dan menjelaskan lebih detail lagi.
Pada saat kejadian, Sabtu malam aku berbelanja boneka untuk kado anaknya Dimas dengan Lita, lalu setelah itu kembali ke mess. Hari Minggu pagi, menghadiri pesta ulang tahun anaknya Dimas. Dari keterangan yang diperoleh dari penyidik, orang-orang yang bersamaku ketika kejadian berlangsung akan dipanggil dan dimintai keterangan besok.
Waktu istirahat siang sangat singkat, hanya disediakan untuk makan ditempat dan shalat zuhur ditempat itu juga. Lalu dilanjutkan pemeriksaan lagi sampai sore, jeda shalat ashar sesaat lalu lanjut lagi pemeriksaan hingga menjelang waktu magrib, lalu pemeriksaan disudahi untuk hari ini. Besok akan dilanjutkan pemeriksaan lagi, entah sampai berapa hari pemeriksaan ini berlangsung. Disetiap akhir pemeriksaan, aku membaca dengan cermat hasil BAP sebelum menandatanganinya. Masih sama hasilnya dengan kemarin, aku tidak terbukti terlibat dalam kasus hilangnya Utami. Menurutku pemeriksaan ini sudah sangat jelas, tapi penyidik merasa belum puas. Baiklah kita ikuti permainan para penyidik sampai mereka bosan mengintrogasiku.
Sampai di mess, Hendrik dan Frans sudah menunggu. Mereka mengabarkan kedatanganku pada teman-teman yang lain. Tak lama kemudian, semua teman letingku datang ke mess, lima orang danru dari pletonku juga hadir disini, ramai sekali. Mereka semua memberikan dukungan moril padaku.
“Besok Dimas, Handoko, Tikno sama Danu dipanggil ke Mako, sudah dapat surat panggilannya belum?” tanyaku. Handoko, Tikno dan Danu adalah adik leting yang kebetulan tinggal satu mess denganku.
__ADS_1
“Siap, sudah Ndan!” jawab mereka serempak.
“Kesaksian kalian semua sangat saya harapkan, minta tolong tunjukkan pada penyidik bahwa saya tidak ada kaitan sedikitpun dengan hilangnya Utami,” pintaku pada mereka.
“Lita juga dipanggil gak?” tanya Suryo.
“Seharusnya iya, tadi penyidik juga bilang begitu!” jawabku.
“Coba tanya orangnya dulu, surat panggilannya sudah sampai apa belum, mungkin dia harus kita ajari dulu cara ngomongnya,” usul Dimas.
“Coba tanya, video call!” kata Frans.
Aku memanggil nomor Lita menggunakan panggilan video sesuai saran Frans. Sebelum telepon diangkat, aku menyetel kamera belakang, menunjukkan bahwa pembicaraan ini didengar oleh teman-temanku disini.
“Ta, saya lagi kumpul sama teman-teman. Kamu lagi sibuk gak?” tanyaku.
“Habis makan Pak, mau belajar. Ada apa ya?” tanya Lita masih gugup.
“Utami menghilang sebelum hari pernikahannya. Kuat diduga Utami mengalami penculikkan sebab jendela kamarnya dirusak dari luar dan beberapa barang berharganya ikut raib. Dalam pengembangan kasus, orang yang paling dicurigai sebagai pelaku penculikan tersebut adalah saya.”
“Yang bener Pak?” Lita memotong ucapanku.
“Sudah dua hari ini saya diperiksa oleh Puspomal, dalam pemeriksaaan saya, pada malam kejadian saya dan kamu pergi ke toko mainan untuk membeli kado anaknya Dimas. Iya kan?” aku menerangkan pada Lita, Lita mengangguk tanpa menjawab. “Menurut penyidik tadi, katanya akan memanggil kamu sebagai orang yang pada malam itu bersama saya. Apa kamu sudah terima surat pemanggilan itu?” tanyaku.
__ADS_1
Wajah Lita tampak kaget, lalu kamera tidak terarah padanya, kemudian kamera menghadap langit-langit kamar.
“Pak, suratnya yang ini ya?” Lita memperlihatkan sepucuk surat dengan kop Puspomal yang belum dibuka. “Surat ini terselip dibawah pintu, saya kira surah pemberhentian beasiswa, makanya saya malas baca, takut zonk. Sekarang saya buka ya!” kata Lita.
“Ya, buka dan baca yang keras, saya ingin dengarkan!” pintaku.
Lita membacakan surat pemanggilan atas dirinya dengan ketentuan waktu besok pukul sembilan pagi. “Lita, saya minta tolong, jawab dengan jujur dan sejelas-jelasnya pada penyidik apa yang terjadi Sabtu malam itu, saya dan kamu. Jangan gugup, jangan takut, jujur lebih baik,” kataku menegaskan.
“Iya Pak,” jawab Lita.
“Kamu anak prajurit, saya tahu kamu terbiasa berhubungan dengan tentara, jangan pandang penyidik sebagai orang lain, anggap saja dia teman kita yang lagi kepo sama kita, Oke?” aku menguatkan Lita.
“Iya Pak. Berarti sekarang mbak Utami ada dimana?” tanya Lita.
“Ya gak tau, gak ada orang yang tau disini. Masih dalam proses pencarian. Doakan untuk keselamatan mbak Utami ya!” kataku, Lita menganggukkan kepala.
“Ya Allah semoga mbak Utami segera ditemukan. Kalau yang menemukan dia seorang perempuan, maka akan saya jadikan teman seumur hidup saya. Jika yang menemukan dia seorang laki-laki, maka akan saya nikahkan laki-laki tersebut dengan mbak Utami. Amin.”
“Lho, kok doanya gitu?” tanyaku heran.
“Emangnya kenapa Pak? Kan kalo laki biar cepet dinikahin sama mbak Utami, jadi Bapak gak bisa nikah lagi sama mbak Utami. Nikahnya sama saya aja!”
Ucapan Lita tersebut didengar oleh teman-temanku yang berada disini, mereka semua spontan tertawa, aku tersenyum melihat Lita menutup tangannya dengan mulut lalu memutuskan panggilan video ini.
__ADS_1