
Perjalanan dua jam lebih dari kota Malang diiringi gerimis tipis menambah luka hati pasca pernyataan putus dari Utami. Akhirnya pukul sembilan malam lebih aku sampai di rumah orang tua yang terletak di Kertosono. Semua orang yang ada di rumah ternyata belum ada yang tidur, sengaja menungguku datang malam ini.
“Kok malam sekali datangnya, Mam?” tanya ibu.
“Tadi Imam dari Malang, kebetulan ada kegiatan disana. Waktu mau kembali ke Surabaya, Aisyah menelepon jadi balik arah lagi ke sini, sampai disini ya malam,” aku menjelaskan.
“Besok pagi Mas Imam harus sudah sampai di Surabaya lagi?” tanya Aisyah.
“Iya, ada persiapan latbar Pasmar 1 dari Jakarta. Banyak yang harus disiapkan.”
“Kamu sibuk kok masih ngotot kesini, ditunda juga bisa, gak harus malam ini!” bapak berkata.
“Demi Aisyah yang cantik ini lho,” ucapku sambil mencolek hidungnya hingga pipinya merona.
“Jadi kamu mengizinkan adikmu menikah lebih dulu?” tanya bapak tanpa basa basi.
“Iya, Pak. Kalau dek Aisyah sudah datang jodohnya, jangan ditunda lagi.” jawabku tegas.
“Terus kamu nikahnya kapan?” tanya ibu.
“Nanti kalau sudah dapat yang pas di waktu yang tepat!” aku menjawab sambil tersenyum.
“Dokter itu masih belum siap dinikahi?” bapak masih penasaran.
“Kayaknya gak jadi sama dokter itu Pak, belum jodoh sama Imam!” terangku.
“Kemarin bilangnya dokter itu belum siap dinikahi, sekarang bilangnya belum jodoh. Sebenarnya siapa yang akan kamu nikahi?” cecar bapak.
“Belum tau, Pak! Nanti aja membahas jodoh Imam. Sekarang kita fokus dulu rencana lamaran dan pernikahan Aisyah. Kira-kira kapan akan dilaksanakan?” aku mengalihkan pembicaraan.
“Keluarga mas Ardi sudah lama ingin datang kesini melamarku. Tapi aku selalu minta waktu agar mas Imam bisa menikah lebih dulu. Belakangan ini mas Ardi mendesak, makanya aku tanya mas Imam tadi sore,” jelas Aisyah.
“Lamaran bisa secepatnya, misalnya malam Minggu besok atau hari Minggunya. Disesuaikan saja dengan kondisi disini, kalau Mas bisanya ya hari Sabtu atau Minggu. Bagaimana Pak? Bu?” aku menengahi.
“Ya boleh saja, ibu siap asal kamu menerimanya Mam!” ada kecemasan dalam mata ibu.
__ADS_1
“Yang mau menikah Aisyah, Bu. Yang menerima ya Aisyah, dia yang mau nikah, bukan Imam. Bapak, Ibu, Aisyah dan Kartika, sekali lagi, Aisyah menikah itu tidak harus setelah Imam. Tidak ada aturannya kakak harus menikah baru kemudian adik boleh menikah selanjutnya. Mana yang datang lebih dulu jodohnya, silahkan menikah lebih dulu. Dulu sewaktu Kartika menikah, Imam masih di Lebanon. Imam merestui pernikahanya, meski Imam dilangkahi adik. Saat ini juga Imam merestui Aisyah menikah lebih dulu. Bapak dan Ibu sudah mengenal calonnya Aisyah, baik dan buruknya sudah dipertimbangkan. Selama itu baik untuk kedua belah pihak, tak ada alasan Imam untuk menunda atau tidak memberi restu.” Aku menjelaskan panjang lebar.
“Baiklah, sampaikan pada Ardi untuk menemui bapak besok atau lusa. Kita agendakan acara lamaran pada hari Sabtu malam besok. Tapi sebaiknya Ardi menelpon Imam dulu sekedar perkenalan dan minta izin.” Bapak memutuskan.
Aisyah mengangguk setuju, begitu juga Ibu dan Kartika.
“Sudah putus ya, Imam mau istirahat dulu. Besok subuh Imam harus berangkat lagi ke Surabaya. Oh ya, calon manten ini belum bikin kopi buat Mas ya?” aku menyenggol lengan Aisyah yang dibalas senyuman, “mau tidur kok minum kopi, nanti malah gak bisa tidur!”
“Hari ini kurang ngopi, kalau mau tidur gak ngopi malah gak enak tidurnya. Sana buatin Mas kopi, gulanya dikit aja ya!” aku berjalan menuju kamar, penat sekali hari ini.
Aisyah masuk kamar mengantar secangkir kopi, “ini kopinya Mas.”
Aku meneguk kopi buatan Aisyah, “kurang kental kopinya, belum berhasil buat kopinya. harus belajar lagi sebelum nikah!”
Aisyah mencibir tidak terima, aku tersenyum melihat adikku merajuk.
“Mas, cerita dong tentang si dokter itu!” selidik Aisyah.
“Mas sudah putus sama dia, sekarang belum ada lagi calon yang cocok. Udah ya, Mas ngantuk banget,” aku malas membicarakan Utami lagi.
“Kenapa putus, kan pacarannya sudah lama. Dia yang minta putus apa Mas yang mutusin dia? Kata ibu orangnya cantik, lemah lembut,” tanya Aisyah.
“Sudah putus katanya,” Aisyah menjelaskan pada Kartika.
“Kok bisa putus, terus sekarang Mas pacaran sama siapa?” kedua adikku masih penasaran.
“Kartika, coba kopi ini diperbaiki. Calon manten belum enak bikin kopinya, hambar!” aku mengalihkan pembicaraan. Aisyah mencubit pinggangku, aku menggeliat sambil tertawa. Kartika mencicipi kopi buatan Aisyah, “kurang kental!”
“Mas, ayo dong cerita!”Aisyah mendesak.
“Nanti, tunggu kopi buatan Mbakmu datang dulu. Kalau kopinya cocok, Mas mau cerita, tapi kalau gak cocok mending tidur aja!” aku menutup wajah dengan bantal.
Asiyah menyingkap bantal dari wajahku, “itu kopinya sudah datang!”
Aku menyesap kopi yang sudah diperbaiki Kartika, rasanya mantap, aku memberikan jempol kiri pada Kartika, lalu pura-pura tidur. Tapi, kedua adikku semakin gencar menggangguku. Akhirnya aku menyerah sambil tertawa, “Mas kayak selebriti dikejar-kejar netizen!”
__ADS_1
“Tadi katanya mau cerita, ayo cepet ceritain!” Aisyah mencecarku.
“Ehm, baiklah Mas ceritain deh. Jadi Mas sudah putus dengan dokter itu!” ucapku sambil menggenggam jari manis dan kelingking dengan jempol dan merapatkan jari telunjuk dan jari tengah, “putus!”
“Kenapa?” tanya Kartika.
“Mas gak tau apa alasan dia minta putus, yang jelas dia sekarang sudah gak kerja di Surabaya lagi. Karena berjauhan, ya sudah. Gak ada lagi yang perlu dipertahankan. Dia sudah memilih sendiri jalan hidupnya, kita gak bisa memaksa dia,” terangku.
“Mas gak berusaha minta balikan, ajak nikah. Mungkin dia merasa kelamaan digantung sama Mas Imam!” kata Kartika.
“Tadi ini Mas dari Malang, berusaha mengejar dia. Tapi dia gak mau balik ke Mas lagi. Makanya hari ini Mas sedih banget, rasanya hampa banget. Tapi setelah dapat kabar Aisyah mau nikah, Mas jadi semangat lagi.” Aku menepuk punggung tangan Aisyah.
“Mau dilangkahi Aisyah kok jadi semangat? Bukan tambah sedih?” Kartika mengerling.
“Gak lah. Kebahagian adik-adik Mas itu kebahagian Mas juga.” Kedua adikku memelukku, rasa tentram datang. Kebahagian datang tanpa aturan karena memang tak ada yang mengaturnya, hanya hati yang dapat menciptakan rasa syukur, maka kebahagian itu akan datang dengan sendirinya.
Pukul tiga dini hari aku bangun dan mempersiapkan diri untuk kembali ke Surabaya. Memasuki waktu subuh, aku mengumandangkan azan. Hari ini hari yang menyibukkan, pasukan dari Pasmar 1 dari Jakarta akan datang dan menggelar latihan bersama. Selepas solat subuh, aku bergegas berangkat ke Surabaya dengan bekal izin dan ridho kedua orang tua.
Sampai di Surabaya, langit mulai terang. Pasukan telah siap mengadakan apel bersama. Kolonel Teguh memimpin apel pagi ini, wajahnya tegas seperti Resti, sosok yang pernah mengisi hati ini.
Beberapa atraksi ditampilkan baik dari Pasmar 2 Surabaya, termasuk dari beberapa orang anak buahku. Ajang latihan bersama ini akan berlangsung dalam sepekan. Ketangguhan dua pasukan ini dipertaruhkan untuk menjadi yang terbaik.
Latihan yang digelar antara lain pertempuran dalam kota, pertempuran jarak dekat, menembak, bela diri, renang antara pulau Jawa sampai Madura.
Aku mengawal pasukanku ketika berlatih dalam pertempuran jarak dekat. Suryo, sahabatku yang juga menjabat komandan peleton taifib juga mengawal pasukannya. Tiba-tiba Suryo menyenggolku, dagunya mengarahkan pada beberapa orang kowal meliput kegiatan yang sedang berlangsung, “ada Resti tuh!”
Aku langsung menengok mencari sosok yang dimaksud Suryo, “masih cakep kayak yang dulu ya! padahal sudah punya anak, ha … ha ….”
“Jangan dilihat lama-lama, nanti ketangkap basah bisa di dor sama Kolonel Teguh!”
“Kamu yang nunjukin kok, masa aku gak boleh lihat. Sudah bertahun-tahun aku gak lihat dia lho,” sanggahku.
“Kalau ketahuan Utami, lebih runyam lagi Mam!” Suryo semakin girang tertawa.
“Utami sudah mau nikah sama dokter juga di Malang!” ucapku santai sambil sesekali mencuri pandang ke arah Resti.
__ADS_1
“Sama Ricky? Ditikung sama adik leting? Ha … ha ….” Suryo semakin ngakak.
“Ja**ut kon, Sur!” aku memakinya.