Dia Bukan Milikku

Dia Bukan Milikku
53. Beli Kado


__ADS_3

Selamat pagi dunia


Selamat pagi Resti, kekasih yang tak sampai


Selamat pagi Utami, cinta terindahku


Selamat pagi Lita, pelipur laraku


***


“Ndan, ada undangan nih!” kata Hendrik sambil menyerahkan selembar undangan padaku.


“Dari siapa?” aku membaca surat undangan yang diberikan Hendrik.


“Anaknya Dimas ulang tahun. Dress code hitam merah, mickey mouse.” Hendrik menjelaskan.


“Undangan anak-anak ini, kok saya diundangan sih? Kamu?” aku meletakkan undangan itu dimeja.


“Ya diundang juga, atas nama Fiona. Karena komandan belum punya anak, makanya ditulis nama lengkap di undangan itu. Fiona juga gak bakal datang sendiri ke situ, pasti saya dan istri ikut,” jawab Hendrik


“Kamu mau pake baju mickey juga?” aku tertawa.


“Sekalian pake pita merah di kepala,” jawab Hendrik lalu kami tertawa bersama.


“Eh, ini juga ada undangan untuk Frans lho,” Hendrik mengecek beberapa undangan yang dipegangnya.


“Siapa aja selain itu yang diundang?” aku mulai kepo.


“Ya banyak dari teman-teman kita,” Hendrik memperlihatkan beberapa undangan yang dipegangnya padaku.


“Kira-kira Frans datang sendiri apa sama pacarnya ya?” aku bertanya-tanya.


“Dia biasa ngajak Monika kemana-mana, pastinya besok juga diajak. Komandan mau ngajak siapa?” Hendrik balik bertanya.


“Saya gak datang, nanti titip aja ya!”


“Titip apa?”


“Angpao.”


“Ini acara ulang tahun, bukan kondangan, gak pake angpao, Ndan!”


“Jadi?”


“Anak-anak sukanya dikasih kado Ndan, kalo angpao masuk ke dompet biangnya!” Hendrik membuang muka.


“Ya sudah, saya titip uang. Minta tolong istrimu yang milih, sekalian dibungkusin ya!” aku memainkan kedua alis didepan Hendrik.


“Minta tolong sama mahasiswi itu aja, atau sekalian ajak dia ke acara anaknya Dimas. Jangan sampai gak datang, tapi kalau datang sendiri pasti garing,” Hendrik memberi saran.


Iya juga ya, tapi mau gak Lita diajak ke acara itu. Masih ada waktu tiga hari lagi, cukuplah untuk merayu Lita ikut ke acara itu. Tapi nanti koh Benny datang sama Resti juga gak ya?

__ADS_1


“Ada undangan untuk koh Benny gak disitu?” tanyaku pada Hendrik.


“Gak ada Ndan, ini khusus undangan untuk teman-teman yang ada di kesatuan aja. Tapi kayaknya Dimas ngundang Tomi, mereka kan ceesan. Kalo koh Benny ya mungkin aja. Kenapa?”


“Coba tanya Dimas, dia ngundang koh Benny juga ga?”


“Kenapa gak tanya koh Benny langsung aja?”


“Jangan, kalo dia gak diundang, kita malah gak enak sama Dimas,”


“Takut koh Benny datang bareng Resti ya?”


“Takut?”


“Kayaknya seru kalau Resti ketemu mahasiswi itu, Ndan!” Hendrik tersenyum jahil.


Aku gak mau meladeni apa yang dikatakan Hendrik, lebih baik aku membuat janji dengan Lita untuk membeli kado untuk anaknya Dimas. Lita menolak ajakanku, sibuk katanya, mungkin senggang dihari Sabtu malam, ah mepet sekali.


***


Sabtu malam yang kutunggu, aku memacu KLX dengan kecepatan tinggi ke kosan Lita. Dia bilang, lebih suka naik motor ngebut di jalan daripada naik mobil.


Sampai dikosan Lita, ternyata Lita gak ada, dari pagi sudah pergi sampai magrib ini belum pulang. Aku menelponnya, “Ta, kamu dimana? saya sudah sampai dikosanmu!”


“Oh iya Pak. Kita ada janji malam ini ya? Saya lagi ngerjain tugas bareng teman-teman disini. Bapak bisa jemput kesini?” jawab Lita.


“Dimana?” tanyaku.


“Ada berapa orang temanmu disana?”


“Kenapa Pak? Cemburu ya? Hayo ngaku!”


“Saya cuma mau bawain makanan aja, kalo banyak ya saya beliin yang banyak, kalo dikit ya saya belinya sedikit aja!”


“So sweet banget sih Pak, disini ada delapan orang Pak. Apapun yang bapak bawain, pastinya kami sangat mengapresiasikan!” suara disekeliling Lita terdengar sangat riuh.


Aku membelikan sepuluh bungkus nasi goreng, lalu makan bersama Lita dan teman-temannya. Dari semua teman Lita yang berada dikosan ini, hanya tiga orang perempuan, sisanya laki-laki, ada perasaan khawatir ketika laki-laki dan perempuan bersama dalam satu ruangan kamar kosan seperti ini, tapi mereka tampak santai, ada yang lahap makan, serius mengerjakan tugas, ada yang suka bercanda, entah tugasnya sudah selesai apa belum, ada juga yang lelap tertidur meski suasana dikamar ini begitu ramai.


Setelah selesai makan, aku dan Lita pamit pada mereka. “Makasih nasi gorengnya ya Mas,” salah satu dari mereka berkata.


“Besok kesini lagi ya Om,” yang lain berkata juga.


“Emangnya ini om lu? Ini pak Imam, perwira! bukan mas-masan pinggir jalan!” Lita mencibir ke arah teman-temannya lalu melambaikan tangan ke arah mereka. Mereka membalas lambaian tangan Lita, ada yang masih terkesima dengan kehadiranku, macam-macam lah reaksi mereka, unik.


Lita menggunakan kaos belang hitam putih dan celana batik dengan menggendong ransel dan selongsong hitam besar dipundak kanannya.


“Ini apa?” tanyaku sambil memegang selongsong hitam disamping Lita.


“Tabung gambar, kita mau kemana Pak?” tanya Lita


“Beli kado untuk anak teman saya. Kamu ganti baju dulu aja ya!”

__ADS_1


“He… bapak malu ya jalan sama orang kucel kayak saya?”


“Iya,” jawabku ketika menyalakan motor, “cepat naik!”


Sampai dikosan Lita, tanpa aba-aba Lita langsung naik ke kamarnya, tak lama kemudian turun, rambutnya masih basah, wajahnya tampak segar dengan polesan make up tipis. Lita sangat anggun dengan menggunakan rok jeans selutut, kaos oblong putih dan jaket jeans serta sepatu jungle warna coklat susu. 


“Kita naik motor, kamu gak salah pake rok kaya gtu?” tanyaku.


“Saya pake legging kok!” kata Lita sambil mengangkat roknya tinggi-tinggi, aku yang melihatnya refleks memejamkan mata. 


“Tenang aja Pak, saya gak hobi pamer paha kayak mbak Utami!” kata Lita lalu naik ke atas motor bersamaku.


Sampai ditoko mainan Lita bertanya, “yang ulang tahun laki apa perempuan Pak?”


“Perempuan, umur dua tahun,” jawabku setelah melepas helm.


“Hah? Dua tahun apa dua puluh tahun?”


“Dua,” aku mengacungkan dua jari.


“Pantesan ngajak kesini.” Lita masuk ke toko lebih dulu.


Semua bagian toko disusurinya, bolak balik memilih yang gak tau apa yang akan dipilihnya.


“Ini lucu ya Pak,” tanya Lita sambil mengacungkan sebuah boneka beruang berwarna coklat susu dengan baju warna coklat tua. Ujung kaki, pita di leher dan telinga boneka itu bercorak polkadot.


“Anak umur dua tahun suka sama begituan ya?” aku balik bertanya.


“Gak usah anak umur dua tahun, aku aja suka!” Lita memeluk boneka itu.


“Kalau begitu beli dua aja, satu untuk kado, satu untuk kamu!” 


Mata Lita berbinar-binar.


“Kenapa gak yang pink aja? biasanya cewek sukanya warna pink!”


“Biasanya kan! Tidak termasuk aku,” Lita mengambil dua boneka sejenis sesuai arahanku.


“Sekarang cari bungkus kadonya ya!” aku memerintahkannya.


“Jangan dibungkus Pak, diplastikin aja, jadi anak itu bisa langsung lihat apa yang kita berikan!” kata Lita sambil memilih plastik pembungkus parcel.


“Atur aja deh,” aku pasrah karena memang gak bisa milih dan pilihan Lita memang bagus semua.


Lita mengambil semua yang dibutuhkan untuk membungkus boneka tersebut, lalu kami ke kasir.


Di parkiran aku duduk di kursi yang disediakan, “Ta, kamu mau temani aku ke pesta ulang tahun itu?”


Lita menengok ke arahku, “gak ah, malu.”


“Iya ya, saya juga malas datang kesana. Teman-teman yang diundang semua pada bawa anak kecil,” kataku lesu.

__ADS_1


“Semua teman Bapak bawa anak kecil, dan Bapak bawa anak kayak aku?”


__ADS_2